
Mau bagaimana pun keadaannya, bertahan memang adalah sebuah jalan satu-satunya yang tersisa. Tidak ada pilihan lain selain bertahan dari semua ini, biarkan waktu berjalan tanpa jeda sekarang. Jangan perdulikan apa pun, jika sebuah hal yang tidak penting akan lebih baik dilupakan saja.
Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa hari ini adalah bulan di mana Hana harus memeriksakan kehamilannya. Sudah menginjak 7 bulan sekarang, dia harus ekstra menjaga kesehatan kandungannya. Seperti apa yang di beritahukan oleh dokter. Seharusnya begitu, kedua bayinya juga sehat, pertumbuhan yang normal.
"Keadaan kandungan anda sehat, anda harus lebih memperhatikan makanan anda karena bayi anda juga akan merasakan makanan yang anda makan juga." Ucapnya, sepertinya keinginan mereka berdua terkabul sekarang. Johan tersenyum bahagia, ia menoleh ke arah Hana yang tengah duduk di kursi seraya memegangi perut besarnya.
Anak kembar itu tumbuh dengan keadaan sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semua sudah baik-baik saja. Hana bisa bernafas lega sekarang, ia merasa jika sekarang ia menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Kamu harus ikuti apa kata dokter jangan merengek, jika ingin sesuatu katakan saja."
"Baiklah."
...•••...
Berbeda situasi sekarang, tidak seperti kondisi yang Hana rasakan. Kembarannya berbeda balik, ketika ia akan melahirkan sekarang semuanya sudah begitu sulit. Di tambah banyaknya resiko yang harus dirinya ambil sekarang.
Karena resiko yang di ambil terlalu besar, Anna hanya memiliki satu ginjal sejak lahir dan ketika ia tengah mengalami masa mengandung selama 9 bulan itu, ia cukup kesulitan. Fungsi ginjalnya memang berjalan normal, tapi ginjal juga harus 2 kali lebih bekerja keras karena Anna membawa kehidupan lain di dalam dirinya.
Tidak ada pilihan, kemungkinan lain adalah anaknya memiliki kelainan yang sama juga. Semua itu juga mengandung banyak resiko besar lainnya, Anna sudah diberi tahu oleh dokter. Dia harus menerima segala keadaan yang bayinya punya, Anna menyetujui semua itu.
Sampai di mana ia mulai melakukan proses pembukaan, ia akan melahirkan sekarang dan memang tidak seharusnya Anna melakukan dengan cara normal. Seharusnya dia tidak melahirkan dengan cara normal, tapi dia memaksakan diri sekarang.
"Jangan memaksakan dirimu, itu berbahaya untuk mu. Pertimbangkan keputusanmu lagi, aku mohon..."
"Satya, aku ingin seperti yang lain-"
__ADS_1
"Jangan egois, kau sama saja membunuh anakmu sendiri." Anna memang pada dasarnya keras kepala, dia tidak mau mendengarkan perkataan orang lain selain dirinya sendiri. Cukup egois, padahal orang-orang di sekitarnya mengkhawatirkan dirinya tapi dia seolah tidak perduli akan semua itu.
Di sisi lain, Hana sudah kembali ke rumah. Dengan membawa banyak berita bagus, Jihan juga sudah menunggu di rumah untuk menerima kabar baik itu. Gadis itu nampak ber antusias dengan apa yang akan Hana katakan sekarang.
Kabar baik, di mana kedua anak kembar itu tumbuh dengan sehat. Tidak ada cacat atau semacamnya yang di alami, semua sehat dan sesuai dengan harapan semua orang.
Johan juga menjaga perempuan itu dengan baik, mengatur makanan yang ada atau bahkan jam istirahat Johan harus memastikan semua harus terpenuhi dengan baik. Walaupun bayi itu memang bukan anaknya, ia berusaha menerima mereka di dalam kehidupannya.
Bayi kembar itu pantas untuk hidup, pantas mendapatkan segalanya apa yang harus mereka dapatkan. Walaupun ayah kandung mereka sama sekali tidak perduli, tapi itu bukan sebuah masalah besar karena Johan yang akan menggantikan posisi tersebut.
