
Kehidupan ini memang tidak akan semua berjalan dengan lancar atau bahkan sesuai dengan rencana, tidak bisa di rubah lagi karena semuanya memang sudah tertulis di dalam takdir masing-masing.
Tapi bagaimana jika takdir itu selalu buruk? Apakah akan bisa bertahan sampai akhir atau harus berhenti di tengah jalan karena sudah tidak kuat dengan segala cobaan yang ada? Seperti gadis itu sekarang, ia bahkan tidak tidur hanya karena memikirkan orang lain.
Belum tentu orang lain itu juga memikirkan dirinya, tidak. Hana hanya tidak ingin semuanya berakhir begitu saja, ia mau semua bahagia bukan hanya dirinya seorang saja. Gadis itu menoleh ke arah belakang, di mana suaminya sudah tertidur setelah lelah bekerja.
Tidak tega melihat pria itu bekerja sembari mengerjakan tugas kuliah yang begitu banyak, bahkan tidak kalah banyak dengan pekerjaan yang dia kerjakan.
Apa yang harus Hana lakukan? Gadis itu bingung harus berbuat apa lagi. Di sisi lain ia juga belum 100℅ pulih dari sakitnya, tapi seolah otaknya terus di paksakan untuk berpikir lebih.
"Aku tidak mau hidup seperti ini."
...•••...
Tepatnya di kampus sekarang ia berada, Hana mencari keberadaan Aca yang entah kemana membuatnya khawatir. Hana hanya mau menjelaskan sesuatu meskipun kemarin ia cukup berbicara apa adanya, tapi kehidupan ini rasanya kurang jika ada yang menghilang satu saja.
Gadis itu berjalan ke sana kemari dan tidak menemukan Aca, dan sampai di mana ia kembali ke kelas. Melihat keberadaan Aca di sana membuatnya lega di dalam hatinya, Hana masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi di dekat Aca.
Sepertinya gadis itu sudah menyadari sejak awal akan keberadaan Hana, ia menoleh ke arah samping di sana ada Raya yang tengah bermain game mobile legends. Bersama dengan Gion di sana. Gadis itu menepuk bahu Raya dengan pelan membuat gadis itu berhenti bermain dan menoleh ke arah Aca, ia juga menunjukan ekspresi bertanya.
"Kamu pindah di sini ya, aku mau duduk di tempat kamu." Raya menaikan alisnya, ia mengangguk saja agar mempercepat masalahnya dan ia duduk di samping Hana. Menggantikan posisi Aca yang seharusnya duduk di sana.
Dan Aca duduk di samping Ayu, dengan Gion yang berada di depannya. Sedangkan Hana yang menyadari jika sahabatnya itu menghindari dirinya, ia hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun.
'Mungkin Aca sedang ingin sendiri.'
Ayu yang memang sibuk membaca novel online tidak menyadari apa pun, sampai dosen datang membuatnya meletakkan ponselnya di atas meja dan menoleh ke samping. Berbuat ingin meminjam pulpen karena Ayu belum sempat beli tadi, masih terlalu pagi untuk toko buka.
__ADS_1
Tapi yang dia lihat bukan Raya, melainkan Aca yang berada di sampingnya. Tentu saja ia akan kebingungan sekali, padahal awal masuk tadi Raya memang sudah ada di sampingnya dan Aca duduk di ujung sana menyisakan bangku kosong di sana. Melihat bangku kosong itu sudah ada yang mengisi dan ternyata itu adalah Hana.
Ia sempat berpikir, biasanya juga Aca berada di sana dan memilih duduk di dekat Hana di banding harus duduk di dekatnya atau Raya. Tapi kenapa sekarang suasananya mendadak berbeda seperti ini? Ayu memilih menghadap ke depan saja, ia tidak bisa banyak berpikir. Tapi otaknya seolah tidak mau melupakan situasi sekarang membuatnya bertanya-tanya akan keadaan sekarang, ada apa?
Setelah hampir 3 jam kelas itu, berakhir dosen keluar setelah memberikan sapaan sampai jumpa untuk kelas yang akan datang. Aca sepertinya terburu-buru, Raya, Ayu dan Hana sontak saja melihat ke arah Aca.
"Kau sepertinya terburu-buru sekali ya, memangnya mau ke mana?" Pertanyaan yang Raya layangkan itu seketika membuat pergerakan Aca berhenti. Ia melihat ke arah Raya dan tersenyum.
"Aku ada acara nanti, waktunya sudah mepet sekali."
"Tidak biasanya kamu seperti ini, ada apa?" Dan lagi, Ayu melayangkan pertanyaan membuat Aca benar-benar terdiam. Gadis itu seolah memikirkan jawaban yang tepat dan masuk akal untuk dijadikan alasan.
