
Satya mulai menggeliat, punggungnya begitu pegal entah kenapa? Tapi ia merasa tidurnya semalam benar-benar nyenyak bahkan lebih nyaman dari pada yang biasanya, kenapa? Bertanya-tanya akan itu, pria itu menoleh ke samping dan tidak ada siapa pun di sana.
Kemana Hana? Pria itu mendadak memikirkan istrinya itu dan ia mulai beranjak dari tempat tidurnya, ia sudah melihat setelan baju di atas sofa. Sesuai dengan seleranya, sebenarnya sudah hampir seminggu Satya diperlakukan seperti ini. Masih tidak begitu terbiasa tapi harus membiasakan diri juga.
Pria itu beranjak dari ranjang dan segera membersihkan dirinya untuk pergi ke lantai bawah, tapi kamar mandinya memiliki aroma agak lain. Apa Hana mandi di sana? Tapi Satya mengabaikan aroma bubble gum tersebut dan memilih tetap mandi sana.
Sedangkan di area dapur, Hana tengah memasak membantu Viola untuk menyiapkan makanan. Tapi Viola sepertinya sangat ingin membantu Hana, sebenarnya Hana bangun terlebih dahulu dan sudah memasak ia juga sudah meminta ijin dengan koki di rumah itu. Pada awalnya tidak diperbolehkan takut Hana kenapa-napa tapi gadis itu memaksakan diri.
"Kamu bisa masak apa? Biar bunda saja ya." Hana menggelengkan kepalanya, dan menyuruh Viola agar duduk saja. Hanya untuk hari ini saja Hana akan memasak untuk semua orang yang berada di rumah tersebut, bahkan di atas meja sudah ada tiga menu makanan di sana.
Viola tersenyum, dia berakhir menurut saja dan duduk di kursi. Melihat menantu cantiknya sibuk memasak untuk sarapan, dengan nekatnya memasak dengan porsi besar karena gadis itu mau semua orang di rumah itu makan masakannya.
"Apa kamu tidak lelah, Hana? Kamu sudah masak banyak."
"Aku hanya mau semua orang makan bersama, bunda. Boleh kan?"
"Tentu saja boleh, masak lah yang banyak dan tunjukan jika kamu menantu kesayangan kami bisa melakukan segalanya." Tiba-tiba saja pria itu datang, yang tidak lain adalah ayahnya Satya. Pria itu duduk di kursi utama, menggandeng tangan istrinya yang tengah senang.
Seperti ini lah suasana yang begitu Viola impikan, memasak bersama anak perempuannya dan makan bersama-sama dengan semua orang. Hana memang menggambarkan anak yang baik, bahkan tidak ada permintaan yang terkesan aneh. Justru semua tidak bisa ditebak.
Viola mengira jika Hana terbiasa di manja di keluarganya jadi tidak bisa melakukan kegiatan rumahan, kenyataannya salah besar. Hana bahkan bisa melakukan apa saja, bagaimana bisa tidak bangga dengan gadis itu yang sekarang menjadi manantunya sekaligus anak perempuan satu-satunya?
__ADS_1
Sampai hampir 7 jenis makanan di atas meja sudah disajikan, bahkan semua pekerja rumah tangga atau ART rumah menunggu dan mengagumi Hana sekarang.
"Anda hebat sekali, nona. Pasti tuan muda bangga memiliki istri seperti anda." Ucapnya dengan senyuman antusias, tapi mendadak senyuman Hana sedikit memudar.
Mengingat anggap dan tidak di anggap, ia masih ragu. Ia tidak akan bisa menggantikan posisi itu, ia akan terus di singkirkan walaupun ia sudah bisa melakukan apa pun. Sesempurna apa pun seorang istri, jika tidak di cintai suaminya itu sama saja tidak di anggap. Bagaimana bisa? Tentu saja, Hana sudah merasakannya sejak lama.
"Terima kasih, kalian bisa makan. Ayah sama bunda makan juga, aku mau memanggil Satya dulu-"
"Tidak perlu, aku sudah ada di sini." Seseorang menjawab secara tiba-tiba, Hana mendongak melihat ke lantai atas ternyata Satya sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan dia berada di sana?
Semua orang tersenyum ketika melihat keberadaannya dan pria itu menuruni anak tangga, Hana terdiam di saat itu juga. Ia hanya berkata dalam hatinya, di antara ia harus kecewa dan sedih. Tidak ada yang bisa di pilih sekarang, mungkin kejadian semalam hanyalah kebetulan dan keberuntungan untuk Hana saja.
