Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 90


__ADS_3

Dimas menyerahkan surat kepada Hana, itu membuat gadis itu kebingungan. Tapi dia segera menerima surat itu, membaca apa isi dari surat itu. Ia mulai paham dengan keadaan sekarang, Dimas hanya menatap tanpa ada sautan apa pun.


"Tapi aku tidak bisa kak-"


"Kamu harus melakukan ini, kakak tidak mau kamu terus diperlakukan seperti ini. Bukanlah pikiran mu Hana!"


"TAPI AKU TIDAK BISA BERPISAH DENGANNYA!" Dimas seketika terdiam, ia tidak menjawab apa pun. Sedangkan Hana memegang kepalanya yang mulai terasa pusing.


Kenapa semua ini menjadi lebih kacau? Bahkan tidak pernah Hana bayangkan sebelumnya, tapi semua ini adalah kejadian yang tidak pernah Hana inginkan. Gadis itu tidak mau harus berpisah dengan pria itu, lalu bagaimana dengan keadaan anaknya nanti yang lahir tanpa seorang ayah?


"Aku tahu keadaan mu, kamu takut jika anak mu sendirian bukan? Tapi kakak sudah memikirkan semua itu jauh-jauh hari Hana. Dengarkan kakak-"


"Biarkan aku sendiri." Dimas yang berawalnya tidak mau menurut, berakhir dia keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Hana sendirian di sana.


Perasaannya seketika hancur bukan main, ia menangis dan melempar kertas itu ke sembarangan arah. Tidak bisa ia membayangkan ini terjadi, sungguh ia tidak akan menduga akan semua ini. Tidak akan bisa, Hana tidak mau berpisah dengan pria itu. Bagaimana bisa ketika Hana sudah menemukan seseorang yang bisa berada di hatinya, justru orang itu pergi begitu saja?


Ia tidak berpikir panjang, tidak bisa lagi berpikir seolah sekarang otaknya berhenti bekerja selama beberapa saat. Hana tidak mau harus memutuskan semua ini dengan cepat, keputusan ini terlalu berat untuknya. Ia juga sudah berjanji akan selalu berada di sisinya, tapi kenapa semuanya begini?


...•••...


Theo berjalan mengecek keadaan, dia masuk ke dalam sebuah ruangan secara diam-diam. Entah apa yang akan dia lakukan nanti, karena perilakunya saja sudah sangat mencurigakan sekali. Dia mengendap-ngendap berjalan ke arah ruangan CCTV kampus, ia yakin pasti ada sesuatu di sana.

__ADS_1


Ia memeriksa semua kamera pengawasan yang ada, pria itu kembali berpikir sesuatu akan kejadian yang terjadi hampir sudah lama terlewat, sudah terjadi lumayan lama.


Di mana dia melihat dua perempuan yang tengah berbincang, itu antara Aca dan Anna di sana. Keduanya berbicara, dengan raut wajah serius dan tentu saja ia sedikit mengingat ekspresi yang Anna tunjukkan. Dia nampak ketakutan, gelisah, dan semua perasaan itu tidak bisa di jelaskan.


Sepertinya ia harus menemui Anna sekarang juga, untuk mencari jawaban atas semua ini. Ia harus melakukannya, selain itu Theo juga harus mencari bukti yang lain karena juru bicara tidak akan bisa menuntut satu orang di mana dia jelas di dukung banyak orang.


Sampai di mana Theo menemukan sebuah rekaman yang jelas tidak di temukan saat Johan dan Arga memeriksa semua itu, ia semakin curiga dengan ini. Apa penjaga itu di bayar oleh Aca? Theo segera menyimpan video itu, tentu saja merekam dengan ponselnya dan kemudian dia pun keluar dari sana.


Sudah di usahakan agar tidak ada yang tahu akan keberadaannya. Namun, sial sepertinya karena hampir dua penjaga datang. Tidak ada jalan lain memang, tapi ketika Theo tengah bersembunyi suara seseorang yang terdengar familiar membuat Theo kebingungan.


