
Ia menatap dirinya sendiri di cermin, apakah ia harus melakukan ini? Tapi ia tidak mau terlihat menyedihkan jika tidak datang ke acara itu, walaupun ia sudah tahu jika dirinya hanyalah sebuah bayangan saja.
"Kamu yakin akan datang? Jangan memaksakan diri, Hana." Hana menoleh ke arah Dimas, ia hanya tersenyum menunjukkan jika dirinya sendiri adalah baik-baik saja.
Dimas yang melihat senyuman itu, ia tidak senang karena senyuman itu adalah sebuah kepalsuan belaka. Ia tahu, bukan sebuah alasan lain yang membuat Hana harus datang ke sana. Tapi kedua orang tuanya yang memang sangat brengsek itu menyuruh Hana datang, dan tentu saja Dimas akan ikut dengan Hana.
Memastikan keadaan Hana baik-baik saja, walaupun tidak begitu yakin dengan semua itu. Dimas tidak tahu bagaimana perasaan Hana sekarang, ia tidak bisa paham karena belum mengalami. Tapi bagaimana rasa perih itu juga lolos ke hatinya juga, seorang kakak tidak akan menerima rasa sakit adiknya yang dia alami.
"Aku tidak apa-apa..." Dimas hanya diam, sampai di mana dia menggandeng tangan Hana. Membawa perempuan itu keluar dari apartemen, mereka akan berangkat ke acaranya sekarang juga.
Tentu saja semua orang akan datang, termasuk teman-teman Dimas dan juga geng sebelah. Mereka pasti terkejut dengan berita ini, tentu saja mereka tidak akan menduga semua ini.
Sampai di mana mereka berdua sudah sampai di parkiran apartemen itu, masuk ke dalam mobil itu dan mereka berdua pun berangkat ke acaranya. Tentu saja Hana harus menyiapkan hatinya sendiri agar tetap kuat sampai akhir acara nanti.
Ia tidak yakin, apakah ia bisa? Walaupun sejujurnya Hana masih belum merelakan pria itu bersama saudaranya sendiri, tapi ia juga ikut merasa salah dalam semua ini. Seharusnya memang bukan Hana yang berada di sana, terlibat di antara keduanya saat itu.
Di dalam perjalanan yang hanya di isi dengan kesunyian saja, mereka berdua sama-sama tidak membuka suara sama sekali. Tepat mereka sampai di depan gedung di mana acara akan di laksanakan di sana. Berhenti di sana, Dimas tidak langsung mematikan mesin mobilnya, dia terdiam di sana beberapa saat. Hana yang melihat pria itu hanya diam tentu saja merasa kebingungan sekarang, tapi secara tiba-tiba saja Dimas menatapnya dan mengatakan.
"Jika kamu tidak kuat, kamu boleh pergi dari sana..." Mungkin Dimas merasa jika Hana tidak akan tahan sampai akhir acara.
Sedangkan Hana hanya berkata apa yang seharusnya dia katakan, dan kemudian perempuan hamil itu turun dari mobil tanpa menunggu Dimas terlebih dahulu. Dimas langsung turun dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya, dia menghampiri Hana dan berjalan berdamping bersama perempuan itu.
Mereka berdua masuk ke dalam gedung, di mana seharusnya tidak Hana lakukan karena dia tidak akan sekuat itu. Ia berjalan ke satu arah di mana di sana memang banyak orang yang dia kenali. Jeffran yang berada di sana menoleh, mendapati Hana berjalan ke arahnya.
"Hana..." Tentu saja perkataan Jeffran membuat yang lain juga ikut menoleh, bukan hanya Hana yang mereka lihat melainkan juga Dimas di samping Hana.
__ADS_1
"Bro?"
"Sorry, aku tidak mengabari apa pun akhir-akhir ini." Dino hanya mengangguk paham, mungkin memang Dimas tidak punya waktu untuk sekedar mengurus kegiatan anggota karena dia juga sibuk bekerja dan juga.
"Hana, apa yang kau lakukan di sini?" Bima menoleh ke arah Hana, ia terkejut dengan kehadiran Hana sekarang.
Ia tidak menyangka jika perempuan itu akan datang ke tempat yang seharusnya tidak dia datangi karena pasti akan menyakitkan, tentu saja sangat. Jeffran juga ikut bingung dengan kehadiran Hana, seharusnya tidak kemari.
