Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 155


__ADS_3

Jack menoleh ke arah samping di mana Jeano sudah berbaring dan menutup matanya dengan tenang, bahkan seolah tidak ada yang terjadi sekarang. Ia mencoba tidur walaupun itu sangat amat sulit, Jack tidak bisa tidur dengan cepat di lingkungan yang menurutnya sangat baru untuknya. Sangat sulit untuk beradaptasi seperti ini, dia melirik lagi ke arah Jeano yang masih tertidur dengan tenang itu.


Ia bingung, bagaimana bisa Jeano tidur dengan pulas sedangkan Jack tidak bisa sama sekali? Merasa memang tidak bisa menutup mata ia pun beranjak dari tempat tidur. Suara itu membuat Jeano perlahan membuka matanya dan melirik ke arah ke mana Jack berjalan keluar kamar.


Jeano beranjak dari tempat tidurnya, ia merasa jika Jack tidak bisa tidur malam ini. Tidak seperti biasanya, karena ia terlalu khawatir dengan kembarannya yang super ceroboh itu. Jeano pun mengikuti ke mana langkah Jack, dia bahkan mengikuti tanpa ada suara dan tanpa ketahuan.


Melihat jika Jack turun ke dapur, mungkin memakan sesuatu di sana agar dia bisa tidur malam ini. Jeano hanya memperhatikan tanpa minat bergabung sama sekali. Hanya melihat Jack yang makan dengan lahap di sana seperti maling, dia bahkan minum susu beberapa kotak agar cepat tidur. Itu membuat Jeano lumayan terkejut, susu sebanyak itu? Apakah tidak berlebihan?


Tidak berkomentar sama sekali, dia hanya mengawasi dari jarak jauh. Sampai Jack pun memilih segera kembali ke kamar sebelum kedua orang tuanya tahu jika dia belum tidur sekarang. Jeano yang mengetahui akan pergerakan Jack, dia segera beranjak dari tempatnya dan kembali masuk ke dalam kamar. Mengambil posisi awal seolah tidak ada yang terjadi tadi.


Jack masuk ke dalam kamar dengan membawa susu kotak di tangannya dan menutup pintu kamarnya. Pertama kalinya ia tidur bersama Jeano, karena biasanya memang tidur di ruangan yang terpisah.


Pemuda itu duduk di atas ranjang, sisi ranjang itu. Dia menatap ke arah depan, ia berharap bisa tidur secepatnya karena tidak ada teman membuatnya kesepian dan lagi, Jack menoleh ke arah Jeano berada. Dia masih tertidur pulas tanpa dosa.


Jack membuang nafas panjang, dia tidak tahu jika Jeano sebenarnya tidak benar-benar tertidur sepulas itu. Pergerakan sekecil apa pun akan membuat tidurnya terganggu dan akan langsung bangun dalam waktu singkat, itu kenapa Jeano tidur sendirian. Karena suara akan menganggu jam istirahatnya yang singkat itu.


Jeano hanya mengawasi, sampai Jack segera membuang sampah dan kemudian dia pun berbaring di tempat tidurnya. Mulai tidur, mencoba untuk tutup mata dan masuk ke dalam alam mimpi.


Sepertinya tidak akan semudah itu karena tiba-tiba saja perutnya terasa sakit, mungkin karena makan dan minum susu berlebihan membuatnya seperti itu sekarang. Tapi bagaimana? Terpaksa lagi, Jack berlari ke arah toilet dan segera menuntaskan semua itu.


Jeano beranjak dan melihat pintu toilet tertutup rapat, ia yakin jika Jack tengah buang air besar setelah minum susu berlebihan. Dia pun mengambil sesuatu dari laci mejanya itu, obat sakit perut. Itu akan membuat sakitnya mereda setidaknya beberapa saat saja.


Dia meletakkan obat itu di atas meja Jack, dia pasti akan melihat obat itu ketika keluar dari toilet. Merasa sudah selesai urusannya, Jeano pun tidur tanpa harus merasa khawatir.

__ADS_1


"Kenapa perut ku sakit sekali? Susu yang terlalu banyak, seharusnya aku tidak minum susu tadi-" Lama dia mengomel tidak jelas seraya keluar dari toilet, dia melihat Jeano masih tertidur.


