
Berada di dalam kendaraan beroda empat, satu keluarga yang berpindah tempat untuk sekian kalinya. Tanpa alasan yang jelas mengapa mereka pindah dan ada masalah apa? Sudah 2 kali ini mereka pindah ke sana kemari tanpa tahu arah yang jelas. Ayah mereka berdua juga tidak menjelaskan secara gamblang akan apa yang terjadi sekarang.
Jihan ikut dalam perpindahan mereka karena dia memang bagian dari keluarga itu sejak awal. Gadis itu hanya melamun tanpa arah, jujur saja ia khawatir dengan apa yang terjadi sekarang.
Jangan berpikir jika Jihan tidak tahu apa pun, karena kenyataannya dia sudah tahu semuanya. Walaupun kedua keponakannya terkadang bertanya kepadanya akan apa yang terjadi sekarang, ia tidak akan menjawab dan justru akan mengalihkan topik dengan pembicaraan yang lain. Antara ia tidak mau dan juga terpaksa memang.
Bagaimana ia bisa mengatakan masalah sebesar ini kepada dua anak kecil yang tidak tahu apa pun? Memang boleh Jihan jujur, Jack dan Jeano memang anak yang pintar. Terlalu malah, mungkin karena memang didikannya yang sangat baik dan gen yang diturunkan memang bagus.
"Kita akan pergi ke mana lagi?" Johan tidak tahu harus menjawab dan menjelaskannya bagaimana, tapi yang pasti tempat pilihannya sekarang adalah yang terbaik.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas tempat tinggal kita nanti akan jauh lebih aman. Akan aku pastikan semua itu, demi kalian semua." Pengorbanan yang terlalu besar, masalahnya di sini musuhnya adalah keluarga sendiri.
Beberapa besar persen musuh akan jauh lebih banyak di bagian orang dalam ketimbang orang luar, justru sebaliknya orang luar yang selalu membantu Joha. Meskipun memang tidak sepenuhnya percaya begitu saja, demi keselamatan keluarganya Johan akan melakukan apa saja seperti janjinya beberapa tahun yang lalu.
Tentang apakah Sinta tahu akan semua ini? Jelas dia tahu, tapi dia tutup mulut akan rencana putranya itu. Sinta juga tidak mau kejadian buruk menimpa keluarga kecil putranya dan kedua cucu kesayangannya, mana bisa ia ikhlas akan semua ini?
"Aku harap seperti itu, kasihan anak-anak. Mereka kebingungan kenapa kita pindah untuk sekian kalinya."
__ADS_1
"Ini demi keamanan mereka juga, aku tidak mau mereka terluka meskipun hanya sedikit saja. Aku berharap mereka berdua paham."
...•••...
Mina berdiam diri di dalam kamarnya memikirkan banyak hal, entah apa yang tengah berada di dalam kepalanya sekarang? Itu tidak bisa dipastikan. Ibu anak satu itu hanya memperhatikan putrinya dari luar kamar.
Apakah ada masalah yang lain? Mina bahkan tidak pernah mengatakan apa pun, ketika pertanyaan akan keadaan di sekolah dia selalu diam saja tanpa menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. Seolah memang tengah ada yang disembunyikan saat ini.
Anna hanya menatap dengan perasaan khawatir yang ia pendam selama ini, Satya belum pulang dari kantor karena dia akan bekerja selama seharian karena masalah kantor menimpa lagi. Anna tidak mengatakan apa pun kepada Satya, ia hanya tahu jika suaminya tengah lelah menghadapi masalah lain. Maka Anna akan menyelesaikan masalah ini seorang diri.
Perempuan itu melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa warna biru itu, ia duduk di samping putri kecilnya membuat anaknya itu menoleh tanpa ada perasaan terkejut sama sekali. Anna tersenyum, dan anaknya itu hanya menunduk.
"Mina baik-baik saja..." Entah kenapa ketika mendengar kalimat itu, keluar dari bibir anaknya. Ia teringat akan seseorang yang sudah lama tidak ia temui.
