Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 138


__ADS_3

"Kapan dia akan datang? Kenapa lama sekali? " Hana hanya menunggu kedatangan Johan, tapi pria itu tidak kunjung datang atau bahkan tidak pulang selama seharian ini.


Itu membuat perempuan itu khawatir, keadaannya sekarang bagaimana? Tidak ada yang tahu, bahkan sekarang Jihan tengah tidak ada di rumah. Di sana ia hanya sendirian, para maid juga sudah kembali ke asrama mereka masing-masing dan masih ada beberapa bodyguard di sana itu pun Hana tidak kenal satu pun dari mereka.


Ia mulai kesepian, hanya bisa menatap ke arah pintu utama yang masih tertutup di sana. Hana sangat berharap jika Johan segera pulang ke rumah, antara khawatir dan juga takut sendirian.


Terbiasa memang ditemani banyak orang sekarang, Hana kurang nyaman jika sendirian. Kebiasaannya yang dulu sudah mulai menghilang begitu saja setelah tinggal bersama Johan, pria itu mengubah segalanya termasuk kebiasaan buruk.


Tidak bisa dibayangkan betapa kesepiannya Hana sekarang, dia hanya bisa diam dan mengusap perutnya. Anak-anaknya sering aktif di dalam perutnya, entah itu menendang keras maupun secara pelan. Hana mampu merasakan semua itu untuk selama hamil besar sekarang. Perutnya terasa sakit, itu sebuah hal yang sering ia rasakan.


"Kenapa tidak tidur? Lihat sudah jam 12 malam lebih." Tiba-tiba suara berat membuat Hana menoleh dan mendapati Johan berjalan ke arahnya dengan raut wajah panik.


Dia langsung menghampiri Hana dan kemudian memeluk wanita itu dalam waktu singkat, pelukan hangat yang teramat Hana rindukan tanpa ia sadari sendiri.


"Aku sudah bilang, jangan menungguku jika sudah waktunya tidur. Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku menunggu mu, hanya khawatir..." Tidak ada jawaban lain yang keluar dari mulutnya sekarang, ia hanya bisa membuang nafas panjang.


Dan setelah itu Johan pun memutuskan untuk membawa Hana pergi ke kamarnya, istirahat sekarang juga dan tidak ada penundaan lagi. Hana sudah melewatkan jam istirahat yang seharusnya, memang sejujurnya Johan merasa bersalah karena sudah membuat wanita itu menunggu di tengah keadaan hamil besarnya sekarang.


Kehamilannya sekarang terkadang membuatnya lelah, Hana tidak akan mengatakan semua itu. Beruntung pria itu terlalu peka dengan keadaan yang wanita itu alami sekarang, membuatnya tetap dalam keadaan baik sampai persalinan nantinya.


Masuk ke dalam kamar, Johan memastikan jika semuanya sudah dalam keadaan aman. Itu membuat Hana kebingungan, apakah ada penyusup? Tingkah Johan seolah dia tengah waspada akan sesuatu yang menurutnya benar-benar berbahaya.


"Kenapa harus di periksa?"

__ADS_1


"Hanya memastikan saja, teriak jika ada sesuatu yang membuatmu takut. Aku akan selalu datang tepat waktu." Ucapnya, setelah itu dia pun melepaskan sendal yang Hana gunakan dan menarik selimut itu sampai menutupi badan Hana.


"Tidurlah yang nyenyak, mimpi indah." Hana tidak menjawab, ia hanya melihat Johan yang mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.


Dia keluar dari kamar setelah itu, mungkin dia masih ragu harus meninggalkan Hana sendirian tapi tidak bagus jika pasangan belum menikah tapi tidur satu ranjang, jika terdesak mungkin sebuah keterpaksaan.


Tapi sekarang, penjagaan yang ketat seperti ini. Memastikan jika semua keadaan sudah dalam keadaan aman adalah tugasnya, dan ia baru bisa bernafas lega ketika melihat Hana sudah tertidur.


...•••...


