
Hana baru saja masuk kelas dan sekarang sudah pelajaran, tidak menyangka jika Aca akan ijin hari ini. Kenapa dia selalu ijin? Entah lah, mungkin karena dia benar-benar banyak urusan akhir-akhir ini.
Tengah memperhatikan dosen yang tengah menjelaskan di depan sana, tidak berniat melakukan apa pun selain itu. Sejujurnya Hana lelah tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Jika saja pilihan lain mungkin Hana akan memilih pilihan yang lebih baik dari ini.
"Hana." Hana mendongak, ia mencari siapa yang memanggilnya dan ternyata Ayu sendiri yang memanggil Hana. Seolah tahu keadaan gadis itu kebingungan Ayu menoleh ke arah jendela kelas dan ternyata di sana ada Dimas yang melambaikan tangan kepadanya.
Hana mendadak tersenyum lebar, ia ingin keluar tapi jam masih pelajaran. Tapi Dimas memberikan kode untuk melihat ke arah ponsel, ternyata pria itu memberikan pesan singkat untuk bertemu sebentar.
Mungkin sudah lama tidak bertemu membuat pria itu meluangkan waktu padatnya itu untuk bertemu dengan adiknya, apa lagi beberapa hari lalu perasaan Dimas tidak enak. Kenapa? Dimas juga tidak tahu, bahkan jika Hana tidak mengangkat telponnya sehari saja pria itu sudah panik bukan main.
Tidak berselang beberapa lama, akhirnya pelajaran selesai dan Hana langsung berlari keluar dari kelas. Ia berlari ke arah kantin, menemukan Dimas yang ternyata juga menemui beberapa temannya yang masih kuliah di sana.
Hana berlari ke arah Dimas dan langsung memeluk pria itu dengan erat, sedangkan Dimas yang mendapatkan pelukan dadakan merasa terkejut tapi dia membalas pelukan Hana saat itu juga.
"Kakak ngapain ke sini?"
"Memang tidak boleh kakak kemari? Bagaimana keadaanmu? Kenapa kemarin tidak mengangkat telpon kakak?" Hana mencoba mencari jawaban dari semua pertanyaan Dimas yang bertubi-tubi itu.
"Satu-satu saja bertanya mu itu, Dimas. Adikmu kebingungan mendengarnya." Wildan tersenyum ke arah Hana, sepertinya memang ada sesuatu tapi Dimas bisa apa selain berdiam diri.
"Baiklah, satu saja. Kenapa tidak mengangkat telpon kakak?"
"Aku ketiduran kakak. Lagi pula sudah malam juga." Hana tidak bisa menjawab selain mengatakan itu, ia tahu itu juga sebuah kebohongan yang pernah ia lakukan kepada Dimas
Berbohong akan keadaannya yang seharusnya tidak terjadi kepadanya, Hana hanya tidak mau ada sesuatu yang terjadi kepada Dimas atau pun suaminya sendiri. Tidak mau membesarkan masalah, walaupun kejadian itu seharusnya masuk akal jika memang itu bisa Dimas selesaikan.
__ADS_1
Tapi Hana enggan berbicara, ia tidak akan mengatakan apa pun sebelum memang ada sebuah tragedi yang membuatnya terpaksa berbicara. Tapi memang ada orang yang percaya dengan Hana? Gadis itu tidak pernah yakin jika seseorang yang percaya dengan dirinya. Anggap saja Hana tidak pernah percaya diri.
"Hana mau minum apa, biar aku pesankan." Hana menggelengkan kepalanya, ia tidak mau apa pun sekarang. Karena ia merasa semua ini belum selesai.
Sampai pandangannya tidak sengaja ke arah Anna yang menatapnya penuh kebencian di sana, mungkin Dimas tidak akan menghiraukan itu tapi Hana. Gadis itu selalu tidak suka dengan tatapan itu, tidak nyaman sama sekali.
Sampai di mana Surya datang menghalangi pandangan Hana yang masih saling bertukar pandang dengan Anna. Lelaki itu hanya tersenyum ke arah Hana, dalam keadaan dia sadar jika yang terjadi sekarang.
"Ada apa ini ramai sekali?"
