Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 33


__ADS_3

Hana berdiam diri di dalam kamarnya, ia hanya duduk di atas lantai dan bersandar di pinggiran ranjang. Menatap ke depan dengan tatapan kosong, padahal yang sebenarnya adalah di mana otaknya penuh dengan pikiran.


Entah harus bagaimana lagi? Dalam satu hari begitu banyak masalah yang ia hadapi dalam waktu yang seperti berpepetan. Hana hanya bisa menerima dan pasrah di saat ini, ia yakin akan ada jalan dari semua apa yang dirinya hadapi sekarang.


Mungkin Dimas tidak akan tahu akan apa yang keputusan Hana buat. Mungkin hanya untuk sekarang, cepat atau lambat pria itu akan tahu semuanya. Hana sudah cukup dengan semua ini, tapi ia seolah tidak merasa lelah.


Tapi jujur saja jika Hana diberikan sebuah pilihan di mana antara bertahan atau tidak, ia menyatakan tidak akan bisa bertahan. Tidak ada tujuan lain, ia hidup tanpa tujuan tidak ada yang bisa ia gapai selama Hana masih terjebak di dalam zona yang seharusnya ia masuki.


Jika bukan karena penyakit Anna, mungkin Hana tidak akan bertindak sejauh ini. Walaupun Hana tidak yakin jika saudaranya itu benar-benar sakit dan mereka hanya memanfaatkan situasi saja agar Hana menerima semua permohonan mereka.


Mungkin mereka berpikir jika Hana akan menerima semua permintaan mereka, maka jawabannya adalah benar. Hana akan menurut jika memang itu begitu penting, jika memang bisa Hana akan lebih mengakhiri hidupnya sendiri.


Gadis itu hanya diam, tidak mengatakan apa pun atau bahkan melakukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Ia hanya lelah meskipun hanya sekedar berbicara, dadanya sesak. Tidak dapat bernafas dengan baik, air mata yang terus mengalir seolah tidak ada hentinya.


Dimas mengatakan sesuatu, maka Hana akan selalu mengingat itu walaupun itu perkataan buruk. Hana sudah menduga jika semua ini akan terjadi, makan dari itu Hana tidak begitu terkejut.


Ia mulai tidak mempercayai orang lain lagi, tapi di sisi lain Hana butuh seseorang untuk menjadi seorang teman dan sandarannya. Apakah ada? Hana hanya masih belum sadar.


"Aku lelah..."


...•••...


Di tempat lain. Satya tengah bersama kekasihnya, sepertinya dugaan Hana adalah sebuah kesalahan besar. Yang benar adalah kekasih Satya adalah, saudaranya sendiri dan siapa lagi kalau bukan Anna.


Gadis itu bersenang-senang tanpa memikirkan orang lain, bahkan setelah merebut Jeffran dan dia masih ingin orang lain berada di sisinya. Kurang apa kasih sayangnya?


"Kamu mau apa sayang?" Anna berpikir, ia tidak tahu harus menjawab apa karena Satya memang terlalu memanjakan dirinya.


"Apa saja, tas saja boleh. Aku senang ingin tas, keluaran terbaru itu loh, boleh tidak?" Satya mengangguk, ia melihat-lihat tas yang berada di sekitarnya.


Semua nampak bagus tidak ada yang buruk, tapi semua keluaran sudah lumayan lama. Anna meminta keluaran terbaru maka artinya baru saja di rilis, seperti apa tas itu sampai Anna begitu menginginkan tas itu?

__ADS_1


"Yang mana? Kamu pilih saja, aku yang bayar." Anna begitu senang, ia memeluk Satya dengan erat. Sekaligus menggoda pria itu agar semakin dekat dengannya, sedangkan pria itu begitu terkejut ketika mendapatkan sebuah pelukan dari gadis yang berada di depannya sekarang.


Lantas ia membalas pelukan itu dengan lembut, ia tidak ingin menyakiti Anna. Menyakiti orang yang ia sayangi, ia juga tahu kedekatan Anna dengan Jeffran tapi itu dahulu, sekarang Anna adalah miliknya. Benarkah?


"Makasih banget, aku makin sayang sama kamu. Tapi-"


"Tapi apa?" Anna berpikir ia harus mengatakan apa, ia tahu sesuatu dan ia memang begitu sengaja melakukan semua ini. Tapi sebenarnya Anna.


"Kamu kan di jodohin sama saudara aku, kamu pasti akan meninggalkan aku-" Satya menutup mulut Anna dengan jarinya dan membuat Anna terdiam begitu saja.


"Aku meninggalkan mu dan bersama saudaramu itu? Tidak mungkin, aku mencintai mu bukan dia."


"Benarkah?"



Anna tersenyum walaupun sebenarnya itu hanya sebuah rekayasa, tapi ia juga menyukai Satya sejak awal ia masuk ke kampus itu. Ia juga begitu menyukai Satya karena pria itu memenuhi kriterianya.


