Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 73


__ADS_3

Anna berbaring di bangsal, di bantu pria itu yang juga memang di anjurkan untuk menemani sang ibu hamil agar tidak terlalu tegang. Wildan juga tidak meninggalkan Anna sama sekali, dia juga rela menyimpan waktunya untuk Anna. Perempuan itu menutup matanya rapat-rapat, dengan tangannya yang menggenggam tangan Wildan dengan erat. Pria itu juga ikut terbawa suasana, ia menatap ke arah dokter kandungan yang tengah memeriksa perut datar itu.


Sampai di mana dokter itu mengoleskan semacam cairan bening ke atas permukaan perut Anna yang terbuka itu, Wildan tidak melihat tapi mau tidak mau. Ia juga harus terus mengawasi, dia terlalu waspada.


"Mari kita lihat bagaimana keadaan janinnya." Ucap dokter tersebut dengan penuh senyuman senang, sedangkan Wildan menoleh ke arah layar monitor tersebut dan begitu juga dengan Anna.


Dia juga punya rasa penasaran yang tinggi, sampai di mana ia melihat mahkluk super duper mungil terlihat di sana. Anna merasa jika dirinya seolah seperti terlahir kembali, ia bisa merasakan apa yang kebanyakan wanita di dunia ini rasakan. Bahkan tanpa sadar air matanya menetes karena terlalu bahagia.


Tanpa ia sadari sendiri, melihat janin tersebut ia teringat sesuatu yang seharusnya tidak Anna ingat sama sekali. Perempuan itu memalingkan wajahnya di saat itu juga, membuat Wildan merasa heran.


"Ada apa?" Ia hanya khawatir, tingkah Anna sekarang menunjukan jika dia banyak pikiran sekarang.


"Apakah istri anda tengah dalam masalah? Di usahakan untuk tidak membuatnya dalam keadaan setres, kelelahan dan semacamnya. Itu tidak baik untuk kesehatan janinnya."


"Saya akan berusaha, dok. Terima kasih atas bantuannya."


"Terimakasih kembali, dan selamat atas kebahagiaan kalian. Saya turut senang." Wildan tersenyum tipis, ia menoleh lagi ke arah Anna dan menggendong perempuan itu untuk keluar dari ruangan pemeriksaan.


Setelah menghabiskan hampir 1 jam di rumah sakit untuk memeriksakan keadaan janin yang Anna kandung sekarang. Wildan tidak ada masalah sebenarnya, ia bahkan dengan senang hati akan selalu mengantar Anna periksa kandungan jika perempuan itu mau.


"Kamu dengar apa kata dokter tadi kan? Jangan banyak pikiran, jika ada masalah aku tidak keberatan mendengarkan cerita mu." Anna hanya tersenyum sebagai tanggapan apa yang pria itu katakan.


Sebenarnya Anna ingin cerita, tapi bagaimana lagi? Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa sekarang di tambah sebuah ancaman yang membuatnya ketakutan. Anna tahu jika memikirkan sesuatu yang berlebihan di tambah dengan dalam kondisi sekarang, memang tidak baik untuk calon anaknya. Tapi jika dia cerita kepada Wildan, nyawa anaknya bagaimana?


...•••...

__ADS_1


Raya berada di kamarnya, ia sibuk dengan dunianya sendiri tapi di sisi lain ia merasa pikirannya penuh akan sesuatu. Tidak seharusnya dia memikirkan semua ini, di tambah memikirkan orang yang bahkan Raya kenal sama tidak.


Tapi gadis itu secara reflek memikirkan semua itu. Bukan karena apa, tapi dia penasaran apa yang mereka bicarakan di sana dalam keadaan taman sepi seperti itu.


"Aku tidak pernah melihat Aca dekat dengan gadis itu. Apa itu hanya kebetulan saja? Tapi mereka kan beda jurusan?" Memikirkan semua itu dengan pusing.


Raya tidak tahu harus bagaimana lagi jika tidak memikirkan semua itu. Berlebihan jujur saja, tapi dia tidak mau ada sesuatu yang terjadi di tambah raut wajah gadis itu yang nampak antara ketakutan dan menantang. Memang apa yang temannya itu katakan kepadanya sampai seperti itu. Raya menatap ke arah bingkai foto, di mana ada dirinya, Ayu, Hana dan Aca di sana.


