
Jihan hanya bisa melihat keadaan Hana dari jauh, ia belum diperbolehkan masuk oleh dokter karena keadaan perempuan itu masih belum stabil sama sekali. Ia tidak tahu, bagaimana bisa terjadi? Jihan sudah mengabari Johan untuk segera pulang dan menemui Hana. Hanya pria itu yang dia harapkan sekarang, membayangkan bagaimana kehidupan Hana selama ini.
Terkadang Jihan merasa dunia ini tidak pernah adil dengan siapa pun, bahkan orang sebaik Hana pun diperlakukan seperti ini. Tapi ia bersyukur ketika orang-orang yang berbuat buruk itu sekarang sudah mendapatkan imbalannya, sebuah balasan yang pantas untuk mereka.
Kesalahan yang mereka lakukan itu sudah terlalu keterlaluan, mungkin iblis di neraka sudah merasa kalah saing ketika melihat para manusia egois itu.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah sadar?" Jihan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang Johan katakan kepadanya.
Sudah hampir dua hari lamanya, mungkin efek dari obat tidur yang dokter itu berikan membuat Hana tidur selama hampir 2 hari lamanya. Bukan tanpa alasan mengapa dokter itu memberikan obat tidur itu, apa yang Hana lakukan selama hampir seharian.
Dia hanya tenang selama beberapa saat saja, seterusnya dia terus menyakiti dirinya sendiri dan menyebutkan nama seseorang yang tidak dokter itu ketahui siapa. Dokter itu juga bertanya kepada Jihan pada saat itu, tapi dia tidak menjawab pertanyaan sang dokter karena dia tidak minat menyebut nama orang itu.
Tapi satu sebuah kalimat membuat Jihan ingat sampai detik ini. Tidak memperbolehkan Hana bertemu dengan seseorang yang membuatnya seperti ini, atau bisa di katakan, tidak boleh bertemu dengan sebabnya. Seseorang yang menyebabkan semua ini terjadi.
Mungkin dia bisa melupakan kejadian masa lalu, tapi itu hanya sebentar saja dan pada saatnya ingatan menyakitkan itu akan dia ingat lagi, membuatnya depresi berat. Mungkin salah satu kejadian yang pernah Johan ceritakan kepadanya, kejadian yang tragis yang di mana dia tidak tahu di mana letak kesalahannya.
Jihan menoleh ke arah Johan yang sudah terduduk lemas di kursi tunggu di luar ruangan itu. Ia nampak frustasi dengan apa yang dia alami, tapi tidak membuatnya menyerah begitu saja.
"Aku tidak becus menjaganya, seharusnya aku-"
__ADS_1
"Omong kosong, kau menjaganya dengan benar. Keadaan yang memang tidak bisa di tebak, lagi pula masa lalu itu tidak sepenuhnya menghilang. Entah dosa apa yang dia lakukan sampai mengalami semua keburukan ini." Johan mendengar semua kalimat itu, tapi dia tidak menjawab sama sekali.
Apakah ia melakukan kesalahan yang membuat Hana sampai drop seperti ini? Apakah ia kurang menjaga Hana? Semua pertanyaan muncul di kepalanya, menyalahkan dirinya sendiri. Padahal kejadian ini bukan kesalahannya, justru sebaliknya.
Johan menjaga perempuan itu dengan baik, lebih dari perhatian yang dia berikan dia memberikan banyak hal. Johan terlalu tidak rela jika Hana mengalami sesuatu yang buruk. Pada dasarnya Johan memang seperti itu sejak dulu, tidak bisa di rubah sikap posesifnya itu.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau sudah menemui manusia biadab itu?"
"Ya, dan semua dugaanku benar. Jangan sampai mereka menemui Hana apa pun alasannya, aku akan memperketat penjagaan yang ada di rumah. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menemuinya."