Mau sampai kapan pun Satya tidak akan menganggapnya, untuk apa Hana harus banyak berharap dengan pria itu yang jelas lebih mencintai saudara kembarnya sendiri ketimbang dirinya.
Satya tersenyum ke arah Hana, gadis itu hanya membalas dengan senyuman tipis. Pria itu duduk di kursi di sisi ayahnya dan melihat semua makanan yang di sajikan.
Melihat Hana dan bundanya tengah membagikan makanan kepada semua asisten rumah tangga yang ada bahkan termasuk tukang kebun, penjaga gerbang juga. Ada acara apa ini? Sepertinya tidak ada, bundanya hanya sedang bahagia.
"Ada acara apa sampai masak sebanyak ini?"
"Acara? Tidak ada, Hana sengaja masak banyak agar semua orang bisa makan bersama. Bunda jadi senang sekali, menantu bunda memang baik." Viola memeluk Hana untuk sekian kali, dan sekian kali juga Hana hanya diam saja saat di peluk oleh Viola.
__ADS_1
Satya hanya diam, ia menatap semua makanan yang ada. Semua adalah masakan Hana, tidak ada masakan bundanya. Ia melirik ke arah Hana, gadis itu mendorong satu piring khusus. Ia justru menggelengkan kepalanya seperti memberikan sebuah kode.
'Ini bukan masakan ku, makan saja.'
Seperti itu kurang lebih, memang tadi Hana sempat menyuruh koki memasak satu menu untuk satu orang. Tentu saja untuk Satya, karena Hana masih ingat apa yang pria itu katakan. Tidak akan sudi makan masakannya, Hana hanya sadar diri tidak bisa melakukan apa pun walaupun kesempatan sekarang begitu bagus. Tapi Hana tidak mau memanfaatkan kesempatan itu.
Satya mengambil salah satu piring itu dan makan bersama yang lain, pria itu melirik ke arah gadis itu yang hanya diam memperhatikan yang lain makan. Padahal dia sudah masak banyak tapi tidak makan, apa maksudnya?
"Hana kenapa tidak makan?" Agaknya pria paruh baya itu menyadari akan Hana yang tidak ikut sarapan. Membuat Viola juga menoleh ke arah Hana juga, tidak ada makanan di piring Hana. Kosong sekali dan hanya segelas air putih saja.
"Hana kenapa tidak makan nak? Makan ya, nanti sakit perut."
"Maaf, sedang tidak ingin saja." Satya ikut menatap ke arah istrinya itu, ada apa dengannya?
Tapi sejak kemarin Hana memang irit berbicara, dia malah justru lebih sering dengan bahasa tubuh seperti kode saja dan tidak menggunakan suara apa pun. Kenapa? Satya tidak begitu perduli sebenarnya, tapi di sini ada kedua orang tuanya.
Jika sikapnya tetap acuh kepada Hana, bisa-bisa apa yang Satya lakukan akan ketahuan dan hubungannya dengan Anna akan ketahuan dengan cepat.
"Makan sedikit, akan aku ambilkan." Ucap Satya, walaupun sebenarnya Hana hendak menolak tapi Satya terlebih dahulu mengambilkan sedikit nasi yang sedikit lebih halus dan juga lauk di atas piring.
Memberikannya kepada istrinya itu, membuat kedua orang tuanya merasa hubungan mereka memang baik-baik saja. Hana hanya diam, tapi Satya seperti menuntutnya untuk makan. Jadi mau tidak mau Hana harus makan, setidaknya sampai nasi di atas piring itu habis. Satya juga hanya mengambilkan nasi sedikit.
__ADS_1
"Makan ya Hana, jangan begitu nanti sakit." Hana hanya tersenyum menanggapi itu semua, ia makan dengan penuh rasa terpaksa. Mulutnya sakit saat makanan menyentuh rongga mulutnya. Bahkan rahangnya bergerak pun rasanya begitu menyakitkan, tapi Hana harus menahan semua itu.
Sedangkan Satya tersenyum, kenapa dia tersenyum? Ia bahkan tidak mempermasalahkan ekspresi Hana yang terkesan menahan sakit. Jangan berharap lebih, karena Satya tidak akan pernah memberikan balasan apa pun.