
"AAHKKK!!" Dia melempar semua barang ke segala arah tanpa memikirkan orang lain, dia sudah benar-benar mengamuk sekarang karena semua rencananya sudah gagal total.
Sekarang ia harus bagaimana sekarang? Pasrah begitu saja? Tentu saja tidak akan dia lakukan, gadis itu mencoba berpikir sekarang tapi tanpa di duga seseorang mengetuk pintu rumah bagian pintu utama. Tentu saja ia bersembunyi di dalam kamarnya dan melihat dari celah pintu.
Di sana terdapat hampir 5 orang di sana dengan satu perempuan yang menggunakan seragam kepolisian, dan itu membuatnya ketakutan bukan main. Kelima orang itu seolah di tahan oleh beberapa orang yang tentu saja itu adalah bawahannya Aca, tapi kenyataannya tidak akan bertahan lama karena dalam sekejap polisi itu langsung menodongkan senjatanya membuat semua orang langsung ketakutan.
"Katakan di mana gadis itu atau kalian yang akan terkena akibatnya." Ucapnya dan menatap dengan penuh tuntutan yang harus di turuti. Dia memberikan isyarat kepada yang lain untuk masuk ke dan tanpa harus meminta ijin.
Mereka pun bergerak ke setiap ruangan satu ke ruangan yang lain, sampai di mana salah satunya menemukan kamar yang terkunci dari dalam.
Dia memberikan kode kepada Arga untuk mendekat, dan pria itu mendekat ke arah kamar itu. Dia berdiri di sana, ia sudah cukup bersabar dengan semua ini. Tapi sudah selesai ia bersabar, karena kesabarannya selama ini sudah habis sekarang.
"Buka pintunya atau aku dobrak!" Ia harus melakukan ini agar targetnya mau menurutinya, tapi sepertinya tidak akan mempan jika tidak langsung dengan kekerasan. Dia menoleh ke arah rekannya untuk mendobrak pintunya secara bersamaan.
Tanpa aba-aba sama sekali dia mendobrak pintu itu dengan tenaganya yang tersisa, sampai pintu itu berakhir rusak total dan dia masuk ke dan ruangan itu. Ia melihat bagaimana gadis itu menusukan pisau itu ke perutnya sendiri, tentu saja membuat orang-orang yang melihat terkejut dengan kelakuannya yang terkesan nekat.
"Kau tidak akan bisa menangkapku..." Arga mendekat, tapi ia takut jika keadaan akan semakin parah dan tentu saja itu akan memperlambat segalanya.
Dia menatap ke arah Aca dan tentu saja ia tahu apa yang harus di lakukan sekarang. Pria itu membuang nafas panjang, ia berjalan dengan santai membuat Aca melangkah mundur untuk menghindari keberadaan Arga sekarang yang sudah tepat di depannya.
Pria itu tidak memikirkan apa pun, dia mencabut pisau itu tanpa berpikir panjang dan menangkap Aca yang terjatuh. Dia meminta temannya untuk segera membawa Aca bagaimana pun keadaannya, ia tidak akan perduli.
"Bawa dia sekarang juga."
"TIDAK! LEPASKAN AKU!!!" Gadis itu memberontak, dia seolah lupa apa yang sudah dia lakukan kepada dirinya sendiri sebelumnya.
__ADS_1
Dia mencoba untuk bunuh diri dan dengan niat dia tidak akan di tangkap, tapi kenyataan lain karena dari pihak Arga sudah tidak mau terlalu memberi banyak kesempatan. Ia tidak perduli dengan keadaan sekarang, ia akan membawa Aca. Hidup atau mati, itu harus dia lakukan untuk menyelesaikan semua ini dengan tuntas tanpa sisa.
Ia tidak akan membuang banyak waktu hanya untuk meladeni anak itu begitu saja, walaupun gadis itu sudah memberontak seperti orang gila dan tidak berpikir jika darahnya sudah berceceran di mana-mana.
Dia di bawa masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu, Arga yang berada di kursi depan dan menghubungi sisa bawahannya menyuruh mereka menjaga di rumah sakit, ia tidak akan lengah tentang hal ini. Walaupun dia tidak bisa memaksa kondisi yang sekarang, darah gadis itu sudah tidak bisa di kendalikan dan tentu saja Arga tidak mau di tuduh membunuh hanya karena keegoisannya.
"Kita langsung ke kantor?"
"Tidak, bawa dia ke rumah sakit dan setelah pengobatan selama sehari dia baru akan di tahan sementara sebelum persidangan." Arga sudah muak dengan semua ini, jujur saja ia sudah tidak bisa menahan emosinya.
