Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 144


__ADS_3

"Kamu ini kenapa? Jangan hanya diam saja, bicara kepada ku saja jika kamu tidak mau sama bicara dengan bunda. Kamu tahu? Bunda khawatir dengan kamu tadi karena tidak bicara apa-apa." Ucap Jack, ia hanya berniat baik membantu permasalahan Jeano agar cepat selesai saja.


Bagaimana tanggapan Jeano? Pemuda itu hanya menatap ke arah kembarannya, wajah mereka berdua memang sama persis bahkan nyaris tidak bisa di bedakan yang mana. Tapi berkat satu perbedaan di antara mereka, mata Jack yang coklat indah tapi juga tajam, sedangkan Jeano memiliki warna mata hitam kelam. Hanya itu perbedaan yang bisa orang-orang lakukan ketika memanggil keduanya.


Jack tidak paham apa yang sudah terjadi, apa lagi setelah pulang sekolah yang selalu menjawab pertanyaan memang hanya Jack. Bahkan ketika Johan bertanya kepada Jeano, dia hanya diam dan kemudian mengatakan tidak apa-apa terus.


Johan yang memang tahu, sifat itu menurun dari bunda mereka yang selalu mengatakan hal yang sama. Johan diam saja? Tentu saja tidak, sama seperti yang istrinya lakukan kepada kedua anak mereka berdua. Memberikan waktu untuk berpikir sejenak sepertinya bukan ide yang buruk.


Tapi sampai di rumah Jeano masih saja diam, Jack juga kebingungan. Apakah dirinya punya salah? Sepertinya tidak, semua candaan dan gurauannya masih di batas wajar saja.


"Jeano-"


"Diamlah, urus dirimu sendiri." Jeano berjalan ke arah kamarnya sendiri, membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam tanpa menghiraukan kembarannya yang masih berada di sana.


Jack hanya diam ketika mendapatkan sebuah peringatan itu, Jeano kenapa? Sepertinya Jack harus mencari tahu. Tapi jika saja Jack melakukan semua itu, apakah Jeano akan kembali seperti dulu lagi? Ia tidak tahu, Jack hanya diam dan berpikir di sana seraya menatap ke arah pintu kamar yang tertutup itu.


"Aku tidak tahu kamu kenapa, tapi kenapa kamu begini, Jeano?"


Di sisi lain, Jeano yang berjalan ke arah ranjangnya. Meletakkan buku gambarnya di sana, menatap ke arah depan. Balkonnya tertutup rapat, sebenarnya di balik sifatnya yang setiap hari hanya tersenyum manis.


Antara Jeano dan Jack itu sebenarnya berbeda, Jack yang sangat ceria dan bersinar bagaikan matahari yang bersinar memberkati kehangatan. Berbanding balik dengan Jeano, dia memang sering tersenyum tapi tidak dengan tertawa, dia hanya akan menghabiskan waktunya dengan menggambar dan merenung sendirian.


Masalah? Memang, Jeano tengah ada masalah di sekolah membuatnya tidak enak di dalam hati bahkan terbawa sampai ke rumah. Jeano tahu semua orang akan khawatir, di tambah Jeano juga tidak mau jika bundanya terus memikirkan keadaannya sekarang.

__ADS_1


Masalah di sekolah, mungkin bagi orang dewasa yang tidak seberapa dengan masalah yang mereka hadapi. Tapi ini anak sekolah, permasalahannya adalah di mana Jeano harus gagal mengikuti Olimpiade Fisika, karena kelalaiannya dalam belajar.


"Aku harus mengurangi jam menggambarku." Mengembalikan buku gambarnya di laci meja belajar, berniat tidak akan menggambar dalam beberapa waktu untuk tetap ikut tes Olimpiade nanti.


Ambisius, itu memang sifat alaminya sejak kecil. Jeano dulu, ketika ia kalah dalam sebuah perlombaan dia akan menangis dan kemudian akan mencoba lagi, terus menerus tanpa henti sampai dia mencapai targetnya. Itu bagus sebenarnya untuk pelajaran seperti dirinya, tapi terlalu berlebihan.


