
Kemungkinan memang tidak pasti, tapi yang namanya kehidupan memang tidak ada yang bisa di tebak apa yang akan terjadi ke depannya. Di mana sebuah masalah akan datang tanpa aba-aba, bersamaan dengan suasana yang lain. Tidak bisa di prediksi, itu lah kehidupan yang banyak orang jalani sekarang.
Masalah akan tetap datang, itu adalah sebuah cara di mana tuhan memberikan sebuah cobaan dan memberikan sebuah kekuatan penuh untuk menghadapi ke depannya. Bukan karena tuhan tidak adil atau semacamnya, tidak sama sekali.
Jangan dengarkan apa kata orang lain, tuhan justru membuatmu semakin kuat. Semakin banyak cobaan yang kalian lewati, maka tandanya kalian juga semakin kuat dan semakin tinggi derajat kalian dari yang lain.
Dan sekarang lihatlah, seorang gadis yang selalu menyembunyikan masalahnya di balik tawa konyolnya. Dia hampir menyerah karena segala masalah datang secara bersamaan, dia juga manusia biasa yang juga bisa merasakan lelah.
Tapi dorongan dari orang-orang terdekatnya membuatnya kuat sampai sekarang. Jihan berjalan ke arah Hana, dia memeluk perempuan itu dengan erat. Semua kekuatan yang ia miliki adalah kekuatan dari orang-orang yang sayang kepadanya, itu nyata adanya.
"Kamu sudah pulang..."
Jihan tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya memeluk Hana dengan erat. Dia tidak punya rumah lain selain perempuan itu dan juga sepupunya. Semua rumah yang dia harapkan selama ini, hancur berkeping-keping tanpa sisa.
"Jangan lakukan itu lagi, kau membuat kami khawatir, Jihan. Jika ada masalah, tidak masalah kamu cerita setidaknya hanya sedikit saja. Jangan sembunyikan apa pun, kami perduli kepadamu. Kau dengar?" Jihan melepaskan pelukannya dari Hana, menoleh ke arah keduanya.
Entah hati apa yang tuhan buat untuk mereka berdua? Mereka sangat kuat menghadapi banyak hal, bahkan sampai di titik sekarang menemukan kebahagiaan sendiri. Jihan memang harus meniru, ia juga bisa bahagia dengan caranya sendiri.
"Terimakasih, hanya kalian harapan terakhir ku untuk tetap di sini." Jihan tidak bisa menahan tangisannya sekarang, ia terlalu lemah jika sudah masalah menahan tangisan. Ia sungguh tidak akan bisa menahan emosionalnya itu.
"Kamu akan tetap di sini, jangan pergi ke mana pun. Tetaplah di sini..." Jihan mengangguk dengan semangat dan memeluk Hana lagi.
"Aku akan belajar menerima semua ini, aku akan mencoba..."
__ADS_1
"Kamu memang harus mencoba, temukan kebahagiaan mu sendiri dengan caramu sendiri, itu yang harus kamu lakukan sekarang."
...•••...
Ia pergi ke kampus seperti biasanya, tapi hanya saja ia hanya mau sendirian dan tidak seperti biasanya dia sendirian seperti itu. Jihan naik mobil dari rumah, karena Johan tidak bisa mengantar Jihan ke kampus. Dia sibuk di kantor selama seharian ini, tugasnya cukup banyak.
Jihan juga tidak protes, dia juga memaklumi mengapa pria itu begitu sibuk. Menyusun masa depan dengan calon istrinya memang sedikit rumit, tapi Jihan mendukung sepenuhnya. Gadis itu berjalan memasuki lobby, sampai di mana seseorang memanggil namanya membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.
Tapi dia tidak mengalihkan pandangannya yang tetap lurus ke depan sana, seseorang sudah berdiri di depannya menghalangi segalanya. Jihan hanya diam, sampai di mana gadis itu tersenyum seperti biasanya seolah tidak ada yang terjadi.
"Baguslah kau berangkat hari ini, aku mau bicara dengan mu, Jihan. Apakah kamu ada waktu?" Lino tiba-tiba saja datang tanpa di duga, pria itu langsung bertanya kepadanya tentang hal itu yang membuat Jihan tidak bisa berkata apa pun.
