
Johan menoleh ke arah Hana yang duduk di sampingnya, setelah ia pulang dari kantor lebih cepat tidak seperti biasanya. Mendadak Johan merindukan teh hangat yang Hana buat, itu alasan mengapa dia pulang cepat sekarang. Melihat tadi ketika ia baru saja pulang, Hana sibuk bicara dengan Jihan yang entah dia kenapa.
"Tadi kamu bicara apa dengan Jihan? Serius sekali, bahkan aku datang kamu tidak sadar." Ucapan yang Johan katakan itu membuat Hana tersenyum, apakah dia merajuk karena tadi dia sempat terabaikan?
"Maafkan aku, Jihan terlalu berantusias menceritakan ceritanya kepada ku, jadi aku bersemangat mendengarkannya sampai aku tidak sadar jika ada kamu."
"Iya tidak apa-apa, aku hanya bercanda tadi. Lalu, apa yang Jihan ceritakan kepadamu?" Hana menggelengkan kepalanya menolak mengatakan apa yang Jihan katakan kepadanya.
Mereka berdua mendadak punya rahasia karena Jihan, gadis itu sedang kasmaran sekarang. Dia tidak mau orang lain tahu akan perasaannya walaupun itu salah, tapi tetap saja. Hana harus menjaga rahasia karena ia tidak mau Jihan kecewa dengan dirinya.
Johan penasaran, tapi pria itu sekilas menebak jika apa yang Jihan katakan kepada Hana. Apakah dugaannya benar? Jihan pernah nyaris bicara dengannya tentang seseorang, tapi karena Johan terlalu sibuk tidak bisa mendengarkan cerita yang Jihan akan katakan.
"Terimakasih, kamu mau mendengarkannya. Selama ini, aku tidak ada waktu walaupun hanya sekedar mendengarkan ceritanya." Hana mengangguk, dia tidak ada masalah jika harus mendengarkan cerita orang lain.
Johan menatap ke arah Hana, entah kenapa semakin hari aura Hana sangat enak di pandang. Bahkan wajahnya terlihat lebih cantik dari biasanya, atau itu adalah efek kehamilannya yang mulai besar itu?
Pria itu lagi-lagi hanya diam memendam apa yang dia rasakan, sampai di mana ia harus mengatakan sesuatu. Johan tidak mau lagi harus menyerahkan Hana ke orang yang salah seperti sebelumnya. Johan mau membuat Hana bahagia seperti janjinya.
"Hana, apa besok kamu ada waktu?"
"Tentu saja ada, memangnya kenapa?" Johan tidak mengatakan apa pun, ia tidak mau mengatakan semua itu sekarang.
Ia juga butuh waktu untuk berpikir setidaknya membuat dirinya tenang dan tidak panik terlebih dahulu, jika saja Johan panik itu akan merusak semua rencananya yang sudah dia rencanakan sejak lama.
"Lebih baik kita tidur saja, bagaimana? Berani tidur sendiri?" Hana mendongak menatap ke arah Johan yang sudah berdiri tegak di depannya. Bagaimana bisa dia meremehkan Hana sekarang?
__ADS_1
"Apa maksudmu? Aku tidak penakut." Johan mengerutkan keningnya, dia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya heran.
Pria itu masuk ke dalam kamar, di ikuti oleh Hana yang berlari mengikuti dirinya. Pintu balkon yang sudah di tutup rapat, bukannya maksud mengusir hanya saja mereka berdua belum terikat status apa pun sekarang. Tentu saja, itu di larang untuk mereka berdua.
Hana bukannya kembali ke kamarnya sendiri, dia justru hanya berdiri diam di kamar Johan tanpa rasa bersalah. Pria itu yang akan mengambil laptopnya kini terfokus ke arah Hana yang berdiri di sana.
"Apa yang kau lakukan? Tidak tidur? Kembali lah ke kamar mu, ini sudah jam tidur."
"Kamu mengusir ku?!" Johan tiba-tiba terkejut karena Hana tiba-tiba saja meninggikan masa suaranya kepadanya.
Hormon ibu hamil memang labil, Johan membuang nafas panjang untuk tetap bersabar. Dia kembali meletakkan laptopnya di atas mejanya, dia menghampiri Hana yang menatapnya dengan tatapan merajuk sekarang. Karena gemas, Johan langsung menggendong Hana membuat perempuan itu terkejut bukan main.
