Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 59


__ADS_3

Satya memasuki ruangan sunyi itu, ia menatap ke segala arah dan seolah tidak ada kehidupan apa pun. Ia menatap ke arah di mana seorang gadis berbaring di atas bangsal dengan keadaan yang tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata.


Keadaannya kacau, melebihi batasnya. Wajah yang biasanya ceria di depannya sekarang dingin, kaku. Apakah ia bisa melihat senyuman itu lagi? Senyuman yang begitu tulus dan menyimpan sejuta luka selama ini. Kenapa bisa Satya sejahat itu?


Pria itu menghampiri, berdiri tepat di sisi bangsal dan tangannya gemetaran meraih tangan mungil itu, tanpa sadar ia menangis. Menangisi nasibnya yang malang, ia sendiri yang membuat nasibnya buruk dan bukan siapa-siapa yang membuat semua itu.


"Maafkan aku-" Satya terjatuh, ia membungkuk seolah ia ingin meminta maaf sebesar-besarnya. Jika saja istrinya bangun, ia akan bersujud untuk meminta maaf sebisanya, entah itu ia akan di maafkan atau tidak.


Satya seolah sudah kehilangan arah, ia tidak mengetahui jika sikapnya selama ini berlebihan. Istri di atas kertas, tapi walaupun begitu tanggung jawab harus tetap ada bukan? Tapi Satya tidak memenuhi tanggung jawab apa pun selain memberikan penderitaan. Entah Satya pantas di sebut suami atau justru musuh.


"Bangun aku mohon, aku akan memperbaiki semuanya. Seperti apa yang kamu mau, kita bisa mengulangi lagi dari awal tapi tolong-"


"Bangun ya, bangun aku mohon..." Air matanya terus menetes, keluar tanpa izinnya bahkan tidak di duga jika semuanya akan terjadi. Anggap saja ini adalah peringatan dari tuhan untuknya, membuat pria itu sadar akan berharganya sosok yang sering dia sia-siakan.


...•••...


Seseorang menyerahkan lembaran uang dengan jumlah besar kepada kelompok pria di depannya, gadis itu juga di temani oleh dua penjaga di sampingnya tentu saja minimal resiko bukan.


Ia tersenyum penuh bangga dengan semua itu. Menatap ke arah hampir 2 pria di depannya, mereka menerima apa yang diberikan gadis itu kepada mereka lantas mereka senang kegirangan.


"Wow! Banyak sekali, kau yakin?" Gadis itu mengangguk, lagi pula apa yang mereka kerjakan sudah berjalan sesuai rencana.


Seperti apa yang dia katakan maka semua akan terbayar semuanya, ia hanya tinggal memperhatikan saja bersamaan dengan membangun sandiwara yang bagus. Menyenangkan untuknya terus melakukan semua ini, walaupun ia tahu semua ini salah besar dia lakukan.

__ADS_1


"Tentu saja, semua untuk kalian. Semua ini juga berkat kerja keras kalian bukan? Kalian pantas mendapatkan imbalan yang besar."


"Tidak salah aku menerima tawaran mu, terima kasih. Kapan pun kau bisa menghubungi ku cantik." Ucapnya seraya berkedip genit kepada gadis itu.


Tidak masalah, lagi pula memang cantik dirinya itu. Pria itu pergi meninggalkan gadis itu masih di kawasannya, seperti apa yang dirinya bayangkan sebelumnya jika rencana berjalan dengan lancar bahkan tanpa hambatan. Ia pikir akan kacau karena satu orang seolah mengawasinya setiap dirinya melangkah menjalankan rencananya.


Tapi kenyataannya tidak ada apa pun yang terjadi kecuali berjalan dengan mulus, gadis itu tersenyum bangga. Ia tidak bisa menjelaskan seberapa bahagia dirinya sekarang, bagaimana? Ia harus melakukan ini karena seseorang yang dirinya cintai di rebut begitu saja. Entah di sengaja atau tidak.


"Lihat saja, akan aku buat hidupmu hancur sehancur-hancurnya. Mungkin ini baru saja pemulaan, tapi ini baru awalan, lihat apa yang akan aku lakukan berikutnya akan membuatmu tidak betah hidup."


...•••...


