Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter: 107


__ADS_3

Johan sibuk dengan urusannya, menyelesaikan segalanya yang memang harus dia kerjakan sekarang. Melirik ke arah jam dinding yang sudah menuju ke angka 3, ia masih menatap ke arah tumpukan dokumen yang belum dia selesaikan. Padahal semalam dia sudah rela menunda jam tidurnya, tapi masih saja banyak yang belum selesai.


Pria itu sampai memegang kepalanya sendiri saking pusingnya, layar laptopnya yang menunjukan bukti kenaikan perusahaannya sekarang. Perusahaan yang dia bangun sendiri itu, dan dia juga harus mengurus perusahaan milik keluarganya juga.


Bayangkan sendiri betapa sibuknya Johan sekarang, tapi tidak menuntut kemungkinan apa yang dia kerjakan berjalan dengan baik. Walaupun dia juga manusia, bisa merasa lelah dan juga pasti ada kesalahan yang tidak di sengaja.


Itu sering terjadi, Johan sering melakukan kesalahan itu dan itu membuatnya nyaris gila. Satu kesalahannya akan berakibat fatal bagi seluruh karyawannya sekarang, dia juga menampung banyak orang sekarang. Lebih tepatnya orang-orang yang bekerja kepadanya.


"Apakah aku bisa menyelesaikan semua ini sampai besok? Aku terlalu lelah harus terus mengerjakan semua ini."


"Kau tidak perlu terlalu berlebihan seperti itu, Johan." Pria itu mendongak, menatap seseorang di depannya. Dia berdiri di depan Johan sekarang, dia memberikan satu dokumen yang sudah dia selesaikan dalam waktu sehari ini.


Johan menerima dokumen itu, membacanya dan juga memeriksa segalanya yang di kerjakan pria di depannya. Memang tidak seharusnya Johan tidak sampai seperti ini, karyawannya sangat banyak. Kenapa tidak dia gunakan saja? Lagi pula Johan juga membayar mahal setiap orang yang dia pekerjakan, tentu saja dengan segala pengalaman agar bisa masuk ke perusahaannya sekarang.


"Kau punya banyak karyawan, untuk apa kau memaksakan diri seperti ini. Suruh saja mereka mengerjakan semua itu, mereka juga tidak akan protes."


"Aku pikir begitu."


Candra adalah sahabatnya, dia selalu membantu segala permasalahan yang Johan hadapi selama ini. Dia juga punya kantor miliknya sendiri, tapi tidak begitu masalah untuknya jika membantu sahabatnya sendiri.


"Aku dengar kau membawanya pulang, apakah itu benar?" Johan meletakkan dokumen itu di atas meja dan menatap ke arah Chandra.


"Aku rasa kau tidak perlu tahu, kembali saja ke tempat asalmu."


"Kau mengusir ku? Aku tidak akan merebutnya dari mu, lagi pula aku sudah punya istri di rumah."


"Baguslah jika kau ingat akan itu, aku ingin menyelesaikan semua ini. Kau bisa kembali, terimakasih." Chandra tertawa pelan, dia tidak akan merasa tersinggung dengan semua kata-kata itu.

__ADS_1


Chandra memilih pergi dari ruangan sahabatnya itu, meninggalkan Johan sendirian di sana dengan segala pikirannya yang sangat banyak itu.


Pria itu keluar dari ruangan, tapi dia sudah di sambut dengan kehadiran seseorang di luar ruangan Johan. Nampak tidak asing, tapi dia lupa siapa. Pria itu hanya memberikan salam ramah saja, kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan yang lain di sana.


Siapa yang ada di luar ruangan Johan? Tebak siapa? Dia nekat pergi ke kantor Johan hanya untuk memberikan bekal, tapi sekertaris Johan tidak mengijinkan dirinya masuk dengan alasan belum membuat janji apa pun. Karena merasa tidak punya pilihan, perempuan itu menelpon Johan sekarang.


Mungkin karena itu yang membuat Johan lumayan terkejut, dia melihat ponselnya berdering dengan nama seseorang yang tertera di sana. Johan mengangkat telpon itu, dan menunggu waktu sampai sambungan tersambung.


"Ada apa? Apa ada masalah? Kau baik-baik saja bukan?"


"Iya, aku tidak apa-apa. Tapi-"


"Ada apa?"


