
Theo tengah berbelanja bulanan, ia menemani bundanya karena dia yang memintanya. Merindukan momen berdua dengan anak laki-lakinya adalah sebuah momen langkah, di tambah kegiatan anaknya itu sangat padat. Ia mengerti jika akhir-akhir ini Theo sering tidak banyak keluar kamar, dia akan keluar kamar jika perlu saja. Jika tidak, ia tidak akan keluar kamar selama seharian penuh hanya untuk belajar.
Tuntutan dari ayahnya membuatnya seperti itu, tidak ada waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri dan justru dia sibuk dengan tuntutan orang tuanya. Ia tidak tahu harus berbicara bagaimana, karena jujur saja pria itu memang keras.
Di tengah-tengah kegiatan seperti ini, wanita itu memilih bahan makanan dan sisanya Theo hanya tinggal mengikuti saja dari belakang sambil mendorong troli. Ia juga seseorang melihat ke segala arah, sampai tidak di sengaja ia melihat keberadaan seseorang.
Orang itu menatapnya dan memainkan ponselnya setelah itu. Theo memeriksa ponselnya setelah terdengar suara dering di sakunya, sampai di mana ia tahu siapa yang melakukan itu.
"Aku ingin bicara dengan mu, bisa bukan?"
Theo hanya diam, tapi di mana ia mengangguk untuk mengiyakan ajakan tersebut. Setelah hampir 2 jam ia menemani bundanya berbelanja, ia menyuruh bundanya untuk pulang terlebih dahulu karena ia ada urusan dan bundanya tidak bisa melarang.
Pria itu berjalan masuk ke bagian belakang alfamart tersebut, bertemu dengan seseorang yang sudah lama menghilang dengan alasan kesengajaan. Ia sengaja pergi, karena ia ingin melihat semuanya melalui seseorang saja.
"Ada apa?" Theo langsung bertanya tanpa harus basa basi, ia benci harus membuang banyak waktunya hanya untuk basa basi tidak jelas.
"Apa yang di katakan Stefan itu, benar?" Kembali terdiam di antara keduanya, antara pria itu dan Theo tidak ada yang merespon satu sama lain sampai Theo sendiri yang menjawab.
"Benar, itu semua benar."
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal-"
"Karena aku tahu pada akhirnya kau akan melakukan sesuatu, aku tidak mau menyakiti hati mu. Maka itu aku merahasiakan semua itu dari dirimu, dan sekarang kau tahu sendiri. Sekarang harus bagaimana? Tidak ada yang bisa di salahkan kecuali dirimu maju di barisan paling depan di saat dia tengah jatuh. Itu adalah kesempatan terakhir atau tidak sama sekali."
Theo menjelaskan semuanya apa yang terjadi, ia sudah melaporkan semua dengan berbagai bukti. Karena ia juga tahu jika pria di depannya tidak akan percaya dengan sebuah ucapan sebelum pembuktian itu di tunjukan kepadanya. Dan sekarang Theo memiliki semua bukti, bahkan semua saksi pun ia juga punya.
Pria itu hanya diam mendengarkan apa yang di katakan Theo sekaligus, melihat foto itu. Jujur saja, semua nampak menyakitkan untuknya tapi itu juga kesalahannya. Ia menatap ke arah Theo, pria itu hanya menatapnya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Kau menyukainya." Kalimat itu seketika membuat jantung Theo rasanya akan meledak, ia menatap tajam ke arahnya dan itu membuat pria itu tersenyum miris.
"Karena aku sudah kembali, mari kita bersaing untuk mendapatkannya secara adil." Ucapnya membuat Theo semakin tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.
"Apa maksudmu?"
"Kau pasti paham dengan apa yang aku katakan, Theo."
...•••...
Hana tengah berjalan sendirian di taman, hanya ingin sendirian dan lagi pula Satya sibuk dengan urusan pekerjaannya. Karena ia baru saja mendapatkan jabatan sebagai petinggi di perusahaan keluarganya, jadwalnya bertambah sibuk dan Hana memaklumi akan itu.