Ia seolah sudah kehilangan arah, walaupun semua orang tidak akan percaya dengan apa yang dirinya lakukan sekarang. Memang, tidak pantas untuk di percaya lagi karena dirinya juga sadar sudah menghancurkan kepercayaan semua orang karena satu kesalahan yang ia perbuat selama ini.


Satya hanya mau yang terbaik untuk istrinya, sudah hampir 1 bulan. Itu waktu yang lama untuk memperbaiki semua kesalahannya, ia harus benar-benar di hukum atas kesalahannya.


"Kamu kapan bangunnya, sayang? Kamu lelah ya? Apa aku jahat banget sampai kamu tidak mau bangun?"


Menggenggam tangan itu yang begitu dingin, entah kenapa ia merindukan semuanya. Merindukan memon ketika Hana masih dalam keadaan sadar, dan bodohnya lagi Satya menyia-nyiakan semua itu.


Ia tidak tahu, Theo datang menyadarkan dirinya dalam keadaan seperti ini. Entah kemana sekarang pria itu sekarang karena sudah 2 hari tidak terlihat setelah pertengkaran tersebut.


Masalah Anna, tidak lagi. Satya sudah tidak mau lagi, anggap saja Satya pria yang brengsek tapi itu kenyataannya dan ia akan menerima panggilan itu. Kenyataannya memang demikian, nyata apa adanya.

__ADS_1


"Kamu mimpi apa sih? Aku kangen sama kamu, kamu tidak mau mengulang dari awal bersama ku seperti apa yang kamu mau."


Satya menunduk, ini semua adalah kesalahannya. Tidak ada yang patut di salahkan kecuali Satya, pria itu memang salah dengan kesadaran yang ada ia memang mengakui kesalahannya sampai sekarang. Tidak mau beranjak hanya untuk melihat istrinya bangun dan melihat dirinya yang berada di sampingnya.


Apakah Hana akan memaafkan dirinya atau tidak itu tidak penting, Satya hanya mau memperbaiki semuanya saja dan itu tidak cukup dengan semua yang ia lakukan kepada Hana.


Tangisannya tak kunjung usai, menemani istrinya sepanjang hari sampai dirinya sendiri melupakan kesehatannya. Satya seolah lupa akan kehidupannya setelah kejadian kemarin.


Diam-diam wanita itu mengintip dari pintu, ia melihat putra tunggalnya hanya duduk diam seraya menggenggam tangan menantunya tanpa ada niatan melepaskan. Ia merasa semua baru saja di mulai, apakah ini benar? Tidak tahu, Viola tidak begitu paham dengan keadaan yang begitu mendadak. Tapi ia yakin anaknya sudah sadar dengan segala kesalahannya.


'Bunda harap kamu sadar akan kesalahanmu, Satya.'


Satya hanya terdiam di sana, ia terus berharap jika Hana akan bangun dan melihat ke arahnya. Tatapan apa yang akan Hana layangkan kepadanya nanti, Satya akan menerima semuanya termasuk kebencian yang ada.


Pria itu terus menatap ke arah Hana, sampai ia merasakan jika jemari istrinya mulai bergerak perlahan membuatnya terkejut. Ia tersenyum dengan girang, dan ia dengan segera memanggil dokter secepat mungkin.


"DOKTER AKU MOHON! ISTRI SAYA SUDAH SADAR!" Semua orang lantas menoleh dan kemudian berdiri, bahkan Dimas sendiri tidak menyangka akan terjadi.


Karena bel yang Satya bunyikan itu mengundang dokter dan beberapa perawat, mereka memeriksa keadaan gadis itu sekarang tanpa terkecuali. Satya berharap sekarang, sangat berharap jika semua akan baik-baik saja.


"Keadaan pasien sudah membaik, tapi dia butuh banyak istirahat. Selain dari benturan yang dia alami, racunnya masih ada di dalam tubuhnya. Kami akan memberikan infus khusus agar istri anda cepat pulih."


"Saya berharap akan itu, tolong bantuannya." Satya tersenyum bahkan sampai berlinang air mata, pria itu menoleh ke arah istri kecilnya. Ia menghampiri, menggenggam tangan dingin itu dengan hangat.

__ADS_1


"Makasih sudah mau berjuang, makasih." Walaupun Hana belum sepenuhnya dalam keadaan sadar, Satya tahu jika Hana akan mendengarkan dirinya. Setidaknya sebagai suami di atas kertas.


__ADS_2