
Jeffran menghampiri Hana, ia ingin mengajak gadis itu untuk pulang bersama dan lagi pula ia juga sudah meminta ijin kepada Dimas kalau ia akan mengantar Hana pulang sampai rumah.
"Hana, pulang bareng yok. Mau gak? Aku udah ijin sama Bang Dimas."
"Yaudah, ay-"
"Jeffran! Tunggu dulu!" Hana dan Jeffran sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang tidak lain adalah Anna.
Gadis itu berlari dengan tergesa-gesa ke arah mereka berdua, ia langsung menggandeng tangan lelaki itu tanpa permisi membuat Jeffran merasa risih dan hendak melepaskan tangan itu. Ia melepaskan tangan Anna secara paksa dari lengannya, tentu saja ia merasa tidak nyaman. Di tambah Hana berada di depannya sekarang yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri.
"Apa-apaan sih?"
"Kamu lupa ya? Kamu pulang sama aku titik."
"What? Aku pulang sama Hana bukan sama-"
"Gak apa-apa kok, mending kamu pulang sama Anna aja. Udah mau hujan loh." Ucap Hana dengan nada suara yang begitu pelan, sedangkan mendengar jawaban Hana.
Jeffran nyaris tidak percaya dengan apa yang Hana katakan kepadanya tadi, apa maksudnya? Kenapa Hana malah pasrah? Jeffran berusaha melepaskan Anna dari dirinya dan menggenggam tangan Hana.
Tangan yang mungil dan juga dingin, Jeffran tidak mau bersama Hana dan kalian pasti tahu apa alasannya. Hana adalah kekasihnya, dan mana mungkin Jeffran meninggalkan Hana sendirian hanya demi Anna yang tidak jelas dari mana datangnya.
"Kamu bercanda kan sayang? Kamu pulang sama aku, aku gak mau sama dia."
"Jeff, dia butuh kamu. Turutin satu permintaan aku sekali aja ya..." Hana melepaskan genggaman Jeffran dengan perlahan, tidak mau menyakiti perasaan Jeffran tapi ia sadar jika perkataannya pasti membuat lelaki itu sakit.
"Tuh denger apa kata Hana, gak apa-apakan? Ayo pulang, nanti aku di cariin sama ayah." Anna menarik Jeffran untuk segera berangkat. Sedangkan lelaki itu seolah enggan meninggalkan Hana sendirian di sana.
Sedangkan Hana hanya menunjukan senyum yang jelas-jelas jika itu adalah senyuman palsu yang biasa ia perlihatkan. Setelah keberadaan Jeffran dan Anna sudah hilang dari pandangannya, secara bersamaan air matanya menetes.
__ADS_1
Hana menutup wajahnya sendiri, menahan tangisannya yang seharusnya tidak ia lakukan. Mengalah setidaknya untuk sekali tidak ada salahnya, ia tidak tega dengan Anna. Bagaimana? Apa yang harus Hana lakukan sekarang? Selain menangis.
"Maafin aku, Jeff. Aku terpaksa melakukan ini maafkan aku..."
Hana mencoba menahan tangisannya tapi tidak pernah mampu untuk menahan. Sampai sebuah jaket menutupi punggung bahkan bahunya yang bergetar karena menahan tangisan yang tidak tahu entah sampai kapan.
Lelaki itu menarik Hana masuk ke dalam pelukannya, tidak tahu apakah Hana butuh atau tidak? Yang jelas ia sudah berusaha untuk tetap mengawasi dan selalu ada ketika Hana membutuhkan seseorang.
"Nangis, menangis lah sepuasmu. Aku akan menutupi air mata itu."
......•••......
Johan menyetir mobilnya, pertama kalinya ia membawa mobil. Mungkin karena cuaca akhir-akhir ini sulit di tebak, ia jadi tidak bisa memutuskan harus membawa kendaraan apa. Tapi sepertinya ia tepat memilih kendaraan sekarang.
Johan berhenti ketika tepat di lampu merah, ia menoleh ke arah samping. Membenarkan selimut yang Hana pakai untuk mengurai suhu dingin yang begitu menusuk, di luar tengah hujan walaupun tidak begitu deras tapi tetap saja. Suhu rendah tetap menyerang.
