
Dimas masuk ke dalam ruangan tersebut, ia membawakan makanan untuk adiknya. Hampir seharian penuh Hana tidak makan, mungkin ia mulai mengerti dengan keadaan nantinya. Walaupun memang bukan sekarang, tapi memang seharusnya perlu beradaptasi.
"Kamu bisa melanjutkan menulis mu nanti, setidaknya makan lah dulu." Hana berhenti bergerak, perempuan itu hanya menoleh sekilas dan kemudian dia memilih memperhatikan laptopnya lagi.
Memang butuh waktu untuk menyesuaikan keadaan yang sekarang, memang tidak akan mudah seperti apa yang dikatakan. Dimas meletakkan makanan itu di atas meja, dia menghampiri Hana dan memegang kening adiknya itu. Demam, walaupun tidak seberapa tetap saja dia sakit.
"Makan dulu, badanmu sudah demam. Asam lambung mu bisa naik nanti, kasihan anak mu." Ucapan Dimas memang ada benarnya, Hana terpaksa harus beranjak dan kemudian dia duduk di atas lantai. Melihat makanan itu berada di meja kecil tepat di atas karpet.
Suasana dingin seperti ini, lebih cocok untuk menyendiri. Tapi seolah pria itu tidak akan pernah membiarkan Hana sendirian, dia takut terjadi sesuatu yang tidak dapat di duga. Dimas tahu betul bagaimana Hana, anak itu nekat. Tanpa memikirkan apa pun dia bisa melakukan apa saja sekarang, itu adalah salah satu alasan mengapa Dimas tidak akan membiarkan Hana sendirian.
Dimas hanya diam memperhatikan Hana yang tengah makan, dia hanya mau memastikan jika Hana makan dengan baik. Hanya itu saja, antara dia tidak mau Hana sakit nanti dan juga keadaan kandungan Hana memburuk. Tidak mau semua itu terjadi, semua sudah hancur tapi jangan menambah sebuah kehancuran itu lagi.
"Jika kamu ingin sesuatu, katakan saja. Jangan diam saja."
"Aku tidak mau apa pun."
Hana sekarang tinggal di apartemen yang dulu, tentu saja tempat yang sama sebelum dia pindah ke rumah itu bersama suaminya. Entahlah apakah pantas ia harus memanggil pria itu dengan sebutan suami, tapi di sisi lain Hana masih berharap lain.
Apakah itu adalah sebuah kesalahan? Walaupun jujur saja jika ia sudah mulai merasa lelah dengan semua ini, tapi Hana tidak mau menyerah begitu saja. Ia masih memikirkan satu nyawa yang harus dirinya jaga sekarang, ia berharap semuanya akan baik-baik saja nantinya.
Dimas memandangi wajah Hana yang hanya diam dan makan dalam suasana hening seperti ini. Ia tidak tahu apa yang Hana rasakan sekarang, walaupun ia berusaha mengerti keadaan tapi di sisi lain Dimas tidak mau jika Hana terluka seperti dahulu.
Ia hanya diam sekarang, sampai suara notifikasi dari ponselnya membuat keduanya sama-sama mengalihkan pandangan ke arah ponsel tersebut. Dimas membuka layar ponselnya dan terdapat notifikasi dari seseorang, tanpa sadar ia mulai merasa lega sekarang.
__ADS_1
Pria itu beranjak dari tempat duduknya membuat Hana mendongak, mau pergi ke mana Dimas sekarang? Karena kemarin Dimas hampir seharian tidak ada di rumah, memang hanya Hana sendirian di dalam apartemen tersebut.
"Kakak mau ke mana?" Suara itu membuat Dimas menoleh, pria itu hanya tersenyum dan membungkuk menyamakan tinggi badannya dengan perempuan itu. Mengusap rambut pendek itu dengan lembut seperti sebelumnya.
"Kakak keluar sebentar, ada urusan penting. Kakak akan pulang sebelum matahari terbenam kakak janji." Hana hanya diam dan menatap ke arah di mana Dimas sudah keluar dari kamarnya.
Perempuan itu hanya menunduk, memandangi makanannya yang sudah tidak ada selera sama sekali. Perasaannya campur aduk sekarang, tidak dapat dijelaskan setelah kejadian di mana kemarin dia meninggalkan rumah itu dan ia harus tinggal bersama kakaknya.
