Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 114


__ADS_3

"Mungkin ada kemungkinan mengapa perut istri anda lebih besar dari perkiraannya." Johan khawatir, maka dari itu dia membawa Hana pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.


Dokter itu sudah menjelaskan semuanya, dia juga memeriksa keadaan Hana yang sekarang berbaring di bangsal dengan salah satu perawat di sana. Dia nampak ikutan panik, perkiraan perutnya membesar terlalu cepat dari dugaannya. Bahkan umur kandungan baru saja masuk 3 bulan, tapi besarnya sudah seperti lebih dari perhitungan yang ada.


"Apa penyebabnya?"


"Anda jangan khawatir tuan, mungkin ini akan menjadi kabar baiknya." Ucapnya, dia mengoleskan cairan kental di permukaan perut Hana.


Sampai di mana waktunya USG, di mana mereka bisa melihat aktifitas bayi yang berada di dalam kandungan Hana sekarang ini. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat apa yang mereka lihat sekarang, tidak seperti dugaannya. Johan terlalu khawatir.


"Istri anda mengandung dua bayi sekaligus, artinya kembar. Itu penyebabnya mengapa perut istri anda besar tidak seperti perhitungan karena bayinya ada dua, jangan khawatir. Mereka berdua sehat, dan keadaannya normal untuk pertumbuhan sekarang. Pastikan anda rutin memeriksakan diri, dan minum vitaminnya agar saat lahiran tidak terlalu kesulitan."


Johan mengangguk menyetujui, ia menatap ke arah Hana yang terus melihat ke arah layar. Mungkin dia masih terkejut dengan apa yang baru saja dia ketahui, siapa yang tidak akan senang jika anak yang berada di dalam perutnya ternyata adalah kembar. Mungkin genetik yang Hana berikan, lebih ke turunan.


Hana sampai tidak sadar jika tangannya menggenggam tangan pria itu terlalu erat, dia terlalu senang akan semua kabar ini. Ia berkata kebahagiaan ini akan terus berlanjut sampai anak-anaknya nanti dewasa, mungkin cukup Hana yang merasakan semua ini. Anggap saja semua kejadian ini cukup menimpanya saja.


"Kamu senang? Mereka kembar, jadi kamu harus menjaga mereka berdua dengan baik." Ucapnya, Hana tidak menjawab karena ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Johan membantu Hana beranjak dari bangsal dan berjalan secara perlahan ke kursi, mereka berdua mendapatkan banyak kabar baik soal kehamilan Hana. Dari anak yang dia kandung ternyata adalah kembar, keadaannya yang baik-baik saja dalam keadaan normal, bayi yang tumbuh dengan baik tanpa hambatan sama sekali tidak ada tanda-tanda yang lain. Itu sudah membuat Hana menghembuskan nafas penuh dengan lega.


Setelah mereka periksa dan mengambil vitamin kebutuhan Hana, mereka berdua pun memilih untuk langsung pulang. Berat badan Hana juga naik akhir-akhir ini, karena porsi makan yang mendadak banyak mungkin.


Semua kondisi Hana juga sudah membaik, perempuan itu bisa melakukan kegiatannya dengan baik tanpa harus terhambat masalah apa pun. Semua itu berkat Johan yang sudah menjaga Hana setiap saat, bahkan saking khawatir dan tidak tenangnya. Johan sendiri yang melihat Hana dari kamera CCTV di rumah. Terlalu berlebihan tapi itu juga demi kebaikan Hana.

__ADS_1


Masuk ke dalam mobil setelah urusan selesai dan dalam perjalanan hanya suara musik rekomendasi dari Hana. Perempuan itu sangat suka lagu luar negeri apa lagi, Korea Selatan. Lagunya sangat enak di dengar, bisa Johan akui itu.


"Jika mengantuk kamu bisa tidur dulu, jangan memaksakan diri."


"Aku tidak mengantuk sama sekali." Ucapnya dengan kata-kata yang meyakinkan. Tangan Hana yang sibuk merajut sweater rajut untuk anaknya, ia tidak akan menyangka jika anaknya kembar.


Johan hanya menatap pemandangan menyenangkan itu dengan perasaan yang senang, ia bisa lega ketika melihat Hana tersenyum seperti sekarang. Mungkin dia masih terlalu senang ketika mengetahui jika anaknya ada dua.