Pria itu sedikit mengintip di antara dinding, dia melihat Surya di sana tengah berbincang dengan penjaga itu. Dia melirik ke arah Theo berada, dia memberikan kode agar Theo bersembunyi terlebih dahulu. Theo hanya diam dan dia kembali bersembunyi di sana, dengan keadaan gelisah dan juga dia khawatir jika dirinya ketahuan.


"Tadi kalian di panggil kepala dinas di ruangan."


"Dia bilang ponselnya ketinggalan dan menyuruh saya memanggil kalian ke sana." Ucapnya dengan senyumannya, keduanya nampak berpikir dengan ucapan yang Surya katakan itu.


"Kau pergi saja aku akan menjaga ruangan." Theo menggeram marah, kenapa harus seperti itu? Sedangkan Surya diam-diam mengepalkan kedua tangannya, tapi ia tidak bisa melakukan itu juga.


"Kalian di suruh, berdua."


"Kami biasanya salah satu saja, itu perintah kepala dinas sebelumnya." Surya hanya mengangguk saja, dia pasrah tidak tahu harus melakukan apa lagi.

__ADS_1


Salah satunya pun pergi dari sana, tentu saja Surya masih berada di sana membuat penjaga itu kebingungan. Kenapa Surya masih di sana? Bukannya dia harus keluar dari sana. Tapi dia justru hanya diam sana dengan sikap anehnya itu.


"Kenapa kau masih di sini?" Surya menggaruk kepalanya tidak terasa gatal sama sekali, ia melirik ke arah belakang tentu saja membuat penjaga itu menoleh ke belakang.


Sampai sebuah hantaman keras membuat pria paruh baya itu tersungkur di atas lantai dengan kesadaran yang sudah menipis, dua orang berada di sana. Tidak begitu jelas dia melihat itu, tapi ia bisa melihat setidaknya bayangan saja.


Surya menatap pria itu yang sudah tidak sadarkan diri, ia menatap ke arah Theo yang memegang kayu dan dia kemudian menatap ke arah Surya.


"Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?" Surya mengangkat kedua bahunya acuh, dan kemudian dia pun mengangkat penjaga itu ke suatu tempat bersama Theo tentu saja.


"Kita harus menyelesaikan ini, jangan anggap diam ku tidak berguna. Aku tahu semuanya." Theo hanya melirik, ia cukup tahu dengan ucapan yang baru saja Surya katakan. Memang pria itu akan jauh lebih suka diam saja ketimbang ia harus mengatakan sesuatu.


Mereka membawa pria itu ke tempat yang memang jarang orang tahu, sekaligus tidak ada kamera di sana jadi mereka bisa leluasa melakukan apa saja di sana tanpa takut ketahuan. Surya membuang nafas panjang, ia sebenarnya malas ikut campur. Jika bukan atas permintaan Juan maka dia malas melakukan ini.


"Juan, dan Arga akan datang. Itu alasannya aku tahu semua ini, kau jangan egois mau menyelesaikan semua ini sendiri." Theo hanya melirik ke arah lain, ia malas berdebat tentang hal itu.


...•••...


Hana menatap testpack yang dirinya pegang, benar apa dugaannya jika ia tengah hamil. Jujur saja ia tidak percaya dengan perkataan dokter sebelumnya, karena ia tidak begitu yakin. Tapi kenyataannya keadaannya selama beberapa hari ini memang sudah menyebutkan jika Hana hamil.


Tapi sekarang bagaimana? Keadaannya sudah seperti ini, baru saja Hana akan memeriksakan diri sendiri dan kemudian menjadikan sebuah kejutan bagus untuk suaminya. Tapi justru surat cerai yang datang, itu membuat dunianya seketika remuk.

__ADS_1


"Sekarang aku harus bagaimana? Berpisah dengannya? Aku tidak bisa, anak ini juga butuh seorang ayah." Kenapa Dimas begitu ingin dirinya segera berpisah dengan Satya? Seharusnya dia mencegah semua itu, bukan malah memulainya.


Seharusnya Hana mengetahui bagaimana perasaannya Dimas ketika pria itu tahu semuanya, bukan hanya Hana yang hancur. Tapi Dimas ikut seperti sudah mati rasa, seorang kakak mana yang akan tega melihat kehidupan adiknya sudah tidak bisa di tangani, hancur lebur.


__ADS_2