Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 118


__ADS_3

Johan baru saja selesai mandi, dia akan berangkat ke kantor setelah ini. Walaupun ia agak telat karena ketiduran, jujur saja kejadian semalam tidak bisa Johan lupakan begitu saja. Tragedi yang menurutnya sangat berkesan untuknya, tidak bisa ia lupakan sepertinya. Terlalu indah untuk dilupakan jujur saja, pria itu tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian itu.


Di saat ia akan mengganti pakaiannya, secara tidak sengaja ia melihat sepasang pakaian rapi yang berada di atas ranjangnya. Bayangkan saja, biasanya dia menyiapkan semuanya sendiri dan sekarang begitu tiba-tiba saja.


Karena ia kurang yakin, Johan mengambil pakaian itu dan melihat pakaian itu sekarang. Ia tidak pernah menyuruh maid menyiapkan pakaiannya karena tentu saja seleranya pasti berbeda dengan dirinya. Tapi ini siapa?


Johan yang tidak perduli dengan penampilannya sendiri, dia memilih memakai pakaiannya itu saja karena dia juga malas harus memilih dan mengambil pakaian di lemarinya. Setelah rapi dengan pakaian formalnya sekarang, dia segera keluar dari kamarnya dan berniat akan langsung berangkat ke kantor.


Menuruni anak tangga dan melirik jam yang sudah menunjukan jam 9, hampir dalam keadaan siang sekarang dan dia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya jika tidak mau terus berada di kantornya.


Ketika ia hampir saja akan pergi, seseorang memanggil namanya membuat pria itu menoleh mau tidak mau. Seseorang juga menghampiri dirinya, dia meletakkan kotak bekal itu di atas meja ruang tamu.


"Dasi mu belum rapi, apa kamu akan ke kantor dengan keadaan seperti ini?" Johan tidak bisa bergerak sekarang, seolah dirinya tengah di hipnotis tapi pada kenyataannya tidak seperti itu.


Perempuan itu membenarkan dasi yang Johan kenakan walaupun agak kesusahan karena tinggi badannya yang terbilang lumayan jauh, Hana membenarkan dasi itu sampai di mana Johan hanya bisa pasrah dan diam saja.


Setelah memasangkan dasi itu, Hana memberikan kotak bekal yang dia buat untuk Johan. Hampir setiap hari Hana membuatnya makanan dan menyiapkan dalam bentuk bekal jika saja Johan tidak sempat makan di rumah atau hanya sekedar makan siang di kantornya.


"Kamu yang membuatnya?"


"Tentu saja, kamu pikir siapa?" Johan tersenyum lagi, jujur saja sekarang ia menjadi salah tingkah karena perlakuan Hana yang seperti ini kepadanya.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari sekarang, seseorang memperhatikan dengan seksama. Dia melihat anak laki-lakinya begitu senang ketika di perhatikan seperti itu, itu hanyalah sebuah perhatian kecil tapi sangat di butuhkan oleh putranya itu. Selama dia sudah menetap di Australia dan jarang pulang, Sinta hanya tahu saja jika anaknya akan melakukan apa yang dirinya katakan. Tapi jika Jihan yang bilang seperti berbeda kenyataannya.


Sinta yang memperhatikan pemandangan itu sejak tadi. Perhatian yang Hana berikan ternyata ampuh untuk anaknya yang terkesan tidak perduli itu.


"Johan memang tidak pernah salah dalam memilih."


...•••...


Jihan tengah merasa senang hari ini karena dia habis gajian, dia awalnya memang tengah mencari Hana untuk bercerita akan sesuatu yang menyenangkan, lebih menyenangkan dari pada gajiannya bulan ini.


Gadis itu terus mencari Hana sampai di mana dia menemukan perempuan itu tengah berasa di taman dan menyirami tanaman di sana, tanpa aba-aba sama sekali Jihan langsung memeluk Hana dari belakang membuat perempuan itu terkejut bukan main.


"Jihan, kau ini." Jihan hanya tersenyum tanpa dosa dan mematikan kran air itu, ia hanya mau Hana memperhatikan dirinya saja.