'Lihat ini Hana, dia mencintai ku bukan dirimu. '


Satya melepaskan pelukan itu dan menawarkan tas yang akan Anna bawa pulang nanti. Gadis itu bersemangat sekali, dan membawa tas yang Satya belikan tanpa mereka pikirkan orang lain yang tengah memikirkan sebuah akibat dari kelakuan mereka berdua.


Di tengah itu, kebetulan sekali jika seseorang juga tengah berada di pusat berbelanjaan juga. Kebetulan saja tidak ada unsur lain, niat mau membeli sepatu basket karena sepatunya jebol. Kebanyakan tingkah memang.


Selesai dia membeli sepatu, ia melihat Satya yang merupakan teman satu geng Vesselsoft. Satya adalah salah satunya, dan dirinya juga. Tapi yang membuatnya heran adalah di mana gadis yang Satya ajak jalan itu membuatnya terasa tidak asing.


"Bukannya itu Anna, kekasihnya Jeffran ya? Kenapa malah jalan sama Satya?" Ia bingung sendiri karena terlalu banyak berpikir, karena ia tidak mau menyia-nyaikan momen langkah itu.


Lelaki itu mengambil beberapa foto mereka berdua dan kemudian pergi begitu saja. Ia tidak perduli dengan apa yang mereka berdua lakukan, itu adalah sebuah bukti saja jika ada yang ribut nanti. Mungkin dia tidak akan membela siapa pun, melainkan ia akan lebih menyalahkan Anna nanti.


"Bisa-bisanya selingkuh, kurang apa coba sahabat ku itu? Ganteng? Iya, kaya? Iya, soft boy? Iya, apaan lagi sih? Kagak ada." Merasa heran mengapa sahabatnya bisa di selingkuhi padahal sahabatnya itu sudah paket lengkap seperti KFC paket 1.

__ADS_1


"Mikirin ayam KFC, jadi laper. Mampir dulu aja kali ya guys."


......•••......


"Oy! Lama tidak bertemu, Theo tumben?"


"Tidak boleh? Yasudah aku pulang-"


"WOYY BERCANDA BRO SANTUY!" Beberapanya menahan Theo agar tidak pergi dari sana. Ia menatap ke arah Jeffran yang entah mengapa sejak tadi ia hanya diam saja. Banyak pikiran, ia juga memikirkan seseorang yang seharusnya ia lupakan. Namun, percuma saja karena tidak akan pernah bisa.


"Nanti akan ada latihan, sekalian persiapan perlombaan basket minggu depan."


"Wah! Bagus tuh, kayaknya aku bakal datang karena tidak ada kegiatan." Mereka membicarakan banyak hal, kecuali untuk Theo dan Jeffran yang sama-sama memikirkan sesuatu dan tanpa mereka sadari jika pemikiran mereka berdua sama-sama mengarah ke seseorang.


......•••......


Pagi mulai tiba, matahari juga muncul membuat cahaya yang membuat beberapa orang enggan untuk tidur lagi karena terlalu terang. Termasuk Hana, dia sebenarnya bangun lebih awal dan ia akan berangkat bekerja juga lebih awal. Hari ini Hana tidak ada kelas apa pun, apa lagi kegiatan. Tidak mengikuti apa pun karena sudah cukup lelah dengan bekerja setiap hari.


Keluar dari kamar dan bersiap akan bekerja, ia sudah di sambut dengan Dimas yang tengah duduk diam di sofa.


"Mau kemana?" Hana terdiam seketika, ia berhenti melangkah karena reflek pertanyaan Dimas yang di layangkan kepadanya. Hana tidak terlalu bisa harus mengatakan sesuatu, tapi ia harus menjawab.


"Mau bekerja."


"Bekerja? Bukannya kakak sudah kasih kamu uang bulanan, apa masih kurang sampai kamu bekerja seperti itu?" Ucap Dimas dan mulai berdiri, ia menghadap ke arah Hana yang hanya diam saja. Gadis itu tidak bisa menjawab, bekerja adalah kemauannya sendiri memangnya apa ada yang salah?


"Kakak bilang jika aku merepotkan, jadi aku tidak memakai uang dari kakak dan aku bekerja sendiri." Ucap Hana membuat Dimas terdiam di saat itu juga.


"Ya sudah, aku mau berangkat dulu. Nanti terlambat, ketinggalan bus nanti." Hana pergi, walaupun di antara mereka masih ada sebuah pertikaian tapi Hana menyempatkan untuk ijin dan juga pamit kepada Dimas.


Masalah masakan, Hana sudah masak sejak subuh. Maka dari itu gadis itu langsung bekerja tanpa memikirkan pekerjaan rumah apa pun karena urusan apartemen ia sudah menyelesaikannya.

__ADS_1


'Apa ucapanku terlalu kasar kemarin?'


__ADS_2