
Setelah kejadian itu yang begitu membuat Hana menjadi trauma berat, di sisi lain kejadian yang membuat orang-orang tidak bisa menduga itu tengah di lakukan penyelidikan.
Ferdy, selalu ayah Satya melakukan semua itu dengan sebisa yang dia mampu. Pria paruh baya itu tidak ada rasa sungkan, ia akan membantu dengan senang hati di tambah tragedi yang membuat menantunya nyaris tiada membuatnya murka. Masalah anaknya itu, ia yakin jika putranya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri karena dia sudah cukup dewasa akan bisa menuntun sebuah hubungan pernikahan.
Pria itu melangkah masuk ke dalam sebuah gedung, dia akan menemui CEO besar yang akan bekerja sama dengan dirinya. Tentu saja atas dasar pertemanan keluarga yang tidak bisa di putus oleh apa pun, hubungan keluarga itu memang begitu baik.
"Pertemuan akan di mulai 10 menit lagi, tuan besar ingin menunggu di sini atau-"
"Saya akan menunggunya datang saja." Ucapnya dengan cepat memutuskan sesuatu, memangnya ada apa dengan 10 menit? Itu bukan lah waktu yang panjang, itu waktu yang singkat dan dirinya tidak masalah harus menunggu pria itu datang.
Ia menatap ke segala arah, sampai di mana ponselnya berdering membuatnya mengalihkan pandangannya sesaat untuk memeriksa. Ia hanya membuang nafas panjang, sampai di mana seseorang membuka pintu dan membuat semua orang berdiri. Termasuk Ferdy sendiri juga berdiri untuk menghormati tentu saja, entah dia tua atau muda saling menghormati itu penting.
"Selamat pagi, maafkan aku karena keterlambatannya." Ucapnya dan masuk ke dalam, melihat semua orang yang berada di dalam ruangan membuatnya merasa ada yang lain.
"Tidak apa, anda tidak terlambat. Justru sudah tepat waktu."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, kita bisa mulai sekarang pembicaraannya?"
"Tentu saja."
...•••...
Sekarang kedua pria itu tengah berhadapan secara langsung atas permintaan Ferdy sendiri, dan pria itu tidak keberatan untuk memenuhi permintaan itu. Hanya untuk berbicara bukan? Waktunya masih banyak untuk melakukan banyak pembicaraan sekarang dan ia juga kenal siapa Ferdy, bahkan dari semua latar belakangnya ia tahu semuanya.
Pria itu tersenyum, ia menatap ke depan dengan senyuman tipis dan seolah mempertanyakan sesuatu. Memang apa yang harus di bicarakan sampai seperti ini?
"Saya ingin meminta bantuan anda, apa boleh?" Ucapnya membuat pria yang jauh lebih muda di depannya mengerutkan keningnya, ada apa?
"Bantuan apa yang anda inginkan."
"Menyelidiki kasus yang beberapa hari lalu terjadi, tidak ada yang bisa menemukan bukti. Saya begitu berharap jika anda bisa membantu saya." Jelasnya, sedangkan pria itu hanya terdiam dan tengah mencari jawaban sekaligus keputusan yang tepat.
__ADS_1
"Tentu saja, saya akan membantu anda dengan senang hati."
"Apakah anda imbalan yang harus saya berikan ke anda?"
"Tidak perlu, sangat tidak perlu." Ucapnya dengan senyuman yang begitu meyakinkan, entah kenapa ia berpikir ini adalah sebuah kesempatannya untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau.
...•••...
Hana tengah membereskan meja makan, ia menyiapkan makanan untuk makan malam nanti karena Satya tengah sibuk dengan pekerjaannya di kantor jadi Hana benar-benar di rumah sendirian. Gadis itu juga melakukan banyak kegiatan yang biasanya dia lakukan saat Satya tidak ada di rumah.
Sampai di mana tepat pukul 7 malam, ia menunggu ke pulangan Satya tapi pria itu tidak kunjung pulang ke rumah. Mungkin dia tengah banyak pekerjaan di sana jadi mungkin saja memang akan telat pulang ke rumah.
Hana terus menunggu, entah itu bermain ponsel atau bermain tidak jelas di ruang makan menunggu kedatangan Satya. Gadis itu berjalan ke arah pintu depan, tidak melihat siapa pun di sana membuatnya membuang nafas panjang. Sepertinya benar jika suaminya tengah mengerjakan pekerjaan yang sema tertunda saat itu jadi menumpuk banyak.
Ia masih menunggu, berganti posisi sekarang berada di ruang tamu. Dan entah sudah berapa lama Hana berada di sana sampai gadis itu berakhir tertidur di sana, menunggu Satya pulang sampai di mana jarum jam menunjukkan angka jam 11 malam.
Suara gerbang terbuka dan suara mobil baru saja terdengar, pria itu turun dari mobil dengan terburu-buru dan melihat dari luar jika suasana rumah menang sepi. Ia pikir Hana tidak akan menunggunya, tapi pada kenyataan ketika Satya masuk ke dalam rumah.
Baru saja masuk, ia sudah melihat pemandangan di mana gadis itu tertidur di sofa. Sepertinya memang tengah menunggu dirinya, merasa bersalah atas semua itu dan membuat Hana menunggu sampai tertidur. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah, meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu.
