Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 121


__ADS_3

Jihan mengendarai mobilnya sekarang, karena ia memang ada janji saat ini. Setelah ia melaksanakan perintah dari Johan sekaligus menerima imbalan yang besar dari sepupunya itu. Dia langsung ke lokasi yang dia tuju sekarang.


Gadis itu berhenti di dekat taman, dia langsung turun dari mobil dan dia langsung berjalan ke arah taman. Gelap, tidak terlalu terang tapi suasana tenang itu yang membuatnya merasa taman adalah tempat yang terbaik untuk bertemu. Tidak sepi, ada beberapa orang yang berada di sana.


"Kira-kira, Lino suka dengan hadiah ku tidak ya?" Jihan memang tidak membawa dirinya saja, melainkan sebuah hadiah untuk sahabat lamanya.


Ia sangat merindukan sahabatnya itu, ia bahkan berharap jika semua ini cepat terjadi dan ternyata doanya terkabulkan sekarang. Ia tidak tahu seberapa bahagianya Jihan sekarang, gadis itu berjalan dengan senang.


Dia juga memegang hadiah yang dia bawa dengan senang dan ber antusias dengan semua ini, sampai di mana ia mendekat ke arah seorang pria yang berdiri di sana. Tapi ada yang aneh dengan itu, seseorang seperti memeluknya dari depan.


Jihan tidak mau salah sangka hanya karena salah melihat, dia melangkah mendekat dengan langkah pelan tanpa pria itu ketahui sendiri. Sampai suara ranting yang Jihan injak membuat keduanya melepaskan pelukan dan menoleh ke arah Jihan berada.


Gadis itu hanya terdiam ketika apa yang dia lihat sekarang, kejadian yang sangat tidak pernah dia harapkan terjadi. Andai saja jika semua ini hanya mimpi saja, katakan kepada Jihan jika semua ini hanya sebuah mimpi buruk saja.


"Jihan? Sejak kapan?" Lino yang melihat keberadaan Jihan, dia tidak panik hanya saja terkejut dengan keberadaan Jihan yang tiba-tiba di sana.


Sedangkan perempuan yang berada di samping Lino, dia menatap ke arah Jihan dengan tatapan tidak percaya sekaligus ia mencoba meyakinkan jika semua ini bukan seperti apa yang Jihan lihat.


Reaksi Jihan benar-benar diam, ia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Secara reflek hadiah yang Jihan pegang terjatuh, menghasilkan suara yang membuat Jihan seketika sadar dengan apa yang dia lakukan.


Jihan mengambil kotak berukuran sedang itu, dan kemudian berdiri tegak lagi. Berusaha bersikap seperti biasa, tapi seolah semuanya tetap sia-sia saja. Jihan tidak menatap ke arah gadis itu, karena itu akan melukai hatinya meskipun ia sendiri merindukan gadis itu juga.


"Sejak kapan kamu datang?"


"Kau terlalu asik memeluknya sampai kau sendiri sadar jika aku sudah berada di sini, Lino. Ini untuk mu, aku membelikan hadiah untuk momen setelah sekian lama kita tidak bertemu." Jihan melirik ke arah gadis itu, dia berusaha memegang Jihan tapi Jihan menghindar.

__ADS_1


Melangkah mundur seolah dirinya tidak mau di sentuh oleh, sahabat perempuannya itu. Jihan menatap lagi ke arah Lino, ia tidak marah hanya saja. Ia kecewa dengan semua ini.


"Pantas saja kau selalu bilang sibuk dan baru 2 harinya kau membalas pesan ku, kenapa kau tidak bilang sudah berpacaran dengan Risa?" Lino menoleh ke arah Risa yang menatap ke arah Jihan yang berdiri di depan.


Mungkin Jihan memang pintar dalam urusan mengubah raut wajahnya tidak sesuai dengan suasana hatinya sendiri. Dia tetap tersenyum, tidak menunjukan ekspresi apa pun. Sampai di mana Lino merangkul bahu Risa membuat Jihan tidak bisa mengatakan apa pun.


Jadi semua berita itu benar, sahabatnya sendiri sudah merebut sumber kebahagiaannya selama ini. Seharusnya Jihan memang mendengarkan perkataan mereka, bukan malah percaya.


"Maafkan aku, Jihan. Aku sudah berpacaran sejak 1 tahun yang lalu aku tidak sempat memberi tahu mu. Maafkan aku-"


"Tidak masalah, kejutan yang bagus. Tapi aku tidak bisa berlama-lama karena aku ada urusan." Jihan membalikan badannya hendak pergi begitu saja, tapi seseorang memanggil namanya membuat langkahnya terhenti.


"Jihan, kamu tidak merindukan aku?" Jihan menoleh sekilas dan kemudian tersenyum.


