Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 6


__ADS_3

Malam semakin larut, seperti biasa juga yang pulang paling akhir adalah Dimas. Karena dia masih kuliah sekaligus ia mengerjakan banyak tugas yang tidak dapat di jeda. Ia biasanya mendengar banyak keributan, tapi entah hari ini tampak sunyi dan tenang.


Dimas tersenyum dan berlari ke arah kamar adik perempuannya, karena ia membawakan makanan kesukaan Hana. Hana sepertinya akan senang ketika Dimas membelikan makanan itu, tebak apa? Donat isi dan juga eskrim coklat.


"Hana pasti suka ini." Dimas melewati Anna yang kebetulan keluar dari kamar. Melihat apa yang Dimas bawa jadi penasaran.


"Kakak bawa apa?"


"Makanan, kenapa?" Dimas berhenti sejenak, ia mengabaikan gadis itu sama saja cari mati. Tapi tidak mungkin dikeluarkan dari kartu keluarga, bagaimana pun Dimas anak pertama dan laki-laki.


"Buat aku kan?"


"Gak, buat Hana." Seketika wajah antusias itu langsung hilang, ia benci akan semua ini. Dipikiran Dimas hanyalah Hana saja dan tidak ada celah untuk Anna masuk menjadi adik favorit lelaki itu.


"Hana gak ada? Mending buat aku aja kak." Dimas membuka pintu kamar Hana, dan ia berhenti ketika mendengarkan apa yang Anna katakan. Ia menaikan alisnya kebingungan, biasanya Hana sudah pulang jam seperti ini. Apa lagi sudah malam.


"Dari mana kau tau?"


"Ya tentu saja, mungkin dia sedang menjual diri di luar sana." Dimas meletakan makanan itu di atas meja dan kemudian berjalan ke arah Anna dengan tatapan mematikan.


Mencengkram baju tidur Anna dengan kasar. Tentu saja sukses membuat Anna ketakutan bukan main, bagaimana bisa ia melihat Dimas semarah ini kepadanya? Memang salah Anna bicara seperti itu?


"Jaga ucapanmu pecundang."


"Kakak memanggilku pecundang?" Air matanya hampir saja menetes, sakit hati yang begitu dalam akan perkataan menusuk dari Dimas langsung ia dengar.


"Kenapa? Sakit hati? Mau mengadu kepada mereka? Silahkan, aku tidak takut dengan ucapanmu. Hana anak yang baik, apa pun itu pasti karena ulah mu." Ucap Dimas dengan datar dan kemudian pergi begitu saja.


Ia melangkah menuruni anak tangga, jika benar Hana tidak di rumah lalu ,kemana anak itu berada? Tidak mungkin Hana bermain sampai jam selarut ini. Karena tingkah Dimas yang terburu-buru membuat mamanya itu kebingungan, wanita itu baru saja dari taman belakang. Mendapati putranya baru saja kembali dan malah kembali keluar rumah.

__ADS_1


"Baru pulang? Sekarang mau kemana lagi? Sudah malam Dimas, kamu istirahat dulu."


"Aku mau nyari Hana." Viona menghalangi Dimas, wanita itu tidak suka jika menyangkut akan anak perempuannya yang satu itu. Ia hanya tidak mau jika gadis itu pulang ke rumah, entah mengapa?


"Tidak usah, dia akan pulang sendirikan? Kenapa kau repot sekali?"


"Iya tuh, kak Dimas juga ngapain?" Dimas menutup matanya sendiri untuk agar amarahnya tidak meledak di saat itu juga. Mengapa katanya? Mengapa? Tentu saja Hana hilang dan harus segera di cari, kenapa malah mengapa? Mereka punya otak atau tidak sebenarnya?


"Terserah kalian, aku akan tetap mencari." Dimas langsung pergi tanpa sepatah kata apa pun lagi.


Ia emosi berat, bagaimana bisa mereka begitu santai akan keadaan ini? Benar-benar, Dimas bisa akui jika keluarganya memang iblis. Melebihi hal itu, mungkin iblis minder ketika bertemu dengan mereka semua.


"Hana, ayolah angkat telpon kakak." Dimas beberapa kali menelpon Hana berharap akan di angkat, tapi sepertinya harapannya seakan hilang dari pandangannya.


