Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 113


__ADS_3

Perawatan yang diberikan sudah maksimal, Hana juga sudah di rawat selama beberapa hari dan keadaannya juga sudah mulai stabil sekarang. Dan kini perempuan itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


Hana duduk di kursi roda dengan Johan yang mendorong kursi roda bersamaan dengan membawa tas yang berisikan pakaian yang tidak banyak itu. Hana hanya diam sepanjang perjalanan menelusuri lorong, perut besarnya sangat menonjol terlihat.


Sampai di mana di lobby, di sana tentu saja akan banyak orang di sana. Mobil sudah datang dengan Jihan yang mengambil mobil itu, membuka pintunya dan menggendong Hana dengan penuh hati-hati masuk ke dalam mobil.


Menaruh barang-barang yang tidak banyak itu ke bagasi mobil, Jihan berganti alih duduk di kursi tengah sedangkan Hana di kursi depan. Ia juga sadar diri, mereka juga pasangan yang belum berhubung atas status apa pun.


Johan masuk ke dalam mobil, setelah itu perjalanan mereka pun di mulai dan kembali pulang ke rumah. Masalah keadaan kamar yang hampir 3 hari tidak di tempat itu, sudah Jihan urus dan menyuruh beberapa maid untuk membersihkan kamar Hana.


"Kamu yakin sudah baik? Jangan paksakan dirimu, kau akan melukai dirimu sendiri." Johan tidak yakin dengan keadaan, bukannya dia tidak percaya dengan Hana atau bahkan tidak berharap jika Hana dalam keadaan baik-baik saja.


Pria itu hanya tidak mau ada kebohongan di antara mereka berdua, di tambah sekarang mereka memang satu rumah sekarang. Hana di titipkan kepadanya untuk dirinya jaga, tentu saja akan ia rawat sebaik mungkin. Johan akan berusaha melakukan apa saja.


"Aku tidak apa, aku sudah baik-baik saja."


"Jika kamu merasakan sesuatu, katakan saja. Jangan di pendam, kata dokter kau tidak boleh melakukan itu nanti kamu sakit lagi." Hana menoleh ke arah belakang, tersenyum ke arah Jihan yang perduli kepadanya.


Padahal ia tidak dekat dengan Jihan, perempuan itu baru saja ia kenal belum selama Johan atau bahkan selama setahun ini. Tapi dia perhatian dengan Hana lebih dari apa pun, tentu saja karena Hana adalah harapan yang Johan tunggu.


Memang seharusnya tidak ada yang disembunyikan di antara mereka. Karena memang pada dasarnya manusia tidak bisa menahan semua pikirannya sendirian.


Terlalu terbebani tentu saja, tidak bisa di pendam sendiri. Itu alasannya mengapa manusia memang membutuhkan cara bersosialisasi dengan yang lain agar tidak merasa kesepian. Tapi tidak jarang juga akan memilih sendirian dari pada harus bersama orang lain.


Memilih sendiri bukannya tidak membutuhkan siapa pun dalam kehidupannya. Ia butuh seseorang di sampingnya, hanya saja keadaan emosionalnya yang tengah tidak baik membuatnya mengurung niat. Attitudenya mendadak tidak ada ketika tengah marah.


"Setelah sampai di rumah, kamu harus istirahat. Aku tidak mau kamu sakit lagi."

__ADS_1


"Jangan terlalu khawatir kepadaku, Johan."


"Tapi aku khawatir kepadamu." Johan hanya menunjukan jika dirinya perduli dengan Hana. Ia hanya tidak mau jika perempuan itu merasa sendirian padahal masih ada dirinya di sekitar perempuan itu.


Setelah sesampainya di rumah setelah beberapa waktu perjalanan, Hana langsung di tuntun masuk ke dalam rumah. Walaupun sudah dalam keadaan yang pulih dan diperbolehkan istirahat di rumah, tetap saja masih belum terlalu sehat. Hana bisa saja melakukan sesuatu ketika tidak ada yang mengawasinya.


Johan juga akan terus berjaga dan mengawasi perempuan itu setiap saat. Tidak akan membiarkannya merasa sendirian, kehidupan ini memang tidak semudah yang di bayangkan.


Masuk ke dalam kamar, Johan membawa Hana masuk. Membantu perempuan itu berbaring di ranjang, membuatnya tertidur dengan tenang tanpa pikiran yang membebani. Johan sebenarnya tidak bisa jika melihat semua ini. Jujur saja, dia tidak akan bisa.