"Jadi, bagaimana acara pernikahan kalian nanti? Jangan terlalu lama, aku menunggu soalnya." Ucapnya dengan senyuman jailnya kepada sepupunya.
Memang Jihan tidak ada habisnya jika di suruh menggoda emosi Johan, dia akan selalu melakukan itu meskipun mereka berdua sudah dewasa sekalipun. Kebiasaan memang tidak bisa di hilangkan begitu saja.
Mengenai acara pernikahan yang Jihan katakan tadi, itu benar. Johan juga sudah melamar perempuan itu, dan jawabannya adalah setuju. Johan akan berusaha yang terbaik untuk keluarganya nanti, ia juga harus mempersiapkan segalanya dengan baik.
"Nanti mau di kasih nama apa?"
"Aku tidak tahu, aku belum berpikir sampai sana..."
"Bagaimana bisa?! Nanti bayi bayi gemas itu tanpa nama, harus ada nama yang bagus untuk mereka." Hana hanya pasrah saja, Jihan sibuk mencari nama di internet.
Johan hanya melihat saja, ia terlalu pusing memikirkan banyak hal yang akan terjadi. Tapi di sisi lain ia juga senang, kehidupan yang selama ini ia harapkan akan tercapai nantinya. Ketika pandangannya bertemu dengan perempuan itu, senyumannya terbit dengan sangat tulus.
'Aku sangat beruntung bisa mendapatkan dirimu...'
__ADS_1
...•••...
"Bagaimana? Apakah sangat bagus?"
"Aku rasa begitu, ini bagaimana caranya? Terlalu rumit, jelaskan dulu baru menggambar." Reyhan memukul keningnya dengan pensilnya, seharusnya ia harus mempertimbangkan semua ini terlebih dahulu.
Terburu-buru memang bukan ide yang bagus. Di sebuah cafe yang sama seperti yang sebelumnya, sebuah kebetulan ketika Reyhan satu kelompok dengan Jihan. Mereka mengerjakan proyek kelompok yang hanya berjumlah 2 orang saja, sebenarnya ada 3 hanya saja muridnya sendiri ganjil. Jadi tidak bisa menyamakan dengan kelompok lainnya, tapi bukan sebuah masalah jika harus kurang satu anggota. Kekurangan satu anggota bukan berarti tugasnya jelek bukan?
Mereka berdua sibuk mencari ide yang bagus untuk tugas kelompok mereka itu, Reyhan yang membuat sketsanya dan sedangkan Jihan mencari objek yang tepat.
Akan sangat rumit, keduanya memiliki pemikiran yang berbeda dan juga pendapat yang berbeda. Jihan tidak terlalu suka gambar berwarna sedangkan Reyhan suka jika gambar ada warnanya, karena menurutnya jauh lebih realistis saja.
"Ini tidak masuk akal, bagaimana bisa bentuknya seperti ini?" Jihan menunjuk ke arah gambar Reyhan yang tergambar secara digital itu. Baru awalan mendesain dulu sebelum memulai tugasnya.
"Ini mudah sekali, masa kau tidak tahu?"
"Tidak tahu, buang saja bagian itu. Ganti saja dengan sketsa yang aku buat ini."
"Tidak-tidak, punyamu terlalu polos. Bagaimana gambar tidak ada warna? Nilainya akan jelek, kau mau nilai mu C?"
"Tentu saja tidak! Aku tidak mau mengulang semester ini lagi, itu melelahkan." Jihan meletakkan tablet nya di atas meja. Ia malas harus melakukan semua ini, di tambah kerja kelompok.
Ayolah, Jihan bisa melakukan semua tugas itu seorang diri. Untuk apa dengan cara berkelompok begini? Lebih tepatnya tidak, karena anggota saja hanya 2 orang saja itu bukan kelompok namanya.
Reyhan ikut meletakkan tablet nya di atas meja, menatap ke arah Jihan yang tengah menggerutu dengan wajah cemberut seperti itu. Entah kenapa dia seperti itu?
__ADS_1
"Kau kenapa?"
"Menurutmu? Aku sedang meditasi."