Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 45


__ADS_3

Satya pulang larut malam karena ia terlalu banyak bersenang-senang dengan Anna, tentu saja ke tempat yang sebelumnya pernah ia datangi.


Karena suara berisik yang Satya lakukan, membuat Hana langsung keluar dari kamar dan melihat suaminya sudah pulang dalam keadaan kacau seperti itu. Tapi entah lah, gadis itu melihat ke arah jam sudah mengarah ke jam 2 dini hari. Hana lantas berlari ke arah Satya dan membantu pria itu untuk berjalan.


Tapi justru Hana di dorong membuatnya tersandung kakinya sendiri, terjatuh di atas lantai. Ia tentu saja menatap ke arah Satya yang seperti akan mengutuknya.


"Jangan pernah menyentuhku, kau menjijikan." Hana berdiri lagi, ia mencoba membantu Satya tapi pria itu terus menolaknya.


Tapi bagaimana, Satya berjalan dengan langkah tidak seimbang seperti itu membuat Hana khawatir, bagaimana jika dia kenapa-napa?


"Aku bantuin jalan sampai kamar-"


"AKU BISA SENDIRI, LAGI PULA AKU TIDAK LUMPUH! DIAM SAJA KAU! JANGAN SENTUH AKU PELACUR!" Seketika Hana terdiam, ia hanya berdiri. Menatap suaminya itu dengan berlinang air mata di sana.


Ia terus mengawasi Satya sampai pria itu benar-benar masuk ke kamarnya dengan selamat tanpa terjadi apa pun, Hana mengusap air matanya dan mencoba untuk tetap bertahan.


Gadis itu pun berlari ke arah dapur dan membuatkan susu hangat, biasanya itu yang dia lakukan ketika Dimas mabuk. Tapi biasanya Dimas akan menangis jika mabuk, mungkin karena beda orang yang Hana hadapi sekarang.


Setelah selesai membuat susu itu, gadis itu kembali menaiki anak tangga dan masuk ke kemar suaminya itu. Pria itu melepaskan kemejanya dan melemparnya begitu saja, benar-benar seperti kehilangan akal.


"Mas, minum ini dulu."


"Kau..." Satya menatap ke arah Hana dengan tatapan penuh kebencian, ia mendekat dan memegang gelas yang Hana pegang. Tahu apa yang dia lakukan? Tanpa berpikir panjang sama sekali, pria itu melempar gelas kaca itu ke sembarangan arah.


Lantas suara gelas pecah itu memenuhi ruangan, bahkan air itu juga muncrat ke mana-mana. Membuat Hana terdiam, sekaligus terkejut karena apa yang Satya lakukan di luar dugaannya.


"Apa yang-"

__ADS_1


"Diam!" Satya menarik rambut panjang itu membuat Hana berteriak, gadis itu terpaksa mendongak karena Satya benar-benar menarik rambutnya dengan kasar. Dengan kerasnya, Satya memukul perut Hana membuat dia membungkuk memegang perutnya.


Ia mencoba menghindar dari serangan yang Satya lakukan, bahkan gadis itu juga mencoba lari. Tapi dia lari ke arah yang salah di mana di sana banyak pecahan kaca, dan Satya menendang kaki itu membuat Hana tersandung berakhir terjatuh menimpa serpihan gelas itu.


"Ahkk!"


"Kenapa kau lahir? Kenapa malah kamu yang di sini? SEHARUSNYA ANNA BUKAN KAU! KAU PELACUR! YANG HANYA HAUS AKAN HARTA BUKAN!" Hana tidak bisa berdiri, kakinya tertancap serpihan kaca itu membuatnya tidak bisa berdiri atau bahkan berjalan.


Satya mendekat lagi, ia menarik rambut Hana secara paksa membuat gadis itu terseret begitu saja.


"LEPASKAN!! SATYA!!"


"BERANI KAU MENINGGIKAN SUARAMU!!" Kakinya menendang wajah Hana, membuat gadis itu tersungkur di atas lantai. Hidungnya mengeluarkan darah karena tendangan yang Satya lakukan kepadanya.


Tidak bisa bertahan lagi tapi Hana harus melarikan diri, gadis itu memukul tangan Satya tapi tidak berhasil, sampai Hana melihat serpihan kaca besar dari gelas tadi dan ia memotong rambutnya sendiri. Satya masih tidak tahu karena ia merasa jika Hana masih di bawah kendalinya.


Sampai gadis itu tidak lagi berpikir akan rambut panjangnya, ia memotongnya dengan asal-asalan agar bisa selamat. Dan setelah itu gadis itu melarikan diri dengan kakinya yang berdarah itu.


"SIAL! HANA KEMBALI KAU KEMARI SIALAN!" Hana tidak mendengarkan dan dia berusaha bisa menuruni anak tangga, berjalan dengan langkah tertatih semampunya dan masuk ke dalam kamar.


