Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 115


__ADS_3

"Mau apa lagi setelah ini?" Sekarang berada di perjalanan mengelilingi kota berdua saja. Entah kenapa Johan ada pemikiran untuk mengajak Hana jalan-jalan, karena selama beberapa waktu perempuan itu tidak meminta apa pun.


Padahal di usia kehamilannya sekarang, seharusnya Hana meminta sesuatu untuk memenuhi keinginannya selama mengidam. Tapi kenapa dia tidak meminta apa pun? Terakhir nasi padang itu pun sudah cukup lama.


"Aku tidak tahu, jalan-jalan saja."


"Kamu yakin? Jika ingin sesuatu katakan saja oke?"


"Iya, nanti aku akan langsung bilang." Johan hanya mengangguk mengiyakan saja. Mereka masih berdiam diri satu sama lain.


Sampai di mana Hana menatap ke arah salah satu resto kecil di pinggir kota, itu membuat Johan secara reflek mengarahkan mobilnya ke sana. Arahnya berputar balik karena kelewat beberapa jarak saja, itu membuat Hana kebingungan.


Johan benar-benar memutar arah dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Mematikan mesin mobilnya, dia menoleh ke arah Hana yang ternyata menatapnya sejak tadi.


"Ada apa? Kamu mau bukan? Ayo turun, dan pilih apa yang kamu mau." Johan tersenyum singkat, dia turun dari mobil bersamaan dengan Hana yang juga ikut turun.


Ibu hamil itu berusaha tetap seimbang di tengah hamil besarnya itu sekarang, Johan menuntun Hana masuk ke dalam resto kecil itu. Walaupun restonya tidak terlalu besar seperti resto di sebelahnya, tapi lumayan ramai keadaannya. Masih ada tempat untuk menikmati makanan tidak ada yang perlu di permasalahkan.


Johan membawa Hana ke salah satu meja dan memesan makanan yang perempuan itu mau. Sepertinya dia hanya penasaran saja dengan restorannya karena gaya restorannya yang unik jarang di temui. Hana terus menatap menu makanan di depannya, tapi dia bingung memilih.


Pria itu masih menunggu, dan pelayannya juga tidak masalah jika harus menunggu. Mungkin saja dia melihat perut Hana yang besar membuatnya harus bersabar, orang hamil labil.


"Pilih saja, jangan pikirkan harganya." Johan selalu mengatakan itu semua berulang kali, Hana memang tidak terbiasa di traktir, biasa juga bayar sendiri.


Tapi sekarang ia berada di negara di mana ia tidak tahu bagaimana konsepnya, bahkan bahasa yang di gunakan kurang bisa Hana kuasai. Jadi memang biasanya Johan yang bicara atau mengatakan sesuatu kepada orang-orang. Hana akan diam menyimak tidak tahu apa yang di katakan.

__ADS_1


Walaupun Hana bisa bahasa Inggris, tapi Inggris yang digunakan di Australia tentu saja berbeda. Walaupun tulisannya berbeda, cara baca yang juga berbeda dan beda artinya. Itu membuat Hana kurang yakin jika mengatakan bahasa Inggris.


"Pilihkan saja, tapi jangan ada strowberrynya."


"Bukannya kamu suka buah itu? Kenapa tidak?" Yang dirinya tahu, Hana suka buah strawberry. Bahkan dalam makanan atau cemilan ia sering melihat Hana membeli makanan yang ada rasa strowberrynya. Lumayan aneh jika dia menolak makanan favoritnya sendiri.


"Baiklah, coklat saja ya." Berakhir Johan yang memesan makanannya dan Hana hanya menyimak dengan penuh pertanyaan di kepalanya sekarang.


Setelah memesan apa yang di inginkan, sejujurnya kehamilan yang Hana alami sekarang cenderung lumayan aneh. Bukannya ada masalah, tapi hanya saja semua sifat bahkan makanan favorit terkadang di skip olehnya karena alasan yang aneh.


Hana suka dengan kopi, dia sering minum kopi jika tengah melakukan suatu kegiatan seperti menulis buku atau bahkan menggambar. Tapi sekarang dia menolak minuman kopi dengan alasan aromanya tidak enak.


