Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 35


__ADS_3

Hana menenangkan Aca yang tengah di landa patah hati, gadis itu sudah lama suka dengan Satya tapi dia selalu menyembunyikan perasaannya sendiri bahkan termasuk dengan Hana juga. Tapi mungkin karena dia sudah tidak tahan untuk bicara, pada akhirnya dia bicara dengan Hana dan mengatakan jika dia menyukai Satya.


Tentu saja Hana terkejut, tapi gadis itu menanggapi dengan senyuman sekaligus kata-kata penyemangat agar Aca terus maju untuk mengejar pria idamannya. Tapi sepertinya sudah tidak berlaku lagi karena baru saja mereka berdua melihat Satya justru bersama Anna.


Entah apa yang membuatnya seperti ikut dalam musibah kebatinan. Di antara kesedihan Aca yang patah hati, Hana justru semakin tidak bisa menduga apa yang akan terjadi. Terkejut? Memang, Hana terkejut dengan apa yang dia lihat tapi dia juga sudah menebak jika itu akan terjadi.


Di taman belakang kampus, lumayan ramai dan pemandangannya menenangkan. Hana hanya bisa menenangkan Aca, tidak bisa memberikan sebuah masukan atau semacamnya karena menurutnya itu hak Aca untuk memilih. Antara masih tetap bersamanya atau melepaskan.


"Aku tidak menyangka jika Satya sudah punya kekasih." Hana menoleh ke arah Aca yang masih murung, gadis itu tidak terima tapi ia juga bukan siapa-siapa.


"Aca, dengarkan aku. Keputusan ada di tangan kamu, tapi kalau pendapat ku. Jangan berurusan dengan Anna." Aca tahu mengapa Hana mengatakan hal seperti itu.


Di antara tragedi, Aca sudah mendengar beberapa tragedi yang begitu kebetulan terjadi di saat Aca tidak ada di samping Hana. Tapi beruntung saat itu ada Raya yang membantu Hana, Aca tidak menduga saja. Bagaimana bisa mahasiswa baru melakukan itu?


Sangat terkesan tidak sopan dan bahkan sikapnya sudah di pandang jelek oleh semua orang, mungkin Anna juga menyadari itu. Kedatangan mahasiswa baru sudah biasa terjadi tapi jika sikapnya berlebihan seperti itu, jangan berharap untuk disegani di kampus.


"Kenapa dia begitu jahat seperti itu?"


"Aku tidak tahu." Hana tidak tahu harus menjawab apa lagi. Mungkin Aca baru tahu beberapa saja sifat Anna, tapi sedangkan Hana yang merupakan saudara kembar sendiri sudah hafal bahkan seolah ia sudah tahu apa yang akan Anna lakukan setelahnya.


'Aku tidak tahu kapan semua ini akan berakhir.'


...•••...


Di tengah di mana Hana akan pulang dari kampus dan akan istirahat sejenak setelah beberapa hari jadwalnya begitu padat. Gadis itu berusaha menenangkan diri di balik semua yang ia alami begitu tidak bisa di tebak.

__ADS_1


"Hana-" Hana berhenti melangkah ketika seseorang memanggil namanya dengan suara tidak asing di telinganya.


Gadis itu menduga akan siapa yang memanggilnya tadi, antara ia tidak mau menoleh atau pun menjawab dan juga ia ingin melihat rupa orang yang ia rindukan selama ini. Tapi masih ada saja sakit hati dan ingatan yang seharusnya tidak Hana ingat.


"Bisakah kita berbicara sebentar saja?" Hana menoleh perlahan, ia menyerah dengan hatinya yang memilih untuk melihat dari pada pergi begitu saja.


Tatapan mereka bertemu di saat itu juga, pandangan yang sudah lama mereka tanpa sadar sama-sama ingin tapi mungkin karena sebuah kejadian membuat keduanya tidak ingin bertemu dengan alasan menenangkan pikiran. Jeffran menatap Hana, tatapan itu begitu teduh.


"Aku tidak ada waktu lagi, cepat katakan." Jeffran tersenyum senang, ia senang ketika Hana kembali menerima ajakannya. Tapi itu tidak akan bisa membuang sebuah kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya.


"Jangan di sini, aku bicara hal penting denganmu."


