
Dimas berada di ruang kerjanya, menyelesaikan pekerjaannya yang memang terlalu banyak. Mungkin efek dari perusahaan baru yang dia bangun sekarang jadi dia memang banyak mengurus banyak hal lain. Ia berhasil membuat perusahaannya sendiri, walaupun tidak sebesar milik keluarganya. Tapi setidaknya ia bisa melakukan apa yang keluarganya tidak bisa lakukan bukan? Dia sudah berusaha sampai sekarang.
Terlalu sibuk dengan pekerjaannya sekarang, dia bahkan lupa dengan dirinya sendiri. Sampai di mana ia tidak menyadari akan keberadaan Hana di depan pintu, perempuan itu membawakan makanan dan juga kopi untuk kakaknya. Ia yakin, Dimas membutuhkan semua itu.
"Terlalu sibuk sampai tidak tahu jam makan, seharusnya kakak tidak seperti itu." Dimas langsung menoleh ke arah di mana ia mendapati Hana berjalan ke arahnya. Meletakkan makanan di atas meja kerjanya, sepertinya ia akan kena omel.
"Maafkan kakak, kakak hanya-"
"Hanya terlalu sibuk. Benar begitu pak bos?"
"Jangan memanggil kakak seperti itu." Bukannya menyesal akan perkataannya. Hana justru malah tertawa, dia menarik kursi untuk duduk dan melihat kakaknya mengambil makanan yang dia bawakan.
Hana melihat ke arah sekitar, pekerjaan yang tiada akhir. Seolah memang tidak ada ujungnya sana sekali, Hana memang tidak melihat pemandangan ini untuk pertama kalinya tapi ia terkadang merasa jika Dimas akan kelelahan jika terlalu memaksakan diri.
Tapi pria itu melarang Hana untuk membantu, dia hanya bilang jika dia bisa menyelesaikan semuanya sendirian tanpa bantuan. Tapi pada akhirnya, Dimas sakit karena terlalu memaksakan diri. Dia terlalu keras kepala.
"Apa masih banyak? Kakak tidak tidur malam ini?"
"Sepertinya tidak..." Hana merasa jika semua ini berlebihan, bekerja memang perlu tapi jika memaksakan diri seperti ini sama saja membahayakan diri sendiri seperti ini.
Hana hanya berusaha menjaga kakaknya dengan baik, mengatur semua kebutuhan yang kakaknya butuhkan dan tidak akan membiarkan Dimas kekurangan sesuatu. Pria itu tidak mempunyai kekasih, kekasihnya yang terakhir kenyataannya meninggalkan dirinya.
Sebuah alasan mengapa dia tidak segera menemukan orang yang tepat, Dimas masih trauma. Ia tidak mau mempunyai pasangan yang hanya mencintai dirinya tapi tidak menerima kehadiran adiknya, posisi sekarang Dimas memang mengutamakan adiknya ketimbang kekasih.
"Ada apa? Tidak biasanya kamu betah di ruang kerja kakak. Ada yang ingin kamu bicarakan?" Sepertinya tebakan Dimas benar, Hana datang bukan hanya karena Dimas tidak makan tapi juga membahas sesuatu.
Dimas berharap jika apa yang adiknya katakan tidak akan mengecewakan dirinya atau bahkan melawan dirinya. Dimas hanya mau yang terbaik.
__ADS_1
"Aku menerima tawaran kakak kemarin..." Seketika dia terdiam karena kalimat singkat itu, Dimas lantas mendongak dan menatap ke arah adiknya yang berada di depannya sekarang.
"Kamu tidak terpaksa bukan?"
"Tidak, aku menerima tawaran itu karena aku tidak mau anak ku bernasib sama sepertiku..." Dimas beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri perempuan itu.
"Kakak paham, kamu khawatir dengan masa depannya nanti. Jadi, kamu tidak keberatan dengan tawarannya bukan?" Hana menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.
Ia yakin keputusannya ini adalah keputusannya yang benar, apa lagi untuk anaknya di masa depan nantinya. Dia harus hidup di dunia ini dengan penuh kebahagiaan yang layak dia dapatkan, walaupun dia tidak di anggap oleh ayah kandungnya sendiri. Setidaknya dia punya tempat untuk melupakan masalah itu.
Hana yakin, jika anaknya nanti pasti akan lebih bahagia dari pada dirinya sendiri. Hana berharap akan semua itu, ia sangat ingin melihat anaknya tumbuh dengan banyak orang yang menyayanginya bukan di benci, seperti ibunya.
