Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 68


__ADS_3

Anna berada di depan kelas, ia akan pulang selesai kelasnya tadi. Menatap ke bawah dengan memegang bagian perutnya yang ia tahu jika di dalam sana terdapat nyawa yang seharusnya dirinya lindungi, tentang itu jujur saja dia masih merasa bimbang. Gadis itu pun melangkah keluar dari kelas, berjalan menelusuri lorong dan tanpa di sengaja ia berpapasan dengan pria itu lagi.


Entah bagaimana Anna harus menjelaskan apa lagi, ia seolah ingin melihatnya dari dekat tapi ia yakin dia tidak akan pernah sudi melihat Anna lagi, meskipun demi.


Gadis itu tetap melangkah dan sampai di mana ia melewatinya begitu saja, pria itu bahkan tidak melirik ke arahnya. Anna terdiam, berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Dia sibuk dengan teman-temannya dan tertawa bersama yang lain.


Tapi entah bagaimana, Anna sepertinya mulai merasakan apa yang pernah saudaranya rasakan dahulu. Mengingat itu, Anna menggelengkan kepalanya menepis segala pikirannya yang seharusnya tidak ia ingat. Di sana Anna keluar dari gedung kampus dan ia menaiki kendaraannya.


Masuk ke dalam mobil, ia di temani oleh supir sekarang. Orang tuanya saja tidak tahu apa yang dirinya alami, karena Anna memang tidak pernah bercerita tentang apa yang dirinya rasakan sekarang. Gadis itu menoleh ke arah jendela, menetap ke segala arah. Kenapa semua begitu berat?


Di sisi lain, Hana tengah mencatat materi di dalam kelas sendirian. Semuanya sudah pulang sejak beberapa menit yang lain, meninggalkan Hana sendirian di dalam kelas dengan segala urusan pelajarannya yang tidak ada ujungnya.


Sampai di mana seseorang datang membuat Hana berhenti, pergerakannya terhenti ketika ia melihat sepasang sepatu berada di sana. Hana lantas mendongak, ia terkejut dengan kehadiran pria itu yang begitu mendadak.


"Johan?"


"Kenapa tidak pulang? Sudah jamnya kau pulang bukan?" Ucapnya, ia memperhatikan buku catatan Hana yang begitu banyak dengan tulisan. Tidak ada celah sama sekali, begitu padat dengan tinta hitam.


"Aku mencatat sebentar dan menunggu Satya pulang."


"Satya? Suamimu ya." Johan hanya tersenyum saja, selebihnya ia tidak paham dengan apa yang ia rasakan sekarang.

__ADS_1


Nampaknya Hana hidup dengan baik walaupun ia tahu jika masih banyak orang yang mencoba menghancurkan kehidupan gadis malang itu. Entah sejahat apa Hana di masa lalu sampai sekarang, Hana seolah tidak di berikan sebuah kesempatan untuk sekedar menikmati hidup. Tapi sekarang ia mulai merasa lega, meskipun Johan tidak diberikan kesempatan untuk berada di sisi Hana seutuhnya dalam arti teman seumur hidup.


Johan sangat bersyukur ia diberikan sebuah kesempatan untuk menjadi tameng, ia akan melakukan apa saja demi kebahagiaan Hana. Apa pun itu ia akan melakukan semuanya, resikonya itu adalah masalah terakhir.


"Kamu ngapain di sini? Aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya."


"Yah, aku hanya menemui teman ku saja karena ada urusan di sini. Aku mampir sebentar, karena melihat kamu sendirian jadi aku menemanimu." Ucapnya seraya memamerkan senyuman manisnya.


Hana hanya mengangguk menanggapi apa yang Johan katakan, ia juga tidak terlalu perlu tahu apa yang Johan lakukan. Ia merasa memang hubungan mereka berdua hanya sekedar berteman saja sekaligus saling melindungi, atau hanya Hana yang di lindungi di sini.


Johan duduk dengan santai, sesekali ia menatap ke langit-langit kelas. Entah kenapa ia merasa kembali ke jaman di mana ia masih sekolah sma dahulu, suasananya memang begitu sama. Walaupun sekarang dalam perjuangan ia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi ia tetap senang dengan hidupnya sekarang.


