
Sekarang mereka berdua berada di tempat belanja, lebih tepatnya di mall untuk membeli banyak bahan-bahan untuk membuat makanan yang Hana mau. Jujur saja, Johan memang jarang memasak dia bahkan tidak pernah membuat empek-empek sebelumnya.
Tapi semoga saja video tutorial membuatnya bisa membuat makanan yang tidak pernah dia buat itu, menyiapkan semuanya bahkan termasuk ikan juga dia beli. Lumayan aneh jika empek-empek terbuat dari ikan tuna. Tapi di Australia mana ada ikan tongkol?
"Beberapa bahan tidak ada di sini, masih mau jika ikannya bukan ikan tongkol? Atau ikan tengiri?"
Sepertinya bahan-bahannya susah di cari apa lagi jenis ikan di luar negeri tidak sama dengan yang ada di indonesia, sulit memang. Hana tidak tahu jika semua bahan yang di butuhkan tidak ada seperti ini, tapi dia hanya mengangguk. Menurut saja dengan Johan, asalkan makanannya segera jadi saja.
Perempuan itu hanya mengikuti dari samping, melihat Johan yang sibuk dengan segala perbumbuannya. Pria itu nampak seperti sudah terbiasa belanja bahan makanan, dia bahkan tidak memikirkan harganya sama sekali.
"Apa tidak kebanyakan?"
"Tidak, untuk stok bulan depan sekalian." Ucapnya dengan senyuman yang begitu membuatnya tampan, kenapa ia baru sadari jika Johan memang setampan itu?
Lupakan saja soal pria itu sekarang. Setelah belanja banyak sekali bahan makanan yang diperlukan untuk memasak hari ini, mereka pun kembali ke rumah dengan belanja yang memang tidak bisa di anggap sedikit. Berjalan ke sama kemari membuat ibu hamil itu kelelahan, dia di suruh duduk saja tadi tapi dia menolak. Memaksa untuk ikut dengan Johan, padahal dia takut sendirian.
Di dalam perjalanan tidak ada suara Hana bernyanyi, biasanya dia akan bernyanyi kecil mengikuti irama musik yang Johan setel. Tapi suasana mobil benar-benar hanya suara musik yang Johan setel saja.
Pria itu sekilas menoleh ke arah samping di mana ternyata perempuan itu tertidur pulas di sampingnya, posisinya memang sedikit tidak enak. Apakah dia nyaman tidur dengan cara seperti itu?
Johan meminggirkan mobilnya sekali, dia mengambil bantal leher dan masangnya ke leher Hana. Tujuannya agar dia tidak pegal ketika bangun tidur nanti, sedikit membuat kursi mobil itu ke belakang membuatnya terbaring nyaman.
Setelah itu, Johan pun melanjutkan perjalanannya ke rumah. Perjalanan memang di tempuh lumayan lama, 30 menit dari pusat kota. Membiarkan Hana tidur di sana, mungkin dia lelah setelah berbelanja tadi. Terlalu banyak jalan, banyak bergerak. Tapi untung saja dia baik-baik saja.
"Terkadang memang keras kepala."
...•••...
Sesampainya di rumah setelah hampir 30 menit diperjalanan, pria itu turun dari mobil dan dia beralih ke Hana. Dia menggendong perempuan itu masuk ke dalam rumah.
"Bawa belanjaan di belakang sana, sekalian di bereskan."
"Baik tuan." Johan tidak perlu berpikir banyak, dia punya banyak maid dan bodyguard. Seharusnya dia tidak mengkhawatirkan apa pun sekarang.
__ADS_1
Dia melihat Hana masih tertidur pulas tidak ada pergerakan sama sekali, perutnya yang besar sejujurnya lumayan menganggu tapi Johan tidak menghiraukan semua itu. Ketika dia masuk ke dalam rumah, dia bertemu dengan bundanya.
Wanita itu mengalihkan perhatiannya ketika putranya sudah datang dengan seorang perempuan di gendongannya sekarang. Dan perut perempuan itu.
"Johan-"
"Aku akan menjelaskannya nanti, bunda." Johan melangkah menaiki anak tangga dan membawa Hana masuk ke kamar, tentu saja itu disaksikan oleh Sinta.
"Tante, bisa duduk dulu. Johan akan turun sebentar lagi-"
"Siapa perempuan tadi?" Jihan hanya diam, ia ingin menjelaskan semuanya tapi Johan melarangnya membuka mulut tentang Hana. Itu adalah urusan Johan, dan dirinya hanya bisa membantu sampai situ saja.
"Johan akan menjelaskannya sendiri, Jihan tidak diperbolehkan bicara olehnya." Sinta tidak tahu apa yang terjadi sekarang, tapi dia akan mencoba menunggu.
Putranya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, ia sudah mendidik anaknya dengan baik sampai dia dewasa. Melukai seorang perempuan adalah kejahatan di mata dunia dan juga di mata tuhan, Sinta sudah mengajarkan semua itu kepada Johan. Seharusnya Johan memang tidak melakukan semua kesalahan itu, semoga saja penjelasan yang Johan katakan sesuai dengan harapan yang Sinta ucapkan.