Tapi pandangannya bukan ke arah sana, melainkan ke satu benda di mana seharusnya tidak berada di sana. Jack mengambil benda itu, membaca tulisan yang tertera di sana.


"Obat sakit perut?" Jack bingung, dia tidak pernah menyimpan obat seperti itu di kamarnya. Tapi ketika ia menyadari jika Jack di kamar tidak sendirian melainkan bersama saudaranya.


Ia tersenyum secara tiba-tiba, karena ia berpikir jika Jeano yang memberikan obat sakit perut itu. Jack meminum obat tersebut seperlunya saja, kemudian dia pun beranjak dari sana dan berjalan ke arah ranjangnya sendiri. Sakit perutnya yang tidak separah tadi, 1 jam dirinya berusaha meredakan rasa sakit tapi tidak kunjung bisa. Tapi karena obat yang Jeano berikan semua menjadi baik-baik saja.


"Kau perhatian sekali, terimakasih..." Ketika itu Jack mulai menutup matanya karena kantuk sudah mulai menyerang.


Ucapan yang Jack katakan itu, membuat Jeano membuka mata dan hanya diam saja. Tidak ada jawaban apa pun kecuali dia kembali tertidur, ia rasa semua masalah sakit perut sudah selesai.


...•••...


Jack mengusap matanya itu dan menatap ke segala arah, di mana kembarannya itu? Sampai suara pintu yang terbuka membuatnya menatap ke arah sana, ternyata Hana datang.


"Selamat pagi anaknya bunda, katanya Jeano kamu sakit perut semalam? Ada apa?"


"Dia terlalu banyak minum susu dan makan kue manis. 1 jam buang air besar." Tiba-tiba saja Jeano datang membuat semua orang terkejut akan kehadirannya itu.


Tapi Jeano sepertinya tidak memperdulikan sekitarnya, dia hanya tetap berjalan ke arah meja belajar dan mengambil bukunya yang berada di atas rak buku. Dia duduk di bangkunya, kemudian belajar dengan tenang. Dengan musik mengiringi di dalam kepalanya.


"Benarkah? Kamu minum susu banyak semalam?" Jack tidak menjawab, ia takut jika Hana marah kepadanya karena stok susu di kulkas sudah habis dia minum seorang diri.

__ADS_1


"Hmm..."


"Katakan dengan jujur, bunda tidak mau ada yang menjadi pembohong di sini. Apa kata Jeano benar?" Jack berakhir mengangguk, ia pasrah sekarang dan menatap ke arah punggung Jeano yang sibuk dengan dunianya sendiri.


'Apa dia yang memberi tahu bunda?'


"Lagi pula bunda tidak akan menggigit mu seperti kanibal, kenapa kau hanya diam? Aku benar bukan?" Terkadang Jeano memang menyebalkan.


"Iya, aku minum susu terlalu banyak semalam dan makan kue juga. Itu karena aku tidak bisa tidur semalam."


"Bagaimana bisa? Kamu tidak nyaman di sini?"


"Bukan begitu, hanya saja tempatnya terlalu baru untuk ku. Aku masih kurang beradaptasi." Hana paham apa yang Jack rasakan sekarang, tapi sepertinya bukan hanya Jack yang merasakan semua itu.


Hana yakin Jeano juga hanya saja anak itu tidak mengatakan apa pun, dia hanya diam dan berbicara seperlunya saja. Jika tidak dia akan diam, melukis dan belajar. Hanya itu yang dia lakukan, jika saja dia di ajak jalan-jalan dia akan menolak karena menurutnya membuang waktu.


"Makan ini, ini akan meredakan sakit perutmu." Hana memberikan jahe hangat, dan juga makanan yang dia masak sejak pagi.


Hana beranjak dari sana dan memberikan segelas susu kepada Jeano, dan juga sepiring camilan di sana. Ia hanya melihat bagaimana anaknya itu berusaha menjadi yang terbaik, padahal tidak ada yang memaksanya melakukan semua itu.


"Jangan belajar terlalu keras, istirahat saja jika lelah."


"Hanya sebentar, tugasnya masih belum selesai." Hana membuang nafas panjang, dia mengusap rambut Jeano dan kemudian Hana pun pergi dari kamar anak-anaknya itu. Memberikan ruang untuk anak-anaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2