"Aku tidak boleh masuk ke dalam, katanya-"


"Kamu, kenapa sampai sini?" Johan berjalan menghampiri, dia memegang kedua bahu perempuan itu dan memastikan tidak ada sesuatu. Tentu saja sekertarisnya akan sangat terkejut akan perilaku Johan yang mendadak seperti itu.


"Aku hanya mau mengantar ini, kata Jihan kamu sering lupa makan siang." Johan menghela nafas panjang, dia melirik tajam ke arah sekertarisnya.


"Maaf tuan, tapi saya tidak tahu-"


"Lain kali bertanya sebelum bertindak, bagaimana jika dia terluka? Dia sedang hamil." Johan tidak bisa seperti ini, ia mengecam sekertarisnya itu jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Hana. Tentu saja, dia akan melakukan apa pun itu.


"Jo-"


"Kau pasti kelelahan, ayo masuk ke dalam saja." Johan menuntun Hana masuk ke ruangannya, dengan tas yang Hana bawa di ambil alih oleh Johan.

__ADS_1


Pria itu tidak mau mendengarkan penjelasan siapa pun sekarang, ia khawatir dengan Hana. Karena perempuan itu sudah berdiri tidak tahu sejak kapan di depan ruangannya, Johan tidak akan mau sesuatu terjadi kepada perempuan itu.


Hana duduk di sofa ruangan itu, ia sempat kagum dengan ruangan pribadi Johan. Ia tidak pernah datang ke kantor Satya, karena pria itu melarang banyak hal dulu. Tapi sekarang, Jihan bilang jika Hana datang ke kantor sepertinya Johan tidak akan keberatan.


"Kenapa kamu ke sini? Seharusnya kamu menghubungi ku saja jika kamu mau datang, aku akan menyuruh supir ku menjemputmu." Hana tersenyum, ia merasa terharu karena Johan terlalu mengkhawatirkan dirinya seperti ini.


"Aku tidak apa-apa, anggap saja ini kejutan dari ku. Aku membawa makan siang mu, maaf jika aku terlambat..." Johan menghilang bekal itu, menaruhnya di atas meja dan dia justru malah menunduk.


Dia melihat kaki Hana yang membengkak, sudah hampir 3 minggu Hana tinggal bersamanya. Tidak ada masalah atau bahkan sebuah pertengkaran, antara mereka tidak ada yang terlalu melebih-lebihkan sebuah masalah. Johan bahkan sering menurunkan ke egoisannya. Jika saja Hana tiba-tiba diam, lebih tepatnya mendiami dirinya entah karena masalah apa. Bukan menjadi sebuah masalah, Johan justru memperlakukan Hana layaknya ratu di kehidupannya sekarang.


Hana melihat Johan yang melepaskan sepatunya, mungkin terlalu lama berdiri dan jarak lumayan jauh dari halaman depan gedung sampai ke ruangan Johan. Memerlukan banyak tenaga untuk sampai ke kantor Johan.


"Pasti sakit, seharusnya kamu tidak memaksakan diri." Johan melakukan apa yang tidak Hana duga.


Johan bahkan tanpa ragu, memijat kaki Hana dengan tangannya sendiri. Kaki perempuan itu memang lumayan bengkak, merah hampir ke unguan. Tentu saja itu membuat pria itu khawatir, luka sekecil apa pun akan membuatnya panik.


"Aku baik-baik saja-"


"Kau selalu mengatakan itu setiap kau terluka." Hana terdiam ketika mendengar perkataan Johan yang begitu terus terang.


Itu memang benar, Johan sering mendengar kata-kata yang sama di situasi yang berbeda. Mengatakan sebuah baik-baik saja seolah memang tidak ada yang terjadi, padahal sebaliknya.


Ada sebuah tragedi buruk di balik semua itu, apakah Hana akan terus melakukan semua itu? Johan paham mengapa perempuan itu melakukan semua yang seharusnya tidak dia lakukan, tidak mau membuat orang-orang khawatir dengan dirinya. Itu niatan yang bagus, tapi tidak untuk Johan sekarang. Dia tidak mau ada yang di sembunyikan termasuk luka, tidak ada dan jangan sampai.


"Katakan saja jika ada yang sakit, aku tidak suka kebohongan. Kau tahu itu."


"Iya, maafkan aku..."

__ADS_1


__ADS_2