Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 139


__ADS_3

Johan sudah lama menunggu di luar, ia bahkan terus berdoa dan menutup matanya sekarang. Sudah hampir jam 4 pagi ia menunggu, pagi hampir saja tiba dan ia masih berada di tempatnya sama sekali tidak beranjak sama sekali. Terus berdoa agar keadaan menjadi baik-baik saja, mengharapkan banyak hal nantinya. Tapi sepertinya takdir belum mendengarkan doanya sekarang, pria itu masih di sana.


Sampai di mana suara bayi membuatnya membuka mata dan menoleh ke arah pintu operasi, ia tersenyum dan bahkan tanpa sadar Johan menangis bahagia ketika mendengar suara tangisan bayi. Di susul suara bayi yang lain memenuhi suasana sepi nan sunyi itu.


"Terimakasih tuhan, terimakasih..." Johan tidak bisa menjelaskan lagi bagaimana perasaannya sekarang ini, mendengar suara bayi itu sudah membuatnya teramat lega.


Sampai perawat membuka pintu operasi dan kemudian membawa dua bayi, sekaligus menarik bangsal keluar dari ruangan itu. Johan bisa melihat wajah-wajah menggemaskan anak-anaknya itu, tapi ia melihat bagaimana keadaan Hana juga.


Perempuan itu tidak sadarkan diri setelah melahirkan secara normal, pendarahan hebat yang ia lalui memang sudah usai. Tapi bukan berarti semuanya selesai begitu saja, kesadarannya sudah habis dan hilang sekarang. Johan tidak tahu apa yang sudah terjadi di ruang operasi tadi, keadaan Hana sekarang membuat kebahagiaannya terkikis.


"Permisi, anda suaminya?"


"Iya, ada apa dengannya?"


"Dia akan baik-baik saja, hanya butuh istirahat setelah berjam-jam melahirkan. Anda bisa melihat anak-anak anda nantinya, kedua anak anda memiliki jenis kelamin laki-laki, mereka dalam keadaan sehat. Selamat atas kelahiran anak-anak anda ya, jaga mereka. Saya permisi dulu."


Johan tidak merespon dengan kata ataupun pergerakan apa pun, dia hanya diam sampai di mana ia pun berlari ke arah di mana Hana sekarang di pindahkan. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia merasakan semua ini di tambah, menemani seseorang lahiran seperti ini?


Dia mendekat ke arah Hana, perempuan itu masih belum bangun. Bahkan banyak kebisingan yang ada di sana, alat-alat medis yang di pasangkan ke badannya tidak memberikan respon apa pun. Para perawat berakhir keluar dari ruangan membiarkan kedua pasangan itu berdua untuk sementara waktu.


Johan tidak pernah merasakan hal yang seperti ini, menunggu seseorang? Ia tidak pernah melakukan semua itu karena pada dasarnya Johan benci menunggu.

__ADS_1


Menarik kursi di sana dan duduk di sekitar Hana, berharap dia akan bangun sekarang juga dan tersenyum kepadanya seperti apa yang biasa dia lakukan. Johan hanya bisa menunggu, sampai di mana waktu berjalan begitu cepat membuatnya ingin rasanya istirahat sejenak.


"Terimakasih karena sudah mau berjuang bersama, aku sudah membuat janji, aku akan mengikat hubungan ini bagaimana pun caranya."


...•••...


Di sisi lain, Jihan akan keluar rumah dan dia berniat akan mengunjungi Hana setelah melahirkan. Johan sudah memberi tahunya baru saja, baru pagi tadi dan semuanya sudah dalam keadaan baik-baik saja, hanya tinggal menunggu Hana sadar semuanya akan kembali normal.


Gadis itu baru saja keluar dari gerbang, menggunakan mobil kesayangannya itu. Tapi entah kenapa ada seseorang di depan gerbangnya sekarang, itu membuat Jihan merasakan kesal. Ia buru-buru sekarang, membuang banyak waktu yang begitu akan terbuang sia-sia nantinya. Ia keluar dari mobil, dan menatap orang yang berdiri di depannya sekarang membuatnya kesal.