Jeano iri dengan Jack, Jack bisa melakukan apa saja sekali coba langsung bisa. Tapi bukan begitu, iri pasti ada di dalam dirinya ketika melihat Jack yang serba bisa. Bukan berarti Jeano akan menyerah begitu saja, ia tidak mau menyerah begitu saja hanya karena melihat kembarannya berhasil terus sedangkan dirinya gagal terus.


Menoleh ke satu arah, banyak piagam di sana dan mendali yang Jeano dapatkan sebelumnya. Piagamnya tentu saja lebih banyak dari pada yang Jack punya, karena Jack tidak terlalu tertarik dengan yang namanya perlombaan atau semacamnya. Tapi ketika memang banyak orang yang mendesaknya baru dia mau ikut, hanya demi ketenangan saja.


Berbeda sekali bukan? Ambisius seorang anak memang berbeda, berbeda cara mereka mengekspresikan semua itu. Jeano ingin mengalahkan kembarannya sendiri, ia bukannya mau menang sendiri. Hanya saja, ia hanya mau membuat bundanya bahagia dan senang atas pencapaiannya.


Sedikit cerita ketika Jeano pertama kali ikut lomba menggambar saat dia masih di taman kanak-kanak dulu, Jeano menang juara 2 saat itu. Melihat senyuman bundanya membuatnya ada sebuah kesenangan di dalam dirinya, bukan hadiah yang ayahnya tunggu melainkan sebuah pelukan hangat dan tangisan bahagia yang Jeano mau.


Jeano hanya mau melihat bundanya tersenyum saja, bahagia akan keberadaannya dan menganggapnya ada. Melihat bingkai foto itu, di mana di sana ada dirinya dan bundanya tengah tersenyum bersama dengan Jeano kecil yang tengah memegang piala kecil itu. Jeano tanpa sadar tersenyum.


'Kebahagiaan bunda adalah hal paling utama.'


Itu yang tengah dia pikirkan sekarang, untuk anak 10 tahun sepertinya pemikirannya terlalu dewasa. Ia hanya bertekad dengan tujuan lain saja, apakah semua itu salah ia lakukan?


...•••...


"Mama!!"

__ADS_1


"Hai princess." Anna menggendong putrinya yang baru saja pulang dari sekolah dengan segala senyuman menyenangkannya.


Wajah pucat itu tertutupi dengan senyuman bahagianya. Anna sangat senang saat ini, atau bahkan sampai kapan pun. Merawat putri kecilnya bukanlah sebuah hal yang mudah, penjagaan ekstra yang dia berikan dan perhatian lebih membuatnya mampu bertahan sampai sekarang.


Satya juga baru pulang dari pekerjaannya setelah itu dia memang berniat akan menjemput anak perempuannya di sekolahan. Seperti dugaannya anaknya sangat bahagia dengan kedatangannya ke sekolah.


"Bagaimana sekolah mu? Apa sekarang Mina punya teman baru? Ayo, cerita sama mama mu ini." Mina hanya diam seraya tersenyum, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan kemudian memberikan kertas kepada mamanya itu.


Kertas bertuliskan sebuah puisi indah di sana, Anna tersenyum lagi tapi berbeda sekarang. Ingin rasanya dirinya menangis sekarang, Anna mengusap rambut anak perempuannya itu dan ia bisa melihat alat pendengaran itu menempel di telinga anaknya.


"Mina tidak punya teman, tapi Mina bisa membuat puisi. Kata ibu guru bagus sekali, jadi dapat nilai bagus."


"Benarkah? Mina pintar sekali ya, boleh ayah baca puisinya Mina?" Mina mengangguk ketika ayahnya bicara, ia melihat ayahnya membaca dan mendengarkan suara ayahnya itu. Puisi yang indah sekali.


"Matahari bersinar adalah mama, dan angin sejuk itu ayah. Apa maksudnya sayang?" Satya melihat ke arah putrinya itu yang duduk di sebelah istrinya, anak itu hanya tersenyum dan kemudian menjelaskan.


"Mama itu matahari yang cerah, selalu ada saat Mina sedang sakit. Sedangkan ayah itu angin sejuk, ayah datang membuat Mina nyaman. Makanya Mina suka tidur kalau di gendong ayah."


"Wow, bagus sekali. Walaupun ayah masih tidak paham."


"Hahaha, Mina bisa begitu ya. Bagaimana bisa?"


"Iya bisa, karena Mina sayang kalian."

__ADS_1


__ADS_2