
Theo tengah melakukan sesuatu, sebenarnya kegiatan itu sengaja ia lakukan untuk mencoba melupakan segala masalahnya hari ini. Tangannya yang begitu terampil, ia memegang sebuah kartu dan dalam sekejap saja kartu itu menghilang.
Dia memang punya keahlian dalam sulap, tapi tidak pernah ia tunjukan kepada siapa pun kecuali teman-temannya dan keluarganya saja. Entah kenapa ia jadi kepikiran seseorang, seharusnya tidak Theo pikirkan sekarang.
Ia menunduk, menatap kedua kakinya sendiri dengan tatapan datar dan kepalanya penuh dengan pikiran yang ada. Sampai suara pintu terbuka pun tidak dia hiraukan lebih tepatnya memang tidak menyadari jika pintu kamarnya terbuka, di sana Raya berdiri dan menatap kembarannya hanya berdiam diri selama seharian.
Setelah pulang bersama tadi dari kampus, Theo tidak mengatakan apa pun selain menanyakan banyak kabar tentang keadaan kembarannya itu. Walaupun mereka berdua cenderung sering bertengkar dari pada akur, bagaimana perasaan mereka masih terhubung.
Tidak bisa di pisahkan itu sudah pasti, Theo hanya terlalu banyak pikiran. Tapi justru itu karena dia tidak mengatakan apa pun membuat wanita paruh baya itu khawatir, dan juga gadis yang memiliki tatapan tajam itu.
"Kakak kamu kenapa, Ray?" Tanyanya kepada anak gadisnya, tapi jawabannya tetap sama yaitu menggelengkan kepalanya.
Jessica membuang nafas panjang, ia hanya merasa bingung dengan keadaan putranya itu. Sampai seorang bocah kecil ikut mengintip dari pintu, dia memeluk kaki Raya karena badannya memang semungil itu.
"Kakak kenapa?"
"Kakak? Mungkin dia sedang semedi mengumpulkan mahkluk halus?"
...•••...
Pria itu memberikan uang kepada Hendry, sedangkan yang menerima uang tersebut tentu saja dia merasa senang. Ia amat butuh yang sekarang, membuatnya melakukan apa saja untuk mendapatkan uang entah itu salah atau tidak.
"Terima kasih, dan maafkan aku-"
"Ini hanya peringatan untuknya, kau tidak salah. Kau terpaksa karena butuh uang." Ucapnya membuat Hendry menunduk, bagaimana caranya ia bisa melakukan semua itu tanpa harus berpikir panjang akan apa yang terjadi kepada orang lain? Ia tidak bisa berpikir banyak, bagaimana pun dirinya juga membutuhkan untuk makan sehari-hari.
Hendry merasa bahunya di tepuk membuatnya mendongak dan melihat ke arah pria itu, ia merasa ada yang aneh dengan itu dan seketika itu juga ia mendapatkan sebuah pisau. Hendry menerima pisau tersebut tapi ia tidak tahu, untuk apa pisau itu?
"Kau harus ikuti apa yang aku katakan, dan selama itu juga aku akan membayarmu dengan nominal besar ketika pekerjaanmu berhasil. Bagaimana? Berminat? Ini penawaran pertama ku kepada mu." Hendry tidak bisa berkata apa pun ketika pria itu mengatakan semua itu dengan lancar.
__ADS_1
Apakah ini yang di namakan dengan rejeki? Entah lah, tapi ia merasa ini adalah pekerjaan tetapnya sekarang? Tapi sungguh sebenarnya Hendry tidak yakin dengan keputusannya sekarang yang membuatnya bimbang setengah mati, tapi di sisi lain ia juga butuh uang itu. Selain untuk dirinya sendiri, ia harus membayar pengobatan adiknya. Bagaimana sekarang?
"Aku akan memberikan mu waktu selama seminggu untuk berpikir, bersenang-senang lah." Pria itu pun berbalik, ia hendak akan kembali pulang tentu saja. Tapi ia menduga akan sesuatu yang pasti akan terjadi.
"Aku akan menerima tawaran mu. Tapi kau berjanji membayar ku mahal bukan?" Pria itu tersenyum tipis, ia menoleh ke arah belakang dan melihat bagaimana Hendry bimbang dengan keputusannya sendiri.
