Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 100


__ADS_3

Johan mengantar perempuan itu sampai di depan apartemen, memeriksa keadaan apartemen. Di dalam sudah aman, ia sudah memeriksa semuanya sendiri. Hana hanya menyaksikan saja apa yang Johan lakukan sekarang, sampai pria itu sekarang berdiri di depannya.


"Kamu istirahat dulu, jika kamu ingin sesuatu telpon aku." Hana mengangguk menurut, sampai di mana pria itu meraih kepalanya dan mengusap rambut pendeknya dengan pelan.


"Jaga dirimu ya."


"Iya, hati-hati di jalan." Johan mengangguk, dia keluar dari apartemen Hana dan tersisa Hana di dalam apartemen tersebut.


Ia sudah terbiasa dengan suasana yang seperti ini, jadi dia memilih untuk membersihkan diri setelah itu Hana berencana akan memasak sesuatu untuk makan malam nanti. Dimas juga bekerja sekarang, dia akan pulang sekitar jam 8 malam nanti. Lumayan cepat dari yang biasanya, tapi dia melakukan semua itu demi adiknya.


Dimas tidak akan membiarkan Hana sendirian di apartemen terlalu lama, mungkin pria itu akan menghubungi seseorang untuk menemani Hana. Tentu saja, seseorang itu Hana kenal. Tapi itu mungkin nanti, karena tadi baru saja Johan pulang dan keamanan sudah dia pastikan semuanya sudah aman.


Hana merasa terjaga selama berada di sekitar Dimas dan Johan. Walaupun keduanya memang lumayan berlebihan akan sebuah hal, tapi Hana tidak akan merasa keberatan. Mereka sendiri yang mau melakukan semua itu, bahkan tanpa Hana yang minta sekalipun.


Perempuan itu memegang perutnya, tersenyum. Sepertinya ia tidak perlu khawatir akan bayinya, di sekitarnya masih banyak orang yang sayang kepadanya bahkan juga dengan bayinya sekarang. Walaupun beberapa orang itu tidak Hana harapkan, tapi keberadaan mereka membuat Hana senang.


"Lihat, bukankah kamu di sayang banyak orang? Apakah kamu bahagia di dalam sana? Bunda harap, kamu bahagia nanti..."


...•••...


Anna hanya diam di sana, ia tidak memikirkan apa pun sekarang karena kepalanya sudah benar-benar kosong. Seolah memang tidak ada yang dia pikirkan, tapi padahal dia memikirkan seseorang sekarang.


"Sepertinya semua gaun ini cocok untukmu, bagaimana jika kita beli semuanya?" Anna menoleh ke arah Stella, dia merasa heran dengan mamanya itu. Kenapa dia sangat bahagia? Padahal di situasi seperti ini, seharusnya dia sedih.


"Jangan berlebihan, aku tidak mau."

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, kau diam saja semua sudah mama urus." Perkataan yang tentu saja akan membuat Anna semakin yakin jika semua ini memang di harapkan.


Memang kenyataan ini adalah salahnya, tidak seharusnya Anna melakukan semua kesalahan yang tentu saja dosa besar. Tapi mungkin saat itu ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya keluarganya yang merencanakan semua ini. Atau mereka bahkan sudah menduga jika Anna dan Satya memiliki hubungan gelap di belakang Hana saat itu.


Jika mereka niat menjodohkan Hana dengan Satya, seharusnya mereka protes sejak awal dan harusnya memaki Anna. Tapi kenyataan tidak seperti itu, mereka senang ketika pernikahan itu di amban kehancuran dan sekarang sudah benar-benar hancur.


Melihat ekspresi Stella yang sangat berantusias membuat Anna berpikir lagi, apakah kedua orang tuanya memang merencanakan semua ini jauh-jauh hari?


Bodohnya Anna baru mengetahui semua itu sekarang, tapi sekarang sepertinya hanya tinggal debu. Kandungannya sudah menginjak 4 bulan lebih, perutnya tentu saja terlihat jelas sekarang.