Anna pikir memang perasaannya benar, Mina sangat mirip dengan saudara kembarnya itu. Terkadang ia merasa deja-vu dengan semua ini, bahkan dengan putrinya sendiri yang di mana dia selalu hanya diam dan jawaban yang sama, sama seperti kembarannya dulu.
"Kata baik-baik saja tidak akan membuatmu lega, ada apa?" Mina menunduk, tidak ada niatan menatap balik mamanya itu. Antara ia tidak mau dan, ia harus melakukan semua ini.
__ADS_1
Mina berpikir jika masalah ini bisa ia selesaikan sendiri karena Mina sendiri yang mengalami, bukan mamanya. Gadis kecil itu juga tidak mau jika saja kedua orang tuanya justru malah memikirkan masalahnya sekarang yang tidak seberapa itu, Mina juga paham akan keadaan keluarganya sekarang.
Ayahnya yang punya banyak masalah akan pekerjaannya walaupun dia tidak pernah membahas akan keadaan kantor di depan Mina, tapi melihat wajah ayahnya itu saja sudah cukup ia bisa tahu.
Pasti sangat melelahkan, jika saja Mina membuka suara akan masalahnya kedua orang tuanya akan semakin pusing. Itu adalah cara berpikirnya sekarang, memendam semua sendirian selagi bisa bukanlah hal yang buruk. Hanya perlu dilakukan secukupnya saja, sesungguhnya saja.
"Aku tahu, tapi aku baik-baik saja ma. Mama bisa keluar dulu? Mina mau tidur." Anak itu berjalan ke arah ranjang dan naik ke atas sana, dia menarik selimut. Menutupi semua bagian badannya tanpa mengatakan apa pun lagi, tidak ada bermaksud mengusir hanya saja Mina mau sendirian.
Anna yang melihat semua itu juga hanya diam, mungkin anaknya itu tengah ada masalah dengan temannya? Itu biasa terjadi bukan? Anna pun menuruti permintaan Mina, dia pun pergi dari kamar anaknya dan membiarkan putri kesayangannya itu tidur, beristirahat sejenak setelah menghadapi banyak hal.
Ketika ia tahu jika mamanya itu sudah keluar dari kamarnya karena suara pintu tertutup, ia membuka selimutnya dan menatap ke arah jendela. Tanpa ia sadari jika air mata sudah sudah membanjiri pipinya bahkan membasahi bantalnya, entah kenapa perkataan teman-temannya selalu membuatnya ingat akan banyak hal yang akan menyakiti dirinya sendiri.
Semua berat, tapi ia yakin semua ini hanyalah sebuah cobaan semata. Ia pikir cobaannya sekarang tidak seberapa, Mina tidak mau mengeluh. Tapi di antara ia memilih istirahat atau harus terus berjalan ia hanya ingin istirahat sejenak, tidur dan masuk ke dalam alam mimpi dengan damai. Melupakan semua masalah seolah tidak pernah terjadi adalah jalan satu-satunya baginya.
Memangnya selain semua itu, Mina harus apa? Tidak ada yang harus ia lakukan. Percaya atau tidak, sebenarnya Mina lelah akan semua ini. Ingin sekali Mina keluar dari sekolah dan berdiam diri di rumah saja, tapi jika saja Mina melakukan semua itu.
Yakin saja, kedua orang tuanya pasti akan bertanya-tanya akan semua itu. Ada apa dan masalah apa? Pasti tidak akan lepas dari percakapan mereka. Mina tidak mau menambah masalah, hanya kurang sebentar lagi ia akan naik kelas. Apakah bisa ia harus pindah sekolah jadi di rumah saja? Apakah ayahnya akan mau menurutinya? Namanya akan baik-baik saja? Tapi di sisi lain, Mina masih prihatin akan semua ini.
__ADS_1
"Bertahan sebentar lagi tidak ada salahnya, mama sama ayah juga tidak akan tahu."