
Tepat malam sudah tiba, setelah Hana pulang dari tempat kerjanya ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Ia menaiki anak tangga, tanpa memikirkan apa pun lagi karena sekarang yang berada di pikirannya adalah Satya.
Pria itu masih menutup matanya, sepertinya memang bukan kabar baik kali ini. Hana menutup pintunya lagi, ia berpikir untuk melakukan sesuatu karena tadi Hana sempat membeli kompres yang biasanya untuk bayi, katanya memang manjur untuk demam entah itu masih balita atau pun sudah dewasa sekali pun.
Hana memutuskan untuk turun saja, gadis itu berjalan ke arah dapur dan mengambil beberapa keperluan. Sebenarnya Hana memasak bubur sebelum berangkat kerja tadi, buburnya tinggi di panaskan saja. Hana pikir Satya makan tapi ternyata pria itu tidak makan sama sekali, berarti sudah seharian dia tidak menyentuh makanan.
"Terkadang dia keras kepala." Hana menyiapkan nampan untuk makan dan minuman juga, sekalian obat yang juga baru saja Hana beli tadi.
Entah kenapa Hana masih saja nekat, bukan nekat. Lebih tepatnya adalah di mana Satya masih suaminya dan Hana bertanggung jawab atas keadaan Satya, bagaimana lagi? Mau pria itu menolak atau tidak, Hana akan melakukan apa pun.
Ia tidak perduli apakah Satya risih atau tidak kepadanya, yang terpenting adalah kesehatan Satya nomor satu untuk Hana. Walaupun pria itu tidak pernah memperdulikan dirinya sekali pun. Tidak masalah, karena Hana tidak akan melakukan apa pun atau bahkan berpikir untuk balas dendam. Jangan sampai, Hana tidak mau pikiran buruk itu menguasainya.
Setelah menyiapkan yang sudah ada, Hana kembali menaiki anak tangga lebih tepatnya ke kamar suaminya itu. Apakah dia masih tertidur? Ternyata dia masih tidur dengan tenang, karena gelap Hana tidak terlalu bisa melihat jadi Hana menghidupkan lampu tidurnya agar lebih bisa melihat.
"Satya, makan yok. Setidaknya kamu minum obat dulu." Hana sebenarnya tidak mau mengangguk Satya yang tertidur itu, tapi ia juga tidak mau Satya tambah sakit karena tidak makan seharian.
"Satya-"
"Diam lah, kepalaku pusing." Ucapnya dengan suara yang nyaris hilang, Hana berusaha untuk berpikir. Ia membuat Satya terduduk di ranjang bersandar kepala ranjang, memberikan obat dan minuman, tapi pria itu enggan untuk makan.
"Satya, makan ya."
__ADS_1
"Tidak, tenggorokan ku sakit."
"Iya makanya minum teh dulu." Satya melirik ke arah Hana, kenapa gadis ini begitu bersih keras sekali? Sebenarnya Satya butuh akan semua ini tapi bukan Hana yang dia inginkan. Anggap saja dia tidak bersyukur sekarang, pria itu berpikir lain.
"Aku akan tidur."
"Satya-"
"Jangan ganggu aku." Hana terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa? Gadis itu menatap ke arah semangkuk bubur yang sudah dia masak sendiri dan teh hangatnya, tapi seharusnya Hana tahu jika apa yang dia buat tidak akan Satya sentuh.
Gadis itu berakhir pergi, dengan perasaan gusar yang begitu membuatnya ingin berteriak sekarang juga. Setelah gadis itu pergi, menutup pintu secara rapat tidak membiarkan cahaya lampu luar masuk.
Satya menoleh ke arah pintu, sejujurnya ia tidak pernah mendapatkan perhatian yang begitu membuatnya merasa nyaman seperti ini. Selain bundanya sendiri yang selalu memanjakan dirinya ketika sakit seperti sekarang, Hana yang melakukan itu. Bedanya Satya menolak keras karena tidak mau di sentuh oleh Hana. Kejam? Biarkan saja.
"Aku harap dia tidak berharap kepadaku."
...•••...