Tepat di tengah malamnya, sekitar jam 2 malam tiba-tiba saja Hana terbangun karena perutnya terasa sakit. Tidak seperti biasanya, rasa sakit yang berbeda sampai-sampai membuatnya sulit bernafas.


Hana berusaha meraih sesuatu di atas meja tapi tidak bisa karena tangannya gemetaran ketika mengambil barang, berakhir justru gelas yang terjatuh karena tidak sengaja Hana jatuhkan. Wanita itu mengaduh sakit, memegang perutnya sendiri yang sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.


Ia berusaha memanggil nama pria itu, berharap dia akan datang secepat mungkin. Tapi ia sadar sekarang masih dalam keadaan gelap, masih malam dan tentu saja semua orang tertidur sekarang.


Tapi siapa yang akan menduga jika suara pecahan gelas itu bisa terdengar, pria itu baru saja akan keluar mencari air minum. Tapi suara rusuh dari kamar Hana membuatnya panik duluan, dia berlari ke arah kamar Hana dan dalam keadaan panik dia melihat Hana yang memegangi perutnya.


"Hana? Ada apa denganmu?"


"Sakit, tolong aku..." Johan berusaha tenang tapi melihat keadaan sekarang, sungguh ketenangan itu seketika lenyap.


Johan menggendong Hana keluar kamar, dia menyuruh para bawahannya untuk segera menyiapkan mobil untuknya. Bahkan suara itu membuat Jihan terbangun juga dari tidurnya, dia keluar kamar dan panik.


"Hana? Hana kenapa?"

__ADS_1


"Tidak ada waktu untuk menjawab." Johan langsung berjalan begitu saja meninggalkan Jihan yang juga panik, bayangkan saja bangun tidur dan di sambut dengan keadaan genting seperti ini?


Jihan hanya bisa melihat dari belakang, mobil itu sudah keluar dari kawasan rumah. Membawa Hana ke rumah sakit, ia pikir belum waktunya melahirkan karena masih 8 bulan berlalu dan, belum seharusnya bayi lahir bukan? Apakah Jihan salah?


Di tempat lain, Hana sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya. Ia bahkan tidak sadar meremas tangan kekar Johan dengan kuat untuk melampiaskan rasa sakit yang ia alami sekarang. Johan tahu, itu pasti sangat sakit dan itu alasan mengapa dia ingin cepat sampai.


Keringat dingin membanjiri, bagaimana sekarang? Ia sudah tidak tahan lagi. Menahan semua rasa sakit yang luar biasa di tambah sekarang tepat di malam hari.


"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai oke."


"Aku sudah tidak tahan lagi, Johan..." Johan mempercepat laju kendaraannya tapi masih dalam kecepatan biasa karena ia tidak mau Hana terluka juga.


"Sabar ya, kita akan segera sampai. Tahanlah sebentar lagi."


...•••...


Dan sekarang di mana Hana dilarikan ke rumah sakit, bangsal yang ia jadikan tempat berbaring sekarang beserta alat bantu bernafas membuat Johan tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana bisa ia sanggup melihat semua ini? Tidak bisa, Johan tidak setega itu.


Kedua tangan itu bertautan satu sama lain, saling meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Johan hanya bisa berkata tenang, dan Hana hanya diam menahan rasa sakit yang dia terima sekarang.


Sampai di mana Hana masuk ke ruang operasi sekarang karena pendarahan yang dia alami, tautan tangan yang terlepas bersamaan pandangan mereka yang sama-sama terputus. Johan berdiri di depan pintu operasi dengan perasaan yang sangat amat tidak bisa dijelaskan lagi, perasannya gusar.


Johan berdoa kepada tuhan agar Hana baik-baik saja, bersama dengan anak-anak mereka yang juga dalam keadaan sehat nantinya. Ia berharap demikian, ia tidak mau terjadi sesuatu kepada Hana nantinya.


Di tambah, ia tahu kelemahan Hana. Johan hanya bisa pasrah, menerima keadaan tapi ia juga tidak mau apa yang dirinya bayangkan terjadi. Menunduk, berdoa dan berharap adalah sebuah jalan yang terbaik sekarang.

__ADS_1


__ADS_2