
Berada di dalam kendaraan yang sama dengan suasana yang hening, pemandangan di luar juga masih hujan. Tidak selebat tadi, hujan sudah bisa di ajak kerja sama setidaknya sebentar saja.
Wildan fokus menyetir, walaupun sesekali ia melirik ke arah Anna yang hanya diam sejak tadi. Apakah ia harus mengatakan apa yang seharusnya dia memang bicarakan? Ia mengecilkan volume radionya membuat Anna menoleh ke arah pria itu.
"Aku ingin bicara dengan mu, tidak keberatan bukan?"
"Kamu mau bicara apa memang?" Wildan masih berpikir, bukan masalah dia bingung harus bicara apa melainkan ia kurang bisa menyusun kata-katanya agar tidak menyakiti orang lain. Wildan cenderung terlalu terang-terangan jika bicara, tidak ada kata yang ia sembunyikan.
"Apa kau benci dengan Hana?" Tidak ada jawaban dari Anna sekarang, dia hanya diam dan seolah tidak berminat menjawab apa pun. Ia justru menatap ke arah jendela mobil, memilih untuk melihat suasana luar ketimbang menjawab pertanyaan Wildan.
Sedangkan pria itu melirik dan ia melihat jika Anna meremat tangannya sendiri, ia sudah tahu apa jawabannya. Jadi pria itu tidak melanjutkan pembicaraan itu, ia hanya mau Anna memperbaiki diri. Sudah hanya itu saja yang Wildan mau, memang Wildan bukan lah siapa-siapa di sini. Tapi ia sudah menganggap semua keluarga dari teman-temannya adalah keluarganya juga bahkan termasuk Anna juga.
Pria itu memang cenderung pendiam, tapi dia juga tahu situasi tanpa harus diberi tahu. Wildan memang mengerti bagaimana perilaku keluarga itu, ia anggap semua itu adalah sebuah kesalahan besar.
Ia ingin marah, jujur saja Wildan ingin marah dan berteriak tepat di depan wajah Anna sekaligus kedua orang tuanya. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Wildan juga tidak bisa melakukan apa pun sekarang.
Tidak beberapa lama sudah sampai di depan rumah perempuan itu, Anna berawal memang hanya diam. Sampai di mana ia mulai berani menoleh ke arah Wildan yang tidak membuka suara sama sekali.
"Terimakasih atas tumpangannya." Ucapnya dan kemudian Anna keluar dari mobil. Namun, pergerakannya berhenti ketika ia merasa jika tangannya di genggam oleh seseorang. Ia hanya diam, sebenarnya Anna terkejut dengan itu.
"Jangan keluar dulu, masih hujan." Ucapnya dengan singkat dan kemudian keluar dengan mengambil payung di bagasi mobil.
Tidak beberapa lama pun Wildan membuka pintu mobil kembali, ia menyuruh Anna untuk keluar secara perlahan karena jalanan juga licin terkena air hujan. Anna menurut saja, Wildan menawarkan pegangan tapi seolah Anna tidak mau melakukan itu. Perempuan itu turun dari mobil, dan berjalan beriringan dengan Wildan masuk ke dalam area lobby rumahnya.
__ADS_1
Pria itu berhenti ketika ia sudah berada di depan rumah Anna, ia membiarkan Anna masuk ke dalam rumah dan pria itu pun baru pergi ketika Anna sudah dipastikan masuk ke dalam rumah. Ia hanya memastikan saja, karena ia juga tahu jika Anna tengah mengandung.
Sedangkan Anna masuk, ia langsung pergi ke kamar dan ia melihat ke arah jendela kamarnya. Masih ada mobil Wildan di depan rumahnya, pria itu tidak segera beranjak dari sana. Anna hanya melihat dari jendela kamarnya saja, mengintip dari balik korden.
Sedangkan di tempat, pria itu masih berdiri di sana dan berada di sekitar mobilnya. Ia ingin masuk ke dalam, tapi ia merasa ada yang memperhatikan dirinya dan itu membuat Wildan menoleh ke arah belakang. Berakhir ia tidak sengaja melihat keberadaan perempuan itu di jendela kamar. Tapi saat tertangkap basah memperhatikan pria itu secara diam-diam, dia menutup kordennya.
Wildan tersenyum tipis, kemudian dia pun masuk ke dalam mobil dan kemudian segera pergi ke kediamannya sendiri. Merasa jika keberadaan Wildan sudah tidak ada lagi, Anna mengintip lagi dari balik korden dan entah mengapa ia merasa aneh.