Ternyata Jeffran mengajak Hana ke taman belakang kampus, tidak terlalu banyak orang tapi juga tidak sepi juga. Setidaknya semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, Jeffran yang berawal diam dan mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk sekedar berbicara.


"Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan itu yang selalu saja muncul ketika mereka berdua bertemu dan sekarang seperti menjadi rutinitas Jeffran bertanya keadaan terlebih dahulu.


'Tapi aku khawatir denganmu.'


Jeffran tidak tahu harus berkata apa, padahal dia ingin bicara banyak hal. Seolah bibirnya membeku di saat ia bertemu dengan Hana sekarang, anggap saja sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Pria itu masih suka dengan Hana, bahkan dia ingin hubungan mereka kembali seperti dahulu.


"Apa bisa hubungan kita kembali seperti dahulu lagi? Aku-"


"Tidak, mungkin aku bisa memanfaatkan kamu tapi tidak dengan kembali lagi. Maafkan aku." Jeffran hanya melihat dan mendengar apa yang Hana katakan kepadanya.


Jeffran yang menerima jawaban penolakan secara halus itu hanya tersenyum, antara ia menerima atau tidak tapi ia juga merasa jika dirinya sudah tidak pantas. Tapi dia ingin berada di sisi Hana lagi seperti dahulu.

__ADS_1


Jeffran menunduk, ia tidak dapat mendeskripsikan apa yang ia rasakan sekarang. Bagaimana? Perasaan seseorang memang tidak ada yang tahu kecuali diri sendiri dan juga tuhan. Pria itu menerima, ia mencoba menerima keadaan karena semua ini juga kesalahannya.


"Baiklah, maafkan aku." Hana mengangguk, tapi dia tidak menjawab apa pun setelah itu. Gadis itu kembali diam, suasana mendadak sunyi karena keduanya memang tidak lagi membuka suara apa pun.


Hana melirik jam tangannya yang sudah menandakan ia harus pulang, gadis itu tidak tahu harus memulai kata dari mana dan tidak tahu harus memulai dari mana? Tapi pada akhirnya ia mengatakan apa yang harusnya ia katakan.


"Aku harus pulang sekarang, sampai jumpa." Jeffran tidak menjawab, tapi ia hanya melihat di mana Hana mulai pergi menjauh darinya membuat dadanya sesak.


Pria itu menatap dari kejauhan dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, ia hanya tersenyum dan menerima keadaan yang harus ia jalani. Sedangkan Hana berjalan dengan cepat bukan berarti ia ingin pulang secepatnya. Melainkan di mana ia tidak ingin menangis di depan seseorang, gadis itu berjalan dengan menutupi hidungnya bahkan ia mencoba menghilangkan jejak air mata yang baru saja jatuh.


Tidak bisa lagi, ia tidak akan bisa berada di dekat Jeffran hanya karena sebuah perasaan. Perasaan yang remuk sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Hana bahkan tidak lagi mempercayai dirinya sendiri, apa lagi ia percaya dengan orang lain?


Ia berlari kecil keluar dari kampus, tapi karena gadis itu tidak fokus ke depan membuat gadis itu menabrak seseorang yang berada di depannya.


"Maafkan aku, aku-" Pria itu menoleh ke belakang dan membalikan badannya, awalnya ia ingin marah dan ia bahkan sudah memasang wajahnya datarnya. Tapi tidak ia lakukan karena ia melihat seseorang yang seharusnya tidak ia perlakukan kasar.


"Hey, Hana kenapa?"



Wildan melihat bagaimana Hana mencoba menutupi tangisannya sendiri di depannya, ia tidak tahu bagaimana bisa Hana menangis. Tapi ia tidak mau melihat semua itu, atau tangisan itu.


"Tidak apa-apa, maafkan kak saya terlambat." Wildan hanya tersenyum dan mengangguk, ia tidak masalah dan lagi pula jika memang ada urusan itu juga bukan masalah. Setiap orang juga punya urusannya masing-masing, tidak ada hak untuk Wildan melarang.


"Tidak apa, ayo yang lain sudah menunggu." Hana mengangguk, ia berjalan begitu saja tapi Wildan justru menahannya. Membuat gadis itu bingung, melihat pria itu malah mencari sesuatu.

__ADS_1


"Keringkan air matamu itu, memang kamu mau temanmu melihat air mata mu itu?"


'Jujur aku tidak suka melihat seseorang yang aku anggap keluarga menangis.'


__ADS_2