
"Kalian akan kembali besok? Aku pikir akan tinggal beberapa hari lagi." Dengan keputusan yang sudah di ambil oleh Johan, yang tentu saja terkesan mendadak membuat semua orang tidak percaya.
Beberapa teman-temannya baru berencana datang untuk melihat keadaan kedua pasangan baru itu, belum lebih tepatnya. Mereka baru saja datang, dan sudah mendengar kabar jika Johan akan memutuskan kembali ke Australia. Tidak tahu apa alasannya sekarang, tapi begitu mendadak.
Dimas tidak tahu akan apa yang terjadi sekarang, tapi ketika melihat hidung pria itu memar membuatnya yakin dengan apa yang terjadi. Sebenarnya Johan juga berencana sedemikian, maksudnya akan kembali ke Australia setelah bayinya lahir sekaligus akan mengadakan acara di sana tapi keadaan berkata lain.
Tidak sesuai dengan apa yang dirinya rencananya sejak awal kemarin. Hana sendiri tidak menyangka akan terjadi, perempuan itu berpikir ada sesuatu yang terjadi di tambah sikap Johan yang mendadak lebih diam dari yang biasanya.
"Ada apa? Tidak seperti biasanya dia seperti itu, apa Australia mempengaruhinya?"
"Kau membawa nama negara orang, mana ada Australia merasuki badan sampai sini? Setan di sini jauh lebih menakutkan."
"Aku pikir setan Jepang lebih menakutkan."
"Apa hubungannya dengan setan?" Mereka tidak tahu apa yang mereka katakan sekarang, terdengar tidak masuk akal. Tapi mereka berusaha membuat suasana menjadi lebih baik, bukan seperti saat ini yang mendadak tegang.
"Apa tidak ada kesempatan untuk tetap di sini? Kamu sudah berjanji."
"Maafkan aku, Hana. Ini demi kebaikanmu juga, keselamatanmu dan anak-anak adalah utama bagiku." Kejadian hari ini memang tidak bisa di duga sama sekali.
Semua barang-barang dengan cepat sudah di siapkan untuk keberangkatan pesawat besok hari, sengaja Johan mengambil jadwal lebih awal agar segera pergi. Ia tahu bagaimana kelakuan keluarganya jadi ia tidak mau ada sesuatu yang terjadi di tambah, membiarkan Hana terluka. Johan tidak akan membiarkan mereka menyentuh calon istrinya dan anak-anaknya walaupun hanya sejengkal saja, tidak akan ia biarkan.
Di mana Bima juga hadir di sana juga bersama yang lain, tidak banyak jumlah mereka karena yang lain juga punya kesibukan dan akan berkunjung lain hari, tapi mereka tidak tahu jika Johan kembali secepat ini.
Jefran juga hadir di sana, dia mengawasi segala keberangkatan Johan bersama Hana yang akan kembali ke Australia besok. Bagaimana raut wajah khawatir itu bisa jelas ia lihat, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Johan memang terlalu menyendiri, dia tidak mau memberi tahu apa yang sudah terjadi dan memilih bertindak sendiri. Tapi apakah dia berpikir semua orang akan diam saja karena tidak tahu? Jangan berharap, mereka berteman sejak lama dan, bagaimana bisa mereka membiarkan satu anggota kesulitan? Tidak, mereka juga akan bertindak.
__ADS_1
"Lebih baik kamu istirahat sebelum perjalanan jauh besok, jangan terlalu lelah."
"Benar, kau sedang hamil. Jangan biarkan anakmu lelah di dalam sana." Johan melirik ke arah Jefran, tidak ada persaingan lagi meskipun ada sedikit perasaan tidak enak di dalam dadanya.
"Kamu yakin? Aku bisa membantu-"
"Hana, dengarkan Johan. Pergi ke kamarmu, jangan buat dirimu lelah." Dimas berakhir turun tangan untuk mengatakan hal itu, Hana tidak akan menolak atau menentang jika kakaknya sendiri yang sudah bilang seperti itu.
Dan benar saja, perempuan itu masuk ke dalam kamar dengan raut wajah cemberutnya. Dimas membuang nafas panjang, semakin hari adiknya semakin keras kepala. Atau itu karena Johan terlalu memanjakan adiknya? Entah lah, tapi ia tidak mempermasalahkan itu.
Di sini permasalahannya adalah Johan, pria itu masih enggan bicara. Di tengah-tengah ruangan yang memang cukup luas itu, ada 9 orang di sana. Yang tentu saja mereka mengunjungi Johan sekaligus melihat keadaan Hana juga.
