Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 77


__ADS_3

Sekarang berada tepat di kantor polisi, Hana mendapatkan banyak pertanyaan dan Hana menjawab apa yang dia tahu saja. Tapi kenyataannya opini yang Hana katakan tidak sesuai dengan beberapa saksi yang ada. Karena polisi juga merasakan bingung dengan banyaknya opini, apa lagi opini yang Hana katakan cukup masuk akal.


Bisa saja korban ingin bunuh diri, dan Hana mencoba menghalangi tapi memang berada di satu lokasi yang sama membuat saksi kata salah paham dengan apa yang terjadi yang sebenarnya. Tapi polisi juga tidak bisa membenarkan itu semua, polisi juga berusaha mencari kebenaran dengan cara menyelidiki kasus ini.


Mereka akan meminta bantuan pihak keamanan kampus untuk membantu kasus ini agar cepat selesai, sekaligus tahu siapa yang salah di sini atau hanya sekedar salah paham semata?


Hana berakhir di suruh pulang karena memang sudah lumayan larut malam, hampir 4 jam dia di tanya dan bahkan dalam masa itu Hana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikirannya terus ke arah Aca yang melompat dari gedung dengan nekat tanpa mendengarkan apa perkataannya.


Gadis itu keluar dari kantor polisi, dan siapa sangka jika di luar ada Theo. Pria itu menunggu di luar kantor polisi, ia mendapati Hana keluar langsung menghampiri gadis itu.


"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana prosesnya?" Hana tidak bisa menjawab, semua masih belum jelas bagaimana keputusan polisi nanti.


"Aku tidak tahu..." Hana menggelengkan kepalanya, dia bahkan bingung dengan keadaannya sendiri.


Theo terdiam, ia terus menatap ke arah Hana. Bahkan keadaan Hana kacau, seharusnya jika saja Hana melakukan perbuatan keji itu keadaannya tidak akan seburuk ini. Dia nampak gelisah sekaligus kebingungan, dia bahkan bingung harus mengatakan apa di sisi lain tidak akan ada yang percaya dengan dirinya nanti.


"Sudah malam, aku antar kamu pulang ke rumah."


"Tidak-"


"Tidak ada penolakan, ayo ikut aku." Theo menarik tangan Hana untuk menuju ke mobilnya, Theo naik mobil hari ini.


Hana terpaksa ikut, padahal di dalam hatinya ia ingin memeriksa keadaan sahabat. Dia khawatir, anggap saja gadis itu sudah gila karena masih saja memikirkan manusia bermuka dua yang bahkan mengawali semua kesalahpahaman ini terlebih dahulu. Apakah tujuannya akan tercapai setelah ini? Tentu saja sudah, dia sukses melakukan semua itu.


Gadis itu melamun sepanjang perjalanan, itu membuat Theo merasa memang ada yang janggal. Di sisi lain, dia melihat korban terakhir kali membuat urusan dengan Anna. Kenapa sekarang jadi Hana yang kena? Itu sebuah tanda tanya besar.


'Aku akan menyelidiki ini.'


...•••...

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Hana masuk ke dalam rumah dan tentu saja dia masuk ke dalam sana dalam keadaan linglung. Seperti nyawanya lepas, raga yang utuh itu tidak ada yang mengendalikan sama sekali.


Sampai di mana Hana melihat Satya berada di rumah, dia memindahkan semua barang-barangnya ke tempat lain membuat Hana berlari ke arah Satya. Pria itu tetap sibuk dengan urusannya, ketika ia mulai sadar jika ada orang lain yang berada di sekitarnya. Dia mulai menoleh ke arah di mana Hana berada.


"Kau memang tidak tahu diri, Hana." Hana merasa semuanya sudah hancur, Satya meletakkan tasnya dan kemudian berjalan mendekat ke arah Hana.


"Apa maksudmu?"


"Kau itu harusnya sadar sudah punya suami, dan kau malah pulang dengan pria lain? Di mana otak mu itu?"


"Aku terpaksa-"


"Benar apa kata Aca, kau memang munafik." Seketika Hana terdiam, ia hanya bisa menyaksikan Satya membereskan barang-barangnya ke ruangan lain dan kemudian ketika pria itu menutup pintu kamarnya dengan kencang. Membuat Hana semakin merasa jika dunianya akan benar-benar hancur.


Dia hanya bisa menangis di sana, tidak bisa berbuat apa pun selain menangis. Meskipun Hana tahu, jika menangis tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Tapi Hana tidak ada pilihan lain, ia sudah terlalu lelah menghadapi semua ini.


Aca katanya, kenapa dia begitu tega dengan Hana? Apakah memang sejak awal gadis itu sudah membenci dirinya dan memang sengaja melakukan semua ini. Tapi kenapa? Kenapa sesakit ini?