Hana yang tiba-tiba di gendong, badannya seperti melayang sekarang dan ia pikir Johan akan membawanya ke kamarnya sendiri, tapi pria itu justru membaringkan Hana di atas ranjang miliknya, bukan milik Hana. Perempuan itu sekarang terdiam, sampai di mana ia melihat bagaimana Johan berada di depannya.
"Tidur lah, katakan jika kamu takut. Good night." Ucapnya ketika dia menarik selimut tebalnya itu menutupi badan Hana, pria itu pun melangkah ke meja kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya.
Apa boleh seperti ini? Hana tidak tahu, hanya saja ia ingin selalu berada di samping Johan selama beberapa saat. Karena dia masih takut dengan kejadian yang kemarin jelas-jelas bukan hantu, melainkan kucing yang masuk mengambil ayam.
Tapi tetap saja, ketakutan itu tidak bisa hilang. Biasanya Hana akan meringkuk sendirian di dalam kamarnya, tidak seperti ini. Dirinya terasa di jaga dengan aman, merasa di pandang terus. Johan mengalihkan pandangan ke arah Hana, kemudian dia tersenyum dengan senyuman terbaiknya.
"Hana, kamu tidak tidur? Tidak bisa tidur?"
Di tengah pekerjaan yang dia kerjakan sekarang, dia bahkan masih sempat bertanya dan memperhatikan Hana sekarang. Pria itu bahkan menghentikan pekerjaannya karena merasa Hana kurang nyaman dengan tempatnya.
__ADS_1
"Hana?"
"Aku mau tidur kok, maaf menganggu." Johan tersenyum, ia tidak merasa terganggu dengan kehadiran Hana.
Justru ketika perempuan itu datang membuatnya senang bukan main, tidak seperti malam yang lain di mana Johan akan berada di kamarnya seorang diri. Sekarang ada Hana yang akan menemaninya, walaupun jujur saja semua ini juga salah. Tapi jika permintaan perempuan itu tidak di turuti, anaknya nanti mengileran. Hana pasti juga tidak mau hal itu terjadi, dan Johan juga sama.
Ia memang menuruti apa yang Hana minta, apa yang Hana tidak dapatkan ketika bersama Johan? Tidak ada, Hana mendapatkan semua yang dia mau bahkan sampai yang tersulit sekali pun. Johan berusaha mendapatkan semua itu.
Johan kembali fokus bekerja setelah ia melihat Hana tertidur, padahal perempuan itu tidak benar-benar tidur sekarang. Dia diam-diam memperhatikan Johan yang sibuk dengan dunianya sendiri itu.
'Apa dia tidak lelah bekerja sepanjang hari?'
Tidak dapat ia pungkiri, Hana memang nyaman dengan Johan. Tapi di sisi lain, kepalanya tidak dapat melupakan seseorang yang seharusnya dirinya lupakan. Tapi Hana mencoba waras sekarang, tidak mungkin pria itu mendatangi dirinya. Dia akan datang ketika butuh saja, jika tidak mana mau dia memberikan kabar.
Terkadang Hana heran, kenapa ada manusia seperti itu? Apakah dia memiliki kekurangan dalam hal kasih sayang? Hana melihat semua sudah dia dapatkan, tapi kenapa dia begitu jahat?
"Aku tahu kamu bukan tidur Hana, jangan banyak berpikir nanti kepala mu sakit tidak bagus untuk bayimu juga." Johan beranjak dari tempat tidurnya, dia melepaskan kaca matanya dan dia membuat Hana berpura-pura tidur.
Johan tahu, Hana tidak tidur sekarang. Pria itu memutuskan naik ke atas ranjang, memeluk Hana dari belakang membuat perempuan itu membeku di sana. Ia tidak menduga akan ini, ketika perutnya di elus dengan perlahan oleh Johan. Sepertinya bayinya senang mendapatkan usapan pelan itu.
Sampai di mana tanpa di duga, Hana tertidur dengan pulas dengan cara mudah. Johan yang merasa tidak ada pergerakan sama sekali, dia memastikan jika Hana tidur sekarang. Perempuan itu sudah menutup matanya, bahkan nafasnya yang sangat teratur.
Dia sudah masuk ke alam mimpinya sendiri, Johan beranjak dari tempatnya. Memberikan bantal di sisi belakang punggung Hana agar dia tidak pegal-pegal nantinya. Johan mendekat ke arah Hana, dia mencium kening perempuan itu dengan lembut. Perlakuannya yang seolah membuat Hana bagaikan ratu.
"I love you so much, maafkan aku karena aku tidak bisa membuatmu bahagia seperti semestinya..."
__ADS_1