Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 55


__ADS_3

Sekarang di tempat yang berbeda dengan yang sebelumnya, kedua pria itu berhadapan langsung dan tentu saja seolah terjadi perang di antara mereka berdua. Bagaimana tidak? Keduanya nampak saling tidak mengatakan apa pun dan hanya melemparkan tatapan datar.


"Aku tahu pasti kau paham kenapa aku mau bertemu denganmu." Ucap Jeffran kepada Theo yang tengah duduk santai seraya meminum minuman sodanya, seperti tidak ada beban hidup.


Pria itu menaikan alisnya, ia mulai membenarkan duduknya dengan tegak dan meletakkan minuman kaleng nya di atas tanah, dan ia menatap tepat ke arah Jeffran berada.


"Tentang Hana, seharusnya kau tahu semuanya karena kau dulu pernah berhubungan dengannya. Lumayan aneh jika kau tidak tahu apa pun tentang gadis itu."


"Langsung ke inti saja, kenapa-"


"Kenapa kau tanya kepadaku? Aku bukan suaminya dan seharusnya kau tanya dengan orang yang bersangkutan." Theo melangkah mendekat ke arah Jeffran dan ia berhenti tepat di samping pria itu.


"Kau bertanya kepada orang yang salah, aku bukan siapa-siapa di sini."


Theo berakhir pergi dari sana meninggalkan Jeffran yang masih berdiri di sana sibuk dengan pikirannya sendiri, ia menoleh sekilas ke arah di mana Theo pergi. Pria itu seperti tidak suka di tanya apa yang tidak bersangkutan dengan dirinya. Itu sudah terbiasa terjadi.


Dan sekarang pertanyaannya adalah, Jeffran harus ke siapa? Apakah ia harus benar-benar berhadapan dengan Satya? Sebenarnya ia tidak takut dengan pria itu di tambah ia juga mempunyai masalah yang lama belum sempat di selesaikan.


Mereka berdua masih terlibat perang dingin bahkan termasuk Theo dan Surya, tidak bisa di hindari hal seperti itu. Bukannya tidak mau menyelesaikan dengan baik-baik dan membicarakannya secara kekeluargaan, di sisi lain Satya tidak pernah mau melakukan semua itu. Di sisi lain juga, kedua pihak sama-sama malas.


Jeffran pun pergi dari sana, ia tidak tahu harus kemana lagi. Ia salah di satu lain ia juga mau memperbaiki semua ini, tengah berusaha memperbaiki kesalahannya yang sudah lama ia perbuat. Tidak ada maksud menghancurkan, Jeffran juga terpaksa.


"Aku akan mencari tahu sendiri."


...•••...

__ADS_1


Pria itu turun dari mobilnya dan berjalan memasuki mansion mewah yang dia miliki, tentu saja dengan segala usaha dan kerja kerasnya selama ini ternyata bisa menghasilkan apa yang tidak pernah dirinya bayangkan.


Ia masuk ke dalam bangunan tersebut dan di sambut oleh semua maid di sana bahkan penjaga di sana juga membungkuk hormat kepadanya, kedatangannya yang tidak dapat di duga sama sekali saat ini.


Langkahnya berjalan ke arah di mana dua foto terpajang di sana, dengan bunga dan buah sekaligus tali suci yang melingkar di foto tersebut. Pria itu menunduk melakukan doa sebelum ia memasuki rumah tersebut sampai ia membuka matanya.


"Ada yang tuan butuhkan?" Pria itu menoleh dan kemudian menggelengkan kepalanya, ia langsung berjalan ke arah anak tangga di sana dan menaikinya. Sampai di sebuah ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Ia membuka ruangan tersebut, suasana sepi dan kamar itu masih nampak bersih seperti terakhir kali dia lihat. Masuk ke dalam sana, pintu tertutup membuatnya terdiam. Terdapat jaket yang menggantung rapih di sana dan ia menghampiri.


Memegang jaket lamanya yang sudah tidak dirinya pakai, akankah ia akan memakai jaket itu lagi? Tapi sepertinya tidak, wilayahnya bukan di sana lagi melainkan menjalankan hidup yang baru dan menyusun masa depan yang menurutnya pasti.


Sampai di mana ia kembali ke tempat lahirnya dan ia akan bertemu dengan semua orang yang dia rindukan selama ini, terutama seseorang yang sudah lama ia cintai. Apakah dia baik-baik saja? Ia tidak yakin, dunia ini begitu kejam dengan orang baik yang jelas tidak melakukan apa pun.


