
"Besok kalian harus bersiap-siap ya." Ucapan Johan yang membuat semua orang mendadak terdiam seketika. Memangnya ada apa? Kenapa harus siap-siap?
"Memangnya untuk apa? Apa kita akan pindah lagi?" Hana juga merasa kebingungan ketika suaminya itu bicara tentang sebuah keputusan yang mendadak seperti ini.
Tentang pindah rumah, Johan beberapa kali pindah rumah dan dengan alasan demi keamanan istri sekaligus anak-anaknya, agar keluarga besarnya sulit melacak mereka semua. Meskipun kekuasaan Johan terbilang besar di tambah memang banyak koneksi di mana-mana, tetap saja. Menyangkut tentang keluarganya sendiri ia tidak bisa lengah seperti itu.
"Memangnya ayah mau pindah lagi?"
"Bukan pindah, lakukan saja. Besok kalian juga akan tahu." Jeano tidak banyak bicara, dia hanya diam sejak tadi dan hanya menatap satu persatu orang yang berada di sana tanpa berminat membahasnya.
Makan malam berlangsung sepi, banyak berpikir tentang apa yang Johan katakan tadi. Sampai di mana acara makan malam sudah selesai, Jeano berjalan menjauh terlebih dahulu dan pergi ke kamarnya untuk istirahat sejenak.
Sedangkan Jack, dia ikut menyusul setelah dia mengambil minum dari dapur. Tersisa Hana dan Johan di ruang makan, entah apa yang mereka bicarakan sekarang Jack tidak paham. Mungkin sesuatu yang penting, tidak seharusnya Jack juga ikut berpikir.
"Mungkin urusan orang dewasa."
...•••...
Jeano terdiam di dalam kamarnya, memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Di tengah ia banyak berpikir sekarang tiba-tiba saja ia merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya, yang datang tanpa salam siapa lagi jika bukan Jack. Pemuda itu seraya minum susu kotak yang dia pegang dan menatap ke arah depan sama seperti yang sebelumnya Jeano lihat.
Dan dia sekarang menoleh ke arah Jack, menatap saudaranya itu dengan tatapan datar seolah-olah ia tidak suka dengan kehadirannya itu. Jack yang merasa di tatap pun melirik ke arah Jeano yang tengah menatapnya.
__ADS_1
"Ada apa? Kau mau?" Jack menyerahkan susu kotaknya yang tinggal setengah itu, tapi tidak di jawab oleh Jeano.
"Kenapa kau kemari?"
"Memangnya tidak boleh datang ke kamar saudara sendiri?" Jeano tidak menanggapi lagi setelah itu, ia hanya diam dan memikirkan banyak hal.
Berpikir ada apa? Apa ada yang terjadi tanpa ia ketahui? Memang Jeano masih terlalu kecil untuk tahu masalah urusan orang dewasa, tapi apa salahnya jika dia tahu juga? Ia pikir jika anak seumurannya masih bisa saja mencerna apa yang orang-orang katakan entah orang tua atau anak seumurannya sekalipun. Kesulitan itu pasti dalam hal berpikir tapi bagaimana jika dia memang paham dengan apa yang terjadi?
Tidak seperti Jack, Jeano memiliki pemikiran yang jauh lebih luas dan tentu saja dia bisa paham apa yang orang dewasa katakan meskipun sebuah masalah rumit sekalipun. Ia membantu juga tidak akan bisa, karena umur membuat pergerakannya terbatas.
"Aku tidak tahu apakah kita akan pindah lagi atau tidak? Menurutmu untuk apa kita pindah seperti ini? Sudah dua kali jika kau ingat itu? Ayah bilang karena urusan pekerjaan, tapi aku tidak yakin akan itu. Bagaimana menurutmu Jeano? Kau berpikiran yang sama dengan ku?" Kenyataannya memang salah.
Jack memiliki pemikiran yang sama hanya saja dia bisa lebih terbuka ketimbang Jeano yang akan menyembunyikan segala hal yang berada di dalam kepalanya. Sulit mengatakan banyak hal tanpa ada sebuah penjelasan yang tepat.