Hana membereskan semua alat tulisnya, melihat ke arah Johan yang hanya melamun. Ia lantas menepuk bahu lebar itu membuat pria itu pun menoleh ke arah Hana.


Keluar dari kelas, tentu saja Johan tidak akan mengikuti Hana lagi dan dirinya akan memilih pulang karena urusannya sudah sudah selesai. Tapi entah, ia merasa semuanya baru awalan saja. Tapi ia begitu berharap jika semua ini sudah berakhir saja, di tambah ia juga banyak urusan pekerjaan lain, ia juga tidak mau membuat Hana menderita terus.


Di sana, seseorang melihat mereka berdua yang keluar kelas secara bersamaan. Tentu saja ia tidak akan meninggalkan kesempatan itu, dengan memotret beberapa foto yang sebenarnya tidak seperti itu adanya yang terjadi. Gadis itu tersenyum sinis, ia memikirkan apa yang akan dirinya lakukan setelahnya nanti.


Hana melangkah memasuki gedung C, di mana ada kelas khusus fakultas bisnis di sana. Ia menunggu Satya selesai kelas, tidak begitu lama pada akhirnya pria itu keluar bersama yang lain, teman-temannya tentu saja. Di saja juga ada Theo yang baru saja keluar.


Hana melihat keberadaan Theo, ia berniat untuk menyapa pria itu tapi sepertinya Theo dalam suasana hati tidak baik, dia mengabaikan Hana begitu saja dan berjalan begitu saja. Membuat Hana merasa heran, tapi di sisi lain Satya datang dan memeluk Hana dari belakang.

__ADS_1


"Kamu menunggu lama? Maafkan aku ya." Hana tersenyum, ia menoleh ke arah Satya dan menggelengkan kepalanya.


"Baru saja sampai di sini kok, tidak lama."


"Seharusnya kamu menunggu saja di lobby. Kau akan lelah jika harus jalan sampai sini." Ucap Satya posesif, tapi Hana hanya menanggapi dengan senyuman menandakan banyaknya jawaban di sana.


Sampai di mana Satya menggenggam tangan mungil istrinya itu, dan berjalan keluar dari gedung C, lebih tepatnya kelas fakultas bisnis itu. Theo berada di parkiran, ia tengah menghubungi seseorang di sana. Tapi tidak sengaja pandangannya melihat ke arah pasangan itu, membuatnya harus memalingkan pandangannya.


Theo membelakangi semua orang dan mengangkat telpon, ia tidak mau terlalu hanyut dalam kesedihannya sendiri. Mau bagaimana pun, dia berhak bahagia bukan? Theo kembali menoleh ke arah belakang, di mana ia bisa melihat bagaimana tawa itu terdengar apa adanya dan tidak di buat-buat.


Ia hanya tersenyum melihat semua itu, sampai Satya menyadari keberadaannya dan dia melambaikan tangan ke arahnya. Theo membalasnya dengan senyuman biasa dan kemudian keduanya pergi. Sedangkan Theo yang masih berdiri di sana dengan keadaan gusar, ia berusaha memalingkan hatinya yang seharusnya tidak seperti ini. Sampai seseorang memegang bahunya dan ternyata.


"Kau melihat apa?" Raya menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang menarik di sekitarnya. Kenapa Theo begitu fokus seperti itu?


"Tidak ada, kau sudah bertemu dengannya?"


"Maksudmu, Pak Sandy? Sudah." Jawab Raya dengan senyuman yang begitu sumringan, Theo hanya tertawa pelan. Ternyata Raya bisa kemakan omongannya sendiri, lihatlah sekarang dia sendiri yang bucin.


"Kenapa kau tertawa begitu?! Kau mengejek ku ya!"


"Siapa yang mengejekmu? Terlalu kepedean." Raya hanya diam, ia mengacuhkan Theo sekarang. Kembarannya itu kalau bicara terkadang tidak pernah di pikirkan dua kali. Mau heran tapi kembarannya memang begitu.

__ADS_1


"Dasar kulkas berjalan." Gerutunya dan berjalan dengan menghentakkan kakinya karena kesal, menyusul Theo yang berjalan mendahului dirinya.


__ADS_2