'Kenapa dengan dia? Apakah dia tidak ada niatan buruk kepadaku? Seharusnya dia membunuhku saja tadi.'
...•••...
Hana hanya berdiam diri, apa yang dia pikirkan sekarang sepertinya terlalu berlebihan. Ia seharusnya tidak memikirkan semua itu, karena percuma saja hanya menjadi beban pikiran saja.
Tapi sepertinya keadaan sekarang, ia tidak bertanya terlebih dahulu. Di tambah jika pertanyaannya menambah beban pikiran Hana, Satya juga tidak mau itu.
Berakhir Hana menurut, dia membaringkan badannya di ranjang dan menutup matanya. Mencoba masuk kedalam alam mimpi, mencoba dan ternyata belum juga berhasil. Ia menoleh ke arah Satya, yang berada di sisinya, sibuk dengan pekerjaannya yang belum selesai. Pria itu merasa di tatap pun menoleh, ia melihat Hana memandanginya.
Sepertinya memang tidak bisa tidur. Satya menarik Hana untuk mendekat ke arahnya, memeluk gadis itu dari samping. Dengan satu tangannya yang masih sibuk dengan laptop dan tangannya yang satu mengusap rambut istrinya agar dia bisa tidur.
Melirik sekilas, wajah itu nampak banyak beban. Satya tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi ia hanya bisa berusaha agar tetap berada di samping Hana. Jika pun Hana mau cerita, maka Satya akan dengan senang hati mendengarkan semua cerita yang Hana ceritakan kepadanya.
"Kamu mikirin apa? Tidak mau cerita sama aku?" Tanya Satya, seharusnya Hana mendengar dan gadis itu benar-benar mendengar hanya saja dia diam saja tidak mau menjawab.
__ADS_1
Berusaha menutup matanya, kenyataannya berbohong bukan lah keahlian Hana. Satya tahu jika Hana belum tidur, bagaimana lagi? Tidak ada jalan lain, ia hanya bisa seperti ini. Memperlakukan Hana seperti ratu satu-satunya, dan membuat Hana nyaman di sekitarnya. Ia tidak mau kejadian lalu terulang lagi.
"Apa aku ada salah dengan Aca, sampai dia benci dengan ku?" Satya berhenti mengetik keyboard tersebut. Ia melirik ke arah Hana, lebih tepatnya menunduk dan melihat bagaimana istrinya menatap dirinya.
Satya mencoba bisa mencari jawaban yang tepat, ia kurang tahu apa permasalahannya. Hana juga tidak berbicara akan masalah yang sebenarnya, ada apa dan kenapa?
"Tidak mungkin Aca benci dengan mu, dia sahabatmu bukan? Jika memang memiliki ikatan sahabat, masalah sebesar apa pun itu tidak akan membuat ikatan itu menjadi kebencian. Tidak ada seperti itu, Hana." Jelas Satya, tentu saja akan membuat Hana terdiam.
Benar apa yang dikatakan oleh pria itu, persahabatan itu adalah sebuah ikatan paling kuat bahkan termasuk ikatan pasangan kekasih pun akan kalah dengan ikatan persahabatan itu sendiri. Tidak akan ada masalah yang membuat ikatan itu menjadi kebencian, karena masing-masing juga sadar.
Jika ada kesalahan biasanya salah satu akan mengatakan sesuatu terlebih dahulu, menjelaskan dan maka lawannya akan mengerti. Tapi jika tidak, dan justru respon adalah buruk. Jangan berharap lebih akan ikatan persahabatan itu, ikatan itu tidak akan pernah ada jika salah satu pihak masih egois dengan dirinya sendiri.
"Tapi dia bilang-"
"Dengarkan aku, sayang. Jangan dengarkan apa kata orang lain kepada mu, termasuk jika aku berkata buruk kepada mu. Jangan di dengarkan, itu hanyalah kata-kata kebencian yang akan membuat mu semakin jatuh. Jangan di pikirkan, kamu fokus dengan masa depan mu, dan buktikan jika apa yang mereka duga adalah kesalahan."
Hana menatap Satya, bagaimana cara pria itu bicara bahkan menjelaskan semuanya dengan cara tenang. Bahkan tidak ada unsur buruk, semua yang dia katakan.
"Berarti-"
"Berarti dia tidak baik untuk mu, maka jauhi saja. Jangan di pikirkan, kamu nanti sakit lagi." Satya memeluk Hana dengan erat, dengan satu tangan tentu saja. Ia berusaha membuat gadis itu nyaman dengannya, dan di mana saling mencintai, seperti apa yang di harapkan.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Tidak masalah, itu kewajiban ku."