Kabar mengejutkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Mereka tidak bisa melakukan apa pun jika saja Johan sudah bersikap seperti ini.
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi apakah seperti ini? Kau bisa bicara kepada kami jika ada sesuatu, jangan diam saja." Reno mungkin tidak tahu, maka dari itu ia mau mencari tahu apa yang sudah terjadi sekarang.
"Masalahnya ada Hana di sampingmu, dia tengah hamil. Jika sesuatu terjadi kepadanya, itu juga akan berdampak buruk. Jika kau ingin bicara, bicarakan saja kepada kami. Kami akan mendengarkan semua perkataanmu, tapi jangan seperti ini."
"Diam tidak menyelesaikan masalah, itu yang sering kau ucapkan."
Johan tidak tahu harus bicara dari mana, di tambah masalahnya semakin hari yang semakin banyak. Ia harus bagaimana? Biasanya memang dia selesaikan sendiri.
Tapi benar soa kata Jeffry jika ada Hana di sampingnya, ia tidak bisa melakukan semuanya sendirian dan menjaga Hana sendirian di saat seperti ini. Di saat waktunya tiba ia juga butuh seseorang untuk di mintai bantuan juga.
"Ayahku menolak." Semua kasih diam, berusaha mencerna apa yang tengah Johan jelaskan sekarang.
"Menolak? Menolak apa maksudmu? Bicaralah yang jelas."
__ADS_1
"Ayahku menolak pernikahan ku dengan Hana."
...•••...
Berjalanan ke bandara, tidak ada suara apa pun selain suara radio yang dinyalakan. Salah satupun tidak ada yang mau membuka suara karena memang tengah sibuk dengan pikiran masing-masing yang sangat amat penuh.
Sampai pada akhirnya Johan menoleh ke arah samping, di mana ia melihat Hana hanya diam seperti sebelumnya. Apakah dia ada masalah sekarang? Tapi Hana benar-benar tidak pernah bicara akan keluhannya.
"Katakan jika kamu ingin sesuatu." Hana hanya menggelengkan kepalanya, itu membuat Johan semakin tidak bisa tenang.
Selama perjalanan jauh dari apartemen sampai ke bandara, sebenarnya mereka tidak sendirian tapi ada beberapa yang akan menemani. Tapi karena Johan tidak mau membuang banyak waktu lama, ia terlalu terburu-buru.
Hana juga hanya diam ketika tangannya di genggam olehnya, Johan enggan melepaskan tangannya itu. Dia tidak mau sesuatu terjadi kepada Hana, karena jika saja terjadi semua adalah kesalahannya.
Tidak tahu apa yang dimaksud itu, Johan masih enggan mengatakan sesuatu, di sisi lain ia tidak mau membuat Hana terlalu banyak berpikir. Urusan keluarga adalah urusannya, Hana tidak akan mampu memikirkan masalahnya. Bukan berarti tidak percaya, hanya saja.
"Kamu tidak bilang tentang alasannya." Johan tidak mengerti, ia hanya berusaha bersikap normal di depan Hana agar perempuan itu tidak berpikir banyak.
"Alasan? Tidak ada, aku banyak urusan di Australia. Aku tidak bisa meninggalkan kamu di Indonesia sendirian-"
"Kamu yakin itu alasannya? Jangan berbohong, Johan..." Pria itu terdiam, dia mendorong Hana secara pelan untuk duduk di kursi penumpangnya. Karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas.
"Lupakan saja tentang semua itu, kamu tidur saja ya, perjalanan akan panjang." Ucapnya seraya menyelimuti Hana dengan selimut. Hana tidak bisa mengatakan apa pun, Johan seolah terus mengalihkan topik pembicaraan.
Pria itu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Hana, dia tidak mengatakan apa pun selain dia mengurus beberapa berkas yang dirinya bawa. Anak buahnya datang dari Australia, tidak ada masalah hanya saja penumpukan saja. Itu membuat sebuah alasan untuk menutupi alasan yang sebenarnya.
Ketika ia menoleh ke arah Hana yang hanya menatap ke arah jendela pesawat dengan tatapan yang menurutnya nampak berpikir, itu alasan mengapa Johan terus bersikap seolah tidak ada apa-apa. Ia tidak mau membuat Hana berpikir.
__ADS_1
'Maafkan aku, aku terpaksa harus menyembunyikan semua ini. Tapi percaya kepadaku, janji ku akan aku lakukan dengan cepat.'