
Jack mengejar saudaranya itu dengan susah payah, tinggi mereka berdua sama tidak ada bedanya tapi entah kenapa jalan Jeano jauh lebih cepat dari pada Jack. Ini terasa kurang adil untuk pemuda itu.
"Jeano!" Tidak di dengarkan sama sekali, wajahnya masih terlihat ada luka di sana karena kegaduhan tadi saat jam istirahat.
Seharusnya tidak terjadi, dan sekarang saudaranya itu semakin terus mengejar dirinya. Padahal jika di pikir-pikir untuk apa mengejar Jeano? Jack bahkan tidak pernah berpisah dengan saudaranya itu, dia seolah takut beda jalan.
Jeano hanya diam ketika saudaranya itu menghalangi jalannya, berdiri tepat di depannya sekarang seolah tidak mau jika Jeano berjalan lebih jauh lagi. Jack berusaha menghentikan Jeano di sana, dengan nafas tidak tidak beraturan karena berlari sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau tidur di sekolah?"
"Bukan itu maksudku, bisa kah kau jangan mengabaikan semua orang seperti itu? Kau tidak berpikir akan menyakiti hati orang lain? Coba pikirkan lagi." Ucapan Jack, yang bagi Jeano sangat tidak masuk akal seperti itu.
Apa katanya tadi? Mengabaikan orang-orang? Ayolah, jangan terlalu banyak bercanda untuk semua hal tidak masuk akal seperti ini. Apakah Jeano mengabaikan Jack? Tidak bukan? Bahkan di saat dia merasa kesulitan dengan keadaan, Jeano dengan senang hati datang membantu tanpa harus diberikan imbalan. Omongan saudaranya itu terkadang tidak bisa dibayangkan sama sekali.
"Katakan dengan jelas."
"Kau mengabaikan, Linda-"
"Itu bukan urusanmu, kau diam saja dari pada aku tinggal di sini." Jeano mendorong Jack, memberikannya sebuah jalan dan berlalu begitu saja.
Jack yang terdorong oleh itu, dia menatap ke arah saudaranya itu. Apakah dia masih tidak mau mendengarkan Jack? Bukan itu maksudnya, jika saja Jeano terus mengabaikan semua orang seperti dan pada suatu saat nanti di mana Jeano akan butuh, semua orang akan mengabaikannya. Jack tidak mau itu, di tambah soal perasaan perempuan. Sungguh, di antara keduanya memang tidak ada niatan untuk menyakiti siapa pun.
Tapi jika di sisi lain, Jeano tidak sadar sikap acuhnya kenyataan menyakiti banyak hati orang. Entah dengan cara diam hanya diam atau bahkan berkata dengan kalimat yang menusuk. Tapi sungguh, Jeano tidak bermaksud menyakiti.
Di satu sisi lain juga, Jack berusaha tetap menepati janjinya kepada seseorang dan dia harus melakukannya. Mungkin tidak sekarang, suasana hati Jeano tidak bisa ditebak. Apakah dia tengah baik-baik saja ataukah tidak? Tidak ada yang tahu, rait wajah yang selalu datar tidak ada yang bisa membaca.
__ADS_1
Jack berakhir menyerah, dia akan melakukan usahanya lagi ketika di rumah nanti. Jika ada Hana, Jeano tidak akan melakukan apa pun dan dia pasti akan pasrah menerima hadiah itu. Bukankah itu ide bagus?
Berakhir sekarang di mana Jack berlari menyusul Jeano yang sudah masuk ke dalam mobil dahulu, seperti biasa ayahnya akan menjemput mereka berdua saat pulang sekolah.
Jack menutup pintu mobilnya, ia melihat ke arah ayahnya dan juga Jeano di sampingnya sekarang. Bahkan sekarang, Jeano masih tetap diam tanpa ada niat membuka suara untuk bicara duluan.
"Bagaimana sekolah kalian? Ayah harap baik-baik saja ya-" Jeano dan Jack sama-ama memalingkan pandangan mereka ke arah lain, berharap jika ayahnya tidak akan melihat luka di wajah mereka.
Tapi sepertinya percuma saja, karena kulit mereka berdua yang sama-sama putih pucat itu tentu saja bisa membuat bekas luka semakin terlihat jelas. Johan melihat dari kaca mobil, dia melihat kedua anaknya sama-sama memalingkan wajah mereka berdua dan ada yang aneh.
"Semua baik-baik saja, seperti biasa hahahaha..."
"Katakan kepada ayah ada masalah apa di sekolah? Kalian bertengkar? Lihatlah wajah kalian, astaga." Johan tidak habis pikir, mereka masih umur 10 tahun dan mereka sudah berani bertengkar dengan cara kekerasan. Dalam hal mendidik, Johan sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang kekerasan walaupun Johan akui dulu dirinya memang terlalu bebas dan nakal.