"Kau bosan hidup?"


"Aku ingin bicara dengan mu, sebentar saja aku mohon-"


"Jihan, apakah hanya karena ini kita menjadi asing? Jangan egois-"


"KAU YANG EGOIS SIALAN!" Jihan tidak bisa mengendalikan emosinya, entah apa yang membuatnya berubah sekarang. Bahkan biasanya dia bisa melakukan apa saja di tambah mengendalikan emosionalnya seolah adalah hal yang mudah, tapi sekarang jangan banyak berharap akan tentang mengendalikan diri.


Jihan berusaha tetap tenang, ia ingin pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan secara langsung. Tapi bagaimana bisa mereka tahu rumah Jihan? Ada yang terlupa, Risa pernah datang ke rumah dan berakhir Jihan yang mengusirnya dari rumah. Mungkin kejadian itu sudah hampir saja Jihan lupakan, tapi sepertinya gadis itu tidak bisa melupakan momen memalukan itu begitu saja.


Risa melangkah maju ke arah Jihan, tapi Lino menghalanginya. Ia tahu bagaimana Jihan, ia tidak mau kekasihnya terluka karena ulah sahabatnya. Entah masih bisa di anggap sahabat atau tidak.

__ADS_1


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, aku minta maaf karena tidak bisa mengabarimu."


"Aku tahu, kau sibuk dengan kekasih barumu. Tidak masalah, orang lama memang selalu terlupakan. Benar bukan?" Lino tidak bisa mengatakan apa pun, di sisi lain ia memang salah atas semua ini.


Jika saja Lino mengatakan semua ini sejak awal, maka perselisihan ini tidak akan terjadi sekarang. Jihan berubah juga bukan karena kesalahan gadis itu sendiri, melainkan memang salah Lino yang tidak bisa menjaga perjanjian yang ada.


"Itu tidak benar-"


"Aku tidak bicara denganmu, *****."


"Jihan! Tidak seharusnya kamu berkata kasar seperti itu!"


"Dan kau tidak berhak meninggikan nada suara mu kepada ku! Kau bukan siapa-siapa." Jihan menunjuk ke arah Lino, memang kejadian ini benar-benar pertama kali dan ini adalah masalah paling besar yang pernah menimpa hubungan mereka.


Tidak mengatakan apa pun lagi, Jihan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia juga mengunci pintu mobilnya agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam, bahkan ketika Lino mengetuk kaca mobilnya tidak pernah ia hiraukan. Gadis itu langsung menancapkan gasnya ke arah di mana Risa berdiri, itu membuat gadis itu terkejut sendiri.


Tanpa berkata apa pun lagi, Jihan langsung menekan gasnya dan melaju, nyaris saja ia menabrak Risa dengan sengaja dan beruntung Lino menarik Risa dari sana. Walaupun harus mendapatkan luka kecil, Lino tidak percaya akan semua ini. Jihan yang ia kenal tidak pernah melakukan hal yang seperti ini, tapi sekarang ia melihat sendiri.


Di antara ia kecewa yang terlalu besar dan ia juga merasa bersalah juga. Apakah kesalahannya sudah mengubah seseorang yang memiliki hati sebaik Jihan berubah menjadi seseorang yang jahat seperti sekarang?


Di sisi lain, Jihan berusaha menahan tangisannya sendiri. Mengusap air matanya dengan kasar walaupun ia sudah berusaha sebisanya, kenyataannya perasaanya tidak bisa di kendalikan.

__ADS_1


"Kau bahkan memilihnya ketimbang aku yang selalu melindungi mu dulu hiks hiks... Kau melupakan aku dalam waktu sekejap hanya karena gadis sialan itu hiks hiks hiks..." Jihan semakin menekan gasnya tanpa memikirkan apa pun, tangisannya tidak bisa di hentikan.


Dadanya terlalu sakit dan sesak harus menahan semua ini sendirian, keluarganya hancur di mana rumah pertamanya juga hancur, sekarang rumah keduanya juga hilang begitu saja, dan hanya tinggal satu harapan saja yang ia punya, rumah terakhirnya sekarang.


__ADS_2