Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 105


__ADS_3

Turun dari mobil, mereka sampai di sebuah rumah yang memiliki ukuran yang lumayan besar. Ia tidak membayangkan sama sekali jika akan sebesar itu.


"Aku harap kamu betah tinggal di sini, ayo masuk ke dalam." Johan menunjukkan jalan, dia berjalan di barisan paling depan. Hana hanya diam saja, sampai di mana Jihan menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam.


Semua nampak nyaman, di rumah itu berada seolah tidak ada perasaan yang janggal. Johan menunjukan kamar yang akan Hana tempati, sebenarnya rumah itu baru saja Johan beli. Baru saja, karena ia mendengar jika Hana menerima tawaran untuk tinggal bersama dirinya. Tentu saja bersama Jihan juga, gadis itu tidak akan membiarkan dirinya berdua saja dengan Hana.


Memastikan jika semua aman untuk ibu hamil itu, dan kamarnya juga sudah di tata sedemikian rupa agar nyaman di tempati. Hana tidak menyangka jika Johan akan seniat itu, menyiapkan segalanya seperti ini.


"Apakah kamu suka dengan kamarnya? Jika kamu tidak suka modelnya, aku akan menggantinya-"


"Aku suka, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih, Johan." Johan tersenyum senang, ia merasa lega jika Hana menyukai desain kamarnya.


Pria itu menatap ke segala sudut, dan ia melihat Hana meletakkan tasnya di sisi sofa di pojok ruangan. Sepertinya dia kelelahan setelah lama berjalan di bandara tadi, apa lagi dia bukannya menanggung bebannya sendiri melainkan dia juga mengangkat beban lainnya.


Jihan meninggalkan keduanya untuk sementara waktu, lagi pula ia percaya kepada saudaranya itu untuk menjaga Haha. Mana bisa dia melukai Hana? Melihat Hana menangis saja dia sudah frustasi.


"Kamu bisa istirahat dulu, kamu pasti kelelahan setelah perjalanan panjang tadi." Johan jongkok di depan Hana, tentu saja membuat perempuan itu terkejut.


Johan membantu melepaskan sepatu yang Hana pakai, dia juga membantu Hana untuk tiduran. Usia kehamilannya memang masih muda, tadi perutnya sudah sebesar itu. Sepertinya dia akan kelelahan selama beberapa waktu karena perutnya yang terlalu besar itu.


Dia menarik selimut, membenarkan selimut untuk Hana. Dia juga tidak lupa menutup korden, setelah itu membiarkan Hana tertidur dengan tenang setelah perjalanan panjang di dalam pesawat tadi. Johan mematikan lampu kamarnya, kemudian dia menutup pintunya tidak terlalu rapat agar ia bisa mendengar apa yang Hana lakukan. Karena kamarnya kedap suara jadi lumayan kesulitan jika ada sesuatu yang terjadi, tapi jangan sampai.

__ADS_1


Johan menuruni anak tangga dan melihat keberadaan Jihan di sofa, dia duduk dengan santai seraya meminum teh hangat yang dia buat sendiri. Sibuk dengan acara menulisnya itu, Jihan adalah seorang penulis. Dia tidak mau meneruskan perusahaan kedua orang tuanya kecuali dia sudah menerbitkan dua bukunya.


"Aku pikir kamu terlalu mencintainya, apa aku benar?" Johan menggelengkan kepalanya pelan, ia merasa heran kenapa sepupunya itu terlalu terang-terangan seperti ini.


"Tolong buatkan aku kopi." Perintahnya kepada maid yang berada di dapur, Johan hanya tinggal menunggu dan mendengarkan ocehan yang Jihan katakan.


"Kenapa kau suka mengelak jika aku membicarakan fakta itu? Aku mendukung mu selama ini, kau juga sudah terlalu banyak berjuang dan kau harus mendapatkan apa yang kamu-"


"Apa maksudmu?" Apakah Johan benar-benar tidak paham dengan apa yang Jihan katakan tadi?