"Jangan terburu-buru, kau bisa memikirkannya-"
"Aku sudah menerima tawaran mu, untuk apa aku berpikir? Tepati saja janjimu."
"Tentu saja, dengan senang hati." Ucapnya dengan senyuman yang misterius, hanya tuhan dan dirinya sendiri yang tahu apa yang berada di dalam pikirannya sekarang. Anggap saja ini baru permulaan.
...•••...
"Kita bertemu lagi di sini."
"Ehem!" Suara itu, Hana langsung melihat ke arah samping dan ia hanya melihat Johan yang duduk sesekali menoleh ke arahnya.
"Kenapa?"
"Apa kau ingat sesuatu?" Hana kebingungan dengan apa yang Johan katakan itu, mengingat apa katanya? Hana tidak mengerti.
"Ingat apa?" Jawaban itu, Johan membuang nafas panjang dan menatap sekeliling dengan raut wajah datar.
Ia menatap ke segala arah sampai di mana ia tidak sengaja melihat sesuatu, yang membuatnya terus menatap sampai di mana Hana juga ikut mencari apa yang Johan lihat. Tapi tidak menemukan apa pun kecuali pohon besar, beberapa tanaman dan kursi panjang di taman tersebut. Johan kembali menunduk, Hana jadi agak ketakutan.
"Kau kenapa?" Johan menggelengkan kepalanya untuk menjawab, sampai di mana ia pamit untuk pulang karena ia ada urusan di rumah.
__ADS_1
Hana hanya mengiyakan saja dan ia sendirian lagi di taman tersebut, ia berpikir jika memang ada sesuatu yang Johan sembunyikan. Tapi apa? Hana memilih melupakan apa yang seharusnya tidak ia pikirkan sekarang.
Sedangkan di sisi lain, Johan menarik baju seseorang dan menyudutkannya di dinding pembatas antara taman dan juga kolam ikan. Di sana adalah tempat yang lumayan gelap, tapi bukan berarti tidak bisa melihat apa pun. Pria itu menarik kerah baju orang tersebut membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.
"Apa tujuanmu kemari?" Anggap saja itu adalah pertanyaan dari segala jawaban yang akan Johan dengar nanti. Orang itu hanya diam dan melirik ke arah belakang, Johan tidak akan mengurus akan itu. Dia bisa menangani itu nanti, tapi sekarang.
"Katakan."
"Baiklah! Aku di suruh! Puas?" Johan tidak habis pikir, siapa lagi yang melakukan ini? Pria itu melepaskan orang tadi membuatnya kehilangan kesempatan. Seharusnya Johan mengeksekusinya saja tapi ia juga punya akal sehat.
Johan melirik ke arah salah satu rumah, ia tidak tahu itu rumah siapa tapi yang pasti ia akan menangkap orang itu secepat mungkin. Tapi di sisi lain Johan tidak sadar jika ada seseorang di belakangnya.
"Johan?"
"Astaga! Kau-"
"Kamu ngapain di sini sendirian? Katanya mau pulang." Johan menggaruk kepalanya tidak gatal, ia harus menjawab apa sekarang? Hana tiba-tiba saja ada di belakangnya dan tentu saja ia akan sangat terkejut. Semoga saja Hana tidak melihat apa yang dirinya lakukan tadi.
"Oh itu, aku mau pulang sekarang. Kau tidak pulang?"
"Ini juga mau pulang, tapi tadi ada suara berisik di sini jadi-"
"Lebih baik kamu pulang saja, rumah mu di dekat sini bukan? Cepat pulang, sudah malam." Johan sedikit mendorong Hana untuk segera pulang.
Mungkin karena peristiwa tadi membuat Johan tidak bisa berpikir jernih lagi, ia tidak mau kejadian itu terulang lagi dan membuatnya merasa gagal untuk melindungi gadis itu.
Hana yang merasa bingung dengan perilaku Johan yang mendadak berubah, ia mencoba melangkah ke arah rumahnya berada. Tapi Johan belum juga beranjak dari sana dan justru di seolah mencari sesuatu di sana, membuat Hana kepikiran.
"Apa yang dia lakukan di sana?"
__ADS_1