
Mungkin semua ini belum sepenuhnya berakhir. Hana sudah merasa memang ada hal lain yang akan terjadi, tentu saja semua akan terjadi tanpa harus Hana ketahui sekali pun.
Seperti sekarang, menerima keadaan atau pun tidak sepertinya tidak akan mengubah apa pun. Semua ini akan tetap berjalan begitu saja, tanpa harus di perintah sama sekali. Seperti kehancuran awal di mana pernikahan akan hancur, entah itu salah satunya yang akan pergi atau justru memang keadaannya yang memaksa akan semua itu.
Tapi Hana sudah mulai menerima, dia mulai bisa menguatkan dirinya sendiri meskipun belum sepenuhnya ia percaya akan semua ini. Persidangan di mana pernikahan di nyatakan selesai dan juga sudah putus dalam apa pun. Jujur saja, perempuan itu masih tidak bisa berpikir karena semua itu.
"Kakak harap kamu bisa menerima semua ini..." Hana memeluk Dimas dengan erat, mungkin untuk menyembunyikan tangisannya sendiri yang seharusnya tidak di lihat siapa pun.
"Aku berusaha kakak, aku berusaha..." Memang berat kedengarannya, berpisah? Sebuah perkataan yang paling sulit di terima oleh siapa pun. Tapi bagaimana jika memang sudah jalannya? Tidak ada yang bisa mengubah semua itu kecuali memang takdir berpihak.
Johan hadir untuk menemani tentu saja, bahkan kedua orang tua antara Hana dan Satya juga datang untuk bersaksi. Tentu saja mereka akan setuju dengan semua itu, bukannya mereka mengharapkan kehancuran itu? Menghancurkan anak mereka sendiri.
Bahkan tatapan tidak bersahabat dari Dimas sudah terlihat ketika mereka keluar dari gedung kejaksaan, mereka bertiga. Kedua orang tuanya sendiri dan juga, Anna.
"Seperti apa yang kalian harapkan bukan? Aku harap ini yang terakhir kalinya kalian menghancurkan kehidupan adik ku." Ucapan Dimas memang terkesan kasar, bahkan kepada orang yang lebih tua.
Tapi siapa yang perduli? Tidak akan, untuk apa menghormati seseorang yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada. Semua itu akan berguna, berharap mereka berubah pun suatu hal yang mustahil. Tidak akan pernah terjadi, Dimas akan memastikan semua itu.
"Apa maksudmu?"
"Aku berpikir kau tidak sebodoh itu-"
"Jaga ucapanmu, kami orang tua mu."
"Orang tua ku? Kau bahkan juga mengusir ku ketika aku berkata kasar dan membuktikan jika anak kesayangan mu itu kriminal. Orang tua dari mana? Jangan terlalu banyak bermimpi." Hana berusaha menghentikan tindakan Dimas itu, tapi yang dia dapatkan adalah.
"Apakah kau sudah puas? Menjauhkan seorang ibu dengan putranya." Hana menoleh ke arah Stella, perempuan itu hanya diam ketika di hakimi. Ia berpikir mungkin semua itu benar, Hana juga salah di sini karena sudah membuat Dimas jauh dari keluarganya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan pria itu memberikan tatapan tidak senang dengan perkataan wanita itu, ia hendak melangkah maju tapi Hana menahannya lagi. Ia bahkan bingung dengan adiknya itu, bagaimana bisa dia hanya diam saja seperti ini? Sampai di mana Dimas sudah muak dengan keadaan.
Dia melirik ke arah Anna yang sepertinya terus melihat ke arah Hana, entah apa maksudnya tapi Dimas sama sekali tidak menyukai hal itu.
"Sepertinya kau sudah puas merebut semuanya, aku berharap kalian semua tidak muncul lagi di hadapan ku."
"Dimas!"
"Kau tidak berhak meninggikan nada suaramu, tuan. Aku bukan lagi anak mu, mengakui itu pun aku tidak akan mau." Mereka seolah memang tidak percaya dengan apa yang Dimas katakan sekarang.
Mereka melirik ke arah Hana yang memang hanya diam sejak tadi, tatapan benci itu membuat Hana seolah dirinya memang tidak pernah di harapkan hidup. Tapi kenapa mereka mempertahankan Hana jika mereka tidak berharap? Apakah karena kekurangan Hana?
Anna ingin berbicara, tapi Stella sudah terlebih dahulu menariknya untuk segera pergi dari sana. Wanita itu sudah muak meskipun hanya menatap beberapa detik ke arah anaknya sendiri, benci mengakui jika Hana adalah bagian dari hidupnya. Pernah dia perjuangkan, tapi itu dulu.