Di tempat lain, Hana tengah berjalan melewati trotoar hendak ke tempat kerja karena sudah lumayan malam ia berangkat kerja, sekitar jam 7. Masih ramai memang jalan raya sekarang tapi tidak berlaku untuk tempat seperti gang kecil seperti yang Hana lewati.


Gadis itu mencoba memberanikan diri karena biasanya juga Hana sendiri, gadis itu menarik jaketnya sendiri yang tidak lain adalah milik Dimas. Tadi kakaknya itu memberikan jaketnya yang tidak lain adalah jaket geng yang biasanya memang dia pakai ketika ada acara kelompoknya.


Dan sekarang Hana yang pakai, tapi jika boleh jujur jika suasana sekarang memang dingin sekali. Mungkin karena memasuki musim hujan seperti sekarang ini, tidak begitu terkejut lagi.


Langkahnya semakin cepat ketika Hana merasa jika ada yang mengikuti. Hana terus melangkah, ia merasa tidak hanya satu orang yang mengikutinya melainkan hampir 3 orang lebih membuat gadis itu ketakutan bukan main.


Sampai di mana Hana mulai tidak berani, ia berlari kencang membuat kelompok pria itu menyadari jika Hana berlari karena sudah mengetahui akan mereka yang mengikuti gadis itu. Hana berlari kencang, ia menangis. Ia berusaha menghubungi Dimas karena hanya dia yang Hana butuhkan sekarang.


"Tolong Hana kak, Hana takut." Hana menangis dan ia masih berlari, sampai di mana Hana salah belok ke tempat di mana di sana buntu.

__ADS_1


Hana terkejut, ia tidak bisa berlari lagi. Menoleh ke arah belakang ternyata dirinya sudah di kepung oleh orang-orang itu. Mereka merasa puas karena Hana masuk ke dalam jebakan mereka, ternyata yang melakukan itu adalah Niko, dia adalah salah satu orang suruhan Anna yang berhasil di penjarakan oleh Rangga.


"Akhirnya aku menemukan mu, bagaimana sekarang kehidupanmu? Masih hancur?" Hana berusaha mencari jalan keluar tapi tidak ada lagi jalan untuk dirinya kabur.


Niko bersama teman-temannya itu mendekat ke arah Hana, tanpa berpikir panjang dia menargetkan perut Hana dan memukul keras gadis itu sampai tersungkur di atas tanah, Hana berusaha bertahan tetap berusaha berdiri tapi Niko menarik rambut pendeknya.


Ia bahkan menatap ke arah wajah Hana dengan tatapan benci, kenapa dia benci dengan Hana? Gadis itu bahkan tidak mengenal siapa pria itu.


"Jika saja kau tidak bersangkutan dengan Johan, mungkin aku tidak sampai melakukan seperti ini." Ucapnya membuat Hana tidak bisa menjawab apa pun, jangankan menjawab Hana mau mengatakan sesuatu saja tidak bisa.


Niko menjambak rambut Hana dan memukul wajah gadis itu, darah muncrat dari mulut gadis itu. Pandangan Hana masih jelas tapi rasa sakit di kepalanya tidak bisa di tahan, Niko merobek baju Hana sampai terlihat bagian dalaman gadis itu. Pria itu tertawa keras dan merasa puas.


"Mungkin bermain dengan mu sebelum aku membunuhmu terlebih dahulu, tidak buruk juga." Ketika Niko hendak menyentuhnya, Hana memberontak dan memukul Niko dengan keras.


Pria itu mulai merasa jengkel, dia menyuruh teman-temannya untuk menahan kedua tangan Hana dan ia seperti mencari sesuatu, dia melihat kayu besar di sana. Dan memukulkan kayu itu tepat di bagian kepala Hana, membuat pandangan Hana seketika memburam.


Merek tertawa, menertawakan Hana yang sudah bisa berbuat apa-apa. Bahkan mereka sudah mulai melakukan aksinya, tapi siapa yang tahu ketika seseorang memukul dari belakang dan menarik orang-orang itu menjauh dari Hana.


Datang seseorang tanpa di duga, menghabisi mereka semua dengan jumlah satu lawan 7 orang sekarang. Hana tidak melihat apa pun, pandangannya tidak jelas dan hanya suara rusuh yang Hana dengar. Darah mengalir dari luka di kepalanya, bahkan dari hidungnya juga berdarah. Hana tidak dapat merasakan apa pun lagi, gadis itu di amban kesadaran.


"Hana?! Hana! Jangan tutup mata mu! Hana!" Hana merasa seseorang memeluknya dan bahkan menepuk pipinya berulang kali, tapi Hana tidak tahu siapa.


"Satya-"


"TIDAK! HANA! HANA!"

__ADS_1


__ADS_2