"Aku ada urusan, Ayu. Aku duluan ya, bye!" Aca pergi begitu saja, sedangkan ke tiga gadis itu hanya diam. Sama-sama diam di sana, sampai di mana Ayu menoleh ke arah Hana yang terdiam, menunduk seolah ia memikirkan sesuatu sekarang.
Raya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal karena bingung dengan keadaan, sebenarnya ia tidak banyak berpikir dan terkesan tidak pernah perduli dengan sekitarnya. Tapi sekarang beda ceritanya, karena sekarang adalah salah satu temannya yang bersikap aneh.
"Hana, ayo pulang sayang."
Suara itu membuat ketiganya menoleh secara bersamaan terutama Hana, bahkan Raya yang tidak di panggil saja ikut menoleh ke arah pintu masuk kelas. Yang membuatnya bertambah bingung adalah, sejak kapan Satya memiliki hubungan dengan Hana?
Raya kebingungan, tapi secara bersamaan ia juga melihat Hana yang membereskan alat tulisnya dan ia juga melambaikan tangan ke arah mereka berdua. Kedua gadis itu membalasnya seperti biasa, tersenyum dan melambaikan tangan. Setelah pasangan itu tidak terlihat lagi, Raya kembali melamun.
"Sejak kapan mereka pacaran? Padahal sebelumnya mereka asing sekali." Ucapan Ayu menambah beban pikiran Raya, gadis itu ingat akan sesuatu yang membuat ia seketika terdiam di saat itu juga.
'Ada apa ini? Kenapa situasinya begitu asing?'
__ADS_1
Di sisi lain, Hana dan Satya berjalan bersama menelusuri lorong seperti biasa. Dengan Satya yang menggenggam tangan istrinya dengan erat seolah ia tidak mau jika Hana pergi ke mana-mana. Padahal juga tidak akan ke mana-mana.
Mahasiswa yang lain juga memaklumi, tidak ada yang membicarakan mereka berdua karena itu larangan yang Satya berikan. Pria itu tidak mau jika Hana kerasa terganggu akan semua pembicaraan para mahasiswa yang ada, ia tidak mau gadis itu merasa tidak nyaman saja.
"Mau langsung pulang, atau mau makan dulu?" Tanya Satya, sesekali melihat wajah Hana yang sekarang seperti nampak tidak bersemangat sekali.
"Sayang? Kamu kenapa? Ada masalah di kelas ya?"
"Ah! Tidak kok, tidak ada."
"Kamu serius kan? Tidak bohong?"
"Iya Satya, aku tidak bohong." Ucap Hana dengan senyuman, Satya awalnya kurang yakin dengan jawaban yang Hana katakan. Tapi ia mencoba percaya dengan itu, ia berakhir tidak memikirkan itu lagi dan ia melanjutkan langkahnya ke parkiran depan kampus.
Sedangkan Hana, jangan anggap semuanya serius. Hana tidak benar-benar baik, ia banyak memikirkan sesuatu sampai-sampai ia merasa jika dunia ini hampa dan terkesan sama saja.
Gadis itu memikirkan sahabatnya yang hari ini mengabaikan dirinya setelah di mana Hana menjelaskan semuanya yang terjadi, Hana memang terpaksa menerima semua ini karena ia tidak mau di sebut sebagian manusia egois. Ia hanya mau membuat orang tuanya mengakui akan keberadaannya saja dan menyelamatkan saudaranya saja. Apakah itu salah?
Jika saja itu adalah sebuah kesalahan maka Hana akan meminta maaf sebanyak mungkin, tapi ia paling tidak suka di abaikan. Mungkin jika ia di abaikan dalam sebuah keluarga adalah sebuah hal yang biasa, tapi Aca berbeda. Dia sahabat Hana dan selalu ada saat Hana benar-benar berada di titik di mana ia akan jatuh sedalam mungkin, dan Aca menolongnya. Aca berharga untuk Hana, ia tidak bisa mengabaikan itu semua.
Masuk ke dalam mobil setelah Satya membukakan pintunya, Satya kembali berjalan dan membuka sisi pintu lainnya. Duduk di kursi pengemudi, mengendarai kendaraan dengan kecepatan normal.
Meninggalkan kawasan kampus, tapi tanpa sadar ada seseorang yang melihat keberadaan mereka. Ia hanya diam, menahan secara sakit hatinya dan segala ke egoisannya.
Sebenarnya tidak mau seperti ini, tapi hatinya terlanjur sakit. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya saja, walaupun caranya memang begitu sangat salah. Tapi di sisi lain, hatinya tidak mau kalah dengan pikiran logikanya ketika melihat pasangan itu bersama.
'Aku tidak mau egois, tapi bisakah untuk sekali saja? Aku ingin bersamanya tapi kau begitu jahat merebutnya dari ku, apapun alasannya kamu tetap jahat Hana. Kamu jahat.'
__ADS_1