Kata Jihan itu wajar, perubahan saat hamil akan terjadi karena bayinya juga. Apakah ketika bayi itu lahir dia tidak akan suka kopi? Itu yang selalu Johan pikirkan terkadang.


"Bagaimana buku yang kamu tulis? Apa sudah selesai?" Hana menggelengkan kepalanya, buku yang dia tulis belum sepenuhnya selesai karena harus banyak menulis banyak hal.


Johan tidak keberatan asalkan tidak membuat perempuan itu kelelahan, kedua hobi yang memang dikembangkan oleh Hana sekarang. Akhir-akhir ini Hana juga sibuk merajut, menulis dan menggambar. Perempuan itu terus melakukan semua itu dan terkadang Johan berpikir jika ia ingin melakukan sesuatu. Seperti membuka sebuah galery khusus dengan lukisan yang Hana buat. Bukankah ide bagus?


"Aku memperbolehkan mu menulis atau melakukan sesuatu sesuka mu, tapi ingat jangan sampai kelelahan, mengerti?"


"Iya aku tahu, lagi pula aku tidak sering."


Keduanya mulai dekat sekarang, berbeda dengan dahulu yang di mana Hana hanya tahu nama saja dan jarang berkomunikasi. Mungkin karena satu rumah, terbiasa bertemu dan memang itu efeknya. Terlalu banyak bicara, Hana memang terlalu banyak bicara jika sudah nyaman dengan seseorang. Bahkan hal random bisa dia ceritakan kepada seseorang yang menurutnya akan mendengarkan dirinya.


Jihan dan Johan, keduanya sudah Hana anggap lebih dari teman atau bahkan sahabat. Tapi sepertinya Hana tidak menyadari jika Johan terlalu berharap kepadanya selama ini. Hana melupakan bagaimana perasaan yang dia sembunyikan selama ini, Johan masih berharap.

__ADS_1


Tidak beberapa saat makanan sudah sampai, begitu menarik perhatian. Hana senang jika bisa mendapatkan apa yang dia mau, ternyata pilihan Johan tidak buruk.


"Makan yang banyak, jika kamu mau nambah saja lagi."


"Tidak, ini saja cukup." Hana tersenyum ke arah Johan, seolah ingin mengatakan sesuatu. Dan pria itu hanya menunduk menghindari kotak mata, terkadang terlalu dekat tidak baik untuk jantungnya.


"Apakah di sini ada jualan empek-empek?" Johan mendadak berhenti, menatap ke arah Hana yang di mana perempuan itu memandangnya dengan tatapan polosnya.


"Apa? Empek-empek?" Hana mengangguk mengiyakan apa yang Johan katakan tadi.


Entah kenapa Hana hanya mau saja makanan palembang itu, sudah lama tidak makan makanan Indonesia dan terakhir nasi padang kemarin, mendadak Hana pikirannya random.


"Aku tidak tahu apakah ada yang jualan di sini, mau aku belikan online?"


"Kamu buatkan ya."


"Hah? Apa?" Perkataan yang Hana katakan membuat Johan tersedak makanannya sendiri, perempuan itu terkejut ketika melihat Johan tersedak dan minum dengan brutal seperti itu.


Sepertinya dia terkejut dengan keinginan yang Hana katakan, apakah terlalu merepotkan? Hana mendadak menyesal mengatakan apa yang dia mau, entah kenapa dia jadi ingin saja padahal sebenarnya bukan dirinya yang mau. Apakah ini yang di namakan bawaan bayinya? Hana masih tidak paham terkadang.


"Kalau tidak mau tidak apa-"


"Ayo kita belanja bahannya, tapi habiskan dulu makanan mu."


"Kamu mau?"

__ADS_1


"Apa pun untuk mu akan aku lakukan, ayo habiskan makanannya nanti rotinya nangis." Ucapnya sesekali tertawa pelan, Hana hanya diam dan merajuk kesal. Memangnya dia bayi apa bagaimana? Tapi karena efek perkataan Johan tadi membuat wajah Hana mendadak merah padam, semoga saja pria itu tidak melihat.


__ADS_2