Sepertinya Hana hidup dalam semua penderitaan yang sudah di siapkan selama ini. Seharusnya Hana tahu semua ini akan terjadi, jadi untuk apa ia berjuang sekarang? Tapi ia berjuang demi sesuatu yang seharusnya tidak boleh merasakan apa yang dirinya derita.


Sedangkan di dalam kamar, Satya terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia tidak percaya dengan semua ini atau bahkan apa yang dirinya alami. Ini semua mimpi bukan? Baru saja dia bahagia dengan pasangan hidupnya dan sekarang ia harus di suguhi dengan permasalahan besar.


Tapi dirinya lebih percaya dengan apa yang ia lihat ketimbang hatinya yang berkata, dia tepis semuanya. Ia tidak memperdulikan apa yang dikatakan hatinya, dia memilih percaya.


...•••...


Gadis itu hanya berdiam diri di depan cermin kamar mandi, badannya sudah lemas tidak bertenaga. Ia berharap semua ini akan berakhir tapi kenyataan berkata lain, tidak ada kata berakhir sebelum mati. Tidak akan ada yang berakhir sama sekali, apa harus Hana menghilang baru semua orang sadar akan kesalahan yang mereka buat?


Menatap ke depan, wajahnya sudah pucat. Apakah ia harus melakukan itu? Hana mengambil benda tajam itu yang tergeletak di wastafel, dengan kesadaran yang tersisa gadis itu menggores permukaan kulit pergelangan tangannya sendiri.

__ADS_1


Sampai robekan itu menghasilkan sebuah luka yang menganga besar, bersamaan dengan darah yang mengalir bebas tanpa hambatan. Bajunya terkena darah sekarang, dia hanya diam menatap ke depan dan menjatuhkan pisau itu ke lantai kamar mandi.


Hana menoleh ke arah bak mandi, dia berjalan ke arah sana dan menyalakan air di sana. Semua sudah penuh bahkan terlalu penuh menampung air terlalu banyak, kakinya mulai melangkah masuk satu persatu dan pada akhirnya dia duduk di wastafel. Air jernih itu seketika berwarna merah pekat, dan Hana mulai menenggelamkan dirinya di dalam air.


'Aku tidak bisa menahannya, aku sudah lelah. Lagi pula jika aku mati semua orang pasti senang, siapa yang akan menangisi ku? Tidak akan ada, tidak akan pernah ada...'



Sampai di mana gadis itu benar-benar hilang dari permukaan air yang mulai berwarna merah itu. Suara pancuran air yang terus menerus tersebut, tentu saja menimbulkan kecurigaan.


Ketika pria itu melewati keadaan kamar istrinya, dia membuka kamar mereka yang dulu. Keadaannya sepi, gelap, sekaligus sunyi. Hanya ada suara air dari kamar mandi yang tak kunjung usai, berakhir Satya memeriksa keadaan kamar mandi. Tapi dari dalam sudah terkunci.


"Apa dia mandi? Seharusnya sudah sejak tadi, kenapa lama sekali?" Tapi mendadak cairan merah meloloskan diri dari celah pintu membuatnya merasa panik.


Satya langsung bergerak mendobrak pintu kamar mandi, dia nampak gelisah sekaligus khawatir. Sampai pintu terbuka dengan keadaan jebol tentu saja, di bak mandi sana. Satya lantas melangkah cepat ke arah sana, dia melihat bak mandi yang merah dengan istrinya yang mengambang?


"Hana?!" Satya menarik Hana dari bak mandi, entah bagaimana bisa Hana berada di sana membuatnya merasa panik.


Pria itu panik, ia menatap ke arah pergelangan tangan yang terluka membuatnya menduga jika.


"Kau mencoba bunuh diri?! Apa yang kau lakukan?!" Satya mengambil handuk kecil dan melilitkan ke tangan Hana, dia juga dengan cepat mengangkat tubuh yang ringan tersebut keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Satya menggendong Hana keluar rumah, dia meminta bantuan satpam yang menjaga rumah untuk membantunya membukakan pintu mobil, Satya menidurkan Hana di kursi sebelah pengemudi.


"Tolong buka gerbangnya, dan matikan air di kamar mandi."


"Baik tuan." Satya dengan cepat masuk ke dalam mobil, dan mengendarai kendaraan roda empat itu keluar dari pekarangan rumah menuju rumah sakit.


Antara ia harus khawatir, sekaligus panik. Ia tidak menjelaskan apa yang dirinya rasakan sekarang, Satya terus menoleh ke arah samping di mana Hana masih tidak sadarkan diri. Badannya dingin, bahkan cairan merah itu menghiasi badannya. Satya tidak bisa berkata apa pun kecuali, ia hanya mau tetap bertahan.

__ADS_1


"Kau memang pengecut."


__ADS_2