
Tidak ada yang berjalan dengan baik selamanya, karena memang kehidupan ini tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan depan.
Dan malam ini hanyalah bermodalkan nekat saja, Jack menyelinap masuk ke dalam kamar kembarannya padahal dia juga tahu jika Jeano benci orang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, terkecuali bundanya. Tapi kenyataan lainnya, seharusnya Jeano tahu jika dia punya kembaran yang teramat tidak suka di atur dan sedikit nekat.
Dia masuk ke dalam kamar itu, melihat suasananya memang lumayan suram padahal cat dinding berwarna biru, sama seperti warna kamarnya. Tidak ada bedanya di dalam kamar Jeano, tapi entah rasa penasaran Jack masih belum tertuntaskan.
Melihat ke segala arah, di mana satu rak yang sama seperti yang ada di kamarnya, bedanya Jack suka dengan mainan mobil atau robot. Tapi berbeda dengan kembarannya itu yang justru mengoleksi piagam yang teramat banyak itu.
"Dia ini anak yang ambis sekali, pajang mainan justru lebih bagus." Jack memegang salah satu mendali emas di sana dan melihat tulisan kecil yang di ukir di sana. Juara akademik matematika. Jack benci matematika.
Merasa tidak ada yang menarik Jack pun memilih kembali, dia baru saja akan mengambil buku komiknya yang di pinjam oleh saudaranya. Tapi siapa sangka jika Jeano keluar dari kamar mandi dan melihat keberadaan Jack di sana.
Jeano tidak tahu apa yang saudaranya lakukan itu, sepertinya dia memang akan mengambil buku komik itu tapi dia justru malah melihat ke arah lain.
"Apa yang kau lakukan?" Tentu saja keberadaan Jeano membuatnya terkejut.
"Hantu!" Untung tidak terkena serangan jantung, Jack membuang nafas panjang saat ini mencoba tetap tenang walaupun dia tahu jika kembarannya itu menatapnya dengan tatapan seolah akan mencekik dirinya.
"Aku?"
"Iya kau, ambil saja komik anime mu itu dan keluar." Jack meletakkan buku komiknya kembali ke meja belajar Jeano, itu membuat saudaranya itu tidak habis pikir.
Jack menghampirinya dan kemudian dia mengambil handuk yang Jeano pegang sekarang. Aroma yang berbeda dengan dirinya, kepribadian yang juga berbeda tentu saja.
Jeano tidak tahu lagi, ia tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi. Jack terus mengejarnya bahkan sejak kemarin, dia terus saja masuk ke dalam kamarnya. Entah itu dia beralasan meminjam pensil, meminjam buku gambar, meminjam kuas atau semacamnya itu.
"Ambil komiknya jika kau mau."
"Bukan itu tujuan ku ke sini. Jeano, kamu itu kenapa? Aku hanya mau tanya itu." Pertanyaan yang masih sama saja sejak kemarin.
Jeano tidak menjawab, dia merebut handuknya dari tangan saudaranya dan kemudian melemparkan ke tempat baju kotor. Dia hendak mau tidur tapi selimutnya di tarik oleh Jack, dia itu kenapa sih?
"Hey!"
"Katakan dulu, ayolah aku memaksa mu. Kau kenapa? Sejak kemarin kau tidak mau keluar kamar, keluar kamar hanya untuk mengambil roti atau di panggil bunda saja. Kalau aku ajak bicara kamu tidak menjawab-"
"Kau pikir ini aku bicara dengan siapa?"
"Bukan itu maksudku! Jawab pertanyaan ku saja, kau kenapa?" Jack masih memegangi selimut itu, dia mencegah Jeano menghindari pertanyaannya lagi.
Sudah seharian dan sejak kemarin juga, Jack tidak tahan mau bertanya dan mendapatkan jawabannya. Dia tidak suka di diami seperti ini, biasanya juga Jack akan bermain ke kamar Jeano mengambil kuas dan cat air. Kemudian mereka akan bermain menggambar di lantai atau di tembok atau mencoret-coret mobil-mobilan milik Jack, berakhir bundanya mengamuk.
__ADS_1
Tapi dunia terlalu sepi jika saja Jeano tidak mengatakan apa pun seperti sekarang, jujur saja dunia terasa hampa. Anggap saja Jack itu memang lebay, tapi memang dia anak yang lebay.
"Aku tidak apa-"
"Bohong! Jangan berbohong begitu ayolah."
"Setidaknya aku sudah menjawab-"
"Tidak bukan jawaban, Jeano. Kau selalu cerita kepada ku setiap hari, kau diam begini itu rumit."
"Kau yang merumitkan keadaan, dasar lebay." Wajahnya seketika datar, Jack menampar pipi Jeano dengan keras.
Membuat saudaranya itu terdiam, dia memegang pipinya sendiri dan menatap ke arah Jack yang hampir saja menangis. Jeano tidak tahu, tidak mengerti dengan keadaan ini. Pertengkaran memang sering terjadi tapi kali ini, Jack tidak pernah main tangan seperti ini dan menangis di depannya sekarang.
"Aku minta maaf jika ada salah! Tapi jangan diam saja! hiks hiks hiks..."
"Kau-" Ketika ia baru saja akan bicara, Jack terlebih dahulu berlari keluar kamar. Dia tidak mengatakan apa pun selain menangis keluar dari kamarnya seraya menangis.
Saat itu juga Hana melihat kejadian itu, melihat Jack menangis menutupi wajahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Jeano hanya diam di dalam kamarnya masih dalam keadaan pintu kamarnya terbuka, dia hanya diam memikirkan apa yang sudah terjadi.