"Tapi mau sampai kapan?" Mau sampai kapan? Pertanyaan yang bagus untuk itu, tapi sayangnya Jeano juga tidak tahu apa jawaban yang tepat untuk masalah itu.
Tentang di mana mereka berdua dan juga bundanya, keberadaan yang sama sekali tidak di anggap oleh keluarga besar yang masih menganut tradisi keluarga secara turun temurun. Tapi memang tidak semua keluarga membenci mereka, ada yang menerima dan berhubungan baik.
Karena menurut mereka sendiri, tradisi seperti itu sudah terlalu kuno. Di jaman canggih sekarang, orang-orang bisa saja mencari pasangan lewat jalur virtual tanpa harus susah-susah mencari. Memang terlalu rumit untuk menerima kenyataan.
"Jangan pikirkan semua itu, urusan ini tidak akan selesai." Jeano beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke satu arah, di mana ia mengambil tasnya dan mengemasi barang-barangnya sesuai dengan apa yang ayahnya katakan sebelumnya.
__ADS_1
Jack beranjak dari tempat duduknya juga dan menghampiri Jeano, saudaranya itu sebenarnya mau bicara tapi memang sulit mengatakan apa yang berada di dalam kepalanya itu.
"Memang, tapi kita juga harus menyelesaikan semua ini-"
"Mengungkapkan jika kita bukan anak kandung ayah?" Jack terdiam ketika sebuah kalimat keluar dari mulut saudaranya itu. Apa katanya tadi? Ia sungguh tidak bisa memahami semua itu.
Sadar dengan apa yang ia katakan benar-benar kelewatan, Jeano mengusap wajahnya sendiri menahan segala amarahnya yang sebenarnya ingin ia keluarkan sekarang juga. Tapi ia berpikir lagi, Jack pasti akan sakit hati nantinya. Walaupun memang Jeano tipikal anak yang tidak bisa menyembunyikan emosinya, tapi dia masih memikirkan orang lain juga apa lagi Jack.
Pemuda itu hanya diam menatap ke arah saudaranya dengan tatapan penuh pertanyaan. Bagaimana bisa Jeano menyimpulkan akan hal itu?
"Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa-"
"Lupakan saja, bereskan barang mu sebelum ayah memeriksa semua barang-barang kita besok pagi."
"Tapi kau belum menjelaskan apa yang kau katakan tadi-"
"Kau akan tahu suatu saat nanti, sekarang pergilah." Jeano berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi ia tidak yakin akan semua itu. Jack pasti sudah mendengar apa yang ia katakan tadi, antara ia harus mengumpati dirinya sendiri atau harus melakukan hal gila nantinya.
Bagaimana bisa Jeano tahu semua itu? Pikirannya bisa mengarah ke arah sana karena ia berpikir, bahkan wajahnya saja tidak ada kemiripan sama sekali dengan ayahnya. Sedikit pun tidak ada, bayangkan bagaimana bingungnya Jeano pada awalnya.
Ia pikir semua itu hanyalah sebuah pikiran gila yang secara tiba-tiba muncul, tapi kenyataannya setelah ia pikir-pikir. Apakah semua ini benar? Tapi di sisi lain ia tidak tahu apa pun akan semua hal yang terjadi di masa lalu. Ingin bertanya, tapi ia harus bertanya akan apa?
__ADS_1
Jeano melihat Jack yang mulai berjalan keluar dari kamarnya, dia keluar karena Jeano yang menyuruhnya. Mau tidak mau ia harus menurut, tapi di sisi lain Jack masih memikirkan apa yang Jeano tadi katakan. Apakah semua itu benar? Tapi jika memang benar, memangnya ia harus bagaimana? Tidak ada yang dilakukan, Jack pikir semua ini terjadi hanya sebuah pemikiran saudaranya yang sudah terlalu jauh itu. Tapi jika Jack pikirkan lagi.
'Ucapan yang gila, tapi kenapa aku memikirkan apa yang Jeano katakan tadi?'