Sepertinya dia punya firasat buruk yang membuatnya melakukan semua ini, Jihan merasa jika apa yang sepupunya lakukan adalah sikap berlebihan itu. Walaupun bukan tanpa alasan mengapa dia melakukan semua itu, tapi tetap saja. Jika Hana sudah merasa jika hidupnya semakin seperti di penjara mungkin cepat atau lambat perempuan itu akan menyadari semuanya.
Jihan tidak bisa melakukan selebihnya, ia hanya melakukan apa yang dia bisa saja. Menjaga Hana ketika Johan tidak ada di rumah adalah tugasnya, terus mengawasi koneksi komunikasi Hana juga.
'Aku tahu kau begitu mencintainya sampai seperti ini, tapi apakah takdir menyatukan atau tidak. Aku akan berusaha, Johan. Aku akan berusaha...'
...•••...
Pria itu mengamuk di ruangannya, mungkin karena sebuah alasan yang jelas membuatnya sampai mengeluarkan amarah yang sebesar ini, bahkan tidak memperdulikan orang lain. Amarahnya di lampiaskan ke semua orang tanpa memikirkan apa pun.
__ADS_1
Semua barang-barang yang berantakan karena ulahnya sendiri. Jika saja bukan sebuah kecelakaan maka ia tidak akan seburuk ini, ia tidak menyangka semua ini akan terjadi hanya karena sebuah masalah sepele.
"Dia serius dengan ucapannya."
"Benar tuan, direktur tertinggi yang di pimpin oleh tuan Johan. Memutuskan kontrak yang ada, dia juga membayar langsung uang kompensasi sebesar 200 juta kepada kita. Tapi dia tidak akan menerima permintaan kita untuk bekerja sama lagi."
Pria paruh baya itu tidak menyangka sama sekali, CEO muda itu ternyata sudah memutuskan kontrak dan dengan cepat melunasi uang kompensasi dengan cepat seolah dia benar-benar tidak mau datang lagi.
Dia mengucapkan sesuatu, dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakan. Pria itu hanya duduk dengan keadaan lemas, pada akhirnya ia hanya pasrah. Jika saja dia memaksa pemuda itu, bukan sebuah kabar baik yang datang tapi justru sebaliknya.
'Aku tidak menyangka jika dia serius dengan ucapannya.'
Di tempat lain, dia hanya duduk diam memandang perempuan itu yang masih enggan untuk membuka matanya. Selama dirinya pergi ke sebuah tempat untuk menyelesaikan sedikit dari masalah yang ada, dia tidak tahu akan seburuk ini.
Tangannya meraih telapak tangan dingin itu, banyak luka cakaran yang lumayan dalam. Kuku yang awalnya ia lihat lumayan panjang, sudah pendek. Mungkin perawatnya sudah memotong kukunya karena tidak mau sesuatu terjadi.
Johan tidak bisa berharap lebih akan semua ini, tapi yakinlah dia masih ingin sesuatu. Ia hanya mau melihat perempuan yang berada di depannya tersenyum, tertawa melupakan masalahnya. Tapi seperti, itu mustahil.
"Kenapa kamu melukai dirimu sendiri? Aku pikir kamu melupakan kejadian itu, ternyata belum. Aku tidak bisa menjaga mu dengan baik, seperti yang di harapkan oleh kakak mu..."
__ADS_1
Ia merasa jika semua ini adalah kesalahannya. Tidak seharusnya dia menyalahkan dirinya sendiri yang jelas tidak ada salah sama sekali, tapi Johan hanya merasa bersalah atas apa yang terjadi.
Jujur saja, ia tidak bisa melihat keadaan sekarang. Melihat seseorang yang dia perjuangkan sekarang tertidur karena obat tidur, sakit di bagian batin dan fisik juga ikut di lukai. Apakah dunia ini tidak seadil itu? Ia pikir begitu, cobaan terlalu berat untuk perempuan itu. Tapi entah kenapa dia bisa bertahan sampai detik ini, sebuah keajaiban dia bisa bertahan sampai sekarang setelah kejadian buruk terus menimpa.