
Mina hanya bermain seorang diri sekarang, tanpa ada yang menemaninya atau bahkan sekedar mengajaknya bicara sekali pun. Tidak ada yang mau berteman dengan gadis itu hanya karena sebuah masalah latar belakangnya yang terkesan terlalu buruk.
Bahkan sampai pulang sekolah sekalipun, tidak ada yang mau mengajaknya bicara. Anak baru tadi? Dia sibuk dengan dunianya sendiri, dan justru kebalikan dengan nasib Mina. Kayla justru memilih sendirian, padahal ada banyak orang yang mau berteman dengannya.
Tapi sepertinya kesendirian adalah waktu yang indah baginya. Kayla juga melihat sela ia bersekolah di sana, sering melihat Mina seorang diri tanpa ada seorang pun yang mengajaknya bicara atau sekedar mengajaknya bermain.
Merasa kasihan? Untuk apa? Itu bukan urusannya sekarang, lagi pula Kayla bisa apa? Dia hanyalah seorang anak kecil yang masih belum bisa apa pun, hanya bisa merengek kepada orang tua agar semua permintaannya di turuti. Tapi tidak seperti itu, Kayla di besarkan di keluarga yang keras. Itu alasan mengapa dia acuh kepada semua orang.
Tepat waktu akan sore sekarang, Mina belum di jemput sejak tadi entah apa alasannya. Anak itu terus menunggu di depan gerbang seorang diri, seraya melihat teman-temannya pulang di jemput oleh kedua orang tua mereka. Mina hanya melihat, ia ingin merasakan hal yang seperti itu.
Kesannya memang sepele, tapi kenyataannya hal sepele itu bahkan tidak bisa ia dapatkan. Di lindungi seseorang yang begitu menyayangi dirinya, tidak pernah Mina rasakan sama sekali.
Tepat di saat itu, Kayla tidak berkata apa pun dan hanya melihat. Ia bahkan menyuruh supirnya agar tetap berada di tempat, tidak pulang sekarang karena dia mengawasi seseorang sekarang.
Atau lebih tepatnya tengah mengawasi Mina yang masih berdiri di depan gerbang menunggu jemputannya datang saat ini, tapi tidak ada tanda-tanda kendaraan akan datang.
'Sudah 2 jam dia di situ, apa tidak lelah? Di mana jemputannya? Bodoh sekali.'
"Nyonya menyuruh anda cepat pulang nona, apakah anda masih mau di sini?"
"Ke arah gerbang itu cepat." Supirnya itu hanya menuruti apa yang dia katakan saja. Mobil berjalan tepat ke arah gerbang sekolah, membuka kaca mobil membuat Mina menatap ke arah mobil yang berada di depannya. Ia merasa bukan mobil jemputannya, tapi karena kaca itu perlahan terbuka membuatnya penasaran.
"Ayo naik." Mina tidak tahu apa yang sudah terjadi sekarang, tiba-tiba saja semua ini terjadi kepadanya.
__ADS_1
"Kayla?"
"Cepat naik? Atau kau mau di culik?" Mina menggelengkan kepalanya ketakutan dan kemudian membuka pintu mobil, masuk ke dalam.
Dia duduk tepat di samping Kayla yang tengah menatapnya dengan tatapan datarnya, seolah tidak ada yang terjadi. Mina merasa tidak enak hati ketika Kayla mengatakan jika mereka berdua harus pergi dari sekolah karena hari mulai sore sekarang.
Di dalam mobil juga hanya keheningan yang menghiasi, tanpa ada percakapan. Keduanya sama-sama tidak bisa memulai percakapan karena tidak terbiasa dengan semua itu. Mina yang memang takut bicara dengan Kayla, dan sedangkan Kayla memang malas bicara sekaligus ia tidak terbiasa bicara dengan orang baru seperti Mina.
Mina menoleh ke arah Kayla yang hanya diam saja, dia sibuk memainkan layar ponselnya. Sepertinya tengah menghubungi orang rumah.
"Di mana rumah mu?" Pertanyaan yang begitu tiba-tiba, Mina melihat ke arah Kayla yang sama sekali tidak menatapnya sama sekali.