"Maaf-"
...•••...
"Apa?! Kamu dikroyok?!" Hana memegang kedua anaknya yang wajahnya sudah tidak bisa tertolong, sebenarnya tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Karena di antara Jeano dan Jack, luka mereka tidak ada yang parah. Hanya memar saja sedikit, tapi tetap saja sebagai seorang ibu Hana tetap merasa khawatir bukan main. Untuk pertama kalinya ia melihat kedua anaknya bisa sampai terluka seperti ini.
Hana tidak percaya dengan semua ini, bagaimana bisa terjadi? Luka di bibir Jack jelas parah, berarti pukulan yang dia terima sangat keras. Hana beralih ke arah Jack, memeriksa keadaannya dan bahkan menyentuh luka itu secara pelan.
"Apakah ini sakit? Bunda akan obati kamu ya." Ucap Hana, itu membuat Jack merasa ada yang aneh.
__ADS_1
Sedangkan Jeano yang berada di samping Jack, ia hanya melihat pemandangan itu tanpa ada minat apa pun. Berawal ia khawatir akan luka di wajahnya, tapi sepertinya Hana tidak perduli akan dirinya lagi. Pikirannya masih terlalu pendek untuk ukuran anak 10 tahun sepertinya.
Jeano lebih memilih beranjak dari sana dan pergi begitu saja, tanpa memperdulikan keadaan disekitarnya sekarang. Ia membiarkan begitu saja, Jack menatap ke arah saudaranya yang berjalan menaiki anak tangga. Padahal mukanya juga parah, bukan hanya Jack saja.
"Jeano-"
"Jack, jangan ke mana-mana. Duduk di sana, bunda ambilkan obat dulu." Jack ingin mengejar Jeano, tapi seolah memang tidak bisa sama sekali.
Jack hanya bisa memandangi punggung saudaranya itu semakin menjauh darinya. Jack tidak bisa menjelaskan, ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi nantinya. Ketika, ia harus berdiam diri sekarang.
Johan yang awalnya memang akan berangkat ke kantor lagi, dia terhalang oleh pandangan Jack. Jack nampak menatap ke arah lain, itu membuat pria itu ikut melihat ke satu arah di mana anaknya yang lain masuk ke dalam kamar dengan raut wajah muram.
Di sisi lain ia melihat Hana tengah mengobati Jack, ini sudah tidak benar. Ia melihat wajah Jeano yang juga terluka bukan hanya Jack saja, bahkan sepertinya lebih parah. Johan pun memilih untuk menyusul Jeano ke kamarnya itu, tapi ketika dia sudah sampai di sana. Mengetuk pintu berulang kali, tidak ada suara sama sekali.
Jeano yang berada di dalam kamar hanya diam, berdiri di sana dan menatap ke depan dengan tatapan kosong. Mengingat kejadian tadi, di mana bundanya lebih memilih mengobati Jack ketimbang dirinya yang juga sama-sama terluka. Ia benar-benar hanya diam, tidak membantah atau bahkan membuka suara.
Menatap ke arah tangannya yang terluka, tadi sempat ada kejadian di mana Jeano sengaja memukul ke arah lantai karena ia terlalu emosi. Tidak mau menyakiti orang lain terlalu berlebihan karena tidak mau membuat Hana kecewa kepada dirinya. Apakah semua itu sudah berujung sia-sia saja?
Tanpa sadar air matanya menetes, air mata itu jatuh ke arah luka di belakang telapak tangannya. Luka yang memang tidak seberapa, tapi lebih menyakitkan sakit yang ia rasakan sekarang.
Luka yang tidak terdapat luka, tapi perasaan perih jelas terasa. Ia tersenyum, mencoba menguatkan diri. Sebenarnya bukan hanya sekali ini, sudah hampir puluhan kalo Hana lebih memilih Jack ketimbang dirinya dengan alasan Jack tidak sekuat Jeano.
"Sepertinya aku sudah tidak di butuhkan di sini..." Sedangkan di luar kamar, Jeano tidak tahu jika ayahnya melihatnya dari luar.
__ADS_1
Lebih tepatnya dari celah pintu yang terbuka itu, dia merasa memang ada yang salah di sini. Dan semuanya sudah jelas ia lihat, Jeano menangis. Itu pertama kalinya Johan melihat anaknya yang selalu memasang wajahnya datar itu menangis hanya karena bundanya mengalihkan perhatian, itu cukup sepele. Tapi sebenarnya rasa sakit itu jelas nyata, bukan sepele lagi.
'Maafkan ayah, nak...'