Sebuah anugrah yang tidak dapat di gantikan, Hana sangat bahagia. Dia bahkan bersenandung mengikuti nyanyian yang berada di radio yang dia setel. Seraya tangannya sibuk merajut dengan teliti, perjalanan pulang yang lumayan panjang dia habiskan untuk membuatkan pakaian hangat untuk anak-anaknya.


...•••...


Setelah sampai di rumah, Hana tidak langsung ke kamar. Dia ingin melihat pemandangan taman rumah itu yang sangat indah, dia akan menyelesaikan rajutannya di sana selama masih ada waktunya. Mungkin dirinya akan membuat lumayan banyak rajutan untuk menghabiskan banyak waktunya yang kosong.


"Bagaimana keadaan bayi kecilmu? Aku dengar kamu tadi USG dengan Johan." Hana tersenyum, dia menatap perutnya yang sekarang dengan perasaan senang.


"Iya, Johan mengantar ku."


"Dia memaksakan diri sekali, anak itu memang. Bagaimana dengan hasilnya itu? Apakah bayi kecil mu baik-baik saja? Aku harap begitu ya."


"Iya, mereka baik-baik saja..."


Ketikan yang awalnya sangat cepat itu secara tiba-tiba berhenti, Jihan mengerutkan keningnya dan dia masih kebingungan. Apa maksudnya mereka? Jihan menoleh ke arah Hana. Perempuan itu tidak menjelaskan apa pun dan dia tersenyum sepanjang hari sejak tadi.

__ADS_1


"Hey, ada yang kau sembunyikan dari ku. Apa maksudmu dengan mereka? Apa bayi itu maksudnya bayi-bayi mu?" Hana mengangguk tanpa menjawab apa pun.


Tapi respon Jihan mendadak terdiam, dia mematung bagaikan bongkahan es musim dingin. Tapi tidak lama dia berteriak heboh membuat suasana mendadak ramai, membuat Hana sedikit merasa terkejut tapi dia bisa memaklumi Jihan. Jihan memang heboh.


"Benarkah?! Kau tidak bohong?!"


"Iya, memangnya kenapa?" Hana kebingungan dengan sikap Jihan itu, bahkan dia tambah terkejut ketika mendapati Jihan memeluknya secara mendadak seperti sekarang yang baru saja dia lakukan.


"Astaga, aku tidak pernah sesenang ini. Keponakan ku kembar, aku tidak bisa membayangkan betapa lucunya mereka." Hana tersenyum senang, kabar yang sangat membuat siapa saja akan merasa sangat bersemangat.


"Iya, aku tidak menyangka jika ada dua di dalam perutku..."


"Kenapa kau bersedih begitu? Seharusnya kamu senang, iya kan?" Hana mengangguk, entah kenapa ia saat ini mendadak mengingat saudaranya yang berada di tempat kelahirannya sekarang.


Apakah dia baik-baik saja atau tidak? Karena jujur saja Hana khawatir, apa lagi akan kondisinya yang tidak stabil untuk mengandung seorang anak. Hana menjadi banyak pikiran, dia memikirkan Anna sebenarnya. Tapi ia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan, jika saja dirinya bercerita kepada Jihan mungkin gadis itu akan mengejek Anna, tentang masalah masa lalu.


Tapi jika Hana bercerita akan apa yang dia rasakan akhir-akhir ini, mungkin pria itu hanya merespon dengan kata-kata yang pelan. Mengingatkan agar melupakan saudaranya saja, melebihkan fokus kepada kandungannya sekarang karena memikirkan saudaranya itu tidak akan membuatnya baik-baik saja selamanya. Itu akan membebani pikirannya.


Perkataan yang tepat, tapi mereka berdua saudara kembar yang sebelumnya memang berada di satu rahim yang sama. Saking terikat satu sama lain, tapi jika saja orang lain tahu apa yang pernah dulu terjadi mungkin orang lain akan mengatakan, saudara itu adalah omong kosong.


"Hana? Kenapa kamu hanya diam saja? Apa ada masalah?"


"Apa? Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan anak ku."

__ADS_1


"Tenang saja, mereka akan baik-baik saja selama kamu menjaga mereka dengan baik."


__ADS_2