Dimas langsung menaiki mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak berpikir lebih akan semua itu atau masalah tindakannya sekarang. Ia hanya memikirkan adik perempuan yang entah pergi kemana.


Dimas hanya menyuruh bagi yang tau dan cukup tau saja, jangan menyebarkan akan Hana karena Dimas tidak mau jika adiknya kenapa-napa. Dimas sadar jika isi dari geng itu tidak semuanya baik, otak mereka tidak bisa di baca sama sekali.


"Bantu aku mencari adikku, kalian bisa kan? Jika tidak, tidak masalah aku akan mencari sendiri."


...•••...


Johan tengah mendengarkan omelan bundanya yang entah berbicara apa, mendadak ponselnya berbunyi membuat perhatiannya teralihkan. Tentu saja pemuda itu akan mengambil ponselnya dan kemudian membuka notifikasi dari aplikasi chat.


'Pesan suara? Bang Dimas? Kenapa?'


Ia menyuruh bundanya untuk diam sejenak, dan ia mendengarkan pesan suara yang Dimas kirim di grup chat. Membuat ia seketika terdiam sejenak, ia masih berpikir dan mencerna apa yang Dimas katakan.


"Itu suaranya Si kelinci kan dek? Dia kenapa?"

__ADS_1


"Johan mau keluar sebentar bund." Johan langsung berlari, keluar dari rumah dan menaiki kendaraannya.


"Hati-hati dek!" Johan langsung menyalakan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Sedangkan wanita paruh baya itu membuang nafas panjang melihat kelakuan anak bungsunya itu.


"Semoga semua baik-baik saja."


......•••......


Johan pergi ke beskem yang biasanya mereka berkumpul, ternyata bukan hanya Johan saja yang berkumpul di sana membantu Dimas mencari Hana. Melainkan 5 orang lainnya juga ikut, mereka kenal dengan Hana karena Dimas memberi tau mereka.


"Johan? Aku kira kamu gak akan datang."


"Katakan cepat apa masalahnya?" Dimas menoleh ke arah Johan, terlihat raut wajah datar itu tidak sepenuhnya datar. Ada sebuah raut wajah khawatir dan cemas, beberapa dari mereka bisa melihat itu dari wajah Johan.


"Hana hilang, tidak tau kemana-"


"Dia tidak pulang ke rumah?" Tanya Aldi yang berada di sana, ia juga khawatir di tambah ia juga menganggap Hana sebagai adiknya sendiri di tambah lagi adik bungsungnya akrab dengan Hana. Mendengar ini adiknya akan merasa sedih.


"Dia gak pulang! Aku gak mau cari kemana lagi, aku khawatir. Dan kalian tau bagaimana reaksi keluargaku akan ini." Semuanya menunduk.


Bagaimana tidak? Mereka tau bagaimana keluarga Dimas, mereka begitu egois sampai mereka begitu tega tidak menganggap Hana. Padahal Hana tidak salah apa pun, gadis itu pintar dan mandiri. Berbeda dengan anak yang mereka sayang-sayang, jauh lebih tidak berguna.


"Aku tahu, ayo kita cari bersamaan. Kita harus bagi sebagai tim, jangan ada yang mematikan data ponsel dan sinyal GPS. Johan bersama ku, Dimas kau bisa sendiri kan?" Dimas mengangguk lemas, ia tidak tau harus bagaimana lagi sekarang.


"Aldi bersama Leon. Tim pertama mencari di sekolah, karena Johan sekolah di sana kau pasti tau semua celah sekolah, Dimas mencari tempat biasanya Hana pergi, Aldi dan Leon. Kalian bisa mencari di jalan-jalan siapa tau Hana berada di jalan. Sudah paham?" Mereka semua mengangguk paham dan kemudian berpencar seperti rencana yang sudah ditunjukan.


Johan memakai helm dan kemudian kembali melaju ke tempat tujuannya, yaitu sekolahnya. Sudah Johan duga ada yang tidak beres, ternyata benar saja Hana hilang.


'Bersabar lah, aku akan segera menemukanmu. Dimana kau berada? Maafkan aku jika aku sedikit terlambat.'

__ADS_1


__ADS_2