Mereka akur, tapi itu adalah masa lalu. Sampai di mana tanpa mereka ketahui sendiri ikatan itu mulai musnah karena semua masalah yang tidak masuk akal. Semudah itu kah perkenalan mereka selama satu tahun? Hancur begitu saja bahkan tidak ada 4 hari?


"Kau memikirkan sesuatu?" Tiba-tiba saja seseorang muncul dan duduk seenaknya di ranjang Raya, tentu saja jika bukan Theo pelakunya siapa lagi.


"Kau?"


Theo melihat bagaimana raut wajah kembarannya, nampak berat sekali apa yang dia pikirkan sekarang sampai suaranya terus memanggil saja tidak terdengar. Tapi ia memutuskan diam saja, ia sudah bertanya tidak di jawab tadi.


Maka jalan satu-satunya adalah diam, menunggu Raya bercerita sendiri. Itu biasanya yang terjadi di antara mereka berdua selama ini. Tidak akan ada paksaan, jika ingin bercerita maka bicarakan, jika tidak mau itu urusannya. Tidak perlu di buat rumit, karena merumitkan hidup adalah momen paling menyebalkan.


"Apa kau kenal dengan saudara Hana?" Pertanyaan Raya membuat Theo merasa bingung. Kenapa Raya begitu tiba-tiba melayangkan pertanyaan itu kepadanya?


"Ya, Dimas kakaknya dan Anna adalah kembarannya. Ada apa? Kau ada urusan dengan salah satunya?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja." Ucapnya seraya memasang senyuman konyol. Jangan terlalu tebal ketika memasang sebuah topeng untuk menutupi keadaan, terlebih lagi di depan Theo. Itu tidak akan pernah berhasil, percaya lah.


"Terserah lah, cepat turun dan makan. Bunda sudah menyiapkan makan malam." Ucapnya dan kemudian beranjak dari ranjang saudaranya tersebut. Tapi ketika ia tengah akan keluar dari kamar itu, Raya tidak kunjung beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Tentu saja Theo merasa aneh akan itu, di mana saudaranya yang sangat cerewet itu? Kenapa secara tiba-tiba dia terdiam bahkan seolah masalah menimpa dalam jangka besar? Melihat bagaimana perempuan itu menunduk, bahkan terus menatap ke arah foto itu membuat Theo yakin pasti ada sesuatu.


"Jika kau lelah jangan turun, aku akan bawakan makanan ke kamar mu." Tidak ada jawaban dari Raya sendiri, pria itu memutuskan untuk menutup pintu kamar itu.


Meninggalkan Raya sendirian di sana dengan segala pikirannya sendiri. Sebenarnya Theo ragu harus meninggalkan Raya, ia paham bagaimana saudaranya itu bahkan melebihi orang tuanya sendiri. Tentu saja, yang selalu berada di samping Raya adalah Theo.


Pria itu berusaha membuat suasana tenang tapi semuanya seolah tidak mendukung apa tujuannya. Ia memilih menuruni anak tangga, minat kedua orang tuanya sudah berada di meja makan menunggu kehadiran kedua anaknya.


Theo duduk di samping adik perempuannya yang paling kecil, Akira namanya. Itu nama khusus yang Theo berikan kepada adiknya itu, mengingat kelahiran adik perempuannya itu membuatnya bahagia sepanjang hidupnya.


"Kak Raya mana?"


"Loh iya, Raya mana Theo? Kamu kan yang manggil dia?" Theo membuang nafas panjang, ia hanya menggelengkan kepalanya dan wanita paruh baya itu seketika paham.


"Yasudah, nanti kamu bawakan makanannya ya."


"Iya." Theo sibuk mencubit pipi adik kecilnya itu tanpa henti, bahkan teguran tidak dia dengarkan. Tapi karena Akira sangat sabar, jadi dia hanya membiarkan kakak laki-lakinya terus mencubiti pipinya gemas.


"Kok lucu banget sih, bisa di rubah gak?"


"Gak bisa." Ucap gadis kecil itu seraya memakan krupuk di tangannya, bahkan semua tangannya memegang makanan yang ada.


"Loh kenapa?"


"Kan dari sananya kakak!"

__ADS_1


__ADS_2