
Anna tengah bersama Jeffran, karena pria itu menjemputnya tadi. Tentu saja atas permintaan Anna, jika bukan karena ancaman saat itu mungkin saja Jeffran tidak akan mau melakukan semua itu.
"Ayo kita ke cafe dulu ya." Jeffran tidak menjawab, sampai pandangannya tidak sengaja menatap ke arah seorang gadis yang baru saja keluar dari gedung mampus bersama satu temannya.
Jeffran terpaku akan apa yang ia lihat sekarang, melihat Hana yang sekarang memang membuat Jeffran merasa lega. Tidak akan ada tangisan lagi atau bahkan luka bukan? Jeffran hanya berharap jika Hana hidup lebih baik tanpa dirinya sekarang.
Pria itu terus menatap ke arah Hana sampai gadis itu sepertinya menyadari akan kehadirannya. Bukan karena apa, melainkan suara Anna yang menyebutkan nama Jeffran membuat Hana menoleh dan mencari keberadaannya.
Sampai pandangan mereka bertemu, Hana hanya diam tidak ada tanggapan apa pun lagi. Gadis itu benar-benar terdiam, menatap Jeffran dengan tatapan seolah tidak dapat diartikan lagi.
"Hana? Kamu lihatin apa?" Aca menoleh ke arah ke mana Hana melihat. Namun, gadis itu dengan segera mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada, cepat nanti keburu ketinggalan angkutan."
"Eh! Hana!" Hana menarik Aca untuk segera menjauh dari sana, mengejar angkutan umum adalah alasan yang tepat. Hana tidak mau jika Aca mengetahui ceritanya, cerita di mana menunjukan kisah hidup yang miris.
Jeffran terus menatap ke arah kemana Hana pergi, sampai sebuah tangan menakup wajahnya membuat pria itu menoleh lagi ke arah Anna. Gadis itu menatapnya dengan tatapan sedih kepadanya, entah sedih dalam arti apa.
"Jangan dilihat, kamu sekarang punya aku, ayo." Anna menarik Jeffran untuk segera pergi juga, lebih tepatnya ke tempat ke mana Anna inginkan. Jeffran mengikuti saja dan tidak mau memberikan tanggapan apa pun, bahkan ia diam sepanjang perjalanan.
Ia terus memikirkan Hana, bahkan tatapan Hana kepadanya seolah terus berputar di kepalanya membuat Jeffran tidak bisa fokus dengan apa yang ada di depannya. Tatapan itu kembali ia lihat untuk sekian kalinya, tatapan pedih yang tidak bisa dijelaskan. Dan sekarang Jeffran yang membuat Hana terluka, bukan orang lain.
Di sisi lain. Hana hanya diam, duduk diam menatap ke arah luar dari jendela bus yang ia naiki. Mengingat kejadian tadi membuatnya merasa dadanya sakit, lebih sakit dari biasa ia rasakan. Sampai gadis itu memegang dadanya sendiri saking tidak tahannya menahan rasa sakit itu.
Air matanya menetes membuatnya merasa dirinya sudah jatuh sekarang, hubungannya antara Jeffran masih berlangsung tanpa ada ucapan berpisah satu sama lain. Di sisi lain Hana merasa semua adalah kesalahannya, Hana memang meminta Jeffran untuk menemani Anna dan selalu ada saat saudaranya itu butuh.
Tapi sekarang apa, Hana terlalu baik sampai ia rela menyakiti dirinya sendiri hanya demi seorang saudara yang tidak pernah menganggapnya ada bahkan selalu ingin akan Hana untuk hancur.
__ADS_1
Hana tidak dapat menahan tangisannya, sampai tangisannya dalam diam. Hatinya terus berteriak rasa sakit. Tidak dapat di rasakan lagi, rasanya sesakit ini.
'Aku berusaha merelakan tapi, kenapa begitu berat?'
Sampai seseorang berdiri di sisi Hana dengan tangannya yang berpegangan tiang besi, ia menoleh ke arah Hana dan menatap gadis itu terus menyembunyikan wajahnya begitu saja. Mungkin karena jendela di buka membuat suara luar juga membuat suara Hana tersamarkan.
Lelaki itu menyodorkan tisu tepat di depan Hana, membuat gadis itu menoleh ke arah samping dan menemukannya yang tengah duduk menatap ke depan dengan tatapan datarnya.
"Theo?" Theo, lelaki itu menoleh ketika namanya di sebut dan meletakkan tisu di pangkuan Hana.
"Pakai itu." Ucapnya singkat dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan Hana terdiam dan melihat ke arah tisu di depannya. Ia kembali mendongak, menatap ke arah Theo yang menatap ke arah depan.