"Kenapa wajahmu muram begitu? Seharusnya kamu senang, Anna-"


"Apakah mama mengharapkan semua ini terjadi?" Seketika itu suasana mendadak sunyi, perkataan Anna seolah menyindir secara halus.


"Kenapa kamu malah menyalahkan mama? Bukannya yang main gelap itu kamu ya? Apakah kamu berpikir akan perasaan saudaramu itu? Tidak, kamu bahkan sudah hamil sekarang. Jangan bicara omong kosong, Anna. Kamu akan menikah, jangan membuat kekacauan."


Anna seketika diam, ia hanya menatap ke arah wanita itu seolah tidak mempercayai semua ini. Tapi Anna sadar, apa yang Stella katakan memang benar. Apakah ia memikirkan perasaan Hana dulu ketika dirinya sendiri sudah tahu jika pria itu sudah milik orang lain? Anna menunduk, antara ia kecewa dengan dirinya sendiri dan ia menyesal.


Sedangkan di sisi lain. Satya berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri yang menggunakan jas rapi sekarang. Entah kenapa ia mendadak teringat akan sesuatu. Lebih tepatnya di mana ia menikah dengan perempuan itu dahulu.


Melihat bayangannya sendiri di depan sana, tapi entah bayangan dari mana yang tiba-tiba muncul di cermin itu. Dia tersenyum ke arahnya, dengan gaun yang indah dan riasan yang membuatnya semakin cantik.


Dia menggenggam tangan Satya dengan erat, tersenyum ke arah cermin seolah tidak ada yang terjadi. Memegang perutnya yang lumayan besar itu, Satya hanya diam sampai di mana.


"Hana..."

__ADS_1


Dia hanya tersenyum, memeluk lengan Satya dengan erat. Sampai di mana pria itu menoleh ke arah samping, tidak ada siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri di sana. Satya seketika sadar jika bayangan itu hanyalah khayalan saja.


Pria itu kembali menunduk, menahan segala perasaan yang membuatnya tidak bisa menahan tangisannya sendiri. Kenapa semua ini terjadi? Walaupun dahulu Satya memang mengharapkan ini semua, tapi ia tidak benar-benar berharap akan kehancuran ini akan terjadi. Waktu di mana berjalan 1 tahun, ternyata sia-sia.


Dia sendiri gagal menjaga seseorang yang seharusnya dia jaga, dia lindungi. Bukan justru sebaliknya, ia baru sadar jika dirinya memang sebodoh itu.


"Apakah semua bisa di ulang lagi? Aku masih ingin bersamanya..."


...•••...


Dia duduk di bangku, tepat di depan pintu kaca di balkon itu. Ia hanya menatap dengan tatapan kosong tanpa ada niat melakukan sesuatu, ia lelah dengan dirinya sendiri. Memeluk dirinya sendiri seperti sekarang, sama seperti dahulu.


Air matanya menetes tanpa dia sadari sendiri. Membayangkan apa yang terjadi ke depannya, benar-benar tidak sanggup untuk membayangkan. Hana menangis dalam diam, ia tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan tapi satu kata yang membuatnya tidak bisa menahan segala tangisannya adalah, perih.


Suara pintu bahkan tidak dia hiraukan sekarang, pria itu berada di depan pintu. Menyaksikan sendiri penderitaan yang datang, secara perlahan tapi tidak dapat di tampung.


Dimas melangkah mendekat, ia menghampiri Hana dan dia melihat keadaan wajah yang cantik itu kini menjadi pucat. Ada apa ini? Apakah dia mengingat lagi?


"Kakak tahu ini berat, tapi percaya lah ini yang terbaik..."



Tatapan kosong itu, air mata yang terus menetes tanpa henti. Dimas langsung memeluk adiknya itu, membuatnya tenang tapi kenyataannya suara tangisan semakin jelas dia dengar sekarang.


Dimas tidak bisa melakukan apa pun, ia tidak bisa melakukan apa pun. Ia hanya bisa melakukan apa yang seharusnya dirinya lakukan, menjadi tempat sandar sementara yang akan menutup sedikit luka itu dan itu pun tidak akan lama.

__ADS_1


__ADS_2