Dimas tidak menjelaskan apa pun, percuma dia menghalangi Hana untuk datang karena pada akhirnya harga dirinya akan di injak juga. Keluarganya memang seegois itu, seperti sekarang di mana wanita itu datang dan berdiri di antara Hana sekaligus Dimas.
Dia tersenyum ketika melihat keberadaan Hana, dia mendekat ke arah Hana tapi secara tiba-tiba Dimas berada di depannya sekaligus anak laki-laki yang lain yang mencoba melindungi Hana di sana. Hana hanya diam, walaupun dirinya kebingungan dengan apa yang mereka lakukan di depannya.
"Tidak aku sangka kau akan benar-benar datang." Ucap Stella dengan senyuman yang tentu saja itu adalah ekspresi mengejek. Dimas hanya diam, tapi dia juga geram. Sampai pria itu memegang tangan Hana, dia harus tetap di sekitarnya.
"Apa maksudmu-"
"Lebih baik kau pergi saja, urus anak kesayanganmu yang tengah hamil di luar nikah itu." Stella hendak mengatakan sesuatu, tapi mungkin pandangan orang kepadanya membuatnya mengurung niat.
Berakhir dia memilih pergi dari sana, sedangkan Dimas membuang nafas panjang. Belum acaranya di mulai tapi sudah seperti ini suasananya. Di samping Hana sudah ada Johan, dia di minta datang oleh Dimas tentu saja.
Dia melihat bagaimana ekspresi Hana yang tidak memungkinkan sekarang, semuanya memang berat untuk di hadapi. Tapi mau bagaimana lagi?
"Seharusnya kamu tidak datang, Hana. Itu sama saja melukai dirimu sendiri." Hana hanya menunduk, dia tidak tahu harus menjawab apa karena perkataan Johan benar. Dia hanya akan menyiksa hatinya sendiri yang masih terluka.
"Aku harus datang, dia tetap saudara ku."
__ADS_1
"Saudara ya..." Johan tidak menyangka akan mendengar kalimat itu, saudara. Mungkin jika orang lain di posisi Hana, mereka akan memilih tidak datang dan pergi sejauh mungkin untuk memulihkan lukanya sendiri.
Tapi tidak untuk Hana sepertinya, dia datang bukan karena takut akan ancaman yang Stella katakan. Melainkan dia ingin melihat saudaranya bahagia setelah ia melepaskan pria itu, sepertinya dia akan bahagia bukan? Seharusnya memang begitu.
Di tambah lagi, Hana hanya mau melihat keadaan Satya. Karena beberapa hari yang lalu ia hanya mendapatkan kabar buruk karena Satya sering menolak untuk makan bahkan dia sempat jatuh sakit. Tapi apakah Hana menemuinya? Tentu saja tidak, Hana tidak mau menambah masalah lagi.
Ia juga tidak mau menyakiti perasaan saudaranya yang tengah mengandung, ia akan menjauh sejauh mungkin yang tentu saja yang Hana bisa.
Sampai acara sudah mulai sekarang, pengantin pria sudah berada di atas panggung. Hana bisa melihat bagaimana wajahnya tampan itu untuk kedua kalinya di acara pernikahan, pernikahan kedua yang tentu saja bukan dengan dirinya.
Datangnya pengantin wanita juga membuat Hana merasa seperti di tusuk pisau, tapi dia tetap bertahan di sana. Menunjukkan jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Pengantin pria dan wanita di mohon berdiri berhadapan untuk mengucapkan sumpah pernikahan." Semua orang melihat ke arah sana, termasuk Hana.
Acara yang berlangsung menyenangkan, tapi raut wajah keduanya tidak ada senyuman sama sekali. Itu yang membuat Hana semakin berpikir, apakah mereka berdua tengah ada masalah? Entah lah.
Sampai Hana melihat momen di mana tidak seharusnya tidak dia lihat, adegan di mana mereka berdua susah sah dan berciuman. Hana menutup matanya rapat-rapat, kedua tangannya yang tanpa sadar meremat pakaiannya sendiri menahan segala luka yang ada.
Johan melirik, pria itu langsung menarik Hana masuk ke dalam pelukannya. Ia hanya tidak mau Hana melihat semua itu lebih jauh, itu akan menyakiti perempuan itu.
"Jangan di lihat jika kamu tidak mampu." Hana tetap menutup matanya sampai suara tepuk tangan terdengar.
Sedangkan yang berada di depan, Anna menyudahi semuanya dan ketika ia mulai menghadap ke depan ia tidak sengaja melihat seseorang yang juga menatap dirinya dengan tatapan yang.
'Kak Wildan...'
__ADS_1