Hana tidak kuat menahan tangisannya, walaupun ia tahu itu tempat umum. Gadis itu menggunakan tisu untuk menutupi wajahnya sekaligus menghapus air matanya. Sedangkan Theo berdiri, ia menghalangi pandangan orang-orang yang menatap ke arah Hana.
Theo menunduk dan melihat gadis itu masih menahan tangisannya, sepertinya sesakit itu sampai seperti ini. Theo tidak berpikir banyak hal, karena Hana ia harus meninggalkan motor kesayangannya di kampus.
Lelaki itu membuang nafas panjang dan menatap ke depan seolah tidak ada yang terjadi di sekitarnya, padahal ia tahu betul jika salah satu penumpang tengah menuangkan segala emosionalnya sekarang.
"Ini akan menjadi berita yang bagus."
...•••...
Sampai turun dari angkutan umum, Theo masih berada di samping Hana. Gadis itu memang sudah tidak menangis lagi, tapi matanya bengkak bahkan merah. Mungkin karena terlalu lama menangis dan selalu di tahan.
Lelaki itu mengalihkan pandangannya dan terus berjalan dengan santai, sampai di mana pandangannya terpaku kepada penjual gulali di pinggir jalan. Ia menoleh ke arah Hana, gadis itu masih melamun seperti biasanya. Mungkin hanya memang Aca pawang yang bagus untuk Hana tertawa.
"ikut aku."
__ADS_1
Ucapan singkat itu membuat Hana mendongak dan menatap ke arah Theo, lelaki itu sudah berjalan terlebih dahulu ke arah depan. Hana yang memang memiliki tinggi badan jauh dari Theo berlari untuk menyeimbangi langkah besar lelaki dingin itu.
"Ada apa?" Hana menatap ke arah penjual gulali, bahkan Hana juga melihat anak kecil yang sepertinya mengantri untuk membeli gulali tersebut.
"Diam saja." Theo memang dingin, ia akan mengatakan seperlunya saja. Seolah kata-kata itu ada pajaknya, padahal dia mengeluarkan suara secara gratis dan cuma-cuma.
Hana hanya diam, menoleh ke arah ke sana kemari entah kenapa. Ia hanya merasa ada yang aneh saja, sejak tadi Hana baru sadar jika ia terus bersama Theo bukannya sendirian. Masalah Aca, rumah Aca jauh lebih dekat dengan kampus. Itu alasanya mengapa Aca sebentar saja naik angkutan umum karena rumahnya juga dekat dari sana.
Sampai ketika Hana hendak menoleh dan bertanya kepada Theo, lelaki itu terlebih dahulu menyodorkan permen gulali berbentuk panda kepadanya.
"Di makan." Hana menerima permen itu, sedangkan Theo membayar permen tersebut. Kenapa Theo membelikannya permen seperti ini?
Lelaki itu kembali berjalan tanpa menghiraukan Hana yang masih berpikir banyak. Hana sadar jika Theo sudah pergi dari sana lantas berlari menyusul Theo.
"Kenapa beli ini?" Pertanyaan konyol menurut Theo, kenapa katanya? Theo membuang nafas panjang tapi tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Di makan saja, jangan banyak bicara." Ucapnya, tidak habis pikir ternyata Hana akan banyak bertanya seperti ini. Apa memang aslinya Hana seperti ini? Entah lah Theo tidak terlalu mengerti dan tidak perduli akan itu.
"Tapi kan-" Theo berhenti melangkah, ia mengambil permen kapas itu satu cuil dan memasukan permen itu ke dalam mulut Hana yang terus berbicara.
Tentu saja tindakan itu membuat Hana diam, bahkan mata bulatnya itu melotot lucu karena terkejut. Bolehkah Theo mencubit pipi gembul itu? Boleh kah? Sepertinya Theo akan gila sekarang. Tapi dari pikirannya yang ingin menerkam Hana itu, wajahnya masih datar sejak tadi tidak mengubah ekspresi apa pun.
"Kau ini cerewet sekali, tinggal makan saja." Hana terdiam, ia hanya menatap ke arah Theo yang berjalan mendahuluinya lagi untuk sekian kalinya.
Hana masih terkejut, bahkan matanya masih melotot lucu. Sedangkan Theo berjalan dengan menahan senyumannya, yang padahal pertahanan itu sudah runtuh. Theo tersenyum tipis, begitu sangat tidak terlihat jika dia tengah tersenyum sekarang.
Lelaki itu menjilat jarinya yang terkena permen kapas tadi, dan ia sadar akan itu jika jarinya bekas bibir Hana tadi. Ayolah jangan membuat lelaki dingin itu gila sekarang.
__ADS_1
'Manis sekali.'