Yang membuat gadis itu bahagia adalah ketika dia bisa menemui sahabat lamanya yang sudah kembali setelah sekian lama, dia pergi 4 tahun yang lalu dan dia kembali. Alasan yang pasti membuat Jihan semakin senang adalah di mana ternyata sahabatnya itu sosok yang dia cintai selama ini.


Jihan memendam perasaannya sejak lama, berencana akan mengatakan semua perasaannya ketika dia kembali. Dan sekarang dia sudah kembali, antara sedang dan bingung. Jihan tidak bisa mengatakan bagaimana mengungkapkan perasannya.


Tidak ada bedanya dengan Johan, Jihan juga tidak dapat pandai dalam menyatakan perasaannya, keduanya memang sepupu jauh pada dasarnya tapi mereka berdua seperti saudara karena terlalu mirip, kelahiran mereka berdua juga tidak jauh. Seperti anak kembar beda orang tua.


"Kenapa tidak kamu ungkapkan saat itu agar dia bisa segera pulang? Dia tidak akan berpaling jika kamu tidak memberi tahunya."

__ADS_1


"Aku tidak yakin dengan itu, dia sempurna di mata ku atau bahkan di mata orang lain. Aku tidak tahu apakah dia punya-" Hana menggenggam kedua tangan Jihan sekarang, bagaimana bisa Jihan menyerah begitu saja?


Belum tentu sahabatnya punya seseorang yang lebih berharga ketimbang sahabat kecilnya. Bedakan antara status sahabat dan pacar, yang pertama mengenal dan menemani adalah sahabat bukan pacar. Pacar bisa saja pergi tanpa sebab, meninggalkan begitu saja tanpa memikirkan luka.


Sedangkan persahabatan, itu akan hancur ketika salah satunya berhianat. Sama seperti apa yang pernah Hana rasakan, tapi ia berharap jika tidak ada yang merasakan kehancuran itu.


"Jangan putus asa dulu, coba cari tahu dulu. Jika dia belum mempunyai seseorang itu, kamu bisa langsung katakan saja atau, kamu mau mencari tahu tentangnya lagi?"


"Aku tidak tahu..."


"Ini bukan seperti Jihan yang ku kenal, biasanya kamu bersemangat dengan banyak hal. Kenapa tiba-tiba? Jangan putus asa sebelum maju, lebih baik gugur dari pada tidak ada perlawanan dan hanya diam, aku tidak mau kamu menyesal nantinya."


Jihan berpikir lagi, sepertinya apa yang Hana katakan ada benarnya. Ia harus mencari tahu tentangnya, setelah dia tahu barulah ia akan menyatakan perasaannya masalah di balas atau tidaknya. Itu bukan sebuah masalah yang besar, asalkan ikatan persahabatan tidak putus Jihan rasakan itu bukan masalah.


Gadis itu tersenyum ke arah Hana. Untung saja perempuan itu ada di sisinya, jika tidak Jihan mau cerita dengan siapa? Dengan Johan? Dia selalu sibuk dengan urusan kantornya, dia dulu jarang pulang dan tidak seperti sekarang. Cerita dengan keluarga? Tidak, itu sebuah ide yang buruk.


"Terimakasih, Hana. Aku pikir, aku tidak dapat mengatasi hal ini."


"Tentu saja bisa, harus bisa. Jika kamu mencintainya perjuangkan dia sebaik mungkin, ingat. Cinta tidak harus memiliki, karena cinta yang sesungguhnya di mana kamu bisa ihklas dengannya."


Jihan mengangguk mengerti, dia memeluk Hana setelah itu. Ia mengutarakan semua keluh kesahnya kepada Hana, padahal dirinya juga tahu kalau Hana juga punya masalahnya sendiri. Bukan mengurusi dirinya, tapi sepertinya Hana tidak keberatan dengan dirinya.

__ADS_1


"Ayo masuk ke dalam, di luar dingin."


"Iya."


__ADS_2