Gadis itu tidak keberatan akan waktu luang suaminya banyak tersita untuk pekerjaan, ia tidak akan mempermasalahkan semua itu. Hana juga mengerti dengan apa yang dirasakan Satya sekarang, semua rasa lelah itu.
"Kita bertemu lagi." Suara barinton seseorang membuat Hana terdiam, gadis itu langsung menoleh ke arah samping di mana seseorang berdiri di sana.
"Johan..."
"Aku pikir kau lupa kepadaku."
Ucapnya dengan nada datar, pria itu berdiri tepat di depan Hana. Entah kenapa merasa memang ada sesuatu, pria itu datang secara mendadak dan muncul secara tiba-tiba membuat Hana terkejut. Bahkan kepergiannya saat itu terkesan mendadak juga, seolah benar-benar tidak ada aba-aba darinya saat melakukan sesuatu.
Johan kembali setelah hampir 2 tahun ia tidak berada di tempat kelahirannya, jujur saja jika bukan karena pekerjaannya di Indonesia. Mungkin dirinya tidak akan pulang dan menginjakkan kakinya lagi di sana, tapi beruntung. Ia sangat senang ketika ia memang harus kembali, ada sebuah kesempatan yang ingin ia lakukan.
"Selamat atas pernikahan mu, maaf aku tidak bisa datang ke acara pernikahan mu." Ucapnya dengan senyuman, senyuman palsu yang membuat siapa saja akan terkecoh bahkan termasuk Hana. Gadis itu tidak tahu apa yang pria itu rasakan sekarang, perih.
"Tidak apa-apa, aku senang bisa melihat mu lagi setelah 2 tahun."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu? Aku harap tidak ada yang terjadi kepadamu." Perkataan itu membuat Hana terdiam, gadis itu seketika mengingat semua apa yang terjadi. Tidak bisa dirinya jelaskan semuanya.
Johan sudah cukup menolongnya dahulu, bahkan dia merelakan semua waktunya untuk Hana. Melawan semua orang hanya untuk membela dirinya, bukanlah suatu hal yang mudah. Hana hanya sadar diri.
"Semua baik-baik saja."
"Aku harap itu bukan kebohongan."
Hana hanya tersenyum sebagai jawaban atas semua perkataan yang Johan lontarkan, sebenarnya Johan mengetahui semuanya tapi ia mencoba tidak terlalu gegabah. Ia tidak mau membuat gadis itu menjauh dari dirinya, sangat tidak akan rela. Di sisi lain ia ingin melakukan sesuatu, apa yang dia katakan harus terjadi dan apa yang dia inginkan harus dia lakukan bagaimana pun caranya.
Anggap saja dia seperti seseorang yang egois dan juga terlalu ambisius. Tapi apakah salah jika Johan melakukan semua itu? Ia hanya ingin melindungi seseorang yang secaranya pantas untuk dirinya lindungi.
"Sudah malam, kenapa kau di luar?" Johan duduk di bangku yang kosong, dan tentu saja memberikan jarak. Walaupun masih ada perasaan yang tersimpan ia juga harus menghargai seseorang.
"Hanya ingin..." Johan mengangguk paham, mungkin sekarang adalah masa di mana seseorang harus belajar mandiri dan menghadapi semua sendirian. Mungkin?
Setelah beberapa lama mereka tidak saling membuka suara karena sibuk dengan pikiran masing-masing, Hana yang memikirkan banyak hal terutama tentang Aca yang menjauh dari dirinya. Sedangkan Johan, pria itu memang tidak bisa di tebak apa isi pikirannya. Ia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi apa pun, padahal otaknya penuh dengan pikirannya sendiri.
Johan menoleh ke arah Hana, di mana gadis itu masih melamun sendiri dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin ada banyak kejadian yang Johan lewatkan selama ini, walaupun ia ingin mengetahui semuanya dari akar-akarnya. Ia masih sadar akan privasi seseorang.
"Jika ada sesuatu, kamu bisa menghubungi aku. Aku akan membantumu dengan senang hati." Ucapnya membuat gadis itu menoleh dan kemudian tersenyum kembali.
"Terima kasih, tapi kamu sudah terlalu banyak membantu ku."
"Itu bukan sebuah masalah."
__ADS_1