Kejadian yang begitu membuatnya marah, bagaimana pun dunia ini memang tidak ada yang namanya tulus, mana ada? Tidak ada itu sudah jelas, seperti sekarang di mana seorang sahabat yang sudah di anggap lebih dari separuh hidup kenyataannya dia bisa tega menghancurkan hidup sahabatnya sendiri hanya karena seorang pria.
Perjodohan itu bukan kemauan siapa pun, atau bahkan kedua belah pihak. Yang seharusnya di salahkan adalah pihak keluarga bukan korbannya, jika Aca masih punya pikiran dia pasti akan berpikir demikian, tapi mungkin otaknya sedang dangkal.
...•••...
Satya menolak, ia tidak akan mau. Di sisi lain ia memang salah, itu sudah jelas dia akui selama ini dan memang itu adalah kesalahannya.
Tapi tidak menuntut kemungkinan juga jika anak yang berada di kandungan perempuan itu adalah bukan darah dagingnya. Kenapa Satya bisa berpikir begitu? Dari kelakuannya saja sudah jelas bukan? Kenapa harus di pikirkan? Tapi tidak ada yang tahu bagaimana masa depan nanti, Satya tidak mau melarikan diri dari tanggung jawabnya sekarang.
Ia menoleh ke arah jendela, tidak ada cahaya yang masuk dari sana dan ia hanya sendirian di dalam ruangan itu. Memeluk dirinya sendiri dengan segala kesalahan yang membuat nasibnya mendadak menjadi malang seperti ini.
Suara pintu tidak membuatnya mengalihkan pandangannya, Viona masuk karena ia khawatir dengan keadaan putranya itu. Dia hanya melamun sepanjang hari, menolak untuk makan atau bahkan minum, berbicara saja dia sudah jarang. Tentu saja orang tua mana yang tidak akan khawatir?
"Satya, ayo makan malam dulu nak. Bunda sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu..." Tidak ada jawaban dari sang anak sendiri, dia hanya melamun dengan pandangan yang kosong ke depan.
__ADS_1
Viona juga sudah bersabar menghadapi tingkah anaknya, memang keadaan sekarang tidak kondusif sama sekali. Di tambah banyaknya masalah tentu saja membuat Satya tidak dapat berpikir dengan benar.
"Satya-"
"Aku ingin bertemu sama, Hana..." Ucapnya dengan nada lirik, sampai di mana dia menoleh ke arah wanita paruh baya itu dengan tatapan penuh permohonan.
"Tapi-"
"Hanya sekali saja, aku ingin bertemu dengannya..." Viona membuang nafas panjang, ia tidak bisa berkata-kata setelah ini. Tapi tatapan Satya seolah ingin sekaligus memohon kepadanya, itu membuat hatinya seperti.
"Dia tidak akan mau bertemu dengan pria brengsek seperti mu, sadarlah dengan kesalahan mu dan berhenti keras kepala seperti itu." Pria itu datang berada di depan pintu kamarnya, tentu saja membuat dua orang yang berada di dalam langsung mengalihkan pandangannya.
Viona menggelengkan kepalanya, mencoba menghentikan tindakan suaminya itu. Tapi terlambat ketika Satya sudah mulai berdiri, dia beranjak dari tempat tidurnya.
"Tapi aku mau bertemu dengannya sekali, apakah itu sebuah kesalahan?"
"Tentu saja! Banyak kesalahan yang kau lakukan, apakah kau melupakan semua itu?!" Satya hanya diam, mendadak ia harus mengingat semuanya yang dia lakukan dahulu.
Di mana dia mengingat bagaimana tubuh kecil itu meringkuk kesakitan di atas lantai, tatapan mata yang memohon untuk dilepaskan, tatapan mata yang kecewa itu, bahkan air mata yang terus menetes itu membuatnya mendadak berhenti berpikir.
Satya memegangi kepalanya sendiri, pusing. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, wanita itu langsung menghampiri anak laki-lakinya itu dan memeluknya memberikan sebuah tenaga kepadanya, sedangkan kepala rumah tangga itu hanya diam melihat bagaimana hancurnya putranya.
Sejujurnya ia tidak tega melihat ini, tapi bagaimana pun semua itu adalah kesalahan Satya sendiri. Dia harus menerima apa yang sudah terjadi, mau atau tidak itu harus di lakukan.
"Satya, jangan seperti ini nak..."
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihatnya saja bund..." Viona mengusap kepala putranya dengan lembut, mengusap air matanya dan memeluknya dengan hangat.
"Jangan menangis, bunda akan berusaha melakukannya. Kamu jangan seperti ini ya, nanti Hana sedih..."