Pria itu menaiki anak tangga dengan hati-hati, masuk ke dalam kamar dengan perlahan dan membaringkan Hana di tempat tidur dengan perlahan juga. Tidak ingin menyakiti istrinya itu untuk sekian kalinya. Ia sudah berjanji akan memperbaiki semuanya dan akan menjalani hidup layaknya pasangan lainnya.
Satya menarik selimut, membuat Hana tenggelam di dalam selimut agar lebih hangat dan nyaman. Setelah itu, dia pun keluar kamar lagi berniat mengambil tasnya tapi bukannya dia naik ke atas lagi. Dia justru malah terpaku dengan meja makan, terdapat 2 menu makanan di atas sana dan sudah dingin.
"Sepertinya memang terlalu lama menunggu ku, seharusnya dia tidak menunggu seperti ini." Ucapnya sendiri, ia menghampiri meja makan dan memanaskan semua makanannya sendiri.
Tidak mungkin Satya membangunkan Hana, gadis itu sepertinya lelah mengurus rumah sebesar itu sendirian. Apa ia harus menyewa pembantu rumah tangga untuk membantu Hana mengerjakan pekerjaan rumah? Ide bagus, tapi apakah Hana mau?
Satya selesai memanaskan semua lauk yang ada, beberapa dari makanan sisanya ia masukan ke dalam kulkas agar bisa di makan besok pagi. Ia tidak masalah harus makan masakan malam ini lagi, lagi pula masakan Hana akan tetap enak.
Ia mulai acara makannya karena jujur saja di kantor ia tidak sempat makan karena terlalu sibuk, jangankan makan. Istirahat 5 menit saja tidak dia lakukan karena memang benar-benar tidak sempat ia lakukan.
__ADS_1
Setelah makan malam yang menyenangkan sendirian dengan masakan istrinya, mencuci piringnya dan kemudian kembali ke kamar. Ia akan ganti bajunya sekarang, baju kantoran memang membuatnya merasa gerak dan lumayan panas.
Masuk ke dalam kamar, melihat Hana yang ternyata malah bangun dan posisinya sudah duduk. Mengusap-usap matanya, melihat ke arah pintu dan ternyata di sana ada suaminya yang baru saja pulang.
"Kamu bangun? Tidur saja lagi, kamu lelah bukan?" Ucapnya dan ia pergi ke arah kemari, membuka kemejanya sekarang memperlihatkan punggungnya yang tegap itu. Hana memalingkan pandangannya, itu terlihat di pantulan cermin. Satya hanya tersenyum, mungkin belum terbiasa.
"Kamu sudah pulang? Sudah makan?"
"Sudah kok, tadi aku sudah makan dan baru saja selesai. Kenapa? Kamu lapar?" Ucapnya dan memakai piyama tidurnya, melirik ke arah Hana. Kenapa gadis itu masih memakai kaos?
"Kamu tidak ganti baju?"
"Tidak, tadi sore aku sudah mandi. Malas ganti baju lagi." Satya mengangguk, mungkin Hana memang masih mengantuk. Pria itu pergi ke kamar mandi, berniat menggosok giginya dan juga cuci muka.
Setelah melakukan kegiatan singkatnya itu, pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya. Dada bidangnya yang begitu terlihat jelas, hanya memakai celana piyama saja dan piyamanya tidak dia pakai. Satya berjalan ke arah Hana, gadis itu sepertinya lelah.
Ia duduk di depan Hana dengan bertumpuk lututnya, memegang kening istrinya dan leher. Lumayan hangat, ia merasa memang sudah ada yang salah sejak awal.
"Tidur lah lagi, aku akan ambilkan obat demam-"
"Aku tidak sakit."
"Jangan membantah, aku tidak menerima penolakan." Ucapnya dengan tegas bahkan dengan raut wajahnya yang datar, Hana terdiam. Membiarkan Satya keluar kamar lagi dengan keadaannya yang sama, pria itu mencari obat dan setelah ketemu dia kembali ke kamar.
Segelas air putih di tangannya dan obat juga, ia meletakkannya di meja, memberikan segelas air minum itu kepada Hana sedangkan Satya membukakan bungkus obatnya.
"Ini, di minum. Aku tidak mau kamu sakit lagi." Ucapnya, Hana juga hanya menurut dan meminum obatnya. Setelah itu memberikan gelas itu kepada Satya, pria itu juga menerima gelas yang tinggal setengah itu meletakkannya di atas meja nakas.
Satya memegang kedua bahu Hana, berguling di atas ranjang membuat Hana berada di atasnya. Hana hanya diam tidak bisa protes, ingin protes pun tatapan Satya tengah tidak bagus sekarang membuat Hana lumayan takut.
Pria itu menghela nafas, ia mengusap punggung Hana dengan lembut dan membuat Hana tertidur lagi. Bukan karena Hana masih mengantuk, tapi efek obatnya memang membuat Hana tertidur lagi sekarang.
__ADS_1
Melihat istrinya tertidur lagi, membuatnya tersenyum. Antara ia harus senang atau sedih, ia tidak mengerti. Di satu sisi ia senang bisa bersama Hana, memperlakukan gadis itu layaknya istri dan sedih ketika ia mengingat di mana ia menolak di sentuh Hana dulu. Kenapa begitu kejam? Entah lah, terkadang Satya tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Aku sudah berjanji akan memperbaiki semuanya, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk bersama mu."