"Hanya berkumpul saja, sebagai mengenang masa kuliah yang sangat menyenangkan." Ucap Dimas, mereka mengangguk mengerti sedangkan Hana seperti tidak terlalu menanggapi karena memang tidak paham.
Surya hanya diam di sana, mendengarkan apa isi percakapan. Sebenarnya ia tidak sendiri karena ada Juan yang ikut dalam andil di sana, karena dia juga harus saling mempererat persahabatan dengan yang lain juga bukan permusuhan.
Lelaki itu tidak sengaja melihat ke arah Jeffran, ia memberikan kode agar dia ikut dengannya sebentar. Jeffran mengangguk menyetujui itu dan ia pun berdiri membuat yang lain mendongak.
"Ada urusan sebentar, aku duluan ya." Semuanya hanya mengangguk. Melihat Surya pergi keluar dari kantin di ikuti oleh Jeffran dari belakang juga, urusan dengan Jeffran?
...•••...
"Ada apa?"
Surya berdiri tepat di depan Jeffran sekarang dan ia menoleh ke sagala arah memastikan jika tidak ada orang lain di antara mereka berdua saja, benar-benar membuat Jeffran kebingungan.
Sampai di mana Surya mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menunjukan lembaran foto kepada Jeffran, itu adalah Satya dan Anna yang berada di cafe dan mall. Berdua saja, bermesraan seperti itu. Jeffran menatap Surya lagi untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini?"
"Aku hanya memberi tahu mu, jika kau masih ada hubungan dengan Anna. Kejadian itu terjadi 1 sebelum pernikahan, aku tidak tahu apakah itu hubungan baru atau lama. Karena yang aku tahu Anna baru saja masuk ke kampus ini dan, langsung dekat dengan Satya? Itu bukan hal yang wajar, kau pasti tahu bagaimana Satya? Dia salah satu pria yang sulit di dekati."
Surya hanya menjelaskan dengan pemikiran logikanya saja, semua itu kebetulan? Tidak pernah ia percaya sama sekali, tidak ada kejadian kebetulan yang terus berulang bahkan hampir satu bulan ini terjadi.
Bahkan yang membuat Surya semakin membuat opini buruk adalah, di mana Hana datang dengan wajah yang berbeda. Batang hidung yang terluka, bagian wajah tidak mudah terluka kecuali di hantam secara langsung. Tapi siapa? Surya tidak bisa memberikan pendapatnya sendiri.
"Apa kau tahu kenapa Hana terluka? Bagian area wajah?" Itu membuat Jeffran terdiam, ia benar-benar tidak tahu soal itu karena beberapa minggu lalu ia pergi keluar kota.
"Sungguh, aku tidak tahu soal itu. Apa maksudmu luka?" Pertanyaan itu membuat Surya semakin pening.
Sampai pria itu mengeluarkan lembaran foto lagi dan memberikannya kepada Jeffran, foto di mana Hana berada di trotoar jalanan dengan make up yang sudah lumayan memudar dan topi sudah di bukanya. Membuat luka di wajahnya semakin jelas terlihat.
Bagaimana reaksi Jeffran sekarang? Tidak bisa di tebak karena pria itu diam menamati foto yang dia lihat sekarang. Tidak mungkin Surya mengedit semua foto itu hanya untuk merusak hubungan temannya sendiri, pria itu cenderung tidak perduli akan masalah pasangan orang lain.
"Bagaimana-"
"Aku hanya memberi tahu saja, hanya aku, kau dan Theo yang tahu ini."
"Theo?" Surya mengangguk, kenapa dia bisa tahu jika Theo juga tahu semua ini? Tentu saja itu suatu hal yang muda, Theo memang pendiam tapi jika dia sudah bertindak tidak akan dia tinggalkan satu pun jejak.
Pria itu benar-benar membuat siapa saja terkejut dengan tindakan yang terkesan mendadak. Theo tahu karena dia memang sudah mengenal terlebih dahulu, tidak semua orang lama mengetahui semuanya dan kenyataannya Theo langsung tahu semuanya padahal dia juga baru mengenal.
Jeffran terdiam, ia berpikir jika sepertinya Theo tahu akan semua yang terjadi lebih dari dirinya selama ini. Theo, tahu semuanya lebih dari dirinya.
__ADS_1
"Dimana Theo?"