Menunggu beberapa saat di lantai bawah bersama Jihan yang duduk di sampingnya, berakhir Johan benar-benar keluar dari kamar itu dengan cepat. Dia juga mulai turun, menghampiri bundanya yang berada di ruang tamu.
"Bunda hanya merindukan mu, kamu sudah lama tidak pulang ke rumah." Johan memang salah di sini, dia melupakan rumahnya yang sebenarnya dan memutuskan tinggal di tempat yang jauh seperti ini.
Tapi ini juga demi kebebasannya juga. Ayahnya mengancam jika saja Johan menolak permintaannya, maka dia akan di jodohkan dengan orang.
Tentu saja pria itu akan menolak dengan tegas, dia masih berhadap dengan orang lain yang bahkan entah apakah dia sadar atau tidak. Tapi prinsip Johan adalah, tidak akan menyerah jika kenyataannya jika dia yang menolak langsung. Dia akan benar-benar menyerah nantinya.
"Maafkan aku, aku terlalu sibuk dengan urusan kantor-"
"Kantor atau perempuan tadi?"
Johan membuang nafas panjang, sepertinya memang sudah waktunya dirinya menjelaskan apa yang terjadi sekarang agar bundanya juga mengerti akan keadaannya sekarang. Sekaligus menerima keberadaan Hana di sekitarnya.
"Johan akan jelaskan semuanya, tapi bunda harus dengarkan aku baik-baik..."
"Bunda akan dengarkan semua penjelasanmu."
__ADS_1
Jihan melirik ke arah sepupunya itu yang sepertinya tengah menyusun segala kata-kata untuk menjelaskan semuanya. Pada akhirnya Johan juga bicara akan semuanya yang telah terjadi.
Di mana dia juga bercerita saat bertemu dengan Hana pertama kali, dia menyukai perempuan itu secara diam-diam selama 2 tahun tapi tidak tahu cara mengungkapkan perasaan. Johan tidak bisa mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, dia terlalu pengecut untuk mengatakan perasaannya saat itu.
Dia masih terlalu muda, dia menganggap masih ada kesempatan lain. Tapi kenyataannya selama 2 tahun juga dia pergi ke Australia atas perintah ayahnya, menempuh mendirikan sekaligus harus meneruskan perusahaan keluarganya. Berat, Johan sebenarnya sudah lelah tapi dia tidak mau berhenti di tengah jalan.
Sampai di mana dia memutuskan kembali, ia ingin mengungkapkan semua isi hatinya kepada seseorang yang dia cintai. Tapi sepertinya terlambat, perempuan yang dia puja dan jaga selama ini sudah menjadi milik orang lain. Itu membuatnya sakit hati, sekaligus menyesali semua perbuatannya. Selama itu juga Johan memilih untuk berdiam diri, dia tidak bisa harus menahan semua rasa sakit itu sendiri.
Di sebuah tragedi dia mendengar kabar buruk yang membuatnya harus bangkit lagi, dia masih mencintai perempuan itu. Tidak perduli apakah dia sudah ada yang punya atau tidak, dia tidak perduli. Johan berjuang dan sampai detik ini, dia dipercayakan oleh banyak orang untuk menjaga perempuan itu.
Sinta mendengarkan semua penjelasan yang Johan katakan kepadanya dengan cerita yang cukup panjang, bagaimana semua kata itu tidak pernah dia dengar sama sekali. Dia sebagai ibu saja tidak tahu apa yang anaknya rasakan selama ini, perjuangannya yang terlalu keras itu.
"Dan perempuan itu adalah perempuan yang kamu maksud, benar?"
"Iya, aku akan menjaganya sebisa ku karena aku sudah berjanji." Entah ia harus terharu akan semua cerita yang Johan ceritakan kepadanya atau harus merasa bangga. Ia tidak salah mendidik putranya.
"Mau sampai kapan kamu menjaganya, dia hamil. Cepat atau lambat, bayi itu akan lahir dan tumbuh besar. Tidak mungkin status kalian tetap seperti ini, tidak jelas."
"Aku tahu, aku berencana akan menikahinya ketika kandungannya menginjak 4 bulan nanti." Ucapnya dengan nada pelan, dia tidak tahu harus menjelaskan apa jika tidak berkata semua ini. Ia tidak bisa berbohong kepada bundanya sendiri.
Sinta hanya tersenyum ketika mendapati jawaban yang tepat yang Johan katakan, dia menggenggam tangan putranya yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang mapan, dia bangga dengan putranya itu, dia tidak pantang menyerah.
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan, jika kamu mau melindunginya. Maka lakukan saja, bunda akan berdoa di sini untuk kebaikan mu."
"Bunda tidak keberatan?"
"Untuk apa keberatan? Dia perempuan baik, pendidikannya bagus, dia juga pantas bahagia bersama mu." Johan tidak bisa menahan air matanya sendiri.
Pria itu memeluk wanita paruh baya itu dengan erat, mungkin jika bukan karena dukungan dari wanita itu ia tidak akan sampai di titik ini. Ia sangat bersyukur bisa lahir dari rahimnya.
"Bunda akan mendukung semua keputusanmu, asalkan itu baik untukmu."
"Terimakasih, bunda..."
__ADS_1