
"Bagaimana kabar mu? Aku dengar kau pergi ke kampung halaman mu beberapa waktu lalu, aku pikir kau tidak akan kembali." Ia hanya tersenyum menanggapi perkataan temannya itu.
"Omong kosong, tentu saja aku akan kembali lagi. Urusan ku sudah selesai di sana." Rio mengangguk, ia menatap ke arah Jeffry yang tengah meminum minumannya.
Bukan minuman alkohol, melainkan jus buah yang dicampur dengan soda. Itu kesukaan Jeffry jika pria itu datang ke tempat tersebut, dia pergi ke sana bukan untuk melakukan kejahatan melainkan dia hanya mau bertemu dengan temannya yang kebetulan memang kerja di sana. Club itu adalah milik kakaknya Jeffry.
"Apa kau sudah tahu sesuatu?" Jeffry meneguk minumannya dan ia berhenti, dia menatap gelas kaca yang dia pegang sekarang. Menatap air berwarna merah itu yang terbuat dari sari buah.
"Ya, aku sudah tahu semuanya." Jeffry mendadak muram, ia masih khawatir dengan gadis itu.
Padahal memang niat Jeffry kembali adalah memperbaiki hubungan sekaligus memeriksa apakah keadaan gadis itu baik-baik saja sekarang, tapi karena memang belum ada waktu untuk bertemu, ia tidak tahu bagaimana keadaannya.
Rio melihat bagaimana raut wajah Jeffry yang nampaknya dia tengah banyak pikiran sekarang. Banyak yang terjadi memang, bahkan tidak akan ada yang menduga jika kejadian itu terjadi. Semua sudah terlanjur, biarkan saja waktu yang menjawab semua misteri ini dan menunjukkan sendiri, apa yang sebenarnya terjadi?
Tidak ada yang baik-baik saja sekarang. Jujur saja Jeffry masih kepikiran, jika belum bertemu maka dia masih terbebani dengan pikirannya sendiri.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Pertanyaan Rio membuat Jeffry menatap ke arah temannya itu, dan menjawab pertanyaan itu dengan menggelengkan kepalanya.
"Belum, aku sudah pergi ke rumahnya. Tapi aku tidak menemukannya, ada sebuah keanehan yang membuat ku penasaran ketika aku sampai di sana."
"Memangnya keanehan apa?"
"Penjaga bilang tidak ada orang di rumah, tapi aku melihat mobilnya masih di rumah. Apakah itu aneh?" Rio mendadak ikut kepikiran dengan apa yang Jeffry katakan tadi.
__ADS_1
Ada benarnya juga, jika saja mereka berdua tidak ada di rumah dan mengatakan jika mereka pergi, maka seharusnya tidak ada mobil di rumah. Rio tahu betul bagaimana Satya, pria itu akan membawa mobilnya kemana pun dan mustahil. Bahkan terakhir mereka berdua bertemu saja baru kemarin, mobilnya masih sama. Mana mungkin ganti baru secepat itu? Tapi bisa jadi, Satya orang terpandang. Bukan hal yang mustahil jika dia membeli kendaraan baru.
Tapi hanya aneh saja, mereka sudah berteman lama dan itu bukan 1 atau 2 tahun mereka saling kenal. Tapi mereka memang sudah kenal bertahun-tahun, sejak sekolah menengah pertama.
"Apa kau merasa ada sesuatu yang aneh?" Jeffry kembali bertanya kepada Rio, dan pria itu tidak bisa menjawab dengan pasti. Apakah ia harus memberi tahu Jeffry tentang apa yang dirinya tahu? Jeffry berhak tahu, karena dia adalah sahabat masa kecil Hana.
'Apa aku harus memberi tahunya tentang kemarin atau tidak? Tapi aku hanya takut jika pertemanan terjalin lama ini akan hancur.'
...•••...
Mungkin sudah hampir 1 minggu ia melewati hari-harinya selama ini, membiarkan semua terjadi begitu saja tanpa harus ia melakukan sesuatu, sebenarnya ia sudah merasa lelah. Tapi untuk mengejarnya, sepertinya seolah tidak akan ada kata lelah.
Bagaimana cara menjelaskannya sekarang? Kalian pasti tahu rasanya bagaimana mengejar seseorang yang di mana kalian tahu dia tidak akan pernah akan melirik ke arah kalian walaupun itu hanya satu detik saja, benar bukan? Kalian pasti tahu bagaimana rasanya itu, sebelum perasaan lelah yang mendalam di rasakan maka tidak akan ada kata menyerah nantinya.