"Aku berkata tidak pun, kau akan memaksaku. Tapi aku sibuk hari ini, bisa lain kali saja? Aku tidak ada waktu."
Ia tidak bisa melakukan apa pun, setelah apa yang dia ketahui sekarang. Lino tidak bisa memaksa kehendaknya begitu saja karena di sisi lain Jihan juga punya hak atas menjawab dan memutuskan ke depannya.
'Kamu berubah, Jihan...'
Sedangkan gadis itu berjalan melewati, sejujurnya ia tidak terbiasa melakukan semua ini. Tapi di sisi lain ia harus melakukan semua ini, demi kebaikannya. Jihan pantas bahagia seperti apa yang dikatakan Hana kepadanya.
Dia hanya melewati, sampai di mana tanpa ia sadari jika air matanya sekilas menetes begitu saja. Jihan berusaha bersikap normal, mengusap air matanya dengan kasar dan kemudian dia masuk ke dalam kelas.
Lino masih terdiam di sana, ia tidak menyangka seseorang akan datang di depannya sekarang. Kaisal, pria itu baru saja datang dan dia juga baru saja turun dari motornya.
__ADS_1
Pria itu tidak sengaja saling menatap, tapi tatapan yang datar itu membuat Lino merasa memang ada sesuatu. Lino pun menghampiri Kaisal di sana, dia mencegah pria itu sejenak. Ia hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini?
"Tunggu dulu." Kaisal seketika berhenti, dia melirik ke arah Lino yang menghampirinya. Kaisal tentu saja mengalihkan pandangannya, berbalik ke atan Lino yang berlari ke arahnya. Entah apa yang akan dia katakan nanti.
"Ada apa? Jangan membuang banyak waktu, banyak tugas hari ini."
"Aku tidak akan membuang waktumu, tenang saja. Aku hanya bertanya, apakah kau tahu tentang Jihan yang mendadak berbeda seperti itu? Kau juga dekat dengannya-"
"Kau yang sudah mengenalnya sejak lama, di antara kau dan aku. Kau yang lebih lama mengenalnya, bagaimana bisa kau bertanya kepada ku? Aku pikir kau sudah tahu."
"Apa maksudmu?" Kaisal tertawa pelan, ia seolah meremehkan Lino sekarang. Pertanyaan konyol yang Lino tanyakan kepadanya membuatnya tertawan.
Bagaimana bisa dia bertanya tentang semua itu kepadanya? Di antara Kaisal dan Lino, yang paling dekat bahkan memang mengenal Jihan sejak lama adalah Lino, bukan Kaisal. Kaisal baru saja bertemu dengan Jihan ketika menginjak bangku 2 sekolah menengah ke atas, itu termasuk belum lama.
Sedangkan Lino, dia sudah tahu Jihan sejak dia masih kecil. Pertanyaan konyol jika dia justru malah bertanya kepada Kaisal tentang Jihan, dia memang terkadang lawak. Lawakan yang sangat tidak lucu.
"Lupakan saja, lebih baik kau urus saja kekasihmu itu. Masalah Jihan, aku akan tangani dia sendirian. Kau tidak perlu mencari tahu, jika kekasih mu tahu jika kau masih perduli dengan Jihan. Dia akan menyebut Jihan sebagai perempuan egois, aku tidak mau itu terjadi." Ucapnya dan setelah itu dia pun beranjak dari sana, pergi begitu saja tanpa penjelasan lain.
Lino yang merasa kurang paham dengan keadaan semakin di buat bingung, pria itu bahkan sampai menjambak rambutnya sendiri. Ada apa dengan semua ini? Kekacauan yang terjadi ketika semua orang tahu jika Lino memiliki hubungan dengan Risa.
Sebenarnya tingkah Kaisal memang sudah seperti itu sejak dulu, dia hanya akan bersikap tenang ketika di depan Jihan saja karena menurutnya perempuan tidak bisa di kasar. Tapi sikap Jihan?
"Ada apa dengan semua ini? Kenapa menjadi berubah?"
__ADS_1