Ia takut dengan keadaan sekarang, Satya seolah akan membunuhnya sekarang juga bahkan sepertinya emosi pria itu tidak dapat dikendalikan.


Satya yang berjalan mengikuti ke mana darah itu berada, ia mendapati pintu yang tertutup dengan darah yang menunjukan jalan sebagai jejak. Ia mendobrak pintu itu tapi tidak bisa, sedangkan Hana yang berada di dalam kamar tidak bisa berbuat apa pun. Darah di sekujur tubuhnya, Hana mengusap darah yang mengalir melalui hidungnya dengan kasar.


Ia sesekali menoleh ke arah pintu, ia mengunci pintu itu bahkan mengganjalnya dengan kursi. Gadis itu ketakutan, bahkan tangannya gemetaran tidak bisa dikendalikan. Mendadak tubuhnya melemas, bersamaan suara dobrakan pintu itu yang mulai tidak ada lagi


Hana ambruk di atas lantai, ia melihat kakinya masih berdarah dan mencabut kaca itu, walaupun ia merasa kesakitan tetap saja yang paling tidak bisa sembuh adalah luka yang berada di dadanya sekarang. Tidak bisa, ia terlanjur sakit hati tapi bagaimana lagi, pernikahan tidak bisa di buat main-main. Hana sudah berjanji kepada tuhan akan terus bersama Satya bagaimana pun keadaannya, dan, sedangkan keadaan sekarang bagaimana?

__ADS_1


Gadis itu mencabut kaca itu, melihat darah yang keluar tidak seberapa dengan luka tanpa darah yang keluar. Luka batin mana yang bisa disembuhkan?


Hana menangis, menangis dalam diam menahan semua ini. Sampai kapan semua ini akan berlangsung? Jika saja mati adalah jalan yang baik, maka Hana sudah melakukannya jauh-jauh hari.


Suara tangisan memenuhi ruangan tersebut, tidak bisa dibayangkan bagaimana jika ada orang lain di posisi Hana sekarang. Mungkin dia tidak akan tahan dan memilih pergi, tapi tidak dengan gadis itu. Dia akan memilih bertahan selagi bisa dirubah keadaannya, Hana mau hidup dengan bahagia, bukan mati dengan penderitaan.


"Kak Dimas hiks hiks hiks..."


...•••...


Di sisi lain, pria itu tengah sibuk dengan laptop di depannya. Mengerjakan perkerjaan yang ia tunda selama dua hari karena ada urusan yang menurutnya jauh lebih penting, ia juga di temani dengan secangkir kopi.


Mendadak pria itu melamun, ia melirik ke arah bingkai foto yang terpajang dengan rapi di meja kerjanya. Foto dirinya bersama seorang gadis, gadis kecilnya yang selama ini ia lindungi, walaupun ia beberapa kali membuat kesalahannya karena emosinya tidak bisa dia kendalikan sendiri.


Rasa penyesalan yang tidak pernah akan ia lupakan sekali pun. Dimas hendak melanjutkan pekerjaannya lagi, tapi tanpa di sengaja gelas itu ia senggol membuat gelas berisikan kopi itu terjatuh ke atas lantai dan pecah begitu saja. Ia menoleh dengan cepat, melihat kekacauan itu.


"Sial." Dimas beranjak dari tempat duduknya dan memungut gelas itu dengan tangannya, mendadak ia memikirkan seseorang yang sudah dua hari juga meninggalkannya dan menempuh kehidupan barunya.


"Kakak ceroboh sekali, lain kali jangan melamun terus. Kakak butuh bantuan?"


"Hana..." Tanpa dia sadari kalau tangannya terluka akan serpihan gelas itu, dia terkejut dan melihat darah yang keluar.


Tapi ia hanya mengabaikan luka itu, dan melanjutkan membersihkan kekacauan itu sendiri. Keluar dari ruang kerjanya dan kemudian ke dapur, membuang gelas pecah itu. Dimas kepikiran, bagaimana keadaan Hana?


"Aku belum menghubunginya selama sehari ini, apa dia baik-baik saja? Tentu saja dia tidak apa-apa, dia sudah bersama Satya. Dia pria yang baik, mana mungkin dia menyakiti adik ku." Ucapnya sendiri walaupun di sisi lain pria itu juga ragu.


Dia pun langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, kemudian mencari kontak adiknya dan menelpon gadis itu. Entah menganggu atau tidak, hanya untuk malam ini saja biarkan Dimas tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


"Angkat dong, kakak pengen tahu gimana keadaan kamu aja." Tidak ada jawaban apa pun kecuali operator. Pria itu jengkel sebenarnya, tapi ia terus berusaha menghubungi Hana karena perasaannya terasa tidak nyaman.


Sedangkan di tempat lain. Ponsel itu berdering, tapi di abaikan oleh pemiliknya. Gadis itu terbaring di atas lantai dalam keadaan kacau, matanya sudah tertutup rapat. Dan ponsel itu terus berdering menunjukan nama penelponnya yaitu, Dimas.


__ADS_2