"Sepertinya tidak." Jawaban yang setelah itu Jihan benar-benar pergi meninggalkan taman itu, ia berusaha menahan tangisannya sendiri.


Dia masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya sendiri. Gadis itu menangis kencang di dalam mobil, bahkan dia terus memukul setir mobilnya untuk pelampiasan emosionalnya.


"BAJINGAN! KAU BAJINGAN RISA! KAU BAJINGAN!!!" Jihan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia sudah terlalu lelah dengan semua ini.


Posisi sekarang Jihan sudah di ujung tanduk, tidak ada yang tahu akan keadaannya sekarang karena sebenarnya Jihan menyembunyikan semua lukanya seorang diri. Gadis itu menangis kencang, menguras semua tenaganya sendiri.


Di satu tempat lain, Lino menatap ke arah di mana Jihan pergi. Itu membuatnya heran, itu bukan sebuah momen yang sering terjadi melainkan Jihan tidak pernah meninggalkan tanpa alasan yang jelas. Pria itu terus menatap ke arah sana sampai di mana dia menoleh ke arah Risa.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan Jihan? Kenapa dia seperti itu? Aku tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya." Lino baru tahu Jihan seperti itu, ia benar-benar tidak pernah melihat Jihan yang seperti itu. Biasanya dia akan mengajaknya bercanda seperti biasa, jalan-jalan berdua dan memakan makanan di tempat langganan mereka berdua.

__ADS_1


Tapi gadis itu benar-benar pergi, alasan yang kurang logis jika dia sibuk. Jika dia sibuk seharusnya dia tidak datang, dia bilang di chat tidak ada urusan dan sekarang tiba-tiba saja. Ada apa dengan Jihan?


"Mungkin dia memang sibuk, lebih baik kita jalan-jalan saja. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua." Lino sebenarnya akan menjawab sebuah kata tapi tidak di sempatkan karena Risa menariknya ke parkiran lain untuk segera pergi ke mobil.


Lino tidak tahu dengan apa yang terjadi, dia memegang hadiah yang Jihan berikan kepadanya dan memegang hadiah itu dengan erat. Sedangkan Risa dia hanya diam, ia tidak tahu jika Jihan akan datang.


'Maafkan aku, Jihan. Tapi kamu tidak bisa memaksakan keadaan, aku mencintai Lino dan Lino menerima ku. Bukan dirimu, aku harap kamu tidak egois...'


...•••...


Jihan hanya berdiam diri di sana, dia duduk di salah satu kursi panjang di lapangan basket yang biasanya dirinya dan Lino biasanya kunjungi.


Gadis itu hanya diam, dengan es krim potong yang dia pegang tanpa ada niatan memakannya. Es itu menetes ke tanah begitu saja, gadis itu hanya melamun memikirkan banyak hal. Bersamaan dengan air matanya yang terus menetes tanpa dia sadari sendiri.


Sampai di mana ia tidak sadar jika seseorang datang melihat keberatannya, dia menghampiri Jihan dan duduk di sisi kursi yang kosong. Jihan mengusap air matanya ketika dia tahu ada orang lain dia sekitarnya.


"Kau-" Dia mengambil es krim di tangan Jihan dan mematahkannya menjadi dua. Dia memberikan patahan yang lain kepada Jihan, dia hanya menerima es krim itu tanpa tahu maksud pria itu.


"Jangan memikirkan pria yang bahkan tidak perduli dengan semua tangisan mu itu, lagi pula orang yang kau percaya itu juga tidak akan memelukmu."


Kaisal, pria itu hanya mengatakan berdasarkan fakta. Dia tidak suka kebohongan yang terus menerus di sembunyikan, di mana ia adalah orang tengah. Kaisal termasuk salah satu orang yang tahu hubungan antara Lino dan juga Risa, sahabat yang Jihan percaya.


Dia sudah pernah bicara kepada Jihan, jika dia harus melupakan cinta pertamanya itu dan lebih baik melupakan sahabat perempuannya itu. Tapi dia menolak akan ajakan yang Kaisal berikan, dia memilih percaya. Dan lihat apa hasil dari kepercayaan yang sangat besar itu, sebuah kekecewaan yang tidak akan pernah dia lupakan dan sebuah luka baru.


"Menangis lah jika kamu masih merasa ada yang mengganjal, aku akan menemanimu di sini." Ucapnya dan benar saja, Jihan mulai menangis pilu di sampingnya. Jujur saja ia tidak akan bisa melihat semua ini. Tapi memang hanya dirinya yang tahu akan semua ini.

__ADS_1


"Kau benar, tidak seharusnya aku percaya dengannya..."


__ADS_2