Semua orang tahu betapa jeniusnya Johan, semua orang juga tahu betapa hebatnya Johan sekarang. Bahkan jika saja Johan menjadi pria yang tidak terlalu cuek seperti sekarang, mungkin akan banyak wanita di luar sana yang akan menerimanya. Banyak yang menyukai Johan, apa kurangnya dia?


Tidak ada kekurangan kecuali satu, Hana. Itu kelemahan Johan yang bahkan sampai sekarang masih menduduki angka pertama. Entah kenapa Johan bisa seperti itu? Bahkan Jihan juga tahu, jika Johan diam-diam menyimpan beberapa foto Hana di dalam ponselnya.


"Membalas perasaan cinta mu itu, aku tahu kau tulus dengannya. Kenapa tidak kamu ungkapkan saja?" Mendadak Johan menatap ke arah Jihan dengan tatapan datar.


Apakah Jihan salah bicara? Sepertinya tidak, gadis itu hanya mengingatkan saja. Terlalu memendam perasaan sendiri terlalu lama, akan ada perasaan sakit hati. Karena pujaan hati tidak mengetahui akan perasaan yang sebenarnya, dia tidak tahu. Seperti kejadian 1 tahun lalu, di mana Johan mendadak tidak mau keluar dari kamar dan sampai ibunya Johan menghubungi Jihan tentang alasannya.


Jihan jelas tidak tahu apa pun, tapi dia datang ke Indonesia. Jauh-jauh datang dari Australia ke Indonesia hanya untuk membantu ibunya Johan meyakinkan pria itu untuk makan. Tapi setelah ia tahu sesuatu, ia mulai yakin. Antara dia harus memaki Johan dengan kata-kata bodoh dan juga kasihan.


"Dia tidak mencintai ku, dia masih mencintai Satya..."

__ADS_1


"Tapi si brengsek itu sudah beberapa kali melakukan kesalahan, dia dua kali selingkuh dan bahkan dia menghamili saudara istrinya sendiri. Cinta macam apa itu?"


"Jaga ucapanmu, Jihan Naudyra."



Jihan seketika menutup mulutnya, ekspresi yang Johan tunjukan memang membuatnya lumayan takut. Pria itu membuang nafas panjang, ketika kopinya sudah datang dia langsung meminum minumannya itu untuk memenangkan dirinya sendiri.


Memang tidak ada yang salah dengan perkataan yang Jihan katakan, semua benar dan memang itu faktanya yang sudah ada. Tapi kalimat yang Jihan katakan itu terlalu kasar, bagaimana bisa dia mengatakan semua itu tanpa berpikir?


"Untung Hana sudah tidur, jika tidak kau akan menyakiti perasaannya." Jihan menunduk, ia memang salah karena terlalu kasar dalam bicara seperti itu.


"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakan semua itu, aku hanya ingin mengingkatkan diri mu saja. Kau pasti juga tidak mau jika Hana kedua kali masuk ke tangan yang salah."


Johan hanya berpikir, apakah ia harus jujur dengan perasaannya yang selama ini ia pendam? Tapi ia tidak terlalu pandai dalam mengatakan tentang perasaannya itu, Johan memang tipikal pria diam dan tidak perduli dengan sekitar. Tapi di sisi lain, dia akan menjaga hatinya untuk seseorang.


Mungkin harapan yang Johan katakan tidak akan terkabul, karena dugaannya salah besar. Hana tidak tidur, dia berada di amban pintu, dia mendengar semua percakapan antara kedua sepupu itu.


Hana berdiri di belakang pintu, sampai di mana dia melihat ke belakang. Melihat punggung yang biasa ia lihat dalam keadaan tegap sekarang menjadi kehilangan tenaga. Apakah yang Jihan katakan itu benar? Johan sudah terlalu lama berjuang dan pria itu pantas mendapatkan segalanya.


Tapi di sisi lain, Hana merasa dirinya tidak pantas untuk Johan. Pria itu terlalu sempurna untuknya, dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari Hana.

__ADS_1


"Apakah aku menyakitinya dulu? Aku membuatnya-"


__ADS_2