'Aku berharap jika keputusan ku adalah sebuah keputusan yang benar.'
...•••...
Tapi Hana sudah bertekad akan semua ini. Ia akan memilih pergi, melupakan segala masalahnya yang sebelumnya terjadi dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi nantinya.
Setidaknya lukanya nanti akan sembuh jika ia pergi nanti, Hana juga harus fokus ke masa kehamilannya sekarang. Ia tidak boleh lengah karna ini adalah kehamilannya yang pertama kali, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang tuhan berikan kepadanya.
"Aku yakin, aku tidak akan menyesal. Tolong bantu aku..." Ucapnya kepada Johan, pria itu mengangguk.
"Tentu saja, dengan senang hati." Hana senang dengan jawaban yang Johan katakan tadi. Ia lantas menoleh ke arah Dimas, pria itu berdiri di sana menatapnya dengan tatapan nanar.
Dimas sebenarnya tidak bisa jauh dari adiknya itu, tapi ia harus menyampingkan egonya demi kebahagiaan adik kesayangannya itu. Hana pantas untuk bahagia dia sana, melupakan segala masalahnya dan fokus kepada anaknya nanti.
"Kakak akan merindukan dirimu." Dimas memeluk Hana, ia tidak mau kehilangan adiknya tapi di sisi lain ia tidak mau melihat Hana terus menangis seperti sebelumnya. Ia lebih baik sendirian seperti ini, asalkan Hana bahagia. Itu bukan sebuah masalah yang besar untuknya.
__ADS_1
Johan melihat bagaimana interaksi kedua kakak adik itu begitu mesra, keduanya saling melindungi sampai detik ini. Johan tidak akan mengecewakan kepercayaan Dimas berikan kepadanya, ia akan berusaha mewujudkan apa yang Dimas inginkan nantinya.
Dimas melepaskan pelukan itu, walaupun ia tidak merelakan semua itu. Pria itu mengusap air mata perempuan itu, tidak seharusnya Hana menangis di sini. Tidak bagus, di tambah Hana akan menempuh hidup baru nantinya mungkin akan menjadi perjalanan yang begitu panjang nantinya.
"Jangan menangis, kamu harus bahagia dan jangan sampai menangis. Kamu harus berjanji kepada kakak akan itu, janji?" Dimas menunjukkan jari kelingkingnya dan Hana mengangguk, menyatukan jarinya dengan jari besar milik kakaknya itu.
"Aku berjanji, kakak juga harus jaga diri. Jangan tinggalkan jam makan dan tidur yang teratur."
"Kakak janji akan melakukan itu, seperti yang kamu katakan." Hana mengangguk senang, ia harap juga seperti itu.
Dimas beralih ke arah Johan yang berdiri di sana, dia menghampiri sahabatnya itu yang memiliki jarak umur lebih muda darinya. Dia memeluk pemuda itu dengan erat, dan kemudian melepaskan pelukan singkat itu.
"Aku harap kau tidak akan mengecewakan diri ku."
"Tidak akan, aku akan berusaha." Ucapnya dengan penuh keyakinan, mereka berdua saling berbicara dan sedangkan Hana bersama Jihan. Kedua perempuan itu saling bicara, entah membicarakan hal yang random atau menanyakan keadaan kandungan Hana sekarang.
Sampai suara keberangkatan pesawat mereka akan cepat lantas nantinya, ketiga orang itu memang harus pergi. Dimas hanya diam, melambaikan tangannya ke arah Hana dan meyakinkan kepadanya jika tidak ada yang perlu di khawatirkan nantinya. Hana mulai ragu, ia tidak mau meninggalkan Dimas sebenarnya tapi.
"Hana? Kamu sudah siap?" Hana kembali melihat ke arah Dimas yang mengangguk meyakinkannya lagi. Hana tersenyum, melambaikan tangannya ke arah Dimas.
"Aku akan kembali lagi! Tunggu aku ya kak!" Dimas tertawa pelan, dan kemudian dia mengangguk untuk menjawab perkataan adiknya itu.
Sampai di mana Johan menggandeng tangan Hana dan membawanya masuk ke kabin. Dimas perlahan menurunkan tangannya, ia seketika merasa kesepian di saat itu juga. Tapi ia senang ketika ia percaya akan seseorang yang akan menjaga Hana di sana. Ia percaya, jika kebahagiaan itu ada.
"Kakak berharap kamu bahagia di sana, Hana..."
__ADS_1