Tepat di pagi harinya, Satya ijin untuk tidak berangkat kuliah karena masih tidak kuat untuk berdiri, kepalanya sangat pusing bukan main. Tapi ketika ia membuka matanya, ia melihat satu nampan dengan mangkuk bubur dan teh hangat di sana, beserta obat yang berada di dekat makanannya.
Satya memegang keningnya dan terdapat kompres yang menempel di keningnya, mungkin itu alasan mengapa demamnya sekarang tidak separah kemarin, apa Hana yang melakukan ini? Ia melirik ke arah meja nakas dekat dengan ranjangnya.
__ADS_1
Terdapat sebuah tulisan tangan dari istrinya, memberikan pesan singkat tapi menyentuh. Kenapa gadis itu tetap mengejarnya? Satya tidak bisa membuka hatinya untuk Hana walaupun sekali saja? Jelas jika Anna saja mengabaikan dirinya dan Hana justru yang berusaha mengurusnya.
Tulisan tersebut bertuliskan makanan yang berada di meja adalah makanan beli dari luar, dan Hana tidak mau jika Satya terus mengabaikan jadwal makannya hanya karena Hana yang masak. Jadi gadis itu memilih membeli makanannya di luar agar Satya mau makan, tidak lupa juga dengan pesan obat harus di minum sebelum makan seperti anjuran dokter.
Kurang apa Hana sekarang? Gadis itu bahkan menyempatkan diri untuk merawat pria itu padahal dia juga sibuk dengan urusannya, di tambah Hana bekerja sampai jam 10 malam. Seolah dia masih hidup sendiri dan belum menginjak status menikah, terlalu mandiri tapi dia juga tidak melupakan kewajibannya sebagai istri.
"Kenapa dia selalu membuat ku bimbang? Anak sialan." Satya mengumpat lagi, ia melihat ke arah makanan yang sudah di siapkan dengan tatapan yang lain.
Sedangkan di tempat lain, Hana duduk di halte menunggu angkutan umum seperti biasanya. Tapi entah pikirannya terus mengarah ke Satya, suaminya itu sangat menolak untuk di rawat olehnya. Kenapa? Semua itu justru membuat Hana semakin tidak berguna.
Gadis itu merasa jika semua usahanya gagal, ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Tidak apa, Hana memang sudah terbiasa dengan kegagalan itu dan bukan berarti Hana akan menyerah. Ia tidak akan menyerah, sampai di mana titik takdir membuatnya memutuskan kapan berakhir. Baru Hana akan mengakhiri semua usahanya itu.
"Semoga Satya memakan makanannya." Ucapnya sendiri, tidak memikirkan diri sendiri. Padahal Hana saja nyaris tidak makan apa pun karena rahangnya masih sakit.
Gadis itu memegang bagian sisi rahangnya sendiri, masih lumayan sakit walaupun untuk bergerak sedikit saja. Hana enggan untuk melakukan apa pun, ia berharap kehidupannya akan jauh lebih baik setelah perjuangan panjangnya saat ini. Semoga saja apa yang Hana harapkan dikabulkan.
Sampai tidak lama bus datang dan Hana menaiki kendaraan umum itu, memilih tempat duduk yang letaknya belakang dan dekat dengan jendela, agar Hana bisa melihat pemandangan di pagi hari ini. Agar kepalanya bisa berpikir dengan lega.
Ia memeriksa ponselnya berulang kali, barang kali jika Satya menghubungi dirinya. Tapi percuma saja, semua itu hanyalah mimpi semata dan pria itu tidak akan pernah melakukan itu. Hana tersenyum, ia mulai menyadari sesuatu.
"Apakah aku terlalu banyak berharap? Tapi aku takut sakit hati lagi." Tidak ada yang bisa dilakukan setelah itu, Hana hanya bisa memastikan jika ini adalah perjuangan terakhirnya. Jika saja perjuangannya gagal tepat di mana ia sudah berada di titik terendah, maka Hana akan memilih berakhir.
__ADS_1
'Aku masih ingin berjuang, setidaknya sedikit lagi aku melakukan hal bodoh itu.'