
Jangan bertanya keadaan hari ini setelah kejadian beberapa hari lalu, Hana sakit karena ia nekat menerobos hujan kemarin hari. Entah ada apa yang ada di dalam pikirannya, pikirannya kacau sekarang dan tidak ada yang bisa dijelaskan lagi.
Gadis itu melangkah berjalan keluar kamar karena ia mau memasak untuk sarapan, masih menunjukan pukul 5 pagi dia sudah bangun terlebih dahulu. Ia hanya mau memberikan yang terbaik untuk Dimas setelah apa yang pria itu berikan kepadanya.
Hana hanya mau berbalas budi selebihnya dari itu ia tidak ada penjelasan lainnya. Hana melangkah ke arah dapur dan mulai memasak, walaupun tenaganya sebenarnya tidak seberapa.
Tidak membutuhkan waktu lama karena Hana hanya masak beberapa saja. Lagi pula hanya untuk dua orang, takutnya tidak habis itu akan sama saja membuang-buang makanan. Hana menyelesaikan kegiatan memasaknya dan hendak akan kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kampus nanti.
Tapi suara pintu membuatnya menoleh, mendapati Dimas yang tengah melepaskan sepatu dan masuk ke dalam apartemen dengan keadaan kacau.
"Kakak-"
"Jangan banyak bicara, atau ku robek mulutmu." Hanya kembali terdiam, ia hanya mau bilang jika ia sudah masak untuk sarapan. Hanya itu dan tidak lebih, tapi perlakuan Dimas yang mendadak kasar kepadanya membuat Hana bungkam.
Gadis itu hanya diam, sampai ia tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia hanya bisa menatap ke arah pintu kamar Dimas yang tertutup rapat, ia tidak tahu apa yang terjadi kepada Dimas sampai pria itu sekarang semakin berbeda. Apakah karena dia tidak suka akan kehadiran Hana? Atau ada masalah lainnya yang Hana tidak ketahui?
......•••......
"Hey! Pagi Hana!" Seperti biasa Aca akan selalu heboh setiap melihat temannya itu, tapi gadis itu heran. Mengapa Hana hanya diam saja? Biasanya dia akan menyapa balik dan memeluk Aca tidak kalah hebohnya. Kenapa?
"Hana?" Aca mendekat dan menarik bahu Hana, membuat gadis itu menoleh dengan tatapan kosong. Membuat Aca semakin bingung sekaligus khawatir.
Ia memegang wajah bulat itu tapi seakan tidak ada kehidupan apa pun, bahkan suhu tubuh Hana terbilang rendah sekarang. Aca menahan Hana agar gadis itu tidak terjatuh, tapi terlambat ketika gadis itu sudah terlebih dahulu ambruk begitu saja.
Di saat itu koridor ramai, kebanyakan mahasiswi saja. Tapi kebetulan sekali ada Jeffran di dekat area itu, pria itu lantas langkah berlari tapi ia kalah pergerakan dengan seseorang yang terlebih dahulu menggendong Hana keruang kesehatan.
__ADS_1
Jeffran terdiam, apakah sekarang ini pertanda jika ia harus menyerah sekarang? Lagi pula Hana sudah tidak percaya dengan dirinya lagi, kebodohannya memang berakibat fatal. Pria itu hanya menatap ke arah gerombolan mahasiswi yang mengikuti kemana Theo membawa Hana.
'Segitu pantasnya aku dilupakan sekarang? Sepertinya ini adalah karma untuk ku.'
Theo dengan raut wajah khawatirnya menggendong Hana, ia bahkan tidak memikirkan siapa pun kecuali Hana yang sedang dalam keadaan yang tidak bisa dijelaskan. Sekarang bagaimana? Setelah kejadian semalam di mana ia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri dan, paginya dia melihat Hana seperti ini? Begitu banyak cobaan rupanya.
Aca tentu saja mengikuti, dia juga membuka pintu ruangan kesehatan dan memberi tahukan penjaga ruang kesehatan untuk memeriksa, kebetulan jadwal piket hari ini adalah teman Theo sendiri. Brian Putra Mahesa.
"Tolong periksa keadaannya." Brian mengangguk dan menyuruh yang lain untuk mundur, memberikan ruang agar Hana bisa bernafas dengan baik.
Terkecuali Theo dan juga Aca yang masih di sana. Yang lain hanya berada di luar saja, atau bahkan mereka bubar karena tidak diperbolehkan masuk ke dalam, lagi pula mereka juga mengerti mengapa di suruh keluar. Karena di tempat seperti itu, mana boleh membuat kerusuhan?