Tidak ada yang perlu di permasalahan, Hana juga lebih baik tinggal bersama Dimas dari pada pria itu. Karena memang pada dasarnya Hana masih belum terbiasa, walaupun juga sudah satu tahun lamanya ia tinggal bersamanya.
Hana menunduk, memandangi perutnya yang belum terlihat besar. Ia memegangi permukaan perutnya, mengusapnya dengan perlahan penuh dengan kasih sayang. Sungguh, ia tidak menduga akan secepat ini. Tapi situasi seperti ini, membuatnya tidak memikirkan apa pun.
"Bunda berharap, kamu tidak marah sama bunda. Maafkan bunda sudah menjauhkan mu dari ayah..."
Sekarang mereka berkumpul, tentu saja bukan tanpa alasan. Mereka berada di sana untuk mengumpulkan barang bukti, jangan berpikir mereka akan berhenti bertindak hanya karena satu hambatan saja. Tidak mungkin, jangan banyak bermimpi untuk hal itu.
"Aku harap semua ini akan segera selesai." Tentu saja, sebuah harapan yang harus dia wujudkan sendiri. Ia tidak mau semua ini terus berlanjut berakhir hidup orang lain yang hancur.
"Tentu saja, aku juga akan berusaha menyelesaikan semua ini."
"Terimakasih, kau sudah terlalu banyak membantu."
"Itu bukan sebuah masalah, aku sudah menganggap Hana seperti adik ku sendiri. Jangan terlalu khawatir dengan masalah ini, aku akan mengurus sisanya."
__ADS_1
Arga yang pernah membantu kasus Hana dulu, di mana dia juga membantu menangkap pelaku yang hampir memperkosa Hana saat masih sma saat itu. Dia memang mempunyai jabatan yang tinggi, dia juga dilobatkan sebagai direktur kepolisian termuda. Mungkin karena memang ayahnya adalah seorang angkatan udara, lebih tepatnya tentara angkatan udara dengan bintang 4.
Tentu saja jabatan seperti itu tidak sebuah permainan, di mana memang harus terus maju paling depan dari pada yang lain. Semua keluarga Arga memang terkenal akan keluarganya yang kebanyakan terjun menjadi anggota kepolisian atau bahkan tentara.
Jangan terlalu heran jika mental pria itu memang terlalu kuat, didikan sejak kecil sudah militer. Dan lupakan soal sisi belakang Arga sekarang.
Pria itu mengurus semuanya dengan baik, membawa semua bukti yang sudah dia kumpulkan bersama teman-temannya yang suka rela membantunya. Menyelamatkan Hana memang sebuah tujuan utama, tidak ada tujuan lain lagi. Sebenarnya jika Arga mau, dia bisa saja menyuruh Jaksa untuk menuntut tuntutan hukuman berat. Tapi bagaimana pun, ia masih terlalu menjunjung tinggi keadilan. Arga tidak mau membuat jabatannya sebagai permainan.
"Jadi, kapan semua ini akan di bawa ke meja hijau?"
"Secepatnya setelah semua bukti ini aku serahkan." Tidak mau terlalu mengulur waktu, semakin cepat semakin baik bukan? Ia tidak mau memperpanjang masalah.
"Aku akan menunggu kabar baiknya, aku harap kamu bisa menjaga kepercayaan ku." Dimas menepuk bahu Arga membuat pria itu tersenyum tipis.
"Tentu saja, aku akan menjaga itu dengan baik." Dimas tersenyum bangga, Arga memiliki umur lebih muda dua tahun dari Dimas. Tapi dia sudah memiliki banyak hal seperti ini, memang Arga pantas mendapatkan semua ini.
"Aku akan ke petinggi sebentar, mengurus semua ini. Kalian bisa pulang ke rumah dan menunggu."
"Mau aku temani?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Arga pun berpamitan dan kemudian dia mengambil helmnya yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
Dia memakai helmnya dan kemudian pergi dengan membawa barang bukti itu di dalam tasnya sekarang. Dia memang anak tentara yang sesungguhnya, walaupun dia memang agak susah di atur pada jamannya. Yang lainnya hanya bisa menunggu kabar saja, berharap semua akan selesai nantinya. Mereka sangat berharap kepada Arga saja, pria itu adalah harapan.