Hana berusaha mengejar Jack tapi tidak bisa ketika anaknya itu sudah mengunci pintu kamarnya sendiri, Hana tidak mengerti akan semua kejadian itu. Melihat pintu kamar anaknya yang lain terbuka, ia pun melangkah menghampiri dan melihat keadaan di dalam.
Melihat Jeano yang berdiri di sana dan hanya menatap ke depan dengan tatapan yang kosong membuat Hana yakin ada sebuah masalah sekarang. Perempuan dua anak itu mengetuk pintu, dan suara ketukkan pintu itu terdengar oleh anaknya membuatnya menoleh.
Putranya itu tampak lesu, melihat bagaimana putra kecilnya sekarang murung. Karena pertengkaran mereka yang ini memang lumayan besar, tidak pernah Jack menangis sampai seperti itu.
"Apa ada masalah antara kamu dan Jack? Bunda lihat dia menangis tadi, ada apa?"
"Aku tidak tahu, dia bilang dia tidak suka di diamkan." Hana pikir masalah kemarin masih berlanjut sampai sekarang, perempuan itu menoleh ke arah samping di mana lukisan di tutupi dengan kain hitam. Ia tidak mau membuka privasi anaknya itu.
"Kemarin kalian baik-baik saja bukan? Karena apa kali ini? Cerita sama bunda."
"Aku tidak tahu, dia tiba-tiba saja memukulku dan kemudian menangis. Aku tidak tahu..."
"Memukulmu? Bagaimana bisa?" Hana memegang pipi anaknya yang merah itu, Jack lumayan kuat jika tentang hal ini.
"Mungkin memang salah ku, kemarin aku mengusirnya dari sini, mungkin itu menyinggung."
"Jadi?"
"Aku tidak tahu." Sifat yang dingin itu, tiba-tiba saja Hana mengingat seseorang. Jujur saja, kemungkinan sifatnya akan sama saja tapi Hana berusaha merubah itu semua.
__ADS_1
"Jeano masih ingat apa yang pernah bunda ajarkan sama kamu?" Jeano menoleh ke arah bundanya, tidak ada air mata di sana tapi tatapan merasa bersalah pasti tetap ada di sana.
"Tetap minta maaf meskipun tidak tahu letak kesalahan, dan memaafkan seseorang yang berbuat jahat kepada kita sadar atau tidak."
"Benar, kamu tidak mau jika Jack menjadi bersedih terus bukan?" Jeano menggelengkan kepalanya, ia tidak mau Jack yang konyol itu hilang dari kehidupannya begitu saja, hanya karena egonya yang tinggi itu.
"Jadi aku harus minta maaf?"
"Bagaimana menurut Jeano? Meminta maaf atau terus seperti ini?" Jeano berpikir lagi, membiarkan keadaan terus seperti ini. Ia tidak mau, bagaimana bisa dia hidup tanpa saudaranya?
"Aku akan meminta maaf kepada Jack." Di saat itu juga Jeano beranjak dari tempatnya dan berlari keluar kamar, sedangkan Hana tersenyum senang ketika anaknya mampu mencari keputusan yang tepat.
Dia juga mengikuti ke mana langkah putranya itu, Jeano mengetuk pintu Jack terus menerus tapi tidak ada jawaban apa pun. Hana melihat dari jauh, ia hanya mau melihat apakah kedua anaknya bisa memecahkan masalah dengan kepala dingin atau tidak. Ia berharap bisa.
Jeano mengetuk pintu Jack, seraya berkata maaf, walaupun dirinya sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya di mana.Tetapi, dia masih melakukannya dan terus mencoba.
"Jack, buka pintunya. Aku minta maaf, Jack-" Suara pintu terbuka membuat semua orang terdiam termasuk Jeano sendiri.
Melihat keadaan Jack di depannya, matanya sembam karena menangis sejak tadi. Mungkin memang seharusnya Jeano yang meminta maaf di sini, Jack pasti merasa dirinya sudah di butuhkan lagi ketika ia terus terusan di usir oleh Jeano dan tidak di ajak bicara selama 1 hari penuh.
"Aku minta maaf..." Jeano memeluk Jack, membuat saudaranya itu semakin menangis tapi juga membalas pelukan itu dengan damai.
"Jangan diamin terus."
"Iya, gak lagi." Hana hanya tersenyum melihat semua itu, di sisi lain Johan yang baru saja pulang melihat pemandangan tidak biasa. Biasanya Jeano paling anti jika di peluk seperti itu, tapi sekarang.
Johan melirik ke arah Hana yang tersenyum di sana membuatnya semakin bingung, apa yang sudah terjadi di sini? Ketika Hana menyadari jika suaminya sudah datang, dia memberikan isyarat agar Johan diam dulu. Tapi namanya juga Johan, mana mau mendengarkan.
"Hey, tidak ada acara teletabis di sini."
"Ayah!" Hanya memberikan cengiran tanpa dosa ketika di tegur oleh istrinya, Jeano melepaskan pelukan itu dan mendorong Jack menjauh darinya setelah itu.
"Kok di lepas?!"
"Diam kau."
"Hmm, tadi siapa yang pelukan ya bunda?" Johan memasang raut wajah kebingungan sekaligus menjaili kedua anaknya itu. Hana menggelengkan kepalanya heran, sejak kedua anaknya lahir sifat jail Johan semakin terlihat.
"Ayah jangan seperti itu."
"Ayah hanya bertanya saja, apakah salah?"
__ADS_1
"Sudahlah." Suara singkat dari Jeano, anak itu langsung berjalan ke arah kamarnya dan kemudian menutup pintu kamarnya.
"Apa? Aku salah lagi?"