"Kamu yakin akan mengantar ku? Rumah ku jauh dari sini-"
Berakhir Mina memberikan alamat rumahnya dan mobil mengarah ke jalan yang seharusnya di lewati, Kayla benar-benar akan mengantar Mina sampai ke rumah. Mungkin memang sudah terlalu lama menunggu, bayangkan saja anak kecil menunggu di depan gerbang selama 2 jam, apa tidak pegal pantatnya itu?
Karena merasa kasihan jadi apa boleh buat, Kayla juga tidak di ajarkan untuk seacuh itu. Orang tuanya juga mengajarkan hal yang baik seperti saling menolong dan perduli kepada orang lain, asalkan tidak berlebihan agar tidak di pandang bodoh oleh orang lain.
Di lingkungan masyarakat memang harus kuat saja, karena masyarakat terkadang memberikan penghakiman yang terlalu keras. Terkadang orang yang tidak salah saja terlihat sangat salah, begitu juga sebaliknya.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka pun sampai tepat di rumah yang Mina maksud. Kayla tidak mengantar sampai keluar mobil, dia hanya tetap bersikap acuh saja.
"Sudah sampai, kapan kau akan turun?" Kayla memang berkata terkesan tidak sopan dan kasar, tapi itu bukan sebuah masalah besar bukan?
__ADS_1
"Aku akan turun, terimakasih atas tumpangannya ya." Tidak ada jawaban dari pemilik kendaraan, dan karena merasa tidak nyaman sekaligus tidak sopan juga jika terus berasa di dalam kendaraan orang lain.
Mina pun turun dari mobil, dia membuka gerbang dan menatap ke arah mobil yang akan meninggalkan halaman rumahnya. Mina hanya menatap, dan tersenyum seraya melambaikan tangannya dengan antusias. Hanya merasa senang, pertama kalinya ia bisa berada di satu ruangan bersama seseorang yang perduli kepadanya, walaupun tidak banyak bicara. Mina masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya masuk ke dalam daerah rumah bagian depan.
Ia bisa melihat jika keadaan rumah sudah kosong, biasanya ada mobil di depan sana. Kemungkinan semua orang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, mungkin saja bukan? Mina mana bisa menyalahkan seseorang yang tengah bekerja.
Anak itu masuk ke dalam rumah, semua maid menghampirinya dan membantunya membawakan tas, sekaligus jas sekolahnya juga. Hidupnya memang tanpa kekurangan, hanya saja.
"Sejak kapan kamu pulang? Mama tidak mendengar ada mobil di depan sana." Anna memeluk anak gadisnya itu dengan erat, ia khawatir dengan Mina.
Ia juga sudah menunggu beberapa waktu, menunggu kepulangan putri kecilnya itu. Ia berpikir jika supir tengah menjemput atau tengah pergi ke suatu tempat.
"Tadi Mina di antar teman baru sampai rumah."
"Tidak bersama supir? Bagaimana bisa? Sejak tadi mama menyuruh supir untuk menjemputmu ke sekolah." Anna yang awalnya merasa tenang seketika marah.
Bagaimana bisa? Seharusnya Mina pulang bersama supir yang ia suruh, bukan bersama orang lain. Tapi karena ia bisa melihat raut wajah anaknya yang masih nampak senang itu, ia berpikir tidak ada salahnya jika Mina bermain sebentar dengan temannya.
Mina juga masih kecil, dia juga butuh masa bermain untuk masa kembangnya sekarang. Anna berusaha bersikap tenang sekarang, walaupun tidak bisa ia tahan amarahnya sekarang ini. Masalahnya ini adalah Mina, bukan orang lain lagi.
"Baiklah, selama putri kecil mama baik-baik saja itu tidak masalah. Sudah selesai bermain, sekarang mandi setelah itu makan siang ya. Mama sudah masak ikan bakar untuk mu, kesukaan Mina."
"Benarkah? Makasih mama! Mina mandi dulu ya." Anna mengangguk, dan melihat putrinya itu berlari ke arah kamar dengan penuh kebahagiaan. Ia berharap semua ini akan terus berlanjut tanpa habis atau tanpa jeda, ia sudah merasa cukup akan kehadiran Mina sekarang.
__ADS_1
'Mama hanya bisa berdoa agar kamu terus bahagia sayang.'