Lelaki itu menaikan suhu agar Hana tidak kedinginan, membenarkan selimut lagi dan juga membenarkan posisi tidur Hana. Sampai lampu awalnya merah menjadi hijau membuatnya mau tidak mau harus kembali fokus menyetir.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa berbuat lebih selagi tidak punya bukti apa pun. Tapi aku berjanji untuk melindungimu, setiap saja dan setiap engkau butuh."
Ia mengatakan itu dengan tulus, dirinya bahkan merasa sekarang bukanlah diri Johan yang sebelumnya. Johan tidak pernah seperti ini atau jangankan perduli, ia melirik orang saja begitu sangat jarang kecuali begitu penting untuk di lihat.
Mengarahkan kemudinya ke arah apartemen di mana Hana tinggali, setelah sampai di gedung tersebut. Lelaki itu masih terdiam, kemudian ia kembali ke arah Hana yang masih tertidur tanpa gangguan.
"Ngantuk banget ya? Sampek gak kerasa kalau sudah sampai rumah? hm?" Tangannya mengusap rambut panjang itu, dan kemudian ia pun segera keluar dari mobil.
Menutup pintu mobil dan berjalan berlawanan arah, membuka pintu mobil bagian samping kemudi. Menggendong Hana dengan penuh hati-hati, seolah tidak mau jika Hana terluka hanya karena dirinya. Johan berusaha selembut mungkin.
__ADS_1
Setelah terasa mengunci mobilnya, lelaki itu pergi ke arah lift bawah parkiran untuk ke lantai 5 di mana apartemen Hana berada. Ia berharap jika Dimas tidak banyak bertanya, pria itu seolah lupa akan segalanya jika sudah emosi. Tapi Johan juga sama saja, sedemikian rupa.
Menunggu lift sampai di lantai tujuan, ia pun segera keluar dari lift dan melanjutkan dengan perjalanan menelusuri lorong. Ia sudah tahu di mana tempat tinggal Hana dan Dimas. Tahu sendiri jika Johan adalah salah satu anggota geng yang Dimas pimpin saat ini.
Setelah sampai, Johan menekan tombol bel membuat pintu terbuka dan memperlihatkan Dimas yang letih beralih ke penuh keterkejutan.
"Loh? Kok malah kamu yang mengantar Hana?"
"Itu bisa aku jelaskan nanti, aku mau masuk. Di mana kamar Hana?" Dimas tidak banyak berpikir, ia menggantikan Johan untuk menggendong Hana.
Tidak terlalu berat, bahkan cenderung ringan. Dimas sampai merasakan bersalah sendiri akan itu, membaringkan Hana di atas kasur sederhana dan melepaskan kaos kaki yang Hana pakai.
Kembali keluar kamar tanpa membuat suara apa pun yang membuat Hana terbangun karena itu. Dimas menghampiri Johan yang hendak pergi, ia menahan lelaki itu untuk pergi tentu saja untuk meminta penjelasan.
"Kenapa kamu yang mengantar Hana? Harusnya-"
"Jeffran bukan? Dia sedang bersama Anna." Dimas menaikan alisnya tidak paham dengan apa yang Johan katakan. Sepertinya pemuda itu ngelantur setelah perjalanan jauh.
"Apa maksudmu? Jelas-jelas dia tadi meminta ijin kepadaku." Johan menatap ke arah Dimas, menunjukan wajah seriusnya dan tidak mau jika dirinya di tuduh sebagai pembohong hanya karena tragedi kecil.
"Anna datang dan meminta Jeffran mengantarnya, dan adikmu setuju. Itu alasan mengapa aku bisa bersama Hana sekarang, sudah terjawab?" Dimas tidak begitu mengerti, tapi ia mencoba mencerna apa yang Johan katakan kepadanya.
"Anna meminta semua itu di saat ada Hana?" Johan hanya mengangguk kecil, itu sukses membuat Dimas tersulut emosinya.
"Jangan marah terlebih dahulu, jika Hana sudah bangun jangan banyak bertanya. Dia masih lelah dengan acara kelulusan tadi. Aku pamit."
"Iya, hati-hati di jalan." Tidak ada jawaban dari Johan, tapi suara pintu tertutup membuat Dimas terdiam di sana sesaat.
"Kau masih saja menjadi parasit di kehidupan adik ku, Anna."
__ADS_1