"Kau harus cepat, kita harus mengurus pernikahanmu nanti." Anna berusaha memberontak tapi tidak bisa, ia ingin menghampiri ke arah Hana.
Hana hanya menatap keluarganya itu pergi meninggalkannya begitu saja. Sepertinya mereka akan bahagia setelah ini karena mereka sudah puas dengan hasilnya, apa yang sudah mereka lakukan berhasil bukan?
"Kamu tidak apa-apa?" Johan datang, pria itu sebenarnya tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri. Yakin jika dia tidak baik-baik saja setelah apa yang terjadi.
Tapi dugaannya salah ketika ia mendapatkan jika Hana tersenyum ke arahnya seolah tidak terjadi apa-apa, ia merasa heran. Mengapa Hana tersenyum di saat seperti ini?
"Apakah aku terlihat menyedihkan sampai kau menanyakan itu?" Johan melangkah mendekat, dia membenarkan jaket yang Hana kenakan.
Cuacanya memang tidak bisa di duga, apa lagi keadaan sekarang perempuan itu tengah mengandung seorang anak sekarang. Walaupun ia lumayan tidak bisa berpikir, tapi Jihan berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Hana yang mendapatkan perlakuan itu, dia hanya diam. Apakah ia harus berterimakasih kepada Johan? Pria itu selalu ada ketika dirinya merasa terpuruk, sama seperti dahulu bukan? Tidak ada yang berubah dari pria itu.
__ADS_1
"Terimakasih..." Ucapan itu membuat pria itu lantas menatap ke arah Hana, untuk apa?
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya." Johan hanya tersenyum, dia menggelengkan kepalanya saja. Itu tidak seharusnya di ucapkan, Johan juga suka rela melakukan semua itu. Tentu saja dengan sejuta alasan, tapi alasan paling besar adalah di mana ia ingin melindungi perempuan itu, yang selama ini ia puja, bahkan sampai detik ini.
"Hana." Suara yang tidak asing, membuat keduanya mengalihkan pandangannya termasuk Dimas.
Melihat keberadaan pria itu, tentu saja membuatnya muak. Untuk apa dia datang sekarang? Dimas tidak tahan harus melihat Satya, tapi dia juga harus tetap berada di sana untuk mengawasi Hana walaupun sudah ada Johan di sana.
Johan melangkah beberapa langkah lebih dekat dan melindungi Hana, itu yang dia lakukan ketika Satya datang. Sepertinya dia sudah merasa memang kehadirannya memang tidak di harapkan sekarang. Tapi ia hanya ingin melihat perempuan itu saja, seseorang yang sudah membuatnya hampir gila. Tapi sayangnya caranya terlalu salah.
"Mau apa kau?" Hana menahan Johan agar tidak melakukan apa pun, walaupun sejujurnya Hana juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Satya rasakan. Merindukannya, sebuah kata yang gila ketika di ucapkan.
"Aku hanya ingin melihatnya saja, apakah kau keberatan untuk itu? Hana..."
"Apakah semua harapanmu sudah terkabulkan? Aku rasa iya, ini yang kau harapkan sejak dulu." Satya terdiam, mungkin apa yang dikatakan Hana benar. Dulu dia memang menginginkan semua ini, perpisahan ini.
Satya memang mau semua ini, tapi itu dahulu. Ia termakan akan omongannya sendiri, sekarang dia mencintai perempuan itu lebih dari apa pun juga. Memang penyesalan selalu datang di akhir.
"Aku berharap setelah semua ini, kamu bisa lebih bahagia. Maafkan aku atas semua yang terjadi, kesalahanku memang tidak bisa di maafkan dan aku tahu itu. Aku harap kamu bahagia, hidup dengan lebih baik setelah ini, dan aku berharap juga akan ada seseorang yang datang kepadamu. Seseorang yang bisa menjaga mu, mencintaimu lebih dari apa pun, lebih dari diri ku. Terimakasih sudah pernah mewarnai hari-hari ku selama ini, maafkan aku."
Hana terdiam, tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Tapi dengan cepat ia menghapus jejak air matanya itu dengan kasar, memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau terlihat paling hancur sekarang, Hana tidak mau lagi di anggap lemah meskipun demikian ia juga sadar diri.
"Sampai jumpa di lain waktu, aku harap kamu datang ke acara pernikahan ku..." Ucapnya dengan nada lirik, kemudian pria itu pun pergi dengan langkah lemas.
__ADS_1
Sedangkan Hana hanya diam, ia kembali menoleh ke arah di mana Satya pergi. Jujur saja ia tidak akan siap dengan semua ini, tapi bagaimana? Hana tidak sekuat itu.