Bukannya dia tidak mau pergi, Hana hanya mau masih berjuang sampai di mana ia benar-benar merasa lelah. Sebelum itu ia tidak akan berhenti, tidak akan pernah. Katakan saja jika Hana adalah seseorang yang bodoh, padahal dia juga tahu semua itu sudah terlalu kelewatan hancur. Apakah dia harus merasakan kehancurannya sendiri?
"Apakah nona yakin tidak mau berbicara kepada nyonya besar? Keadaan nona sudah terlalu-" Bahkan penjaga rumah juga tahu bagaimana rusaknya rumah tangga itu, dia adalah saksi dari sekian. Tapi dari kalimat yang gadis itu dengar, bagaimana reaksinya yang tidak dapat diduga hanyalah senyuman seolah dia masih benar-benar kuat.
"Tidak, jangan katakan ini kepada bunda. Aku tidak mau Satya terkena masalah hanya karena aku, paman jangan khawatir. Aku baik-baik saja."
Mungkin Hana sudah kelewatan gila, bagaimana bisa dia tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sejak dahulu? Bukannya Hana tidak mau, ia hanya tidak bisa melakukan semua itu karena ia tidak mau juga menambah masalah yang sudah ada.
Masalah yang ini saja belum selesai, bagaimana bisa Hana menambah masalah lagi? Hana tidak akan melakukan itu meskipun ia ingin bercerita banyak tentang kesehariannya. Bersandiwara seolah baik-baik saja tidak akan masalah untuknya.
__ADS_1
"Anda yakin? Saya khawatir, luka anda sudah terlalu parah. Apakah saya harus membawa anda ke rumah sakit untuk periksa?"
"Jangan, aku tidak apa-apa paman. Sungguh, aku baik-baik saja, paman jangan khawatir."
Pria paruh baya itu hanya bisa diam, ia tidak bisa main bicara saja tanpa ijin dan itu sama saja lancang. Tapi ia juga tidak mau kalau Hana mendapatkan imbasnya, ia sudah cukup melihat semua ini dengan matanya sendiri dan harus menahan semua rasa sakit yang tidak nampak tersebut.
...•••...
Tepat di malam hari, waktu memang berjalan dengan cepat sekarang dan ia seperti biasa menunggu Satya pulang ke rumah. Hana juga sudah masak makanan kesukaan Satya, meskipun ia tahu jika pria itu tidak akan mau memakan masakannya sekarang.
Ia terus menunggu, bahkan sampai jam menunjukkan ke arah 12 malam lewat. Suaminya itu belum memperlihatkan dirinya sama sekali, tidak sama sekali bahkan entah kenapa.
"Satya kemana ya? Kenapa dia belum pulang juga?" Sejujurnya Hana khawatir, tapi bagaimana lagi sekarang? Tidak ada yang di pikirkan.
Tapi tanpa Hana tahu. Di tempat lain, di mana pria itu menunggu gadis itu sadar akhirnya tercapai. Dia sadar, bahkan gadis itu senang sekali ketika hal yang dia lihat pertama adalah cinta pertamanya. Satya, dia berada di rumah sakit menemani seseorang yang jelas mereka berdua tidak ada hubungan apa pun.
"Apa kamu butuh sesuatu?" Pertanyaan yang begitu lembut menerpa, gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Ia hanya benar-benar membutuhkan Satya saja, sisanya ia tidak akan butuh selama Satya berada di sampingnya. Dia sadar sekali apa yang dia lakukan jelas salah, jelas memang sebuah kesalahan besarnya tapi tidak bisa munafik, gadis itu mencintai Satya yang jelas dia sudah memiliki status suami orang, suami sahabatnya sendiri.
"Kamu tetap di sini sama aku kan? Aku butuh kamu, jangan pergi ke mana-mana." Satya mengangguk, ia menyetujui akan itu dan dia tidak akan meninggalkan Aca sendirian selama gadis itu belum pulih total.
"Aku tidak akan ke mana-mana, istirahat lah. Jangan terlalu banyak gerak, lukamu belum pulih." Aca tersenyum, ia senang. Sangat senang bahkan melebihi dari apa yang dirinya harapkan, kehancuran yang dia mau akhirnya terjadi.
__ADS_1