"Apakah aku gagal menjaga mu?" Mungkin begitu banyak yang pria itu pikirkan sekarang. Hana hanya menatap ke arah Johan, dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tidak, kamu sudah menjaga ku dengan baik. Jangan katakan itu."


"Tapi-"


"Jangan katakan itu lagi ya."


"Lebih baik kamu istirahat, aku akan keluar sebentar." Hana perlahan melepaskan tangannya dari Johan, pria itu pun segera beranjak dari sana kemudian keluar dari kamar itu.


Hana tidak tahu apa yang Johan rasakan sekarang. Pria itu tengah frustasi akan banyak hal, masalah terus datang tapi seolah semua dia abaikan begitu saja dari dirinya. Dia hanya tidak mau jika kejadian buruk terulang kembali membuatnya hancur sendiri.


...•••...


Anna berada di rumah sakit sekarang, kondisi yang memburuk membuatnya tidak bisa melakukan apa pun. Satya keluar mencari makanan sekaligus mengurus administrasinya, tentu saja Anna akan sendirian di dalam kamarnya. Tidak ada masalah, selagi semuanya aman.


Sampai di mana ia mendengar seseorang mengetuk pintunya membuat Anna menoleh mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Anna tidak tahu siapa yang akan masuk ke kamarnya sekarang. Dia pikir itu Satya yang baru saja kembali, tapi tidak masuk akal jika akan secepat itu.

__ADS_1


Tapi sepertinya kenyataan tidak berpihak ketika seseorang masuk ke dalam, bukanlah suaminya melainkan seseorang yang dia rindukan selama ini dan juga berusaha dia lupakan saat ini.


Dia berdiri di depan pintu menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan, sedangkan Anna tidak ada respon apa pun selain hanya diam tidak bisa berkata apa pun.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau tidak merindukan ku?" Anna tidak bisa berpikir, itu sungguh dia alami. Ketika pria itu datang, berjalan menghampirinya kemudian memeluk erat akan tubuh rapuh itu.


Ia tidak tahu harus berbuat apa, tapi semua ini jelas salah. Anna berusaha melepaskan diri dari pelukan itu secara paksa, tapi pria itu tidak mau melepaskan pelukan itu sama sekali. Sampai sebuah kalimat membuatnya terdiam di saat itu juga.


"Aku akan berusaha, Anna. Aku akan tetap berusaha meskipun harapan ku tidak pernah tercapai sama sekali, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Aku tahu kau tidak lagi mencintainya-"


"Apa maksudmu?! Lepaskan aku!" Anna berusaha melepaskan diri tapi tangannya di cegah oleh pria itu. Sepertinya teriakan sekeras apa pun tidak akan ada yang perduli.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu, aku tidak bisa ihklaskan dirimu kepadanya. Aku takut jika apa yang di alami saudaramu terjadi kepadamu, aku mencoba melindungi mu."


"Jangan katakan itu ketika dirimu sendiri yang menghancurkan diriku, Zergan!" Anna mendorong pria itu sampai dia mundur ke belakang.


Anna bahkan mengambil pisau buah di sampingnya dan menodongkan benda itu kepada Zergan. Anna tidak mau melihat pria itu lagi, dia sudah menghancurkan kehidupan Anna dalam waktu sekejap saat itu. Bahkan seolah dunia mendadak gelap saat itu.


"Pergi dari sini..."


"Tapi-"


"PERGI!!!" Anna berteriak kencang membuat Zergan terkejut sendiri, pria itu tidak menyangka akan seperti ini.


Dia hanya menunduk, dia tidak tahu harus melakukan apa. Kesalahannya memang tidak bisa di ampuni, jadi wajar jika saja Anna memperlakukannya seperti ini. Itu sangat wajar menurutnya, tapi ia masih mencintai perempuan itu sampai detik ini bahkan ketika ia mulai sadar.

__ADS_1


Berakhir dia melangkah mundur dan pergi dari ruangan itu dengan penuh kepedihannya. Sedangkan Anna menangis di dalam kamar inapnya, tangannya gemetaran ketika memegang benda tajam di tangannya sekarang. Sampai di mana dia menjatuhkan pisau yang dia pegang, menangis keras memilukan.


__ADS_2