Theo hanya diam, ia khawatir bukan main walaupun tidak begitu ketara bagaimana ekspresinya saat ini. Pria itu memperhatikan Hana yang tengah diperiksa oleh Brian, pria itu begitu telaten. Memeriksa gula darah, sampai denyut nadi, suhu tubuh dan berbagai gejala yang lainnya.
Ia juga memeriksa detak jantung Hana, terkesan tidak beraturan membuatnya lumayan agak panik. Tapi ia harus profesional, walaupun ini bukan rumah sakit tapi ia juga berkewajiban menyelamatkan sesama mahasiswa bukan?
"Sepertinya dia kelelahan, detak jantungnya tidak beraturan, nafasnya juga tidak stabil, tapi tenang saja, aku sudah memberikan oksigen agar dia bisa bernafas dengan baik, suhu tubuhnya turun. Usahakan buat dia tetap dalam keadaan hangat, dan jangan sampai kelelahan. Mungkin tidur sebentar tidak ada salahnya, jika dia sudah bangun aku akan memberikannya obat sesuai resepnya."
Theo hanya diam, tidak begitu parah. Tapi ia masih saja khawatir, jangan sepelekan gejala ringan seperti ini karena masa dasarnya penyakit berbahaya berasal dari penyakit sepele.
"Baiklah, kau bisa memanggilku jika dia sudah bangun. Aku akan melaporkannya kepada dokter di sini."
"Terima kasih." Brian tersenyum dan mengangguk, ia juga menepuk bahu Theo dengan pelan seolah ia tahu apa yang Theo rasakan sekarang, memberikan sedikit semangat tidak ada salahnya.
"Aku akan membeli makanan, Hana pasti belum sarapan." Tidak ada jawaban dari Theo, Aca pergi ke kantin dengan dua tujuan.
__ADS_1
Antara ia membeli makanan dan juga memberikan Theo ruang untuk bersama temannya itu. Pria itu hanya berdiri menatap ke arah Hana dengan tatapan tidak dapat dijelaskan bagaimana, tapi jelas jika dia khawatir. Jika tidak, mana mungkin Theo membuang waktu dan tenaganya hanya untuk hal seperti ini.
Langkahnya mendekat, ia menarik kursi dan duduk di sana. Ia menatap wajah pucat itu, seperti ada yang salah sekarang. Apakah ada masalah yang dihadapi oleh Hana? Theo tidak tahu pasti, tapi ia yakin pasti ada yang terjadi.
"Apa kau tengah kesulitan? Jangan paksakan dirimu jika memang tidak bisa, kau jadi sakit seperti ini karena sifat nekat mu itu."
Theo tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi, ia bingung harus berkata apa. Semua perasaan ini seharusnya tidak hadir kepadanya, tidak Theo rasakan karena semua itu akan sama saja. Ia akan ditinggal pada akhirnya.
"Selagi aku masih ada, aku akan menjagamu. Aku khawatir kau tahu? Jangan membuatku merasa seperti orang yang paling bodoh di sini."
...•••...
Di sisi lain. Anna masih berada di rumah sakit, ia tidak dalam keadaan yang parah dan dia hanya demam saja. Kedua orang tuanya berada di sana, menemaninya seperti biasanya.
"Jangan sakit seperti ini, kami khawatir." Anna hanya tersenyum ketika ia melihat kedua orang tuanya masih berada di sisinya. Ia tidak bisa berkata-kata karena terharu.
"Aku berjanji ini yang terakhir."
"Setelah ini, kamu harus istirahat. Suruh Jeff menemanimu, kami ada urusan sebentar saja. Ada yang harus ayah lakukan." Anna bingung, apa maksudnya? Memangnya adalah masalah apa sampai mereka meninggalkan Anna sendirian?
"Ada apa?"
"Perjodohan."
"Hana menerima perjodohan itu? Baguslah, aku bisa leluasa bersama Jeff, semua berkat kalian berdua. Aku sayang banget sama ayah dan mama." Anna memeluk kedua orang tuanya dengan penuh kebahagiaan. Ia senang ketika Jeffran akan menjadi miliknya seutuhnya, tidak ada yang menganggu karena saingannya akan hilang.
__ADS_1
'Nikmati kehidupan barumu, Hana. Tapi jangan pernah bermimpi untuk bahagia, karena aku tidak akan pernah membiarkan mu bahagia walaupun satu detik saja.'